<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658</id><updated>2011-04-22T01:29:54.027+07:00</updated><title type='text'>just write!</title><subtitle type='html'>a journey through middle earth</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>160</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-9043515156315603274</id><published>2008-10-18T10:39:00.006+07:00</published><updated>2008-10-18T11:24:22.559+07:00</updated><title type='text'>Berpacu dalam Krisis</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;Tanda-tanda akan datangnya kesibukan yang luar biasa sudah saya rasakan sebelum lebaran. Dua hari sebelum libur bersama di mulai, hampir setiap menit di kantor merupakan waktu yang sangat berharga untuk menyelesaikan pekerjaan, yang datang seolah tiada henti. Akhirnya saya bisa bernafas lega karena bisa mengakhiri masa kerja sebelum lebaran tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan lebaran memang singkat tapi cukup menyenangkan karena lebaran tahun ini dipenuhi tamu. Lebaran tidak lagi sesepi biasanya, terutama setelah orang tua tidak ada. Keponakan juga tampak senang dengan baju baru dan uang pemberian dari banyak orang. Beberapa teman lama juga menyempatkan datang berkunjung, sehingga saya tidak perlu berkeliling :D. Pada lebaran kedua, saya mengajak keponakan-keponakan yang masih kecil untuk menonton bioskop film Laskar Pelangi. Pengelaman pertama kali menonton di bioskop sangat menyenangkan mereka. Namun saya harus keluar ruangan tiga kali selama film itu diputar untuk mengantar satu keponakan yang ingin pipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libur lebaran menjadi selingan menjelang datangnya kesibukan baru. Lebaran kedua, malam, saya sudah tiba di Jakarta dan menerima bertubi-tubi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;missed call&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt; dan sms. Intinya, saya diminta menyiapkan bahan untuk rapat pada hari minggu, sementara dua atasan saya masih berada di kampung dan tidak bisa datang. Saya  menyempatkan hari Sabtu pagi untuk mengunjungi dua Bulik di Bekasi sebelum menuju kantor dan bekerja sampai pukul 18.30. Hari Minggu, saya hanya beristirahat sebelum kembali berpacu dengan pekerjaan sejak Senin 6 Oktober sampai kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahaan kondisi ekonomi dalam mengantisipasi krisis sudah membuat saya harus bisa mengatur waktu dengan baik, menyimbangkan antara kebiasaan saya pergi berolah raga dan makan secara teratur, dengan pekerjaan yang memiliki tengat waktu dalam hitungan jam dan menit. Sempat suatu kali saya baru sempat makan malam 10 menit menjelang jam 1 pagi karena pekerjaan baru selesai jam 00.30. Atau saat saya makan malam, panggilan untuk menyiapkan bahan/ulasan datang dan harus segera diselesaikan. Belum lagi, permintaan tidak saja datang dari atasan langsung, tapi dari atasan di beberapa bagian lain, sehingga sekarang saya seperti bekerja untuk banyak bos. Berpacu dalam krisis tidak saja dirasakan oleh banyak orang di belahan dunia barat, namun juga oleh orang-orang seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar komponen dalam pola hidup saya memang sudah terbiasa menyesuaikan dengan beban pekerjaan yang berat karena saya termasuk orang yang senang bekerja. Namun saya tetap perlu waspada mengenai pola makan dan tidur.  Dalam keadaan sibuk, saya biasanya cenderung ngemil.  Saat otak bekerja, mulutpun ikut bekerja. Selain itu, malam-malam saya akan lebih banyak diisi oleh mimpi bekerja dan rapat :P. Beruntung di pagi hari, saya masih sempat berolah raga, yang menjadi penyeimbang dan selingan yang menyehatkan. Tanpa olah raga, pikiran saya hanya tertuju pada bentuk-bentuk kompensasi dari kesibukan bekerja. Semoga semua pekerjaan masih dapat saya tangani dengan baik, dan semoga saya bisa tetap sehat dalam menjalankannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-9043515156315603274?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/9043515156315603274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=9043515156315603274' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/9043515156315603274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/9043515156315603274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/10/berpacu-dalam-krisis.html' title='Berpacu dalam Krisis'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-7112782250575702132</id><published>2008-09-30T11:22:00.004+07:00</published><updated>2008-10-04T17:18:45.349+07:00</updated><title type='text'>Zakat untuk Sesama</title><content type='html'>Akhir-akhir ini saya kembali menggunakan layanan busway dalam perjalanan pulang, kemudian disambung sekali dengan metromini. Sering saat berjalan menghampiri metromini, saya melihat seorang ibu sedang mengasuh tiga anaknya duduk di depan pagar kantor PLN. Pakaian mereka lusuh. Sang Ibu tampak sedang menimang bayi dan beruha menidurkannya. Dua anaknya yang lain, sekitar berumur 1-3 tahun tampak riang mengobrol dengan ibunya atau memperhatikan berbagai macam kendaraan berlalu-lalang sambil bermain ranting atau botol minuman mineral bekas. Suatu saat saya menemukan sang Ibu sedang menggendong bayinya yang sudah terlelap, dan menjaga dua anaknya yang lain yang juga terlelap beralaskan kardus di tengah hiruk-pikuk jalan yang padat kendaraan dan orang yang lalu-lalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mereka saya merasa kasihan dan ingin menyumbang, tapi mereka sendiri tampak tidak pernah meminta-minta. Mereka seolah sibuk dengan diri mereka berempat. Terkadang saya melihat ada seonggok karung yang sudah penuh terisi barang bekas/hasil pungutan, sehingga saya berpikir mungkin ibu dan ketiga anaknya ini menunggu sang bapak yang masih mengumpulkan barang-barang bekas tidak jauh dari situ, meskipun saya belum belum pernah melihat sang bapak. Kesimpulan ini mungkin benar karena di jalanan lain, seperti di sekitar komplek DPR di Kalibata, di belakang Masjid Sunda Kelapa, di sekitar Pasaraya Manggarai, di sekitar jalan Menteng Raya dan Cikini, atau di jalan Proklamasi, saya sering melihat sepasang suami istri mendorong gerobak penuh barang bekas, dengan anak-anak mereka yang masih kecil berjalan beriringan atau duduk di atas gerobak. Terkadang saya melihat seorang ibu menggelar tikar di samping gerobaknya saat menjelang waktu Isya di jembatan jalan Halimun, Menteng; atau dalam perjalanan saya ke gym di pagi hari, saya sempat melihat seorang nenek tidur di trotoar beralaskan kardus, sementara di gerobaknya ada seekor anjing betina sedang menyusui dua ekor anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang saya amati memang miskin, namun mereka bukan pengemis. Dengan keterbatasannya, mereka tetap berusaha dan bekerja. Mereka sebenarnya bisa diberdayakan karena mereka sudah memiliki modal kemauan untuk berusaha. Bagaimana caranya? Mungkin salah satunya bisa melalui zakat profesi yang pelaksanaannya sampai saat ini, menurut survey lembaga zakat, masih jauh dari tingkat optimal. Zakat profesi yang dikeluarkan secara berkala dan disalurkan melalui lembaga pengelola zakat, insya Alloh, bisa menjadi benih-benih yang bermanfaat bagi orang-orang yang memiliki kemauan berusaha dan membutuhkan pekerjaan yang lebih layak. Seperti tulisan saya tahun lalu, saya ingin mengajak semua rekan-rekan untuk giat berzakat.  Tidak terbatas di saat bulan Ramadhan, karena zakat itu benar-benar membahagiakan :-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/SOG_WUf2_hI/AAAAAAAAAD0/BJOlP8ttWSM/s1600-h/Kartu_Leo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/SOG_WUf2_hI/AAAAAAAAAD0/BJOlP8ttWSM/s200/Kartu_Leo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251689030671072786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-7112782250575702132?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/7112782250575702132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=7112782250575702132' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7112782250575702132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7112782250575702132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/09/memaknai-hidup.html' title='Zakat untuk Sesama'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/SOG_WUf2_hI/AAAAAAAAAD0/BJOlP8ttWSM/s72-c/Kartu_Leo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-7095923372775594774</id><published>2008-08-08T08:08:00.002+07:00</published><updated>2008-08-08T15:21:45.229+07:00</updated><title type='text'>Somebody Save Me</title><content type='html'>“Somebody save me&lt;br /&gt;Let your waters break right through&lt;br /&gt;Somebody save me&lt;br /&gt;I don't care how you do it&lt;br /&gt;Just save, save&lt;br /&gt;Come on&lt;br /&gt;I've been waiting for you”&lt;br /&gt;(Save me by Remy Zero, Smallville theme song)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s complicated. Kata-kata ini sering saya baca bila sedang berselancar di dunia maya. Kata-kata tersebut juga saya rasakan bila mencoba memahami jalan cerita dari serial favorit saya: Smallville.  Dulu saat berada di NZ, saya hanya melihat serial ini sesekali, saat menjelang tidur.  Sekarang, hampir setiap malam saya tonton karena jalan ceritanya terus berkembang dan semakin jauh dari cerita Superman yang asli.  It’s becoming more complicated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ‘superhero in the making’, Clark Kent masih tampak begitu naïf dalam membuat keputusan dan bertindak, terutama saat menghadapi masalah serta sikap dan tindakan orang lain, termasuk dalam  hubungannya dengan Lana Lang. Sometimes, it’s too complicated dan sudah membuat saya sebagai penonton setia agak kesal melihatnya. Faktor usia yang masih muda, pengaruh keluarga dan lingkungan tempat dia tumbuh, serta kebingungan akan status ke-manusia-annya mungkin bisa menjadi penyebab. Namun di sisi lain, keraguan seorang calon superhero bisa menggambarkan proses pendewasaan, sekaligus kenyataan bahwa seorang superhero pun masih membutuhkan orang lain. Clark Kent memang bisa mendengar, melihat dan bergerak menembus batas, tapi ada batasan dalam cara dia mengolah fakta-fakta dan kejadian di sekitarnya. Di sinilah Chloe begitu dibutuhkan sebagai seorang soulmate yang mengerti kekurangan dan kelebihan Clark Kent dan sebagai seorang sidekick yang cerdas dalam mengolah permasalahan dan solusi . Seorang Clark Kent juga bukan risk taker sejati, karakter khas dari Lois Lane; atau orang yang cermat, secermat Lionel Luthor dan Lana Lang dalam merencanakan aksinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat rahasia Clark Kent masih tersimpan rapi, dia merasa bahwa menyelamatkan orang lain merupakan tugas yang harus dia tanggung sendiri. Namun saat rahasia itu sudah diketahui sahabat dan orang yang dicintainya, dunia (jalan cerita) tidak lagi melulu berputar di sekitarnya, karena dunia juga mengandung jalan hidup (jalan cerita) orang lain. Dalam dua episode terakhir Season 7 Smallville juga diceritakan bagaimana Clark Kent bersikeras bahwa bukan dia yang harus diselamatkan.  Sikap ini membuat orang-orang yang sudah mengetahui rahasianya menganggap dia begitu naïf karena mereka tahu seorang superhero pun memiliki kelemahan dan belum tentu bisa menyelamatkan diri sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin jalan cerita seorang Clark Kent ini tampak begitu biasa, namun seusai menonton serial itu, saya sering  seperti mendapat pemahaman yang mengingatkan diri sendiri bahwa semua makhluk yang bernyawa dan berakal hanyalah seorang pengembara di dalam lingkungan ciptaan Sang Maha Kuasa yang teramat luas.  Dalam perjalanannya, seorang pengembara belum tentu menemukan hal-hal yang baik dan membuatnya aman bertahan hidup.  Diperlukan adanya keberanian untuk tetap sabar dan cermat dalam menghadapi cobaan, keberanian untuk mengambil resiko dan berkorban, dan keberanian untuk menerima uluran tangan orang lain bila banyak hal sudah di luar batas kemampuan sendiri.  Adanya orang lain dalam hidup mungkin bisa membantu agar bisa terselamatkan dan bertahan hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan selanjutnya bagi seorang pengembara yang tidak sempurna: apakah pada satu waktu memang ingin ‘diselamatkan’? ...Ragu... tidak yakin... dan bagi saya: it is still a complicated matter.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-7095923372775594774?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/7095923372775594774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=7095923372775594774' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7095923372775594774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7095923372775594774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/08/somebody-save-me.html' title='Somebody Save Me'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-1714116729780286637</id><published>2008-07-22T13:53:00.001+07:00</published><updated>2008-07-22T14:00:06.750+07:00</updated><title type='text'>Ceritanya Panjang.................</title><content type='html'>Minggu lalu boleh dikata sebagai minggu dengan frekuensi pernyataaan “ceritanya panjang” terbanyak dalam hidup saya.  Bermula dari saat saya menerima sms dari kakak di Bandung “Dek, Oi akhirnya sekolah di B, tidak jadi di A. Ceritanya panjang, nanti saja kalau pulang diceritain.” Saya balas “apa ceritanya tidak bisa disingkat pakai sms atau telepon?” Jawabannya: “Nanti saja, ceritanya panjang.” Oi (Qorina), keponakan saya, baru masuk SD kelas 1 dan cerita tentang dia tidak jadi satu sekolah dengan kakak-kakaknya ternyata panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, di sela-sela pekerjaan, ada teman yang curhat mendadak.  Saya sudah menyediakan telinga untuk mendengar, tapi hanya mendapat kesempatan mendengar kurang dari lima menit karena ternyata “ceritanya panjang … titik” dan teman saya pun pergi.  Dalam perjalanan pulang, saya bertemu teman lainnya.  Sempat mengobrol seru dalam perjalanan menuju halte busway, tapi kemudian si teman berkata “nggak perlu diceritain deh, pokoknya ceritanya panjang.” Dalam busway saya duduk bertanya-tanya, mengapa sejak siang tadi saya tidak bisa mendengar satu cerita sampai selesai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 7.30 malam saat tertawa-tawa sendiri melihat acara “Jail” di Trans TV, teman menelepon mengajak ke Cibubur besok pagi.  Di telepon, dia juga sedikit bercerita tentang perubahan rencana penelitiannya, tapi ketika saya bertanya tentang alasannya, dia langsung membingkai ceritanya dengan kata-kata “wes, pokoknya ceritanya panjang.” Sesaat setelah mendengar kata-kata itu, saya tidak lagi berminat melihat acara-acara lucu di televisi.  Saya langsung membombardir teman saya itu dengan berbagai pertanyaan supaya “cerita yang panjang” itu bisa saya dengarkan dengan utuh.  Memang agak susah payah bertanya dan harus rela mengorbankan telinga sampai panas, tapi usaha saya berhasil. Alhamdulillah :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, saat berkumpul di Cibubur, seperti biasa kami saling bertukar cerita. Sampailah pada giliran tuan rumah yang ternyata hari itu bercerita banyak hal. Namun beberapa ceritanya terpaksa berhenti di tengah jalan setelah adanya perkataan “udah deh ceritanya panjang” atau “untuk yang satu itu ceritanya panjang” atau “dah gitu aja, pokoknya kalau diceritain bakalan panjang”.   Saya sudah berusaha bertanya-tanya, tapi sebagai tamu saya harus sopan dan tidak boleh minta penjelasan macam-macam untuk cerita-cerita yang katanya panjang itu.  Beruntung saat itu peralatan karaoke sudah terpasang, dan saya pun bisa bernyanyi merdu lagu dari Ronan Keating yang berjudul “You say it best, when you say nothing at all.” :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkaraoke secara bergiliran selama lebih 4 jam (hah? Betul… 4 jam!), kami pun mengobrol lagi, dan tiba giliran saya yang ternyata masih memiliki kelebihan suara untuk bercerita panjang lebar.  Tiba-tiba sampailah saat salah seorang teman bertanya “lantas kenapa, Lé, sampai sekarang belum punya pacar lagi?” Secara spontan saya menjawab “wah, ceritanya panjang.................”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-1714116729780286637?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/1714116729780286637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=1714116729780286637' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/1714116729780286637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/1714116729780286637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/07/ceritanya-panjang.html' title='Ceritanya Panjang.................'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-4846270521374016231</id><published>2008-07-12T10:00:00.001+07:00</published><updated>2008-07-13T10:05:17.235+07:00</updated><title type='text'>Liburan</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Setelah ‘liburan’ dua bulan dari nge-blog, saya juga memutuskan sudah saatnya bagi saya untuk liburan dari segala kegiatan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sayang, liburan kali ini hanya bisa memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu atau harpitnas karena saya belum boleh ambil cuti setelah ‘cuti’ 3.5 tahun dari kantor.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Awalnya saya merencanakan liburan-liburan singkat di bulan Maret, atau April, atau Mei.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun kesibukan di kantor sangat menyita waktu dan tenaga sehingga semangat liburan sudah terkuras habis. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat akhir pekan pun lebih banyak diisi dengan istirahat di rumah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalaupun ke luar rumah, saya hanya sempat melihat beberapa pameran di seputar Jakarta atau beberapa film. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Setelah itu, saya lebih banyak membayar tidur atau membenahi rumah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebiasaan ’pulang’ ke Bandung yang dulu bisa dilakukan satu bulan sekali, sekarang hanya bisa dilakukan 2-3 bulan sekali. Saat bulan Juni datang, sudah terbayang rencana membawa keponakan-keponakan ke Dunia Fantasi, atau membawa mereka ke pemandian air panas di Garut, atau berarung jeram di Citarik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lagi-lagi gagal, karena dalam sebulan saya mendapat tugas ke luar kota. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun saya masih merasa beruntung karena diberi tugas ke Medan dan Batam yang belum pernah saya kunjungi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pengalaman selama di Medan dan Batam sebenarnya tidak terlalu istimewa. Saat ke Medan, lalu lintas sempat macet karena adanya demo yang menolak kenaikan BBM.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun setelah lalu lintas lancar kembali, sang supir begitu semangat membawa mobil sambil menyalip semua mobil yang ada di depannya, termasuk lampu lalu lintas yang sudah berubah merah. Saya juga tidak sempat melihat kota Medan secara utuh karena hari diguyur hujan. Saat saya meminta referensi tempat makanan khas Medan kepada receptionist hotel, rekomendasinya tidak jauh dari rumah makan Minang yang diklaim sebagai penjual makanan asli Medan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Rekomendasi lainnya yaitu toko yang menjual kue bika Ambon-Medan, bolu gulung dan sirup markisa/terong belanda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya jadi rindu Jakarta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengalaman di Batam tidak jauh berbeda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada beberapa hal yang menurut saya agak menganggu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertama, semua barang di hotel dihargai dengan dollar Singapura. Kedua, saya bertemu sekelompok orang Yogya yang melaksanakan rapat, dengan peserta orang Yogya saja, begitu jauh dari tempat asalnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu, saat membeli parfum, ternyata koleksi yang mereka miliki tidak selengkap di Jakarta, dan harganya hanya berbeda Rp 30-80 ribu saja dibandingkan dengan harga di Jakarta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saran untuk membeli parfum di Batam rasanya kurang pas karena perbedaan harga yang tidak signifikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Akhirnya saya hanya membeli di counter parfum di hotel.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya juga agak kurang nyaman dengan tata &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Batam yang tercerai-berai, dengan layanan taksi yang tidak memakai argo dan angkutan umum yang terbatas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa mall memang tampak megah, mewah dan besar, tapi cukup sepi. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya merasa sedang berada di tempat yang serba tanggung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Malam harinya, saya hanya menghabiskan waktu di hotel.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk makan malam, saya hanya berjalan lima menit ke McDonald yang menurut saya cukup identik dengan pola pengembangan Batam: instant. Satu saja yang saya tidak sependapat dengan beberapa komentar pengunjung Batam yang tercantum di website tentang review hotel-hotel di Batam: orang Batam ternyata cukup ramah kepada tamu. Hanya saja, mereka tahu harus berbuat apa jika menghadapi tamu yang pelit dan telalu cerewet ;-).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tugas ke Yogya dan Bandung dalam bulan ini mungkin akan saya lewatkan karena saya pikir sudah terlalu sering mendapat tugas ke dua tempat ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya hanya ingin pergi sendiri, tenang, tanpa tugas, sehingga bisa mengekplorasi dan menikmati tempat baru dengan sepenuh hati.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya juga ingin bisa sekedar duduk-duduk di beranda hotel, sambil membaca atau tertidur, dengan hembusan angin laut dan pemandangan berwarna hijau dan biru yang menyegarkan di depan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Semula saya ingin berkunjung ke Balikpapan atau ke Samarinda, menonton PON ke-17. Namun saya menemukan bahwa tarif hotel di Samarinda sudah berlipat tiga, dan penerbangan ke sana penuh. Selain itu, hanya sedikit hotel saja yang bisa saya akses melalui kartu membership, dan hotel-hotel itu tidak memiliki pemandangan pantai. Akhirnya saya memutuskan pergi Lombok karena ada hotel yang menawarkan pemandangan sesuai dengan impian saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ingin rasanya pas ke Lombok, &lt;a href="http://findinghani.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Hani&lt;/a&gt; atau Dewi sekeluarga sudah ada di Lombok, jadi sekalian bisa mengunjungi mereka. Tapi keinginan untuk segera liburan di akhir bulan ini tampaknya tidak bisa ditunda. Jadi... Lombok, here I come!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-4846270521374016231?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/4846270521374016231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=4846270521374016231' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/4846270521374016231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/4846270521374016231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/07/liburan.html' title='Liburan'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-3687253731015776727</id><published>2008-05-12T09:18:00.002+07:00</published><updated>2008-05-12T09:25:28.076+07:00</updated><title type='text'>Peliharaan</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saat bertemu teman baru di internet tiba-tiba topik email kami beralih ke topik tentang hewan peliharaan. Saya sebenarnya bukan pencinta hewan sejati karena masih belum bisa berkorban waktu, tenaga, uang dan kesabaran demi peliharaan, dan saya juga yakin bahwa memiliki hewan peliharaan itu perlu tanggung jawab besar. Namun saya salut dengan teman saya ini, sampai-sampai kucingnya sangat penurut dan teratur.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pembicaraan kami membuat saya teringat dengan berbagai kesempatan saat melihat-lihat hewan yang dijual di pinggir jalan, di mall atau di koridor supermarket.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kemarin saya sempat melihat berbagai macam kadal dan ular yang dijual di sekitar stasiun kereta, saat saya pergi ke Bogor. Juga ada kura-kura. Beberapa ular tidak dijual untuk dijadikan peliharaan, tapi untuk dikuliti dan daging/darahnya dijual untuk obat. Sempat melihat bagaimana si pedagang menguliti ular. Seram juga.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dua minggu lalu, saya juga sempat melihat hamster dan kelinci yang dijual di halaman parkir salah satu supermarket. Ada beragam hamster, dan mereka semua tampak sibuk berlari ke sudut-sudut kandang, mengendus-endus lalu berlari di putaran, sampai ada yang berebutan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lucu sekali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sempat terpikir, meski tidak sampai bertanya ke penjualnya, seperti: mengapa hamster-hamster itu begitu rajin ‘cardio’ di putaran? Apakah di alam liarnya mereka juga ‘cardio’ di putaran, dan putaran macam apa yang digunakan? Belum lagi hamster yang koprol berulang-ulang tanpa alasan. Mungkin mereka kelebihan adrenalin, atau kelenjar tiroid-nya terlalu banyak. Hmmm… apa mereka punya tiroid juga?&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perhatian saya kemudian beralih ke kelinci gimbal, karena bulunya setebal bulu kucing, sampai matanya hampir tidak kelihatan. Yang besar tidak tampak lucu; sebaliknya yang masih bayi lucu sekali. Kalau digendong, mereka meronta-ronta dengan menendang-nendang. Mereka meronta mungkin tanda tidak suka, atau tanda tidak tahan dengan bau orang yang memegang :P. Menurut artikel yang pernah saya baca, kelinci bisa diajari untuk tetap tenang dan tidak menendang-nendang. Saya juga geli melihat hidung kelinci yang selalu bergerak-gerak, mengendus-endus meski tidak ada barang yang diendus. Satu saja yang saya tidak suka dari kelinci: suka pipis tanpa tanda-tanda yang jelas dan tanpa pemberitahuan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nervous sedikit langsung pipis. Saya juga tidak tega kalau mendengar kata ”sate kelinci”... hewan selucu itu disate... hiiii...&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saya juga sempat melihat anak-anak kucing berwarna abu-abu, kuning, dan belang-belang abu-hitam-coklat dipajang. Saya selalu trenyuh bila mendengar suara anak kucing, yang menurut perasaan saya selalu terdengar memelas. Jadi teringat “Denok”, anak kucing kampung yang kami adopsi dulu sewaktu kuliah. Bulunya begitu bersih dan gerak-geriknya lincah terutama kalau mengejar gerakan kertas yang diikat di sebatang sapu lidi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Atau kucing garong jantan berbulu belang-belang abu-hitam-coklat yang selalu berlagak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;slow motion&lt;/span&gt; menuju dapur dan melewati kami yang sedang menonton tv, sebelum tunggang-langgang lari melihat sandal terbang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Juga teringat “BB”, ginger cat di flat kami di NZ, yang manja tapi juga lincah bila melihat gerakan mainan bulu ayam yang sengaja kami beli untuk menggoda dia. Tidak tahu bagaimana sekarang nasib “BB” setelah teman yang diserahi tanggung jawab pulang kembali ke Cina.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Teringat bagaimana setiap pagi “BB” selalu siap di depan pintu saya lalu menghampiri dan mengusap-usap badannya di kaki saya, sementara saya bersiap ke gym; atau saat menyikat bulu-bulunya, dan dia hanya berkata “purrrr” sambil merem-melek atau memandang saya dengan pandangan khas “tanpa dosa” …&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun bila membandingkan pandangan “tanpa dosa”, tidak ada yang bisa mengalahkan anjing. Pandangannya merupakan campuran antara pandangan ”tanpa dosa”, hormat, pasrah, memuja dan setia. Mungkin kesan saya agak berlebihan, tapi begitulah yang saya tangkap kalau melihat bagaimana seekor anjing memandang pemiliknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Anjing juga merupakan hewan peliharaan yang paling &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reliable&lt;/span&gt;, berbakti dan setia kepada pemiliknya. Saya sering ingin mendekat ke kandang-kandang anak anjing yang dijual di Jl. Latuharhari, karena mereka begitu menggemaskan. Tapi saya tidak begitu suka anjing, terutama bila mereka menggonggong dan mendekat.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ingin rasanya bisa memiliki hewan peliharaan lagi. Masalahnya, selama siang hari dalam lima hari seminggu saya tidak ada di rumah. Hewan peliharaan biasanya sangat bergantung ke pemiliknya, jadi bila ditinggal lama pasti hewan peliharaan akan merasa bosan dan cepat mati. Saya juga belum tentu punya kesabaran dan ketelatenan untuk mengajari kucing atau anjing atau kelinci agar terbiasa dengan gaya hidup saya dan suasana rumah.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun saat melihat teman memiliki ikan di apartemennya, saya jadi tertarik untuk memelihara ikan. Teringat juga bagaimana tenangnya perasaan saya saat menunggu giliran dokter dan melihat ikan arwana di ruang tunggu bergerak tenang dan anggun. Mungkin bukan arwana yang akan saya beli nanti karena mahal; cukup dori dan clown fish, seperti di film Finding Nemo :D.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi... mungkin bukan jenis ikan yang perlu saya pikirkan sekarang, melainkan kemauan untuk memiliki sesuatu dan memeliharanya. Atau... mungkin juga bukan kemauan, melainkan kecocokan; karena selincah apapun gerak-gerik hewan itu, selucu apapun bentuk hewan itu, secantik apapun bulu hewan itu, atau setenang dan seanggun apapun hewan itu, bila tidak cocok di hati, belum tentu saya rela memelihara, dan belum tentu hewan peliharaan itu bisa tumbuh sehat dan panjang umur. Atau... untuk memastikannya, saya mungkin perlu melihat langsung ke mata masing-masing hewan yang dipajang/dijual, untuk menemukan potensi kecocokan. Tapi mungkin akibat pandangan saya, beberapa hamster atau kelinci sudah lari ke sisi lain kandang dan pipis karena nervous. Kucing mungkin sudah mengeong-ngeong minta segera digendong atau dielus, meski mereka belum tentu “jujur” dengan suara mengeongnya. Kalau anjing mungkin langsung balik  menatap mata saya dalam-dalam... hmmm... ada tidak ya, pandangan “tanpa dosa” seperti yang saya cari... guk, guK, gUK, GUK!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-3687253731015776727?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/3687253731015776727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=3687253731015776727' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/3687253731015776727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/3687253731015776727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/05/peliharaan.html' title='Peliharaan'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-4732356198687692492</id><published>2008-05-02T08:43:00.001+07:00</published><updated>2008-05-02T09:04:15.580+07:00</updated><title type='text'>Pekerjaan Rumah</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suatu sore di Bandung, saat duduk-duduk dengan 4 keponakan mungil-mungil (usia 6-10 tahun) sambil menonton tv, tiba-tiba terlintas pertanyaan: apa ini saatnya mereka mengerjakan pekerjaan rumah (PR)? Sedetik setelah saya melontarkan pertanyaan itu, keponakan yang paling besar langsung mengaduk-aduk tasnya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengeluarkan satu buku, dan langsung berusaha mengerjakan PR tentang Koperasi. Dua anak tengah langsung merengek dengan bencinya setelah mendengar kata “PR”, sementara yang bungsu menunggu jawaban Ibunya tentang PR apa yang dia punya untuk esok hari. Si bungsu masih tk besar, tapi sudah dapat PR.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Si sulung beberapa kali bertanya tentang jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di dalam bukunya. Pesan saya: baca dulu uraian/penjelasan di depan, baru soal-soalnya dikerjakan. Awalnya, jawaban dia: malas, ah…tapi akhirnya dia baca juga karena Oom-nya tidak mau memberi jawaban ;-). PR yang dia miliki terdiri dari 3 bagian. Pada bagian pertama, terdapat soal-soal isian titik-titik dengan jawaban yang ada dalam uraian tentang Koperasi. Bagian kedua menjodohkan. Ini masih mudah. Namun pada bagian ketiga, jawaban untuk soal-soalnya tidak bisa ditemukan di uraian. Semula saya tidak percaya, tapi setelah saya membaca uraiannya, saya baru sadar bahwa mungkin penyusunan materi pertanyaan dalam 3 bagian ini ada maksudnya. Bagian pertama: membutuhkan pemahaman setelah membaca uraian, bagian kedua: membutuhkan hafalan setelah membaca, bagian ketiga:membutuhkan interaksi antara anak dengan orang tua karena jawaban soal-soalnya tidak ada dalam uraian. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat itu langsung terlontar pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah Ibu guru di sekolah menjelaskan bagaimana cara mengerjakan PR ini? Jawaban keponakan saya: tidak. Apakah orang tua tahu maksud penyusunan soal-soal ini yang membutuhkan interaksi antara anak dan orang tua? Jawaban kakak saya: tidak atau kira-kira tahu (menebak). Lantas apakah setiap orang tua memiliki pengetahuan dan waktu yang cukup untuk membantu anak menjawab dan menjelaskan jawaban? Jawaban kakak: waktu ada tapi pengetahuan belum tentu karena banyak yang sudah lupa. Kesimpulan saya: masih ada yang kurang dalam sistem pengajaran anak-anak sekarang, sehingga PR menjadi beban baik bagi anak dan orang tua. Hal ini juga menciptakan kondisi yang kurang menguntungkan terutama untuk si sulung yang memang gemar belajar dan mengerjakan PR. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sekarang kasus dua anak tengah. Dua-duanya membenci PR, dan sepanjang proses pengerjaan PR, mereka berkeluh-kesah dengan alasan-alasan aneh bin lucu. Keponakan yang lebih besar mengeluh karena waktu mengerjakan PR bersamaan dengan serial Naruto, yang disambung dengan sinetron X, lalu sinetron Y (Oom-nya tidak pernah nonton sinetron jadi tidak tahu judul-judulnya).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia juga sering berhenti mengerjakan soal dengan alasan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tunggu lagunya selesai&lt;/span&gt;...&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nanti pas iklan&lt;/span&gt;... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;eh, iklannya lucu&lt;/span&gt;, dll. Keponakan ini yang paling banyak akal, banyak alasan dan jahil. Banyaknya &lt;i style=""&gt;distractions&lt;/i&gt;, seperti acara-acara tv, menyebabkan saat membuat PR menjadi saat-saat yang tidak menyenangkan. Sebenarnya dulu saya juga selalu belajar dengan ditemani tv. Namun karena saat itu hanya ada satu stasiun tv dengan proporsi acara penerangan yang lebih banyak dibandingkan acara hiburan, mata saya lebih banyak tertuju pada buku dibandingkan layar tv. Sekarang? Warna-warni, lagu dan dialog sinetron di tv jauh lebih menarik dibanding kalimat, gambar dan titik-titik yang harus diisi. Sebenarnya adalah tugas orang tua untuk meminimalkan&lt;i style=""&gt; distractions&lt;/i&gt; selama anak belajar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keponakan yang lebih kecil memiliki PR matematika. Anak ini sebenarnya cerdas karena hanya satu dari soal-soal yang diberikan hasilnya salah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi setiap ada hasil penjumlahan dan pengurangan yang mengandung angka “nol”, dia selalu berhenti, bingung dan merengek. Dia tidak suka membuat angka “nol”, katanya paling sulit. Ada-ada saja. Tapi setelah saya amati, ada alasan lain yang menyebabkan dia tidak suka angka “nol”. Anak ini kalau jam 8 malam sudah mengantuk. Jadi membuat angka nol membuat dia tambah mengantuk. Dugaan saya terbukti, karena begitu buku matematikanya dilipat dan ditaruh di tas, si anak langsung menuju kasur dan tidur. Kasihan. Saya lalu bilang sama kakak, mungkin lebih baik jika mereka mengerjakan PR langsung setelah pulang sekolah, biar semua urusan sekolah selesai semua dan setelah itu mereka bisa tidur siang, bermain, dsb. dengan lebih leluasa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Si bungsu ternyata tabiatnya lain. Dia lebih banyak menunggu dan mengamati kakak-kakaknya. Namun setelah diberitahu bahwa PR-nya adalah belajar membaca, dia tidak perlu menunggu perintah lagi dan langsung mengeja dan membaca sampai selesai. Hebat. Semoga saja semangatnya tidak luntur setelah dia masuk SD, saat dia menemukan teman dan pengaruh yang lebih beragam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Banyak juga yang bisa dipelajari dari polah tingkah keponakan-keponakan saya. Hasilnya memberi jawaban atas keingintahuan saya tentang alasan anak-anak, termasuk teman-teman saya dulu, tidak suka membuat PR. Meskipun sebagian besar alasan dulu dan sekarang berbeda, tapi ada beberapa alasan yang tetap sama, yaitu yang terkait dengan motivasi si anak, kejelasan panduan mengerjakan PR, dan peran orang tua terutama dalam menumbuhkan motivasi anak dan mengarahkan anak untuk membagi waktu dengan baik. Anak-anak juga perlu diajak untuk menonton berita di tv atau dibiasakan membaca koran, karena banyak ilmu pengetahuan umum yang dijadikan PR tapi tidak bisa ditemukan di buku. Saya jadi teringat dengan kegemaran saya dan kakak menonton acara “berita nasional” dan “dunia dalam berita”, dan bagaimanya serunya berebut koran dan majalah dengan kakak saya dulu setiap kali tukang koran langganan memanggil dari balik pagar.   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-4732356198687692492?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/4732356198687692492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=4732356198687692492' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/4732356198687692492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/4732356198687692492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/05/pekerjaan-rumah.html' title='Pekerjaan Rumah'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-8381335449509167034</id><published>2008-04-23T11:17:00.001+07:00</published><updated>2008-04-24T09:13:47.953+07:00</updated><title type='text'>The Wow Factor</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya sering berkhayal tentang hal-hal yang belum terjadi. Satu yang sering melekat dalam pikiran adalah bagaimana bisa memiliki kekuatan superpower yang tersembunyi. Tidak perlu banyak orang tahu, karena semakin tersembunyi, akan semakin misterius dan asyik. Juga tidak perlu menjadi superman, meskipun saat mengikuti test di salah satu website, saya digolongkan memiliki karakteristik serupa superman :P. Saya lebih tertarik dengan sosok manusia yang bisa mengalami metamorfosa seperti tokoh Mystic dalam film the X-Men, atau memiliki sifat genius dan kekuatan telekinetik seperti George Malley yang diperankan John Travolta dalam film Phenomenon. Yang terakhir rasanya lebih membumi dan lebih mungkin terjadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Khayalan seperti ini biasanya muncul saat saya merasa bosan dan ingin ada sedikit perubahan dalam rutinitas hidup. Saya ingin ada sesuatu yang membuat jantung saya sedikit berpacu dan perasaan saya yang bercampur baur karena bersemangat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perasaan saya saat ini persis seperti komentar Randy Jackson seusai mendengar penampilan salah satu kontestan American Idol: “&lt;i style=""&gt;It was okay, but I didn’t jump up and down over it or anything&lt;/i&gt;”. Dan saya juga merasa menjadi apa yang dinyatakan Paula Abdul sebagai “&lt;i style=""&gt;you're staying true to who you are and your niche, but there wasn’t a big wow factor&lt;/i&gt;.“ Hmmm… that “&lt;i style=""&gt;big wow factor&lt;/i&gt;”. Mungkin saya juga berada dalam kondisi seperti komentar Simon Cowell “&lt;i style=""&gt;you sang it well but it was actually&lt;/i&gt; v&lt;i style=""&gt;ery cheesy… didn’t see any originality… a cruise ship performance or …a reminiscent of a theme-park performance… with animated characters around you, and everyone joins in&lt;/i&gt;.” Ups… ini gara-gara terlalu banyak menonton Idol :P.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kembali ke… khayalan. Sedikit penelurusan di wikipedia menunjukkan bahwa perubahan DNA merupakan salah satu penyebab timbulnya karakter baru yang tidak ditemukan di alam, atau yang lebih dikenal dengan proses mutasi. Pada manusia, proses ini berjalan seiring dengan proses evolusi, atau perbedaan penciptaan (dan garis nasib, yang diyakini oleh para penentang teori evolusi). Sifat albino merupakan hasil mutasi yang banyak ditemukan pada manusia. Pada hewan, proses mutasi sering terjadi pada lobster biru dan lalat buah.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam film the X-Men, sebagian besar tokohnya merupakan mutan, dan penonton bisa melihat betapa beragamnya sifat-sifat baru yang dimiliki setiap mutan. Proses mutasi sudah membuat setiap orang menjadi lebih unik dibandingkan dengan orang lain. Dalam dunia nyata, hal ini mungkin tidak mudah terjadi karena perlu faktor yang baik untuk bisa menimbulkan sifat baru yang baik. Kalau tidak, betapa repotnya menghadapi mutan dengan sifat-sifat yang membahayakan orang lain. Namun meskipun unsur fiksi dalam film sangat kental, banyak hal yang kita tidak tahu apakah mungkin, bisa dan akan terjadi di masa mendatang. Perjalanan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;crew&lt;/span&gt; Star Trek atau Star Wars di alam semesta versi film sudah banyak menjadi inspirasi penemuan dan penjelajahan baru dalam mengenali dan memahami benda-benda di alam semesta.  &lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nah, jika di masa mendatang banyak hal mungkin bisa terjadi, kekuatan superpower apa yang paling ingin saya miliki? Ternyata menentukan jawabannya lebih sulit daripada membayangkan tokoh-tokoh superpower. Mungkin sifat telekinetik paling menarik untuk dimiliki dan tentu tidak hanya sebatas trik sulap membengkokkan sendok. Atau memiliki sifat awet muda sepanjang jaman. Kalau yang ini mungkin masih bisa diusahakan, apalagi setelah mendengar komentar teman-teman saat acara reuni: “kamu kok awet muda? kalau begini tidak cocok jadi P.....” atau saat mendengar komentar teman senior saat rapat kemarin “Wah, sudah lama nggak ketemu. Kok kamu kelihatan tambah kecil; bukan kecil badannya, tapi kelihatan tambah muda” :D&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun saya takut bahwa memiliki, atau sekedar merasa memiliki, kekuatan lebih dibandingkan orang lain sudah membuat saya buta. Saya tidak ingin seperti iklan-iklan di koran dan tv yang menawarkan bantuan komersial dengan berbagai kekuatan superpower. Saya takut bahwa memiliki kekuatan lebih sudah membuat saya menjadi takabur. Memiliki sifat lebih membutuhkan tanggung jawab yang lebih berat. Bila diberi sifat lebih, apa saya sanggup menanggung tantangannya?&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin yang sebenarnya saya cari dalam masa-masa membosankan seperti ini adalah “&lt;i style=""&gt;THE wow factor&lt;/i&gt;” karena hal ini dapat membuat hidup terasa lebih dinamis. Bentuknya tidak perlu besar, namun cukup menjadi insentif yang bisa membuat saya lebih bersemangat dan memberikan tantangan untuk terus bisa menemukan kesempatan baru, pengalaman baru dan meraih kemajuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-8381335449509167034?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/8381335449509167034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=8381335449509167034' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/8381335449509167034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/8381335449509167034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/04/wow-factor.html' title='The Wow Factor'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-5701096378841768990</id><published>2008-04-08T05:05:00.000+07:00</published><updated>2008-04-08T08:32:02.868+07:00</updated><title type='text'>Angka Istimewa</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kelahiran bayi sering memberi inspirasi bahwa hidup perlu dimulai lagi dari nol lagi. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun karena saya sudah menjalani hidup ini cukup lama, saya mungkin hanya perlu menjalankan fungsi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;defragmanted&lt;/span&gt; dalam sistem hidup saya. Dalam beberapa hari terakhir, saya sudah menjalankan fungsi ini di komputer kantor dan laptop, serta menata ulang barang-barang yang selama ini saya simpan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah semua selesai, kali ini giliran beberapa bagian dalam sistem dalam hidup saya perlu ditata ulang sehingga saya bisa melihat kesempatan baik yang ada dengan lebih lapang. Semoga semuan&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ya bisa membuat saya bisa meraih banyak cita-cita yang masih tertinggal. Amin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_zEJGx--p2P8/R_rITLbhEdI/AAAAAAAAADU/lOBc_kJ3AeE/s1600-h/meja.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_zEJGx--p2P8/R_rITLbhEdI/AAAAAAAAADU/lOBc_kJ3AeE/s200/meja.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186678152681820626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekarang saya ingin bernostalgia dengan tiga foto yang saya temukan saat saya menata ulang barang-barang di rumah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Foto pertama diambil saat saya berusia 5 bulan, dengan berat badan 11 kg. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Overweight &lt;/span&gt;dan dalam 7 bulan berikutnya saya harus menjalani diet ketat. Pose saya dalam foto itu merupakan pose standar bagi bayi&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; yang baru bisa tengkurap dan akan belajar merangkak. Yang menarik dari foto ini yaitu di sisi kiri foto tampak ada tangan ibu saya yang berjaga-jaga supaya saya tidak bergerak dan jatuh, mungkin karena permukaan tempat meja ditaruh tidak begitu rata.  Mungkin ini adalah hal yang biasa, tapi selama ini saya merasa bahwa almarhumah Ibu adalah orang yang paling dekat dengan saya. Saya juga percaya bahwa setiap kelancaran yang saya dapatkan dalam hidup merupakan hasil dari harapan, bimbingan dan doa dari almarhumah Ibu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/R_rIb7bhEeI/AAAAAAAAADc/O9cl3zVTkaU/s1600-h/tentara.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/R_rIb7bhEeI/AAAAAAAAADc/O9cl3zVTkaU/s200/tentara.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186678303005676002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_zEJGx--p2P8/R_rIybbhEgI/AAAAAAAAADs/0CvkIjBUHzg/s1600-h/balon.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_zEJGx--p2P8/R_rIybbhEgI/AAAAAAAAADs/0CvkIjBUHzg/s200/balon.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186678689552732674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Foto kedua diambil saat saya berusia tiga tahun. Waktu itu saya ikut karnaval, entah untuk 17-an atau hari Kartini. Saya tampak gagah berdiri di halaman rumah tetangga dengan baju tentara, peluit dan seekor singa mungil melindungi :P. Saya juga memakai sepatu boot tinggi, meski tidak tampak, sehingga saya bisa lebih tinggi dari pagar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Melihat foto ini, saya jadi berpikir bahwa orang harus berhati-hati jika memilih saya jadi pemimpin karena saya adalah orang yang teramat sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;demanding&lt;/span&gt;  ;-).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;Foto ketiga sudah membuat saya tersenyum-senyum sendiri.  Beginilah tampang saya saat dipaksa untuk difoto sesaat setelah saya bangun tidur (hint: lihat rambut saya :P).  Foto ini seperti menggambarkan sisi saya yang lain, yang begitu penurut dan mudah percaya pada orang lain. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Setelah dibangungkan dari tidur, saya masih mau disuruh berdiri di samping tanaman dan memandang kamera, sambil memegang balon.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mimik muka yang naif.  Tapi saya juga cinta perdamaian seperti gambar di balon yang saya pegang, Peace! :P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;08-04-08. Saya memang bukan ahli numerology, tapi susunan angka ini tampaknya merupakan angka yang istimewa karena enak dipandang dan diutak-atik. Namun saya lebih berharap hari ini merupakan awal dari banyak pengalaman istimewa yang akan saya dapatkan di tahun-tahun mendatang. Saya juga bersyukur bahwa saya diberkahi rahmat sehat, rejeki, perlindungan, persahabatan dan kekeluargaan yang membuat hidup saya cukup, lancar dan bahagia. Semoga semua yang baik bisa tetap dan lebih baik. Amin.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-5701096378841768990?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/5701096378841768990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=5701096378841768990' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/5701096378841768990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/5701096378841768990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/04/angka-istimewa.html' title='Angka Istimewa'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_zEJGx--p2P8/R_rITLbhEdI/AAAAAAAAADU/lOBc_kJ3AeE/s72-c/meja.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-1507771658858229114</id><published>2008-03-11T15:11:00.003+07:00</published><updated>2008-03-12T10:16:55.504+07:00</updated><title type='text'>Just Curious</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keingintahuan adalah suatu berkah karena bisa mendorong saya untuk berusaha mencari jawaban atau penjelasan tentang satu atau banyak hal yang saya tidak tahu atau mengerti. Keingintahuan juga bisa membuat pikiran saya melayang, berkhayal dan berteori tentang jawaban atau penjelasan yang masuk akal pikiran saya. Jawaban atau penjelasan biasanya dapat saya peroleh dengan bantuan orang lain, dari buku, dari informasi yang beredar di internet atau dari berbagai media yang sekarang mudah diakses. Namun &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;beberapa hal yang sampai sekarang saya masih belum bisa menemukan jawabannya. Berikut adalah sebagian yang masih terlintas dalam pikiran saya:&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;   Mengapa setiap orang memiliki uyeng-uyeng? Ada yang punya satu, dua atau tiga uyeng-uyeng. Lokasinya juga berbeda-beda, ada yang di ujung kanan dan/atau kiri kepala, tengah, di atas kening atau di atas pelipis. Ini semua hasil pengamatan saya terhadap kepala anak-anak, teman-teman dan kepala orang-orang yang duduk di depan saya di dalam kopaja atau bis :P. Sampai sekarang saya tidak bisa menerima penjelasan yang didasarkan pada kepercayaan Jawa bahwa anak yang punya lebih banyak uyeng-uyeng berarti dia lebih bandel.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pengamatan saya menunjukkan bahwa ada teman yang memiliki uyeng-uyeng tiga tapi sangat soleh; sebaliknya ada yang memiliki uyeng 1 buah (apa penyebutannya tidak perlu diulang karena hanya satu?) tapi nakalnya luar biasa. Pencarian di internet tentang penjelasan fungsi uyeng-uyeng tidak memberikan hasil yang memuaskan;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;   Mengapa orang makan mie kuah dengan nasi? Saya heran melihat ada seorang ibu menanyakan kepada pelayan apakah ada nasi saat pesanan baksonya datang. Saya lebih heran lagi saat pelayan resto khusus bakso itu menjawab: ada. Si ibu pun lalu menyuapi anaknya dengan mie bakso nasi sapi, atau apalah namanya. Dari hasil mengobrol sebentar dengan kasir, ternyata menu nasi putih memang disediakan karena banyaknya permintaan pelanggan.  Saat saya bertanya kepada teman-teman di kantor, beberapa mengkonfirmasi kalau makan mie rebus dengan nasi itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya pikir orang sudah tahu kalau mie itu sumber karbohidrat, sama dengan nasi.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Namun mungkin selera orang berbeda-beda, atau penjelasan yang masuk akal mungkin: masih banyak orang yang tidak merasa ‘makan’ bila belum makan nasi. Jadi ingat seorang teman yang merantau jauh ke NZ dan merasa sangat sengsara bila tidak makan nasi 3 kali sehari;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;  Mengapa orang sering menyerobot dalam antrian? Penyerobot ini tidak pandang bulu, usia, status, kekayaan, warna kulit dan rasa malu. Sebenarnya ini sudah umum terjadi di sini, tapi saya juga sempat menemukan satu-dua kejadian saat mengantri di luar negeri. Bila menyerobot disebabkan karena kondisi gawat darurat dan si penyerobot meminta ijin/memberi tahu, mungkin tidak akan ada--atau lebih sedikit--masalah. Namun sesuai dengan sebutan “penyerobot”, tindakan penyerobotan selalu dilakukan tanpa ada pemberitahuan. Teori saya menyatakan bahwa orang menyerobot itu hanya sekedar coba-coba.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau orang lain komplain hanya sebatas perkataan ya bisa dianggap angin lalu saja; tapi kalau responnya sudah mulai dalam bentuk fisik, si penyerobot bisa lawan fisik juga atau mengurungkan tindakan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Beruntung pilihan terakhir lebih banyak dipilih. Namun yang saya belum tahu jawabannya adalah apa yang dipikirkan para penyerobot itu tentang orang-orang di sekitarnya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;   Mengapa orang harus memanjat pagar sedangkan pintu pagar tidak dikunci? Ini hanya sekedar hasil pengamatan selintas saat saya melintas di depan sebuah rumah dan mendapati seorang pemuda sedang memanjat tembok pagar sedangkan pintu pagar di ujung rumah yang saya lewati tetap terbuka. Ingin rasanya bertanya langsung, tapi untuk apa? Saya hanya sedikit ingin tahu kenapa si pemuda harus berusaha keras memanjat kalau pintu yang berjarak 8 langkah saja sudah terbuka. Atau.... jangan-jangan itu pencuri... wah gawat;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;   Mengapa jika orang naik angkot, banyak yang suka duduk di ujung dekat pintu dengan posisi duduk diagonal sehingga menghalangi orang lain masuk dan duduk? Aduh panjang sekali pertanyaan ini :P Sama halnya dengan orang yang naik busway, banyak yang hanya bergerombol di dekat pintu padahal turunnya masih jauh. Toh posisi dalam angkot atau busway tidak selalu menentukan ke-hoki-an seseorang. Dalam angkot, duduk dekat pintu memang memudahkan turun. Dalam busway, berdiri dekat pintu juga memudahkan keluar. Namun orang terkadang tidak berpikir kalau angkot itu kendaraan umum sehingga duduk di ujung dengan posisi diagonal sudah menyalahi HAM penumpang lain :P Lebih-lebih orang-orang yang bergerombol di dekat pintu busway karena selain menghalagi orang masuk, mereka menyusahkan diri sendiri karena area di dekat pintu pada umumnya tidak memiliki pegangan yang cukup. Ini hanya sekedar pertanyaan, meskipun saya hanya bisa menduga penjelasannya tanpa tahu alasan pasti mengapa orang hobby “mojok” dan “bergerombol”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Semua merupakan sedikit dari banyak keingintahuan saya tentang apa yang saya amati sehari-hari. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain, dan mungkin tulisan ini akan bersambung. Kita lihat saja nanti :-)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-1507771658858229114?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/1507771658858229114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=1507771658858229114' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/1507771658858229114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/1507771658858229114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/03/just-curious.html' title='Just Curious'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-2193471742958856428</id><published>2008-02-22T10:16:00.002+07:00</published><updated>2008-02-22T10:22:48.478+07:00</updated><title type='text'>Your Song - My Song</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Your Song&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Elton John/Bernie Taupin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's a little bit funny this feeling inside&lt;br /&gt;I'm not one of those who can easily hide&lt;br /&gt;I don't have much money but boy if I did&lt;br /&gt;I'd buy a big house where we both could live&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If I was a sculptor, but then again, no&lt;br /&gt;Or a man who makes potions in a traveling show&lt;br /&gt;I know it's not much but it's the best I can do&lt;br /&gt;My gift is my song and this one's for you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And you can tell everybody this is your song&lt;br /&gt;It may be quite simple but now that it's done&lt;br /&gt;I hope you don't mind&lt;br /&gt;I hope you don't mind that I put down in words&lt;br /&gt;How wonderful life is while you're in the world&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I sat on the roof and kicked off the moss&lt;br /&gt;Well a few of the verses well they've got me quite cross&lt;br /&gt;But the sun's been quite kind while I wrote this song&lt;br /&gt;It's for people like you that keep it turned on&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So excuse me forgetting but these things I do&lt;br /&gt;You see I've forgotten if they're green or they're blue&lt;br /&gt;Anyway the thing is what I really mean&lt;br /&gt;Yours are the sweetest eyes I've ever seen&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Jauh sebelum saya melihat film Moulin Rouge dan mendengar Ewan McGregor menyanyikan lagu ini, saya sudah suka dengan lagu ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lagu ini terdengar sangat manis, tapi juga bisa memberi kesan ironi dan tragis seperti yang saya pernah dengar di bagian akhir dari film “Breaking the Waves” yaitu saat sang tokoh utamanya menjelang ajal. Lagu yang sederhana, dan &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;dinyanyikan secara sederhana, dengan beberapa lirik yang serupa percakapan sederhana tapi tulus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari sekian puluh koleksi CD yang saya miliki, ada empat CD yang memuat lagu ini. Selain itu, saya juga punya versi MP3-nya.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya sering berharap untuk bisa membawakan lagu ini bila ada kesempatan menyanyi secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;live&lt;/span&gt;. Namun belum pernah ada band yang siap untuk mengiri lagu ini setiap kali saya punya kesempatan menyanyi secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;live&lt;/span&gt;. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Lagu ini juga kurang pas kalau dinyanyikan karaoke karena begitu sederhana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akhirnya saya hanya menyanyikan lagu ini untuk diri sendiri saja, untuk menemani saya dalam berkegiatan di rumah seperti selama bersih-bersih, selama mencuci atau menyetrika baju, selama masak, atau selama menunggu jeda iklan di tv. Pernah saya mencoba menyanyikan lagu ini saat berkendaraan dengan teman, tapi si teman tidak suka karena merasa saya pamer suara dan berusaha menyaingi dia yang memang berprofesi sebagai penyanyi. Nasib.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah saya sering menyanyikan lagu ini di rumah, saya jadi rindu untuk kembali menyanyi secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;live&lt;/span&gt;, bukan karaoke. Yang saya ingat, kali terakhir saya tampil menyanyi diiringi band yaitu saat liburan bersama teman-teman kantor di tahun 2003. Saya juga menjadi rindu untuk bisa tampil bernyanyi bersama teman-teman yang dulu bergabung dalam group acapella dan band. Saya juga rindu untuk kembali mengolah suara di paduan suara.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kerinduan untuk menyanyi secara live semakin menjadi saat saya melihat Delon menyanyikan lagu ”To Where You Are” dalam sebuah acara tv. Saat itu saya sudah hampir tertidur karena lampu kamar sudah dimatikan. Tapi penampilan Delon malam itu membuat saya terjaga dan teringat akan masa-masa dulu saat saya menyanyikan nada-nada tinggi dengan alunan dan tempo yang beragam tanpa fals.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya juga ingat dengan guru seni suara di SMP dan SMA yang mengajarkan olah pernafasan dan pelafalan lirik secara benar. Guru saya merupakan penyanyi seriosa, dan salah satu kakak kelas saya sekarang sudah menjadi penyanyi seriosa terkemuka di tanah air. Saya juga teringat saat bersama teman-teman berlatih acapella atau vocal group di halaman aula saat mahasiswa; atau berlatih band untuk bersiap tampil di acara kampus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ingin rasanya kembali merasakan kesempatan seperti itu.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kerinduan seperti ini lumrah karena saya tahu bahwa hanya dengan menyanyi saya bisa merasa bebas mengungkapkan isi hati. Menulis sebenarnya juga memberi saya kesempatan untuk menuangkan isi hati, tapi hanya sedikit panca indra saya yang berinteraksi selama menulis. Berbicara dan berdiskusi juga memberi kesempatan serupa, tapi saya cenderung mengolah isi hati berdasarkan respon lawan bicara/diskusi. Hanya menyanyi yang membuat saya bisa mengeksplorasi dunia dalam bentuknya yang luas tanpa batas.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kesempatan yang ada sekarang sudah banyak yang tereduksi. Kesibukan bekerja dan jauhnya jarak antara rumah dan kantor hanya memberikan sedikit waktu luang untuk membuka-buka koleksi CD dan menyanyikan beberapa lagu favorit. Kesempatan karaoke ada, namun saya tidak begitu suka karena justru dengan berkaraoke saya tidak bisa bernyanyi lepas. Berkaraoke membuat saya merasa tidak bebas dan terpaksa karena seperti menunggu giliran/suruhan. Aneh, tapi begitulah pengalaman dan kesan saya.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bila dalam bulan-bulan ke depan ada sedikit waktu luang, saya akan mengunjungi teman-teman lama, sekedar untuk menyapa mereka. Dan bila mereka juga merasa rindu untuk bernyanyi bersama, ini berarti gayung bersambut. Semoga :-)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-2193471742958856428?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/2193471742958856428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=2193471742958856428' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2193471742958856428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2193471742958856428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/02/your-song-my-song.html' title='Your Song - My Song'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-9044505585900706402</id><published>2008-01-28T09:16:00.000+07:00</published><updated>2008-01-28T15:39:54.817+07:00</updated><title type='text'>Bookends</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Bright Eyes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;by Art Garfunkel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Is it a kind of dream,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Floating out on the tide,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Following the river of death downstream?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh, is it a dream?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;There's a fog along the horizon,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A strange glow in the sky.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And nobody seems to know where you go.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And what does it mean?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh, is it a dream?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Burning like fire.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can you close and fail?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can the light that burned so brightly&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suddenly burn so pale?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Is it a kind of shadow,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reaching into the night,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wandering over the hills unseen?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Or is it a dream?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;There's a high wind in the trees,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A cold sound in the air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And nobody ever knows when you go.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And where do you start,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh, into the dark?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Burning like fire.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can you close and fail?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can the light that burned so brightly&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suddenly burn so pale?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Burning like fire.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can you close and fail?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can the light that burned so brightly&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suddenly burn so pale?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menjelang akhir tahun lalu, saya pernah mencantumkan lirik lagu Bright Eyes yang dinyanyikan Art Garfunkel. Lagu yang menggambarkan proses kematian.  Saya rasa, lagu ini cocok untuk mengenang kepergian Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali mendengar berita bahwa Beliau meninggal, saya sedang menyetrika dan mendengar sayup-sayup suara tetangga membicarakan berita meninggalnya Pak Harto.  Posisi dan tempat menyetrika langsung saya pindah ke depan tv, dan sepanjang siang-sore dan malam itu saya tidak beranjak dari depan tv. Innalilahi Wainna Ilahi Rajiun&lt;span style=""&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan saya terhadap Beliau sangat dalam karena saya lahir dan besar di jaman pemerintahannya.  Memang sulit untuk mengikuti semua ajaran Pancasila, UUD 45 dan lainnya yang disetting untuk setiap anak Indonesia dan harus dihafal mulai sejak SD sampai SMA. Memang hanya sedalam hafalan saja, saya baru bisa mengamalkan semua ajaran itu.  Namun karena Beliau-lah saya bangga sudah lahir, tumbuh dan besar sebagai anak Indonesia.  Saya juga menjadi tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan pertanian karena Beliau memperlihatkan kecintaannya pada upaya pemenuhan dan peningkatan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga merasa salut atas kemampuan Beliau memimpin, sehingga dalam negara ini hanya ada satu suara pemimpin. Amanat memimpin berjuta-juta penduduk yang beragam merupakan tanggung jawab yang besar namun berhasil Beliau jalankan.  Memang tidak semua yang Beliau pikirkan dan jalankan sesuai dengan hati saya, namun saya menyadari bahwa Beliau adalah manusia biasa.  Keunggulan selalu bersisian dengan kekurangan.  Keputusan yang baik selalu bersisian dengan resiko.  Jika suatu keputusan akan membuat satu hal menjadi baik, sering keputusan itu justru membuat hal lain menjadi korban.  Suatu tanggung jawab yang berat untuk seorang pemimpin. Andaikan saya ada di posisi Beliau, mungkin saya sudah berjalan mundur sejak hari pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memiliki kalender meja yang setiap tanggalnya memiliki kata-kata arif dan bijak.  Suatu kebetulan bahwa pada hari ini, Senin tanggal 28 Januari 2008, kata-kata bijak yang tercantum berbunyi: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebagaimana kita menutup mata orang yang meninggal secara pelan-pelan, kita harus membuka mata orang yang hidup secara pelan-pelan&lt;/span&gt;".  Kini Pak Harto sudah menghadap Sang Pencipta. Semoga amal ibadah Beliau diterima Alloh SWT dan Beliau mendapat ampunan atas semua kesalahannya.  Satu catatan sejarah sudah ditutup dan yang tertinggal adalah kenangan yang menjadi pelajaran bagi setiap orang yang masih diberi umur panjang untuk menapaki hari depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Bookends&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;by Simon and Garfunkel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Time it was, and what a time it was, it was&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A time of innocence&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A time of confidences&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Long ago, it must be&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I have a photograph&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Preserve your memories&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;They're all that's left you&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-9044505585900706402?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/9044505585900706402/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=9044505585900706402' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/9044505585900706402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/9044505585900706402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/01/bookends.html' title='Bookends'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-7915483716157213634</id><published>2008-01-27T10:06:00.000+07:00</published><updated>2008-02-01T09:40:26.137+07:00</updated><title type='text'>Kenapa Leonardo?</title><content type='html'>Awalnya saya mengira judul pementasan Teater Koma itu merupakan pertanyaan: "Mengapa, Leonardo?" Namun setelah melihat pementasan dan membaca booklet yang dibagikan, pelafalan yang lebih tepat yaitu dengan menyebutkan dua kata dalam pertanyaan tersebut secara langsung, tanpa koma. Dalam versi Inggrisnya, judul tersebut berbunyi "What about Leonardo?" yang sebenarnya bisa diartikan langsung "Bagaimana dengan Leonardo?" atau menurut versi dan kesan saya setelah melihat pementasannya menjadi "Apa yang istimewa dari (atau menjadi) seorang Leonardo?" Begitulah kira-kira jika ingin mendebat judul pementasan tersebut.  Namun demikian, saya setuju bahwa dari segi publikasi, judul "Kenapa Leonardo?" lebih mudah diingat. Dengan pelafalan yang tepat, arti judul tersebut juga sama dengan judul versi saya ;-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan Teater Koma ini merupakan pengalaman pertama saya melihat pertunjukan teater secara live. Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin melihat pementasan Teater Koma, tapi waktu belum berpihak.  Namun kesempatan kali ini tidak saya sia-siakan.  Setiap pagi saya selalu melihat poster pementasan tersebut dan saya juga sempat melihat ulasan mengenai pementasan ini di salah satu stasiun tv. Pencantuman nama saya di judul juga semakin membuat saya penasaran. Saat tiket yang saya pegang begitu istimewa: undangan VIP, yang memungkinkan saya duduk di kursi paling tengah, saya tidak lagi berpikir panjang untuk meluangkan waktu melihat pementasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Leonardo?" dipentaskan secara baik oleh Teater Koma. Saya juga terkesan dengan pembagian porsi pemain yang pas dan setting panggung yang bagus. Awalnya saya tidak tahu tokoh utamanya karena masing-masing peran memiliki porsi yang hampir sama selama 30 menit pertama pementasan. Lambat laun ceritanya meluncurkan sang tokoh utama, Pak Martin, yang diperankan secara baik oleh Budi Ros. Petunjuk lainnya tentang tokoh utama cerita yaitu lima pemain pantomim (di booklet disebut sebagai lima Martin) yang selalu menggambarkan gejolak pengalaman Pak Martin selama di lembaga terapi saraf. Saya merasa beruntung bisa melihat N. Riantiarno berakting lagi, dan saya sekarang tahu kualitas Cornelia Agatha dalam berteater. Di samping ketiganya, saya juga teringat dengan tokoh Bu Risah (diperankan oleh Sari Madjid) yang selalu bertanya: "Bagaimana dengan yang ini?" untuk mengawali cerita-cerita lucunya. Selaan yang dilontarkan Bu Risah meskipun singkat seperti mencairkan suasana, atau sekedar memberi gelitik dalam memahami pertarungan politik dan kerumitan urusan di lembaga terapi saraf. Saya juga kagum dengan olah vokal dari para pemain. Intonasi dan kekuatan suara begitu tepat dan artikulasinya jelas. Dari semua pemain, saya paling kagum dengan olah suara dari Tuti Hartati yang memerankan Rebeka, begitu halus namun jelas dan dengan karakter yang mungkin paling berbeda di antara pemain-pemain lainnya. Pementasan yang bagus. Bilapun ada kesalahan, seperti kesalahan pengucapan nama dalam dialog, semua tertutupi secara rapi dan para pemain tetap konsentrasi pada dialog selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pementasan ini dipromosikan di tv, pesan yang saya tangkap adalah untuk datang dan menonton dengan hati dan pikiran terbuka. Pesan yang memberi hasil karena saya mendapat banyak kesan setelah menonton pementasan ini. Mulai dari yang sederhana: saya baru tahu kalau ada pembedaan antara penyakit akibat gangguan syaraf dan akibat gangguan jiwa. Jadi gila bukan selalu sakit syaraf atau sakit jiwa; bisa salah satu atau keduanya :-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan yang kedua yaitu tokoh-tokoh yang mengalami gangguan syaraf di lembaga terapi itu seperti menggambarkan manusia-manusia normal dengan masalahnya sendiri-sendiri. Ada yang begitu pandai namun banyaknya informasi yang dimilikinya membuat hidupnya begitu sulit. Ada yang begitu ahli dalam memprediksi suatu kejadian, namun menjadi begitu sensitif. Ada yang begitu riang, namun keriangannya tidak terkontrol. Ada yang begitu merindukan cinta, namun begitu mudah dihanyutkan impian dan pengaruh orang lain. Ada yang ahli dalam bersandiwara, namun tetap memerlukan pendulum untuk membuat hidupnya tegak-lurus dan berguna. Ada yang memiliki hidup yang nyaris lancar, tapi masih di luar harapan orang terdekat. Ada yang hidup serba cukup, tapi tidak pernah merasa puas. Ada yang berdedikasi, tapi kurang progresif dan cenderung cepat merasa cukup. Ada yang selalu progresif dan inovatif, namun terlalu naif untuk mau melihat dunia di luarnya dengan hati. Ada yang mampu mengarahkan orang menjadi lebih baik, namun masih kurang mampu mengendalikan potensi negatifnya. Semua hal ada kekurangannya. Dan bila semua kekurangan itu di-nol-kan, seperti tokoh Pak Martin yang mengalami kekosongan jiwa/sifat/nilai, kesempatan untuk menjadi manusia baru menjadi terbuka. Keinginan untuk menjadi sempurna dengan menggabungkan sifat-sifat yang unggul semakin menggebu. Apakah akan berhasil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu "Kenapa Leonardo?" Dalam pementasan itu, pertanyaan ini sebenarnya hanya disebutkan sekali, dan bunyi tepatnya adalah: "Bagaimana dengan Leonardo?" Leonardo di sini merujuk pada Leonardo da Vinci yang memiliki berbagai bakat yang luar biasa dalam mencipta dan berpikir ke depan. Tokoh Pak Martin yang mengalami peng-nol-an jiwa, sudah dimodifikasi dan diisi ulang oleh dokter Dasilva dengan berbagai keunggulan yang dilatih. Perdebatan dua dokter yang merawatnya pun berkepanjangan. Yang satu merujuk pada pentingnya mengisi ulang manusia nol dengan keunggulan layaknya seorang Leonardo; sedang yang lain lebih percaya bahwa cara terbaik untuk mengisi ulang manusia yaitu dengan memanusiakan kembali, dengan hati, daging dan pikiran. Sebagaimana umumnya manusia yang tidak sempurna, keunggulannya selalu bersisian dengan kekurangan. Bila keunggulan itu dibangun tanpa hati, tidak ada pagar yang dapat membatasi sisi kekurangannya untuk tetap diam ditempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kesan yang saya dapatkan dari pementasan "Kenapa Leonardo?" Kesan yang lumayan dalam dan bisa berlaku tidak saja untuk setiap individu, tapi juga dalam konteks kelembagaan yang lebih besar, seperti pemerintahan. Dalam suatu impian dan usaha mengejar kemajuan, kita tidak boleh lupa untuk tetap bisa memanusiakan setiap manusia yang terlibat, baik yang aktif terlibat maupun yang terkena dampaknya. Mungkin kesan yang saya tangkap agak berbeda dengan maksud naskah aslinya. Namun semua tetap merujuk pada pesan sosial yang selalu menjadi bagian dari misi pementasan Teater Koma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya pulang dengan hati puas. Waktu yang saya luangkan dari jam 7.30 malam sampai 11.50 malam sangat jauh dari sia-sia. Saya merasa puas karena pengalaman pertama menonton teater terasa begitu istimewa. Merasa puas karena bisa melihat suatu tontonan yang merupakan hasil kerja yang bagus, baik dalam pemilihan dan pengalihbahasaan naskah cerita, maupun dalam persiapan dan pentasannya. Semoga Teater Koma tidak lama beristirahat sebelum melanjutkan pementasan-pementasan berikutnya. Satu penonton setianya sudah bertambah :-).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-7915483716157213634?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/7915483716157213634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=7915483716157213634' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7915483716157213634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7915483716157213634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/01/kenapa-leonardo.html' title='Kenapa Leonardo?'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-5246345858880817598</id><published>2008-01-21T09:24:00.000+07:00</published><updated>2008-01-21T16:40:09.641+07:00</updated><title type='text'>Talk Soup</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akhir Desember lalu, mantan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; flatmate&lt;/span&gt; di Ithaca datang mengunjungi saya setelah dia mudik liburan natal di Norwegia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sudah sekitar 10 tahun kami tidak bertemu, dan dia tidak banyak berubah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia masih menjulang tinggi sehingga saya tampak hanya seperti anak kecil jika berjalan bersisian dengan dia. Potongan rambutnya saja yang berbeda, tidak lagi dibiarkan panjang, dan sekarang tampak disesuaikan dengan pekerjaannya sebagai manajer salah satu perusahaan minyak negaranya di Skotlandia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada banyak cerita yang sering kami bicarakan berulang-ulang di email atau saat kami bertemu, sekedar untuk bernostalgia. Salah satunya yaitu bagaimana herannya dia pada suatu hari Rabu sore di bulan Agustus 1997 melihat ada anak kecil dan berkulit sawo matang datang mengangkat satu koper yang luar biasa besar di flat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hanya sempat bersalaman dan saling berkenalan sebentar, dia tidak melihat lagi si anak kecil selama 2 jam, sampai kemudian ada orang menekan bel pintu mengantarkan sekeranjang sayuran, daging dan beras untuk si anak kecil. Satu jam kemudian, dia merasa tenggorokannya kering dan hidungnya mencium bebauan yang baru pertama kali dihirup selama hidupnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia pun terbatuk-batuk, merasa agak pusing, sekaligus merasa bingung saat melihat si anak kecil begitu giat memasak di dapur dengan asap mengepul dan beragam bebauan asing. Dia menggeleng-geleng dan hanya tertawa saat si anak kecil itu menawari dia makanan yang berbau sangat tajam itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Si anak kecil itu tidak lain dan tidak bukan si doel Leo yang selama 2 jam sebelumnya tertidur karena masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jetlag&lt;/span&gt; dan sekarang terburu-buru memasak karena kelaparan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Flat yang kami tempati terletak di Cayuga Heights, salah satu daerah yang terindah di Ithaca, dan memiliki 3 kamar. Teman saya yang menjulang tinggi asal Norwegia itu tinggal di kamar terkecil, sedangkan saya yang bertubuh paling kecil tinggal di kamar terbesar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Flatmate&lt;/span&gt; lain dari Amerika tinggal di kamar berukuran sedang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kami bertiga memiliki karakter yang berbeda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun saya dan teman dari Norwegia masih sering bertemu dan mengobrol, sedang teman dari Amerika biasanya bangun siang lalu begadang sampai jam 2 malam di kampus karena mengerjakan tugas gambar atau maket bangunan. &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam sehari, saya dan teman Norwegia ini sering berebut dapur karena masing-masing memilih untuk memasak sendiri dibandingkan dengan membeli makanan di luar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi teman dari Norwegia biasanya akan mengalah karena tidak begitu tahan dengan bau dari berbagai bumbu yang saya pakai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selama satu tahun tinggal bersama, dia hanya mau merasakan tempe, tahu, sate, lumpia, podeng roti dan kue-kue buatan saya.  Selain itu, dia lebih memilih memandangi saya saja yang makan dengan semangat. Dia juga heran melihat porsi makan saya yang hanya sepertiga dari porsi makannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jelas saja karena orang tinggi biasanya perlu makanan lebih banyak. Teman saya ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;membawa satu buku resep turun-temurun dari neneknya, dan dari buku itulah saya belajar membuat apple bread yang cara persipannya singkat dan mudah, tapi hasilnya enak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia juga membuat roti tawar sendiri, dan kalau dia membuat roti, seluruh dapur akan menjadi putih karena tepukan tepung terigu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Teman saya ini sebenarnya anak orang kaya, karena peternakan orang tuanya merupakan peternakan terluas nomor tiga di kota tempat tinggalnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun seperti banyak orang Norwegia lainnya, sudah sejak kecil dia belajar hidup hemat dan menyiapkan segala sesuatu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain memasak, kami juga suka menonton tv bersama. Berbeda dengan teman asal Amerika yang hanya mau menonton acara pertandingan American football dan baseball.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari sekian banyak acara tv, ada tiga yang menjadi favorit saya dan teman dari Norwegia: Seinfeld, berita sore dan Talk Soup. Acara yang terakhir ini merupakan acara gossip dari stasiun tv E! Pembawa acaranya begitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;witty&lt;/span&gt; karena sering memberi komentar dan sering membawakan acara dalam suasana yang aneh-aneh.&lt;span style=""&gt;  Banyak hal dari acara itu memberi ide perbincangan baru dan ringan, yang membuat saya dan teman Norwegia ini 'nyambung'. &lt;/span&gt;Acara menonton tv bareng biasanya dimulai dari pukul 5 sore hingga 7.30 malam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selama itu, kami memasak, mengobrol, menonton tv dan makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain acara menonton tv, kami sebenarnya tidak punya kegiatan bersama lain.&lt;span style=""&gt;  Saya lebih gemar belajar olah raga dan pergi ke bioskop kampus untuk mengisi waktu luang, sedangkan teman Norwegia lebih memilih berdiam di rumah atau berkeliling &lt;span style="font-style: italic;"&gt;party&lt;/span&gt; saat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;weekend&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Menonton film bersama di bioskop kampus pun hanya satu kali yaitu saat film terpanjang sepanjang masa diputar: Hamlet. Kami juga pergi bersama saat ada Dragon Day dan Slope Day di kampus. Pada akhir tahun ajaran, teman saya ini pergi berkeliling ke beberapa negara bagian Amerika seorang diri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya memilih menghabiskan waktu libur dengan berdiam di kampus dan memperdalam teknik berenang dan bermain tenis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah itu dua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;flatmates&lt;/span&gt; lulus dan kembali ke negara/kota asalnya, sedangkan saya pindah flat meski masih di komplek yang sama.  Sejak itu kami tidak pernah lagi bertemu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kunjungan teman saya kali ini boleh dikata sudah direncanakan sejak 3 tahun lalu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Awalnya dia ingin mengunjungi saya saat saya di New Zealand, namun terpaksa harus berubah lokasi tujuan karena dia begitu sibuk bekerja dan saya selesai sekolah lebih awal dari rencana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebelum berangkat, sudah banyak informasi yang saya kirimkan melalui email.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya mencoba menyediakan informasi secara lengkap meski saya tahu tidak semuanya relevan dengan keinginan teman saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selain itu, saya tahu bahwa dia merupakan tipe &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sole explorer&lt;/span&gt;, yang suka pergi kesana kemari sendirian saja. Dan terbukti saat dia datang, dia ternyata lebih suka perjalanan yang memberinya banyak kesempatan untuk melihat kehidupan orang-orang lokal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia lebih suka mendapat sedikit bekal informasi, dan akan mengeksplorasi selebihnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Meski saya sudah paham dengan karakter sahabat saya ini, awalnya saya sempat khawatir akan terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan selama dia mengeksplorasi berbagai lokasi di Jawa-Bali-Lombok. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saya pun menyediakan waktu menemani dia dalam hari-hari pertama dia di Jakarta. Selama periode ini dia sempat mengunjungi beberapa museum dan pelabuhan Sunda Kelapa. Saya juga mengajak dia untuk berkunjung ke TMII dan Taman Safari. Kami merasa beruntung ada teman yang berbaik hati mau ikut mengantar dan memberi informasi/saran baru. Informasi dan tips yang sudah diberikan menjadi bekal bagi perjalanannya berikutnya, meski dia terkadang lupa satu dua hal sehingga menemuni sedikit kesulitan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kekhawatiran saya ternyata hanya sebatas kekhawatiran saja karena dengan perawakannya yang menjulang tinggi dan pembawaannya yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;low profile&lt;/span&gt;, sahabat saya ini justru menarik minat banyak orang untuk membantu dia dalam perjalanan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia selalu bilang bahwa kemana-mana ada orang yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'hijack'&lt;/span&gt; dia dan menemani dia menjelaskan banyak hal tentang tempat yang dikunjungi, atau menawarkan tempat tinggal dan tumpangan saat dia kemalaman. Dia juga merasa senang karena orang-orang yang terkadang muncul dari arah yang tidak diduga ini rata-rata fasih berbahasa Inggris. Hanya ada dua pengalaman kurang menyenangkan yang dia alami: dipalak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;porter&lt;/span&gt; barang di stasiun kereta api Gambir dan jadwal kereta/feri yang terlambat rata-rata 2 jam; selebihnya lancar. Saya juga turut senang saat mendengar bahwa banyak informasi dan tips yang saya berikan benar-benar berguna.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Satu hal saja yang saya sesalkan yaitu tidak bisa menyediakan informasi yang berimbang tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;traveling&lt;/span&gt; di Lombok. Saat teman saya berada di Yogya, dia mendengar pengalaman turis asal Belgia yang mengalami banyak hal yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kurang menyenangkan saat berkeliling di Lombok bagian barat daya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini membuat teman saya segera banting stir untuk hanya berdiam di Gili Trawangan dan tidak jadi menjelajahi bagian-bagian lain dari Pulau Lombok. Informasi ini saya dengar saat teman saya sudah kembali ke Jakarta. Andai saya punya waktu untuk menemani dia, mungkin perjalanannya akan lebih berkesan. Namun secara umum, teman saya sangat terkesan dengan Indonesia dan dia bisa pulang dengan perasaan senang.  Semoga suatu saat saya bisa mengunjungi dia di Skotlandia atau di Norwegia. Pilihan yang terakhir rasanya cukup menarik karena saya mungkin bisa membandingkan keindangan Milford Sound di NZ dengan Fiord di Norwegia. Semoga ada rejeki ;-)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-5246345858880817598?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/5246345858880817598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=5246345858880817598' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/5246345858880817598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/5246345858880817598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/01/talk-soup.html' title='Talk Soup'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-2810452566653193309</id><published>2007-12-31T22:16:00.000+07:00</published><updated>2008-01-01T06:54:20.975+07:00</updated><title type='text'>Catatan Yang Tersisa di Tahun 2007</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di awal tahun 2007 saya mengutip lagu “Cool Change” untuk menandai tekad saya untuk berubah menjadi orang yang lebih baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alhamdulillah saya sendiri merasakan ada perbaikan, dan perbaikan itu saya raih dalam situasi yang turun naik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun ada beberapa hal yang masih menjadi catatan sebagaimana lumrahnya setiap perjalanan hidup.    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hanya sedikit buku fiksi yang saya baca selama tahun 2007.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Satu di antaranya yaitu Man and Boy karya Tony Parsons.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Awalnya saya merasa tidak terlalu sulit untuk begitu saja membacanya, tapi ternyata sebaliknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya membutuhkan waktu lebih dari 6 bulan untuk menyelesaikannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya seperti tumbuh bersama tokoh utama di dalam buku itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di bagian awal, saya merasa gemas dan kesal karena membaca betapa kekanak-kanakannya sikap seorang pria yang sudah menikah dan memiliki anak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun dengan berjalannya cerita, saya menyadari bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk berubah. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Niat untuk berubah tidak selalu memberi hasil seperti yang direncanakan karena hidup tidak selalu berjalan lurus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam perjalanan, setiap orang menemukan pengalaman baru, bertemu orang baru, mendapat kesempatan baru dan/atau mendapat masalah baru. Saat sang tokoh utama dalam buku yang saya baca mencoba berubah, orang-orang dan kondisi di sekitarnya juga berubah. Tidak mudah. Apa yang dia miliki lepas satu per satu, dan yang dia lakukan adalah tetap bertahan dan terkadang pasrah ikut mengalir bersama perubahan yang ada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cerita berakhir tidak sempurna, namun sang tokoh utama paling tidak sudah mendapatkan jalan untuk dapat hidup bahagia.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagi saya sendiri, membaca buku ini membuat saya sadar bahwa semakin bertambah umur dan semakin tinggi pencapaian hidup, cobaan akan semakin besar dan akan semakin sulit untuk bisa mewujudkan perubahan seperti yang saya inginkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan meski perubahan di tahun 2007 tidak semuanya terwujud, saya berharap hasilnya masih bisa memberikan kesan “Cool Change” seperti yang saya harapkan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hal lain yang menjadi catatan tutup tahun 2007 bagi saya yaitu kenyataan bahwa saya masih sering sakit hati dengan kondisi yang saya amati dari kehidupan sebagian saudara di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang kurang beruntung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa kali sejak pulang saya menyaksikan orang ditabrak dan kendaraan saling bertabrakan di jalan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada banyak kesempatan lain, saya menyaksikan seorang ibu berbaju lusuh duduk bersimpuh di luar pagar terminal merapikan karung plastik yang mungkin satu-satunya harta yang dia miliki; seorang anak kecil yang mungkin berumur 5 tahun mencoba menyanyikan lagu salah satu group rock yang sedang populer dengan suara kurang bersemangat di dalam kopaja; orang-orang yang turun naik angkot membagikan amplop sumbangan pembangunan masjid di Bogor; seorang ibu menggendong bayi dan membawa karung yang menunjuk ke arah anaknya yang sedang berlari memburu sampah gelas air mineral di sela-sela para eksekutif muda yang bergegas di trotoar jalan Rasuna Said; atau pemandangan seorang ibu yang sedang mengganti popok lusuh bayinya yang masih merah di trotoar luar Atrium Senen di tengah deru bising dan asap hitam kendaraan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Belum lagi bila melihat sampah bertebaran, lalu lintas yang kacau, dan berbagai berita bencana di tv.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hati saya tersiksa melihat semua ini dan menjadikan saya dengan mudahnya berangan-angan untuk hidup makmur sentosa dan steril dari keadaan, pemandangan dan pengalaman kurang menyenangkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Namun semua berubah saat saya berada 1 bulan di NZ.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya merasa kehilangan kekayaan hidup yang saya peroleh di tanah air.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukan kaya dalam hal materi, namun dalam kesempatan untuk bisa belajar dari pengalaman orang lain, berempati dan bersimpati dan turut membantu dengan apa saja yang bisa saya bantu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masalah memang banyak dan mungkin kondisi yang sekarang belum dapat memampukan saya untuk mapan, namun saya bertekad untuk tidak menyerah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang diperlukan adalah membuat kesempatan yang biasa dan sedikit untuk bisa menjadi modal dalam menangkap kesempatan dan pencapaian yang lebih besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Buku "The World is Flat", yang disarankan oleh seorang teman baik untuk dibaca, menjadi sumber inspirasi yang luar biasa untuk memiliki keyakinan bahwa kita bisa berkembang dan menciptakan kemajuan dimanapun kita berada.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Catatan terakhir yang tersisa di tahun 2007 terkait dengan kekaguman saya terhadap teman-teman dekat yang dapat hidup rukun dan bahagia dengan pasangannya masing-masing, seberapa pun besar perbedaan di antara mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebahagiaan mereka ternyata bisa menebar sampai ke dalam hati saya, yang selama ini masih belajar bagaimana menggenggam apa yang sudah saya dapatkan, mempertahankannya dan menjadikannya lebih erat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya ingin seperti mereka meski saya tidak tahu apakah mereka juga tumbuh dan belajar dalam siklus kebahagiaan yang naik turun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang saya tahu bahwa saya harus mencari dan berani menciptakan kebahagiaan, dan tidak pernah berhenti bercita-cita untuk hidup bahagia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semua cinta dan kebahagiaan yang bisa saya berikan semoga menjadi sesuatu yang berharga, meski semuanya tampak biasa dan serupa titik kecil yang berkedip dalam alur kehidupan. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam menutup catatan ini, saya teringat alunan merdu Sarah McLachlan saat menyanyikan lagu “Ordinary Miracle”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa yang saya alami dan capai di tahun 2007 mungkin serupa dengan apa yang dinyatakan dalam lirik lagu ini: suatu keajaiban yang sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.  Semoga tahun 2008 memberi lebih banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik. Selamat menapaki tahun 2008 dengan semangat baru :-)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ordinary Miracle by Sarah McLachlan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s not that usual when everything is beautiful&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s just another ordinary miracle today&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The sky knows when its time to snow&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;You don’t need to teach a seed to grow&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s just another ordinary miracle today&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Life is like a gift they say&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wrapped up for you everyday&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Open up and find a way&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;To give some of your own&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Isn’t it remarkable?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Like every time a raindrop falls&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s just another ordinary miracle today&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Birds in winter have their fling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And always make it home by spring&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s just another ordinary miracle today&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;When you wake up everyday&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Please don’t throw your dreams away&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hold them close to your heart&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cause we are all a part&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Of the ordinary miracle&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ordinary miracle&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Do you want to see a miracle?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Its seems so exceptional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Things just work out after all&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s just another ordinary miracle today&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The sun comes up and shines so bright&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It disappears again at night&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s just another ordinary miracle today&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s just another ordinary miracle today&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-2810452566653193309?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/2810452566653193309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=2810452566653193309' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2810452566653193309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2810452566653193309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2008/01/catatan-yang-tersisa-di-tahun-2007.html' title='Catatan Yang Tersisa di Tahun 2007'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-5913566473446653349</id><published>2007-12-22T01:53:00.000+07:00</published><updated>2007-12-22T02:04:35.109+07:00</updated><title type='text'>Para Pencuri Hati</title><content type='html'>Ini sambungan dari keterkejutan saya di pagi hari, Jum’at 7 Desember yang lalu. Saat bergegas gosok gigi dan cuci muka untuk bersiap ke gym, lagu “Layang-layang” dan “Romo ono maling”, meski amburadul tidak taat lirik, sangat lekat di ujung lidah dan segala penjuru otak saya. Namun meski saya ikut berdendang, hati saya tidak bisa berdalih. Ada sesuatu yang sedang mengganggu; meski tidak sampai pusing tujuh keliling. &lt;em&gt;Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling; yen aku edan opo Romo ra kelangan. Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling; thelak thelik atiku ora karuan...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya cemas memikirkan bagaimana saya mengakhiri tahun 2007 ini karena banyak perubahan yang terjadi setahun ini yang benar-benar di luar dugaan. Tahun 2007 boleh dianggap sebagai tahun turun naik, meski turunnya masih bisa disiasati untuk bisa kembali melompat naik. Tahun 2007 juga merupakan tahun dengan &lt;em&gt;twist&lt;/em&gt; terbanyak, karena setiap pencapaian dan kebahagiaan langsung diikuti dengan teka-teki yang memusingkan. Kesulitan-kesulitan seakan mengintip setiap saat untuk kemudian segera menantang hidup saya dari segala sudut. Kesulitannya tidak saja yang besar, tapi juga yang kecil-kecil yang sudah membuat saya banyak kecolongan dalam waktu, tenaga dan biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya berpikir, mungkin saya terlalu memaksakan banyak hal untuk bisa terwujud di tahun 2007. Saya sering ingin melawan dan tidak sabar untuk bisa melihat semuanya selesai dengan rapi dan sempurna. Bila mengingat semua ini, saya kembali yakin bahwa apapun usaha yang dilakukan, seharusnya diiringi dengan sikap sabar dan pasrah diri kepada Sang Penentu Nasib. Bila prosesnya sulit, jangan dilawan. Lebih baik diteliti dan dijalani satu per satu dengan memperhatikan situasi dan kondisi. &lt;em&gt;Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling, ndang cekelen gawanen mrene jo dilawan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana saya akan mengakhiri tahun 2007 ini? Sebelum saya berangkat ke NZ, saya sudah bersiap-siap termasuk untuk menghadapi hal-hal yang terburuk sekalipun. Saya hanya memasrahkan hasil dari segala yang sudah saya usahakan selama paruh tahun 2007. Dan memang, satu per satu hambatan mulai terurai menjelang akhir tahun 2007. Campuran antara pencapaian dan halangan masih ada, namun semuanya mencair perlahan tapi pasti. Saya juga sudah mencoba meneropong kemungkinan dan kesempatan di tahun mendatang. Dan di akhir tahun ini sudah ada titik harapan yang Insya Alloh membuat awal hidup saya di tahun 2008 akan kembali lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nyekel maling pantese yo digebugi. Aduh Romo luwih becik aku mati. E, e, e, e, thole, malinge opo nggegirisi? Tobat Romo, malinge niku ayune setengah mati. Sing digondol opo? Niki sing gemandul niki. Gemandul sing ngendi? Niki sing ten njero niki. Njero sing ngendi? Niki lo sing ten njero dada. Ati kulo sing digowo lunga?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2007 saya mati-matian berusaha menghindari para pencuri yang sudah mendatangkan halangan dan rintangan. Pada tahun 2008, kalau pun para pencuri itu tetap datang, saya mengharapkan semoga mereka adalah para pencuri hati yang membawa kebahagiaan dan ketentraman, bukan yang sebaliknya. Mungkin saya bahkan akan berburu para pencuri hati itu, bila memang tidak ada satupun yang menghampiri. Dari sekian banyak harapan bertemu para pencuri hati, mungkin ada 8 yang bisa saya sebutkan sekarang (sekaligus menjawab tag dari &lt;a href="http://onojelek.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Ono&lt;/a&gt;) yaitu saya mengharapkan bertemu dengan para pencuri:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Yang memikat hati saya dengan kesahajaan, kearifan dan kesabaran dalam bersikap dan menjalani hidup. Hal ini agar hidup saya selalu dekat dengan Sang Pencipta dan bisa berjalan dengan lancar. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang memikat hati saya dengan banyak kesempatan emas dalam berkarier dan mengembangkan diri. Hal ini penting karena sudah saatnya bagi saya untuk &lt;em&gt;move on&lt;/em&gt;, tidak belajar terus. Belajar memang tetap berjalan, tapi tidak menjadi roda utama hidup:-) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang memikat hati saya dengan cinta dan kasih sayang, dan mampu memberikan semangat, keseimbangan, kebahagiaan dan nilai tambah hidup. Tidak perlu pencuri yang dimaksud begitu sempurna dalam memikat hati saya, karena ketulusan akan lebih bermakna (huhuy:P) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang memikat hati saya dengan disain minimalis, sederhana, teduh, mudah perawatan, luas dan ketentraman. Lho? Ini terkait dengan tempat bernaung yang tetap, yang membuat hidup lebih &lt;em&gt;settled&lt;/em&gt; ;-) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang memikat hati saya dengan persahabatan, kebersamaan dan toleransi. Hal ini penting karena saya masih membuka hati untuk menerima banyak teman baru dan memupuk hubungan dekat dengan teman-teman lama. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang memikat hati saya dengan kolesterol rendah, berat badan ideal, nafas panjang, mata bening, wajah segar-awet muda dan nilai tambah berupa bentuk badan yang ideal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang memikat hati saya dengan kosa kata yang membuat lidah saya semakian terlatih dan kaya dalam bercakap berbagai bahasa. Dan semoga saya bisa memutuskan, bahasa mana dulu yang akan saya pelajari: Spanyol, Mandarin, Arab, Perancis, atau Rusia. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang memikat hati saya dengan banyak kesempatan mengunjungi berbagai tempat baru, baik di tanah air maupun di penjuru dunia.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sebenarnya, masih ada 4 pencuri hati yang ingin saya temui juga di tahun 2008. Namun daftar ini tampaknya sudah cukup mewakili harapan dan keinginan terbesar yang saya miliki untuk tahun 2008. Semoga saya memperoleh rahmat dan perlindungan dalam menata kehidupan saya di tahun 2008 dan tahun-tahun mendatang, sehingga saya dapat mewujudkan semua harapan dan meraih kebahagiaan. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-5913566473446653349?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/5913566473446653349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=5913566473446653349' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/5913566473446653349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/5913566473446653349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/12/para-pencuri-hati.html' title='Para Pencuri Hati'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-8610462548774020360</id><published>2007-12-07T06:07:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T06:10:26.613+07:00</updated><title type='text'>Melayang</title><content type='html'>03.30 AM&lt;br /&gt;“Layang layang... layang layang yang ku sayang... jauh tinggi melayang...” Tiba-tiba otak saya dipenuhi lirik-lirik lagu ini, dan saya pun terbangun. Saya tidak ingat mimpi saya malam itu, tapi lirik-lirik lagu ini begitu lekat di kepala. Lagu Koes Plus yang dulu sering saya dengar di radio, atau lewat alunan suara kakak angkat saya yang sedang mencuci baju. Kenapa muncul lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu kamar masih menyala. Saya pun teringat bahwa saya belum shalat Isya sedang waktu Subuh tinggal 16 menit lagi. Saya bergegas mengambil air wudhu, shalat dan membaca beberapa ayat/doa sebelum lanjut ke shalat Subuh. Setelah itu saya beranjak tidur lagi... tapi begitu memejamkan mata, lirik lagu “Layang-layang” kembali muncul... dan tidur saya selepas waktu subuh pun penuh dengan suara-suara Koes Plus dan permainan layang-layang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian saya ke NZ sebenarnya sudah dipersiapkan sejak 5 bulan yang lalu karena saya beranggapan, tidaklah lama bagi para penguji untuk membaca thesis saya yang panjangnya 373 halaman. Namun ternyata mereka membutuhkan waktu 6 bulan, dan perasaan saya pun sempat melayang-layang di Jakarta, antara keinginan untuk segera pergi-ujian-dan selesai, dengan keinginan bekerja penuh mengejar sesuap berlian eh nasi. Saya pun sempat melayang-layang, seperti layang-layang yang melambung jauh tinggi melayang, tapi tidak bisa pergi jauh-jauh karena masih terikat dan dikendalikan pihak universitas. Atau seperti perumpamaan teman kantor yang menganggap saya sebagai “roh” gentayangan di alam barzah, antara kantor di Jakarta yang dianggap sebagai dunia (karena harus kerja) dan Lincoln-NZ yang dianggap sebagai surga (karena tinggal belajar dan terima uang—meski bukan gambaran yang 100 persen benar karena saya harus giat belajar/membaca/menulis dan jalan-jalan...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, meski saya sempat cemas menunggu selesainya dokumen keberangkatan, saya bisa pergi ke NZ dan segera ujian, dan selesai. Waktu 5 hari persiapan ujian sejak saya datang di NZ ternyata cukup; dan kecemasan saya bahwa saya sudah lupa dengan apa yang saya tulis ternyata tinggal kecemasan. Saat ujian lisan, saya justru seperti seorang dosen yang menggurui murid-murid yang dengan antusiasnya bertanya. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Setelah 10 menit presentasi dan 100 menit dicecar pertanyaan, saya pun diberi ucapan selamat dan boleh mencantumkan tiga huruf tambahan di belakang nama saya. Semua proses berjalan seperti melayang... tidak ada hambatan, dan perasaan saya kembali melayang... Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu lalu, saya sudah menyerahkan perbaikan thesis dan sekarang menunggu persetujuan untuk penjilidan. Periode seminggu setelah ujian dan masa perbaikan thesis masih memberi waktu yang cukup untuk menyalurkan hobby memasak, bertemu dengan teman-teman, berparade di tengah keramaian Christchurch city center dengan berbusana pengantin Jawa, dan membantu teman pindahan rumah. Semua masih tertangani. Dan dengan kondisi pergelangan tangan kanan yang semakin membaik, sudah saatnya saya bisa kembali mengayun raket dan bertemu dengan kawan dan lawan tanding di lapangan badminton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layang layang... layang layang benang panjang... Saya pikir, hidup saya di NZ saat ini seperti layang-layang yang bergerak ke kanan dan ke kiri; bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman dari semua sisi. Layang-layang yang menikmati indahnya lukisan awan-awan di langit Aotearoa... &lt;em&gt;the land of the long white cloud&lt;/em&gt;, yang keindahan tempat-tempat wisata alamnya begitu menakjubkan. Layang-layang yang merasakan hembusan angin musim panas, yang masih berubah-ubah antara dingin dan hangat, seperti suasana hati saya yang hangat karena dikelilingi teman-teman baik dan sedang mendapat berkah kelancaran, dan yang dingin karena jauh dari orang-orang yang saya cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melayang bagai layang-layang yang melayang tinggi, meski saat ini kendalinya sudah berubah tangan, dengan benang yang terjulur panjang melintas benua dan lautan. Bila benang kendali yang terulur sudah saatnya digulung, saya pun akan segera pamit kepada awan-awan putih bersih yang panjang dan kembali ke bumi, entah untuk disimpan, diperbaiki dan/atau kembali diterbangkan melayang-layang di udara pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling&lt;br /&gt;Tulungono anakmu sing kemalingan... mo, mo, mo, mo, Romo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho? Pagi ini memang aneh. Saat bangun jam 6.00 AM, lagu “Layang-layang” Koes Plus sudah “disandingi” dengan lagu Jawa yang dialunkan penyanyi Batak jaman baheula pisan: Edi Silitonga. Ckckck... ada apakah ini? (Bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-8610462548774020360?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/8610462548774020360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=8610462548774020360' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/8610462548774020360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/8610462548774020360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/12/melayang.html' title='Melayang'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-7270637703463292437</id><published>2007-11-29T09:59:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T10:07:30.169+07:00</updated><title type='text'>Going Down Under</title><content type='html'>Tanggal 21 November, saya kembali berkemas dan siap untuk pergi meninggalkan Jakarta. Waktu seperti mendesak karena saya berangkat hampir 6 jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat.  Semula ingin menghindari macet, namun ternyata perjalanan ke bandara cukup lancar dan dalam waktu 1.5 jam saya sudah tiba di bandara.  Namun untuk check-in saya masih harus menunggu 1.5 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menunggu dan memperhatikan suasana di dalam bandara Soekarno-Hatta, saya melihat banyak fasilitas yang tidak bekerja.  Papan jadwal penerbangan yang tertempel besar di dinding hanya bergerak teratur setiap beberapa menit, namun tidak ada informasi yang tertera.  Kursi yang tersedia untuk calon penumpang yang hendak check-in sangat terbatas.  Lampu ruangan tampak redup karena beberapa lampu tampak padam. Ruangan yang berdinding tinggi pun terkesan “dingin”, meski pendingin udara hanya semilir terasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 6 sore, saya bergegas mengantri untuk check-in. Saya beruntung karena bawaan saya tetap lolos meski melebihi ketentuan bagasi.  Sesampainya di dalam, saya masih harus menunggu 1.5 jam lagi karena &lt;em&gt;gate &lt;/em&gt;baru akan dibuka 45 menit sebelum keberangkatan. Bosan juga menunggu karena hanya ada dua kafe yang tersedia. Selebihnya toko/kios souvenir, yang dua di antaranya masih dengan lampu yang tampak kedip-kedip minta diganti.  Mencari hotspot malas, dan tidak yakin fasilitas seperti ini sudah ada. Akhirnya saya hanya duduk, berusaha menikmati sebatang coklat, dan mengamati relung-relung disain ruangan bandara. Suasana terasa dingin dan suram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 8, saya sudah berada di ruang tunggu, dan 30 menit kemudian dipindahkan ke &lt;em&gt;gate&lt;/em&gt; yang lain.  Saya hanya ikut saja dan tidak tertarik untuk mengetahui alasannya.  Namun saya tertarik dengan seekor kucing berekor pendek keriting yang datang berjalan santai di lorong yang menghubungkan gate dengan pesawat. Calon penumpang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat berangkat terlambat 15 menit dan saya disambut pramugari dan pramugara senior di pintu pesawat. Tidak ada pramugari yang ramah dan semampai, tapi kuat, yang membantu penumpang mengatur barang bawaan di kabin. Semua penumpang memasukkan dan mengatur barang bawaannya sendiri dan duduk. Saya duduk di tepi jendela; di sebelah saya orang Korea. Tidak ada pembagian handuk panas; tapi diganti dengan pembagian sebotol aqua ukuran medium. Tidak ada layar tv di kursi penumpang... oh I miss Singapore Airlines :P Tapi 1 jam kemudian, saya terhibur dengan suguhan dinner ala Qantas: ikan, nasi, sayur rebus, puding gula merah+ubi jalar, potongan buah, kerupuk udang dan 1 sachet sambal pedas ABC.  Indonesia sekali :-). Saya pun tertidur setelah kenyang, sampai akhirnya dibangunkan dengan sarapan pagi, 2 jam sebelum mendarat di Sidney.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan utama dalam perjalanan jauh dengan pesawat adalah mengatur waktu shalat. Saat dibangunkan pagi hari, saya sudah melihat matahari ada di atas awan. Dan saya pun buru-buru shalat subuh. Telat &lt;em&gt;nih&lt;/em&gt;. Tapi setelah shalat, saya melihat di layar tv tertera informasi bahwa saat itu masih jam 2 pagi. Wow. Jam 2 pagi, dan di luar pesawat langit sudah terang benderang. Namun setelah pesawat mengurangi ketinggian dan melewati batas awan, baru tampak suasana menjelang subuh, masih gelap. Saya memutuskan untuk tidak perlu shalat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendarat di Sidney airport, saya mendapati suasana dan disain bandara yang mirip dengan Christchurch Airport. Perbedaannya hanya dari segi banyaknya pemeriksaan.  Semua barang elektronik perlu dipisah, termasuk flashdisk.  Saya hanya transit 1 jam dan siap berangkat lagi.  Saat menunggu, saya mencari simcard vodafone, tapi ternyata saya lupa membawanya.  Ingin berinternet gratis, tapi semua port penuh.  Akhirnya hanya duduk menikmati acara anak-anak di tv.  Satu saat saya tersenyum sendiri karena mendapati merek kursi yang saya duduki: Sebel Mebel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Sidney-Christchurch tidak terlalu lama dan saya tiba sore hari. Saat mengantri aplikasi visitor permit juga tidak lama, dan kali ini saya tidak lagi disambut anjing yang biasanya begitu enerjik menciumi tas setiap pengunjung.  Sebelumnya anjing-anjing ini didayagunakan untuk mendeteksi penumpang yang membawa makanan segar dalam ransel/tas tangan. Maklum, NZ memiliki aturan bea cukai yang paling ketat di dunia dalam hal produk-produk pertanian. Sekarang, semua pemeriksaan dilakukan langsung oleh manusia/&lt;em&gt;custom officer&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pintu keluar terbuka, teman yang menjemput sudah menunggu, senang bertemu teman lama.  Cuaca saat itu begitu terik dan hangat, tapi yang membuat saya merasa senang yaitu saya bisa menikmati segarnya udara lagi.  Saat saya ceritakan tentang pensiunnya anjing di bandara, teman mengira mungkin hal itu disebabkan NZ saat ini sedang giat berpromosi dan menerima mahasiswa, pengusaha dan wisatawan asal Timur Tengah.  Dan memang banyak hal sudah berubah/disesuaikan untuk menjadikan NZ lebih menyenangkan untuk semua orang. (Bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-7270637703463292437?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/7270637703463292437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=7270637703463292437' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7270637703463292437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7270637703463292437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/11/going-down-under.html' title='Going Down Under'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-7057155982883927286</id><published>2007-11-20T13:18:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T13:36:21.076+07:00</updated><title type='text'>Two in One</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bright Eyes&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sang by Art Garfunkel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Is it a kind of dream,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Floating out on the tide,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Following the river of death downstream?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh, is it a dream?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;There's a fog along the horizon,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A strange glow in the sky.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And nobody seems to know where you go.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And what does it mean?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh, is it a dream?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Burning like fire.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can you close and fail?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can the light that burned so brightly&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suddenly burn so pale?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bright eyes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Is it a kind of shadow,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reaching into the night,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wandering over the hills unseen?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Or is it a dream?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;There's a high wind in the trees,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A cold sound in the air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And nobody ever knows when you go.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And where do you start,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh, into the dark?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lagu ini merupakan salah satu lagu favorit saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Awalnya, saya hanya menikmati kesyahduan suara Art Garfunkel yang mengalun di sela-sela musik sederhana yang indah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lagu yang enak didengar saat sedang sendiri, atau saat beristirahat menghilangkan penat. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun lama kelamaan, saya penasaran dengan cerita di balik lagu ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Membaca liriknya, saya menduga lagu ini tentang kematian. Dari internet saya juga baru tahu kalau lagu ini merupakan theme song dari film animasi berjudul ”Watership Down”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Film tentang perjalanan seekor kelinci mencari rumah baru namun kemudian mati. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pencarian lebih lanjut tentang lagu ini membawa saya pada ulasan lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lagu ini diciptakan oleh Mike Batt untuk mengenang kepergian ayahnya yang meninggal karena kanker. Ternyata lagu ini cukup populer untuk dirilis ulang oleh beberapa penyanyi. Dan yang mengejutkan lagi, lagu ini menduduki tangga pertama chart di UK pada tanggal yang sama saat saya berulang tahun di rumah karena terkena sakit cacar air.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya ingat karena saat itu merupakan sekali seumur hidup saya merayakan ulang tahun dengan beristirahat sakit dan hanya mandi bedak :P&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kembali ke arti lagu Bright Eyes, satu pernyataan muncul kembali dalam ingatan saya. Suatu kali saya mendengar orang berbicara dalam percakapan di tv (saya lupa siapa yang berbicara, atau berceramah, atau berdialog di film/acara tv) bahwa dalam hidup hanya ada satu hal saja yang pasti: setiap manusia pada akhirnya akan meninggal dunia. Yang lain, meskipun itu baik, buruk, senang, ataupun susah dalam kehidupan, semuanya tidak pasti.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun justru untuk satu hal yang pasti, manusia seringkali bertanya-tanya: apakah ini mimpi? Apakah ini sudah kejadian? Mungkin karena kematian itu pasti, banyak hal yang tidak pasti justru menjadi terlalu menarik untuk diperhatikan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bagi saya sendiri, kematian itu justru harus penuh persiapan. Memang saya tidak tahu berapa panjang rahmat umur yang diberikan Yang Maha Kuasa kepada saya, namun saya mencoba untuk tidak lengah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ada bagian dari hidup saya yang sedikit ini, sudah lama saya siapkan untuk menjadi bekal melihat lorong-lorong gelap yang mungkin nanti saya temukan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mata hati saya juga sebisa mungkin untuk terlatih dalam menyerahkan akhir dari segala usaha yang sudah saya jalankan, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, kepada Sang Khalik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semuanya memberi saya kekuatan untuk menjalani hidup dengan berani, sekaligus berendah hati bila kelak saya harus mencari kehidupan yang baru. Semoga...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;When will I See You Again&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sang by Three Degrees&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;Hoowoo, Haaaa&lt;br /&gt;Haaaa, Hoowoo&lt;br /&gt;Precious moments&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When will I see you again?&lt;br /&gt;When will we share precious moments?&lt;br /&gt;Will I have to wait forever?&lt;br /&gt;Or will I have to suffer and cry the whole night through?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When will I see you again?&lt;br /&gt;When will our hearts beat together?&lt;br /&gt;Are we in love or just friends?&lt;br /&gt;Is this my beginning or is this the end?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When will I see you again?&lt;br /&gt;(When will I see you again?)&lt;br /&gt;When will I see you again?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haaaa, Hoowoo&lt;br /&gt;Precious moments&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Are we in love or just friends?&lt;br /&gt;Is this my beginning or is this the end?&lt;br /&gt;When will I see you again?&lt;br /&gt;(When will I see you again?)&lt;br /&gt;When will I see you again?&lt;br /&gt;(When will I see you again?)&lt;br /&gt;When will I see you again?&lt;br /&gt;(When will I see you again?)&lt;br /&gt;When will I see you again?&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lagu ini saya dengarkan saat saya ‘bolos’ kerja selama 1 jam pagi tadi, dan sibuk memilah-milah ransel di salah satu pertokoan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Begitu asyiknya saya mendengarkan lagu ini sampai-sampai penjaga toko heran melihat saya yang saat itu mematut diri di depan kaca dengan ransel baru di punggung sambil berkomat-kamit menggumam lirik lagu ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Beruntung saya bukan dianggap orang gila, karena mana mungkin orang gila bisa berpenampilan keren :P Kalau hanya agak gila, ya mungkin juga… Maklum, jika sedang ada sesuatu yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggilani&lt;/span&gt;, terkadang perasaan juga jadi ikut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggilani&lt;/span&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi saya harus absen dulu beberapa saat, dan dituntut untuk berkonsentrasi (tanpa perlu membengkokan sendok). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Insya Alloh jika semua lancar, saya bisa menyelesaikan “S” yang satu ini, sebelum kembali menyerbu es teler di warung-warung seputar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;:). Cheers...&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;When will I see you again? When will I see you again? When…will I see you again?&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-7057155982883927286?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/7057155982883927286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=7057155982883927286' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7057155982883927286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7057155982883927286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/11/two-in-one.html' title='Two in One'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-5785594729346349262</id><published>2007-10-24T13:43:00.000+07:00</published><updated>2007-10-24T13:47:41.502+07:00</updated><title type='text'>Something Called Home</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Inspirasi tulisan ini muncul saat saya berada di dalam kereta, dalam perjalanan pulang pergi Bandung-Kutoarjo-Jogja-Jakarta tiga hari setelah hari lebaran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari balik jendela saya melihat pemandangan deretan kendaraan umum yang sesak, serta mobil pribadi dan motor yang mengantri cukup panjang. Tradisi pulang kampung menjadi sarana untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga inti, orang tua, kakak-adik, dan/atau saudara-saudara lainnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang-orang yang pulang kampung juga mungkin menjadikan tradisi ini untuk bisa kembali merasakan “ada di rumah”, &lt;i style=""&gt;feeling home&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“&lt;i style=""&gt;May be surrounded by a million people, I still feel all alone; just wanna go home.... Another aeroplane, another sunny place, I'm lucky I know, but I wanna go home. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;I got to go home. Let me go home...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;” Begitulah penggalan lirik lagu “Home” yang dinyanyikan Michael Buble.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lagu ini sering saya dengarkan saat saya masih menulis thesis, dan terus terngiang-ngiang bila saya sedang bepergian sendiri atau rindu tanah air. Lagu ini dapat mengobati kerinduan kepada tempat di mana saya merasa familiar dan nyaman dengan orang-orang dan suasananya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebagian kerinduan akan “rumah” sudah terbalas sejak saya menjejakkan kaki lagi di tanah air.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun saya merasa ada sesuatu yang hilang, yang membuat saya masih mencari pengobat rindu akan “rumah”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mungkin karena saya masih belum menemukan tempat tinggal tetap yang cocok, tapi mungkin ada hal lain yang membuat saya terus mencari. “&lt;i style=""&gt;I'm like a bird, I only fly away... I don't know where my soul is, I don't know where my home is..&lt;/i&gt;.” (“I’m Like a Bird” by Nelly Furtado). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Liburan lebaran memberi banyak waktu bagi saya untuk memikirkan diri sendiri. Dan saya menyadari bahwa apa yang hilang selama ini merupakan bagian dari “isi rumah” yang belum saya temukan. Dengan kata lain: mungkin sudah saatnya bagi saya untuk (kembali?) menemukan pasangan hidup dan menjadikan “rumah” saya lebih lengkap. “&lt;i style=""&gt;I feel like a song without the words, a man without a soul, a bird without its wings, a heart without a home.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;I feel like a knight without a sword, a sky without the sun, cause you are the one. I feel like a ship beneath the waves, a child who's lost its way, a door without a key, a face without a name. I feel like a breath without the air...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;” (“Never Gonna Leave Your Side” by Daniel Bedingfield).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memang sudah lama saya sendiri; kemana-mana sendiri, memasak sendiri (meskipun masakannya sering untuk makan beramai-ramai), mandi dan bersih-bersih sendiri (lho?). Teman-teman sering heran: kok betah ya? Saudara-saudara sering berkomentar: ingat umur! Tapi saya kok masih nyaman sendiri dan tidak begitu peduli dengan umur; apalagi saya merasa masih hidup di kisaran umur 20-an :P. Jadi kapan? “&lt;i style=""&gt;And I think it's gonna be a long long time; till touch down brings me round again to find.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;I'm not the man they think I am at home... Oh no no no... I'm a rocket man... Rocket man burning out his fuse up here alone&lt;/i&gt;” (“Rocket Man” by Elton John).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lho, jadi? Ya, begitulah... Berbeda dengan urusan sekolah dan pekerjaan, saya lebih banyak menunggu untuk urusan mencari pasangan hidup, meski sudah banyak kesempatan yang lewat. “&lt;i style=""&gt;Time... I've been passing time watching trains go by. All of my life... Lying on the sand, watching seabirds fly. Wishing there would be... Someone waiting home for me... Something’s telling me it might be you...&lt;/i&gt;” (“It Might Be You” by Steven Bishop).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saya berandai-andai bisa merencanakan jalan untuk menemukan tambatan hati, seperti halnya saya merencanakan penelitian, lalu menuliskan dan menggambarkan hasilnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ingin rasanya saya punya gambaran seperti apa pujaan hati saya itu, tanpa perlu proses dan alasan yang rumit. “&lt;i style=""&gt;There's just no rhyme or reason; only a sense of completion. And in your eyes, I see the missing pieces I’m searching for. I think I’ve found my way home. I know that it might sound more than a little crazy, but I believe... I knew I loved you before I met you. I think I dreamed you into life. I knew I loved you before I met you. I have been waiting all my life&lt;/i&gt;” (“I Knew I Loved You” by Savage Garden). Dan bila semuanya bisa terencana dan terukur, hidup saya berikutnya mungkin akan lancar-lancar saja. “&lt;i style=""&gt;And I hope you are the one I share my life with... And I wish that you could be the one I die with... And I pray in you're the one I build my home with... I hope I love you all my life&lt;/i&gt;” (“If You’re Not the One” by Daniel Bedingfield).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun menemukan pengisi “rumah” tidaklah mudah... “&lt;i style=""&gt;If a picture paints a thousand words, then why can't I paint you? The words will never show the you I've come to know&lt;/i&gt;” (“If” by Bread). Mungkin mudah mendapat saran, tawaran, bagi-bagi pengalaman, rumus, analisa bahkan perbandingan, tapi apa yang datang dari luar sering mengaburkan hak pribadi dalam selera dan kecocokan hati. Sayangnya, ini yang sering terlupakan. “&lt;i style=""&gt;I can't stand to fly, I'm not that naive. I'm just out to find the better part of me. I'm more than a bird...I'm more than a plane; more than some pretty face beside a train. It's not easy to be me...&lt;/i&gt;” (“Superman” by Five for Fighting).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akhirnya, saya memutuskan untuk menunggu sampai saatnya tepat, kala rejeki berpihak. Saya juga akan tetap berusaha untuk memiliki kemantapan dan keyakinan bahwa saya bisa menemukan tambatan hati dan menjalani hidup dengan berani, karena mewujudkan kebahagiaan, membangun “rumah” yang lengkap, itu penuh resiko dan bukan hal gratis. “&lt;i style=""&gt;Home... hard to know what it is if you never had one. Home... I can't say where it is, but I know I'm going home, that's where the hurt is...&lt;/i&gt;” (“Walk on” by U2).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan saya berharap, apapun pilihan yang saya ambil bisa membawa saya untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati; kebahagiaan yang bisa membuat saya merasa di “rumah” saya sendiri. “&lt;i style=""&gt;Like a bird from prison bars, I'm escaping and behind me, on the long highway, is all that I'm forsaking. Oh river flows, I am bound from the river you come. I'm gonna bathe in the river, gonna hold my head up in the river. Not gonna worry any more until I reach that home....&lt;/i&gt;” (“Bathe in the River”by Hollie Smith). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-5785594729346349262?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/5785594729346349262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=5785594729346349262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/5785594729346349262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/5785594729346349262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/10/inspirasi-tulisan-ini-muncul-saat-saya.html' title='Something Called Home'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-4133800702105709126</id><published>2007-10-10T11:20:00.001+07:00</published><updated>2007-10-10T11:29:10.027+07:00</updated><title type='text'>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/RwxUZP9eMhI/AAAAAAAAADE/zSxlkfiIKzw/s1600-h/lebaran+card_1428_2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/RwxUZP9eMhI/AAAAAAAAADE/zSxlkfiIKzw/s400/lebaran+card_1428_2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119559669171237394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-4133800702105709126?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/4133800702105709126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=4133800702105709126' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/4133800702105709126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/4133800702105709126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/10/selamat-hari-raya-idul-fitri-1428-h.html' title='Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/RwxUZP9eMhI/AAAAAAAAADE/zSxlkfiIKzw/s72-c/lebaran+card_1428_2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-1873226566109139610</id><published>2007-09-30T11:56:00.000+07:00</published><updated>2007-10-02T08:42:24.706+07:00</updated><title type='text'>Diminishing Happiness</title><content type='html'>Berkurangnya kebahagiaan merupakan fenomena yang saya alami dalam perkembangan hidup saya. Hal ini baru saya sadari saat teman baik bertanya-tanya mengapa dulu saat masih kecil, mendapat sepasang sepatu baru menjadi pengalaman yang luar biasa menyenangkan. Sekarang, barang baru yang diperoleh belum tentu memberikan kebahagiaan. Mungkin hanya sesaat, tapi setelah itu biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga ingat saat menghadiahkan sepatu balet untuk keponakan nomor empat; dia tampak begitu gembira dan memakai terus sepatu itu sepanjang hari, sambil mengulurkan tangan ke atas dan ke samping, menjentikkan jari, berusaha menirukan gerakan-gerakan balet, meski dia tidak pernah ikut kursus balet. Sepatu itu baru dilepas saat dia mandi atau tidur. Setelah mandi dia terus memandangi sepatu itu, kemudian setelah berpakaian, mengambil lap dan mengusap sepatunya yang sebenarnya masih bebas dari debu dan memakainya lagi, lalu memandangi  kakinya yang bersepatu. Malam itu, dia menaruh sepatunya di boks dan meletakkan boksnya di meja di samping tempat tidur. Sepanjang hari itu, tidak sedetikpun dia merengek atau menangis. Pengalaman seharian memperhatikan keponakan membuat saya yakin, ada sesuatu sudah hilang dalam hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu hidup saya boleh dikata pas-pasan, terkadang kurang. Bila Ibu bisa menyediakan menu ayam goreng atau daging empal dalam satu atau dua hari dalam seminggu, itu sudah menjadi semacam &lt;em&gt;treat&lt;/em&gt;, istimewa. Meraih ranking satu di kelas belum tentu mendatangkan sepatu atau tas baru. Membeli sepatu baru atau tas baru, hanya mungkin bila sepatu atau tas yang ada sudah rusak. Membeli baju baru mungkin hanya tiga kali dalam setahun. Salah satunya seragam sekolah, satu lainnya saat lebaran, dan lainnya saat Ibu mendapat rejeki. Keadaan ini menjadikan saya selalu menanti dan akhirnya merasa luar biasa senang bila akhirnya mendapat barang baru atau hadiah. Tidak pernah ada hadiah yang saya sia-siakan. Saat yang bersamaan, saya juga merasa harus memelihara barang yang sudah diterima, dan rasa setia terhadap apa yang saya miliki pun tumbuh. Ini berkat ajaran Ibu yang meminta anak-anaknya untuk selalu menerima dan memelihara apa yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu juga punya cara tersendiri dalam memberikan penghargaan untuk anak-anaknya. Beliau tidak memberi sesuatu yang sekaligus besar; cukup sesuatu yang kecil namun yang merupakan kesukaan anak-anaknya. Bila saya juara kelas, Ibu memasak sop sosis atau membuat bolu kesukaan saya. Atau Ibu menghibur saya yang gagal menjadi juara melukis atau menyanyi, dengan mengajak saya mampir ke warung bakso, atau membeli es puter dan dimakan sambil kami berjalan menuju rumah. Hal-hal kecil yang sudah membuat setiap pemberian begitu berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bahagia mendapatkan barang baru, sekecil apapun masih saya rasakan sampai saat kuliah dan di tahun-tahun pertama saya bekerja. Namun rasa itu semakin berkurang saat hidup saya semakin mapan. Semakin banyak barang baru yang &lt;em&gt;disposable&lt;/em&gt;. Bila mendapat hadiah, belum tentu saya merasa puas dan menyukainya. Bila berbelanja, pasti ada barang yang sebenarnya tidak terlalu saya butuhkan, dan akhirnya harus diberikan kepada orang lain atau bahkan dibuang setelah barang itu dipajang tanpa dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup yang semakin mapan, saya selalu merasa ada yang kurang dari sisi material. Semakin mudahnya mendapat informasi dan derasnya desakan informasi terutama yang konsumtif sudah membuat terlalu banyak keinginan yang mengisi pikiran saya. Alhasil bila satu keinginan sudah terwujud, selalu muncul keinginan baru yang sering menurunkan derajat kebahagiaan dari pencapaian sebelumnya. Hal ini mungkin lumrah dalam konteks mengusahakan kemajuan hidup, namun bila tidak ada penyeimbang, bisa berakibat buruk karena hidup seolah dibatasi hal-hal materialistis. Kebahagiaan bisa dibeli, tapi tidak tahan lama dan &lt;em&gt;disposable&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, ada dua hal yang bisa menjadi penyeimbang, dan sekaligus dapat mencegah kebahagiaan saya terus-menerus digerogoti. Semuanya sebenarnya sudah diajarkan Ibu saat saya kecil: menerima dan selalu bersyukur dengan apa yang diterima, serta bersedekah untuk orang lain. Sedekah tidak saja dilakukan saat saya sudah mampu menjadi tangan yang di atas, namun juga saat masih hidup pas-pasan. Saya teringat Ibu yang dulu berusaha sebisanya untuk membantu tetangga, kerabat atau kenalan yang lebih kurang beruntung dibandingkan kami. Bantuan yang sedikit ternyata bisa sangat berharga untuk orang lain yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersedekah sudah memberikan kebahagiaan yang sangat mungkin untuk bisa mengisi berkurangnya kebahagiaan dari sisi material dalam kehidupan. Setiap ucapan terima kasih, anggukan kepala atau respon apapun yang diterima dari bersedekah selalu membuat ada bagian dari sel-sel hati saya yang tumbuh baru, seperti mendapat siraman air segar dan sinar matahari yang hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan Ramadhan ini, saya kembali diingatkan untuk mengeluarkan zakat dan terus rajin bersedekah. Dan saya setuju dengan berbagai spanduk di jalan yang bertuliskan: "&lt;em&gt;zakat itu membahagiakan&lt;/em&gt;" karena memang zakat dan sedekah bisa membersihkan kebahagiaan yang saya peroleh: kebahagiaan yang dulu tampak semakin lusuh dan pudar untuk bisa kembali tumbuh menjadi kebahagiaan yang utuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-1873226566109139610?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/1873226566109139610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=1873226566109139610' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/1873226566109139610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/1873226566109139610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/09/diminishing-happiness.html' title='Diminishing Happiness'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-2285365831337313382</id><published>2007-09-03T16:22:00.000+07:00</published><updated>2007-09-04T07:36:48.969+07:00</updated><title type='text'>Enam (puluh) Jam di Pondok Indah</title><content type='html'>Judul di atas (dipaksakan) untuk memberi kesan sebuah perjuangan melawan musuh.  Sejatinya memang demikian (wah…sudah tertular untuk memakai kata ‘sejatinya’).  Enam puluh jam lamanya saya harus berjuang melawan kutu perut (terjemahan yang tidak enak di dengar untuk stomach bugs). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya hanya dari sepiring rujak yang disodorkan sebagai dessert saat makan siang bersama.  Buah berwarna-warni dan rasa pedas-manis begitu menggoda, dan lekas dinikmati habis sambil mengobrol.  Sore harinya saya masih menemani teman untuk mencoba gym langganan saya.  Lalu berlanjut makan soto gading.  Tentu saya tidak lupa untuk memberi perasan jeruk dan sedikit sambal pada soto panas yang nikmat itu.  Tawaran es hanya saya tanggapi dengan memesan teh tawar panas. Malam harinya saya berkeringat deras, tapi masih menganggap hal itu biasa karena di rumah hanya ada ac alami.  Malam itu saya tidur nyenyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu pagi hari, jam 4.30 saya bangun seperti biasa.  Namun badan terasa tidak biasa.  Badan tidak bertenaga, dan terasa ringan sekali.  Rencana berenang hari itu batal.  Saya merebahkan diri lagi beberapa menit, sebelum mandi pagi, shalat, sarapan dan bersiap ke kantor.  Sampai di kantor, badan terasa semakin ringan.  Tidak seperti biasanya, pagi itu saya tidak meraih tombol untuk menyalakan komputer, melainkan lemari penyimpanan barang dan menarik keluar kasur lipat yang memang disediakan bila ada yang sakit di kantor. Saya pun langsung jatuh tertidur selama sekitar satu jam. Saya terbangun saat teman-teman mulai datang. Karena masih merasa tidak bertenaga, saya memutuskan pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya saya ke dokter, tes darah dan mendapat obat. Verdict: gejala thypus ringan.  Obat yang diberikan masih belum membantu.  Perut saya terasa semakin penuh, meskipun nafsu makan hilang.  Namun saya masih bersyukur karena saya masih bisa tidur dengan nyenyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis pagi, kutu-kutu di dalam perut saya memberi serangan mendadak dan mereka menyerang dengan menggunakan papan luncur air, atau seperti itu terdengarnya.  Tidak lama kemudian, serangannya mulai berdampak hebat.  Sehari itu, saya tidak berhenti B.A.B, tidak nafsu makan dan merasakan perut saya melilit seperti sedang diperas habis.  Saya masih mencoba melawan dengan makanan, minuman dan obat yang dianjurkan dokter. Namun setelah seharian berjuang, akhirnya saya pun “menyerah” di pos gawat darurat rumah sakit PI. Jam menunjukkan 21.45 malam, dan rasanya saya harus menghabiskan akhir pekan lebih panjang di sana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian, saya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Kalaupun pergi, biasanya untuk menunaikan “kewajiban” B.A.B yang alhamdulillah semakin berkurang.  Di hari pertama di sana, saya merasa bahwa tempat tidur saya adanya di toilet karena saya berada di sana lebih lama dibandingkan dengan di bilik tidur saya.  Di hari kedua semua semakin membaik dan saya sudah mulai merasa pegal dan bosan, namun saya bertahan agar bisa kembali sehat.  Di hari ketiga, saya “dilepaskan” jam 3 sore, setelah botol infus ke-11 habis.  Ingin rasanya untuk sebentar menghilangkan rasa bosan dengan menengok Carrefour, tapi setelah terlalu lama berbaring, badan terasa belum kuat berdiri tegak agak lama.  Saya memutuskan kembali ke rumah, membersihkan badan dan duduk menonton tv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pengalaman yang saya ambil sebagai pelajaran dari "liburan" saya di akhir pekan kemarin.  Saya merasa diingatkan untuk slow down karena hari-hari sudah akan menjelang puasa.  Badan dibersihkan dari penyakit agar saat berpuasa nanti bisa tetap sehat dan lengkap menunaikan ibadah.  Saya juga diingatkan untuk tidak terlalu berlebihan makan berbagai sayuran dan buah-buahan, meskipun saya sedang membalas rindu dengan mereka.  Lima macam buah-buahan yang biasanya saya makan sebagai snack dalam satu minggu, dan berbagai lalaban yang melengkapi menu harian, sementara ini distop.  Saran dokter hanya makan sedikit sayur dan pisang kepok bakar sampai perut bisa menyesuaikan diri kembali dengan makanan berserat.  Tidak ada makanan pedas dan asam.  Saya juga diistirahatkan dari berbagai kegiatan karena mungkin saya terlalu senang untuk menyibukkan diri sendiri.  Otomatis, akhir pekan kemarin saya terbebas dari berbagai rencana, juga dari olah raga rutin, internet, tv, bahkan kegiatan rutin di akhir pekan seperti mencuci baju, memasak, bersih-bersih rumah dan menyetrika.... Ada suasana yang berbeda :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga dapat pengalaman dan kesan unik, terutama tentang “teman-teman liburan akhir pekan bersama”.  Satu di antaranya WNA yang sudah sakit tua, tidak punya keluarga di sini dan tidak punya harta benda lagi.  Pengobatannya ditolong satu keluarga dan sebuah yayasan di sini.  Begitu ada berita dia bisa pulang ke negaranya, suaranya yang semula terdengar memelas langsung berubah gembira.  Kasihan.  Bisa kembali ke tempat asal dan berkumpul dengan orang-orang yang mungkin masih mengenal menjadi suatu impian bagi bapak tua itu.  Saya melihat, mungkin bapak tua ini orang yang baik karena saat dia jauh dan susah pun masih punya teman yang bersedia mengulurkan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bapak tua itu pergi kembali ke negaranya, dua “teman” lain masuk.  Mereka berdua pak haji dengan belasan anak dan cucu, bergabung “liburan” karena kolesterol dan darah tinggi. Sempat saya tidak bisa tidur karena salah satu dari mereka sempat sesak nafas di malam hari dan suster pun berbondong-bondong datang.  Belum lagi dia terus bertanya jam berapa dan mengabsen nama anaknya satu per satu. Saya sempat takut tidur sendiri, padahal di kamar itu saya jelas-jelas tidak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi berpikir kalau amal dan ibadah mungkin cukup untuk bisa menyelamatkan kita dari ancaman maut neraka, tapi belum tentu kita bisa lolos dari ancaman maut dunia: lemak, LDL dan asam urat.... Rasanya ceramah di Masjid perlu lebih spesifik: tidak saja menganjurkan “makanlah sebelum lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang”, tapi juga ditambah anjuran “perhatikanlah apa yang kamu makan”.  Anjuran ini juga berlaku untuk saya yang sudah terlalu menggilani buah dan sayur:D. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua “teman” saya ini juga punya kerabat banyak. Bila jam kunjungan, wah ramai sekali. Pernah saya merasa malu karena setelah setengah jam di toilet dan keluar, saya menemukan hampir 20 orang berdesak-desakan di kamar kami.  Ada anak-anak yang keluar masuk tanpa henti sampai orang-orang dewasa yang terdiam seksama mendengarkan cerita, dan beberapa lainnya yang saling menyapa “lama sudah tidak ketemu, e...ketemunya di sini” lalu mengobrol.  Suasana saat itu seperti sedang di standing party.  Bedanya, tema “pesta” kali ini adalah “bangsal pasien” dengan dekorasi tirai selerekan berwarna kuning, “kursi” putih berselimut kusut dan “pepohonan” infus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga kaget dan malu saat salah satu dari tamu menyapa dengan suara nyaring berlogat khas “nah, nyang ini sakit apaan?” Saya menjawab sopan “sakit perut, bu”.  “Sendiri aja?” Saya sempat heran: kok tanya begini.  “Iya, bu”. Tiba-tiba “Neng.... tuh si emas sendiri... bisa lu temenin tu, kesian daripade ndiri...” Saya kaget lalu buru-buru masuk bilik saya, tutup tirai, naik tempat tidur, ambil selimut dan diam. Tiba-tiba ada tangan menyingkap dari balik tirai. Seorang Ibu tua berjilbab hitam mirip Mpok Nori, dengan alis ditebalkan, muncul mengamati saya yang sendiri di balik selimut. Si Ibu lalu tersenyum simpul dan menghilang, sambil dikomentari yang lain “gimane? lumayan kan, meski nggak selepel ame lu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung suster datang, mengecek tekanan darah.... tapi... ada singkapan tirai lagi, dan tirai terbuka lebih lebar... kali ini si “Mpok Nori” berdiri lebih jelas karena tirai yang terbuka. Dia hanya berdiri “mengamati saya” dari pinggir tempat tidur sambil tersenyum-senyum... Saya berusaha mengobrol dengan suster, sambil terus berharap agar si “Mpok Nori” segera pergi. Eh, pas rombongan itu pulang, dan saya masih dihitung detak nadi, si “Mpok Nori” yang beranjak mendekati pintu masih saja terus memandangi saya sampai akhirnya.... Dia melambai tangannya ke arah saya (daghhhh...) dan tersenyum lebih lebar... (Ting!!!) tampaklah kilauan gigi emasnya.... Gleg.... Saya tersedak karena kaget bercampur geli.... Ya ampun... Ada-ada saja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, akhir pekan kali ini memang benar-benar berbeda...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-2285365831337313382?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/2285365831337313382/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=2285365831337313382' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2285365831337313382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2285365831337313382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/09/enam-puluh-enam-jam-di-pondok-indah.html' title='Enam (puluh) Jam di Pondok Indah'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-8966876223046212186</id><published>2007-08-15T09:03:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T09:46:15.717+07:00</updated><title type='text'>Lebih Jauh Ke Utara</title><content type='html'>Kali ini saya mendapat kesempatan untuk bepergian ke Gorontalo, tempat paling utara yang pernah saya kunjungi di tanah air. Meskipun saya harus berangkat jam 3.30 pagi, namun saya tetap bersemangat karena kunjungan ke daerah baru biasanya memberi kesan dan pengalaman baru. Suasana Jakarta di pagi itu masih sepi dan hanya beberapa mobil yang lewat. Taksi yang saya tumpangi melaju cepat dan sampai di bandara 40 menit kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata suasana di bandara sudah ramai dengan orang-orang berdialek Makassar, Manado dan Ambon. Antrian &lt;em&gt;check-in&lt;/em&gt; juga padat, dan diwarnai dengan orang-orang yang mencoba memotong antrian. Beruntung para petugas bersikap tegas dan hanya melayani calon penumpang yang antri. Para penyelonong pun dibuat kecewa.  Suasana bandara di pagi itu juga lebih segar karena hanya sedikit orang yang merokok dan mereka terkonsentrasi di booth khusus yang disediakan untuk perokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam pesawat, saya sempat mengamati barang-barang yang dibawa para penumpang ke dalam kabin. Barang-barangnya sangat beragam dalam ukuran, menandakan kalau pembatasan barang yang boleh dibawa ke dalam kabin tidak berlaku. Saya juga kagum dengan para pramugari yang terkadang lebih kuat mengangkat barang dibandingkan para bapak meskipun para pramugari itu jauh lebih ramping :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberangkatan pesawat terlambat 30 menit. Namun keterlambatan itu justru membuat awal perjalanan begitu berkesan. Dari balik jendela pesawat saya bisa menikmati puncak-puncak gunung di Jawa yang menjulang di atas hamparan awan saat matahari baru muncul. Mulai dari Gunung Salak, Gede-Pangrango, Ciremai, Sundoro-Sumbing, Merapi-Merbabu, Lawu sampai beberapa gunung di Jawa Timur yang sudah mulai dijauhi pesawat. Saya teringat dengan mantan guru bahasa Inggris saya asal Philadephia yang begitu percaya bahwa perjalanannya akan selalu menyenangkan bila dia bisa melihat gunung-gunung di Jawa dari balik jendela pesawat. Dan saya juga percaya bahwa perjalanan kali ini akan menyenangkan. Saya juga melihat danau-danau mungil, mungkin bendungan dan Rawa Pening. Dan saat hamparan awan terkuak, saya bisa melihat hamparan daratan seperti melihat dasar akuarium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam kemudian saya tiba di Makassar untuk transit. Tidak lama, hanya 20 menit. Saat kembali naik ke pesawat, saya melihat di luar ada pesawat Fokker 100 milik Merpati, mungkin tujuan ke Tual atau Irian. Yang menarik yaitu banyak calon penumpangnya begitu hendak masuk ke pesawat, berhenti di tangga dan difoto. Beberapa bahkan menggunakan kamera video untuk merekam saat-saat naik pesawat. Pemandangan menarik :). Lebih dari satu jam kemudian saya tiba di Gorontalo. Bandaranya kecil dan masih direnovasi, tapi suasana penjemputan begitu ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat, saya sudah mencari referensi mengenai transportasi dan penginapan di Gorontalo. Saya juga tahu kalau bandaranya terletak 33 km dari kota Gorontalo. Jadi saya sudah siap dengan kondisi yang akan saya temui. Taksi yang tersedia hanya satu: Dian Taksi, sedangkan yang lainnya merupakan taksi plat hitam dengan mobil-mobil jenis &lt;em&gt;Kuda&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Avanza&lt;/em&gt;. Jika naik taksi di sana, harus berbagi dengan penumpang lain jika ingin berhemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Gorontalo sebenarnya kecil namun sangat luas dengan bagian-bagian pemukiman yang terserak saling berjauhan. Suasana dalam kotanya cukup rapi dan tidak terlalu sulit untuk mengingat jalan-jalannya. Suhu udara di Gorontalo mungkin sama dengan Jakarta; namun hawa yang saya rasakan tetap segar karena letak kota yang menghadap teluk dan adanya gulungan awan yang sering muncul dan menghalangi sinar matahari langsung. Saya merasa senang karena bisa sejenak terbebas dari sesaknya udara di Jakarta. Selain itu, orang-orang Gorontalo sangat ramah, dan ini membuat perjalanan saya makin menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel yang direkomendasikan ternyata sudah penuh dan saya terpaksa mencari hotel lain. Beruntung supir taksi berbaik hati mengantar mencari hotel, dan alhamdulillah hotelnya bagus karena baru direnovasi. Yang juga membuat saya senang, di dalam kamar hotel terdapat guling! Jarang sekali ada hotel yang menyediakan guling :P Hal yang unik lainnya yaitu jendela di kamar hotel hanya ditutupi tirai tipis yang diikat. Untung pemandangan ke luar cuma atap rumah-rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hotel, saya beristirahat sambil makan siang. Saya mendengar dan pernah membaca kalau di Gorontalo ada kebiasaan tidur siang, antara jam 1-2 siang. Jadi saya menunda jadwal kunjungan saya sampai setelah jam 2. Sambil beristirahat, saya melihat-lihat channel tv yang tersedia. Saya sempat melongo saat menemukan channel tv dengan film India tapi sulih suaranya berbahasa Jawa... mungkin saluran tv dari Malang atau Surabaya. Saya pernah membaca kalau semua penduduk Gorontalo bisa menikmati tv kabel dan memang betul, dimana-dimana orang bisa mengakses jaringan tv internasional. TV kabel di sana bisa diakses dengan harga murah. Dalam hal ini penduduk Jakarta sudah kalah bersaing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentor atau becak motor merupakan sarana angkutan utama jika hendak bepergian di dalam kota Gorontalo, selain kendaraan pribadi. Taksi sebagian besar hanya melayani rute kota ke bandara. Bentor merupakan gabungan motor bebek yang ditempelkan ke becak; jadi motor di belakang mendorong becak di depan. Awalnya bahan baku bentor didatangkan dari Jawa, khususnya becak, tapi sekarang sudah diproduksi di Gorontalo. Disain bentor cukup nyaman karena dudukannya dibuat lebih &lt;em&gt;cozy&lt;/em&gt; dibandingkan becak (tepiannya berbusa), lebih bersih dan ada penutup yang bisa ditarik dari atas ke depan penumpang (tidak lagi berupa tirai plastik), sehingga penumpang bisa menggunakannya untuk menghindari debu, asap dan hujan. Atap bentor juga lebih panjang ke belakang sehingga melindungi pengendara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan bentor di kota Gorontalo sudah mencapai sekitar 30 ribu buah dan sudah menggeser peran angkot sampai ke pinggiran kota. Sebenarnya menarik juga bila di komplek-komplek perumahan di Jakarta, ojek digantikan dengan bentor. Namun disain bentor hanya memungkikan penggunaannya di jalan datar. Bila bentor dipakai ke daerah perbukitan, seperti ke arah kantor DPRD dan Gubernur Propinsi Gorontalo, bisa-bisa terguling karena beban di depan lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai kunjungan kerja, saya menyempatkan melihat-lihat sisi kota. Sayang, sudah terlalu sore, sehingga saya tidak bisa melihat makam keramat dan benteng. Namun saya masih bisa makan jagung bakar di pantai "Tangga 2000". Dinamai demikian bukan karena memiliki tangga yang berjumlah 2000, tapi karena dibangun pada tahun 2000. Pantai ini merupakan pusat tongkrongan anak muda setiap malam Kamis dan malam Minggu. Saya makan jagung ditemani obrolan pengendara bentor dan pemilik warung yang bersemangat bercerita mengenai sejarah pelabuhan dan perbedaan bahasa dan dialek antara orang Gorontalo dan Manado. Jagung bakar yang disajikan memiliki tambahan berupa semacam serundeng yang dibuat dari cacahan bunga pisang yang dicampur kelapa parut dan udang kecil. Enak:).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kembali ke hotel, saya mampir beli pia khas Gorontalo. Pia-nya keras, tapi memiliki rasa kacang hijau yang berbeda dibandingkan bakpia. Saat hendak makan malam, saya minta rekomendasi resepsionis tentang tempat makan yang menyajikan menu seafood. "Seafood, Pak? Atau Sari Laut? Kalau Sari Laut bisa memilih di depan, ada Mas Joko, ada Mas Bambang..." Saya agak bingung, tapi langsung mengerti karena ternyata nama-nama yang disebutnya adalah warung-warung tenda seafood "Sari Laut Asli Surabaya" di sekitar hotel. Setelah melihat-lihat, ternyata tidak ada yang berlabel "Mas Joko". Adanyanya Mas Bambang, Mas Her dan Mas Zadi. Saya memilih yang terakhir karena terletak di samping hotel dan paling ramai. Harga ikannya murah dan masih segar. Satu ikan kakap merah segar, dibakar, lengkap dengan nasi, lalap dan sambal yang luar biasa pedas :P, hanya Rp. 12 ribu. Mana ada di Jakarta harga seafood semurah ini. Saya sempat penasaran mengapa tidak ada warung yang memakai brand 'Bandung" seperti di kota-kota besar lainnya. Bukankah "Bandung" merupakan semacam "jaminan" promosi makanan enak? :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman berkunjung ke Gorontalo merupakan pengalaman singkat yang menarik. Keramahan penduduk Gorontalo juga menambah kesan tersendiri. Bahkan kenalan yang bertemu di bandara mengatakan sudah betah tinggal di Gorontalo, dan berandai-andai bisa membawa keluarganya pindah ke Gorontalo. Sama halnya dengan dua turis asal Australia. Mereka menghabiskan satu minggu berkeliling di propinsi baru ini, dan merasa senang karena daerahnya rapi dan orang-orangnya ramah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-8966876223046212186?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/8966876223046212186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=8966876223046212186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/8966876223046212186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/8966876223046212186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/08/lebih-jauh-ke-utara.html' title='Lebih Jauh Ke Utara'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-2308325838852370243</id><published>2007-07-25T07:59:00.000+07:00</published><updated>2007-07-25T08:31:11.479+07:00</updated><title type='text'>Asam di Gunung, Garam di Laut...</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Asam di gunung, garam di laut, bertemunya di perut juga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti kalau pulang ke Indo, makanan akan terlihat dan terasa lebih enak. Yang bersantan terasa lebih mantap, begitu pula yang pedas dan asam. Belum lagi berbagai gerai makanan dengan menu baru yang membuat selera makan bertambah. Hampir semua makanan kesukaan sudah saya coba, dan hanya beberapa saja yang masih belum dicoba, termasuk comro, tapai ketan hitam, es doger, lumpia basah dan batagor. Dua minggu lalu terpaksa stop karena terserang gangguan perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah berusaha menjaga dengan tidak makan di sembarang tempat, dan sering membawa masakan sendiri. Tapi gangguan perut datang dari sumber yang tidak bisa ditolak: traktiran teman. Setelah dibelikan nasi kapau lengkap, saya disuguhi rujak buah-buahan warna-warni yang luar biasa enak: kesemek kuning tua, jeruk bali dan jambu biji merah muda, semangga, pepaya dan jambu air merah, melon dan kedondong hijau, nanas kuning muda, bengkoang putih yang &lt;em&gt;crunchy&lt;/em&gt;. Dan lebih lengkap lagi karena mulai malam harinya perut saya mulas dan berlanjut sampai saya berkunjung ke dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sakit segera hilang. Tapi sang dokter memberi syarat: stop makan bersantan dan pedas, dan stop jajan di pinggir jalan. Semula saya ingin protes tentang larangan yang kedua, karena selama datang di Jakarta, belum pernah saya beli makanan di pinggir jalan. Tapi kalau mau sembuh, saya harus menurut... meski ternyata tidak bisa seratus persen. Jika dilarang, sepertinya godaan untuk mencoba semakin besar. Akhirnya, saya langgar juga dengan membeli gorengan cakwe medan di dekat rumah yang dimakan dengan sambal cair pedas-asam. Saya sebenarnya juga ingin membeli asinan Jakarta yang dijual berseberangan dengan penjual cakwe. Namun setelah tutup mata sebentar dan tarik nafas dalam-dalam, akhirnya bisa ditahan. Alhamdulillah perut saya masih kuat, dan cakwe-nya enak sekali..nyam :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi, setelah berolah raga, gangguan berikutnya datang. Saat keluar dari gym dan menyeberang jalan, ada pedagang bubur kacang hijau dan ketan hitam sedang melayani pembeli. Hidung saya sudah pasang radar untuk sekedar menangkap baunya, dan wah....langsung terpikir, apa saya berani melanggar untuk kedua kalinya? Ternyata tidak berani karena saya masih sayang dengan perut saya. Akhirnya saya hanya sempatkan 1-2 menit memandangi gerobak bubur, penjual dan pembelinya, dan menikmati sesaat aroma santan dan gula merah yang terhembus saat tutup panci dibuka.... hmmm haruuum.... Lalu saya mengeluarkan sapu tangan, mengusap mulut dan melambaikan tangan... lho? Maksudnya, melambaikan tangan untuk menyetop kendaraan.... Sepanjang hari itu, khayalan saya hanya berisi tentang bubur kacang hijau dan ketam hitam. Slurup :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asam di gunung, garam di laut, bertemunya di belanga&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam merupakan kali pertama saya datang ke resepsi pernikahan tapi tidak kenal satu orang pun, kecuali ibu dari mempelai wanita. Saat antri bersalaman, saya merasa sepi. Sebagian besar yang datang membawa pasangan atau teman. Tapi saya lumayan terhibur karena pertama kali melihat prosesi upacara adat Minang. Sebelumnya, saya hanya hadir di resepsi pernikahan adat Jawa, Sunda, Batak, Palembang, Madura, resepsi modern, dan resepsi special (ala "&lt;a href="http://yuanaserkan.multiply.com/" target="_blank"&gt;Yuana-Serkan&lt;/a&gt;" :D). Hiasan panggung pengantin adat Minang sungguh luar biasa indah. Sebenarnya ada satu resepsi paling indah yang pernah saya kunjungi. Panggungnya penuh bunga, janur dan pepohonan, serta gantungan sarang-sarang burung (hidup) yang berkicau merdu, dengan iringan gamelan Jawa yang syahdu. Namun malam itu, saya melihat kemegahan yang lain. Hiasannya sebagian besar berwarna emas dan merah, yang menjadikan panggung tampak megah. Beruntung saya datang awal sehingga masih sempat menyaksikan sajian tarian-tariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bosan dan sudah berputar-putar tidak ketemu orang yang dikenal, saya memutuskan sesudah makan langsung pulang.... Selamat berbahagia untuk yang menikah, juga untuk keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asam di gunung, garam di laut, bertemu nano-nano di angkutan umum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahu mengapa, bila saya naik kendaraan umum, saya sering cepat mengantuk dan tertidur. Semakin sempit dan sesak, semakin cepat tertidur:P Sebenarnya sangat berbahaya jika ada pencopet, tapi alhamdulillah, dan semoga, tidak sampai kecopetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rasa kantuk tadi malam tampaknya enggan muncul. Alasan pertama karena saya masih teringat band pengiring di resepsi pernikahan yang baru saya kunjungi. Ada rasa rindu untuk bisa nge-band lagi bersama teman-teman lama, tapi mereka belum tahu kalau saya sudah kembali ke Jakarta. Sepanjang jalan itu, saya terpikir lagu apa yang akan saya nyanyikan di resepsi pernikahan, jika saya diminta menyanyi. Yang terpikir pertama: "Smoke Gets in Your Eyes", tapi rasanya kurang pantas karena seperti &lt;em&gt;teasing&lt;/em&gt; kalau alasan pernikahan karena cinta buta :P Lalu teringat lagu "The Way You Look Tonight" seperti di film "My Best Friend's Wedding", atau lagu "Somewhere Out There", tapi harus berduet... atau "Love is All Around"... tapi akhirnya pilihan saya jatuh pada lagu Michael Buble "&lt;a href="http://lagukesukaan.blogspot.com/2004/06/thats-all.html" target="_blank"&gt;That's All&lt;/a&gt;", salah satu lagu favorit saya sepanjang masa :). Saya merasa senang sudah menemukan lagu yang pas, meski kesempatan menyanyinya masih dalam angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba saya harus memutuskan khayalan, saat ada penumpang baru duduk di sebelah. Dia sibuk bercakap di telepon genggamnya. Dan saat mobil baru berjalan 5 menit, temannya naik dan duduk di dekatnya. Suasana jadi ramai karena mereka bergosip tentang duda ganteng yang baru cerai, serta alasan perceraiannya. Sebenarnya percakapan mereka tidak akan menganggu khayalan saya jika saja satu dari mereka menutup mulutnya. Bukan... bukan karena bicaranya keras atau suaranya cempreng. Penampilan mereka cantik dan suara mereka bagus dan sedikit centil. Tapi bau mulut salah satu dari mereka itu teramat sangat mengganggu. Mereka memang memakai wewangian, tapi aroma bau mulut salah satu dari mereka yang terhembus AC bisa sampai juga ke saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok mereka tahan ya berbicara satu sama lain? Apa sedang pilek? Hidung tersumbat? Atau terlalu bersemangat dengan prospek "duren" yang jadi objek pembicaraan? Saya yang duduk amat merapat ke jendela sudah kepayahan... &lt;em&gt;help&lt;/em&gt;...&lt;em&gt;help&lt;/em&gt;.... Beruntung tujuan sudah dekat. Menit-menit terakhir itu saya habiskan dengan olah nafas.... tarik nafas... tahan... keluar...cepat tarik lagi.... tahannnnnn....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asam... kali ini nasib kurang beruntung bagi seorang ibu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat naik kopaja menuju gym, ada seorang ibu yang meminta supir untuk menurunkan dia di depan Masjid. Saat kopaja sudah mendekati tujuan, ternyata ada tiga orang lain yang juga bersiap turun. Tiba-tiba semua orang yang di pintu berteriak panik "Stop! Stop! Nanti si ibu tergilas!!!" Dan saya yang terkejut hanya bisa melongo melihat ke pintu bahwa kopaja yang saya tumpangi sudah menggilas ibu yang tadi minta turun di depan Masjid. Kaki si ibu yang malang remuk dan si ibu yang &lt;em&gt;shocked &lt;/em&gt;tidak bisa mengeluarkan air mata atau suara, mungkin karena rasa sakit yang luar biasa. Beruntung banyak orang langsung datang menolong dan membawa si ibu ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecelakaan ini terjadi karena si ibu tidak sabar untuk turun. Jalannya mobil sudah melambat karena tujuan masih sekitar 15 meter lagi, tapi mobil belum sepenuhnya berhenti. Penumpang lain yang siap turun terkejut karena si ibu ternyata melompat turun dengan kaki kanan. Jejakan kaki kanan saat turun tidak disarankan, apalagi saat turun dari pintu depan; dan itu yang terjadi. Jejakan si ibu tidak kuat menahan dorongan mobil yang maju ke depan, dan si ibu pun jatuh terguling dan menelungkup di jalan. Terjadilah kecekaaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa iba dengan si ibu, juga dengan pak sopir dan kondektur yang harus menanggung biaya pengobatan, meskipun itu bukan salah mereka berdua. Kejadian di hari Jum'at pagi yang mendung dengan hujan rintik-rintik itu sudah membuat saya kurang bersemangat. Semoga tidak ada kejadian sama terulang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-2308325838852370243?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/2308325838852370243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=2308325838852370243' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2308325838852370243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2308325838852370243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/07/asam-di-gunung-garam-di-laut.html' title='Asam di Gunung, Garam di Laut...'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-162763576461378189</id><published>2007-07-03T16:38:00.000+07:00</published><updated>2007-07-06T11:17:30.945+07:00</updated><title type='text'>Disorientated</title><content type='html'>Itulah kesan saya saat menjelajahi rimba Jakarta (dan Bandung) kembali. Entah mengapa, saya begitu mudah lupa dengan jalan dan arah. Padahal dulu saya mudah mengingat lokasi dan tempat. Mungkin file data-data Jakarta dan Bandung sudah terletak agak ke bagian belakang otak saya, sedangkan yang di depannya masih tertata rapi data-data pusat kota Christchurch dan sekitarnya. Akibatnya, saya sering 'tersesat' di Jakarta dan perjalanan pun bertambah panjang, lama dan, tentu saja, mahal. Saatnya mengurut ulang letak file-file jalan-jalan di Jakarta dan Bandung di dalam otak saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan salah saya jika dalam perjalanan, saya sering 'tersesat' membaca istilah-istilah baru. Contohnya, halte busway "Buncit Indah", atau tempat wisata alam yang menawarkan kegiatan "Tiwok", atau cafe kecil yang menawarkan "Jenifer", atau sebuah toko mungil bertuliskan "Toko Obat Perkasa Leo". Yang pertama sudah membuat saya tersenyum geli karena saat diumumkan lewat rekaman di dalam busway, ada seorang bapak yang langsung memegang perutnya dengan raut wajah cemas. Yang kedua sudah membuat saya ragu dengan kualitas paket wisata yang ditawarkan, meski alam pegunungannya begitu menggiurkan. Yang ketiga sempat membuat saya bingung: Jennifer yang mana? Aniston? Lopez? Love Hewitt? Ternyata Jenifer itu “jeruk nipis feres (peres)”. Lalu tentang toko obat itu... &lt;em&gt;no comment&lt;/em&gt; :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada satu lagi yang membuat saya bingung. Sekarang banyak sekali kata "sejatinya" bermunculan di koran dan di tv. Kalau berpegang teguh dengan pedoman untuk selalu memperhatikan konteks kalimatnya, saya bisa mengerti kalau "sejatinya" itu bersinonim dengan "awal mulanya" atau "sebenarnya". Anehnya, kata "sejatinya" lebih sering muncul di pemberitaan hiburan baik di koran maupun di tv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sering tersesat dalam keramaian jalan-jalan di Jakarta, dan keramaian penggunaan istilah-istilah 'baru', saya juga masih 'tersesat' di rumah sendiri... Terkadang bingung mau apa di rumah. Bila di Lincoln, saya punya cara mudah untuk mengatur jadwal kegiatan karena lokasi flat saya cukup strategis, dekat ke kampus dan tempat olah raga. Selain itu, fasilitas lumayan lengkap termasuk internet kecepatan tinggi dan peralatan di flat yang tinggal pencet-pencet tombol. Memasak dan mencuci pun mudah. Kalaupun mau pergi, ada kendaraan sendiri atau bisa memakai bis dengan waktu tempuh ke tempat tujuan yang pasti dan bebas macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya harus kembali ke kondisi awal. Harus pintar-pintar mengatur waktu memasak, agar saya tidak kelaparan di pagi hari atau saat pulang bekerja. Meski mudah membeli makanan jadi, sekarang saya lebih suka masakan sendiri. Juga harus mengatur waktu mencuci pakaian karena hari hujan tidak bisa diperkirakan dengan tepat. Teman sampai menggoda saat saya cemas memikirkan hari hujan: "&lt;em&gt;Kalau hujan, bukannya ingat pacar, malah ingat cucian... ckckck...&lt;/em&gt;" :D. Yah, begitulah... Bisa payah bila meninggalkan jemuran dan ternyata siang/sore harinya hujan, sedangkan saya belum sampai rumah. Memasang atap untuk jemuran atau membeli mesin cuci dan peralatan elektronik lainnya belum dirasa sreg karena tempat tinggal yang sekarang hanya untuk sementara. Perencanaan juga berlaku bila saya ingin mengunjungi teman atau sekedar jalan-jalan. Saya harus merencanakan jam berangkat dan pulang untuk menghindari kemacetan yang masih sering membuat saya pusing di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga masih bingung dengan cara orang mengantri. Ada saja alasan untuk bisa mendapatkan kesempatan lebih dulu. Tingkah menyerobot antrian tidak pandang bulu karena bisa dilakukan oleh orang yang buta huruf, atau orang yang berpendidikan dan berpakaian bagus. Kelompok yang terakhir ini jelas terlihat saat IPO sebuah perusahaan akhir-akhir ini. Saya sebenarnya kaget melihat antrian calon pembeli saham yang disesaki bapak, ibu, nenek dan kakek yang membawa anak dan cucu. Pertama saya mengira ini semacam pengerahan massa, agar IPO terkesan laku dan &lt;em&gt;oversuscribed&lt;/em&gt;, dan akhirnya harus dilakukan penjatahan. Semacam aksi tipu-tipu perusahaan penyelenggara IPO. Namun setelah melihat ada koordinator pembeli dari kelompok bapak-ibu ini, saya (masih) setengah percaya kalau bapak-ibu ini memang berniat membeli saham. Antrian IPO menjadi seperti antrian operasi pasar beras atau minyak goreng. Ada yang menyerobot dengan alasan tidak kuat dan sudah tua; ada aksi dorong-mendorong sehingga berkali-kali harus ditertibkan satpam. Saya sendiri? Ada di antrian... ikut hiruk-pikuk antrian; tidak seperti orang yang berbaju sama rapinya dengan saya, yang memohon-mohon pada satpam untuk diperbolehkan masuk tanpa perlu mengantri. Mereka tega berbohong atau menyusup masuk lewat pintu keluar, dan sang satpam tampak tidak tegas dan tidak konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang membuat saya bingung adalah urusan merokok di tempat umum atau di tempat ber-AC. Meski ruangan ditempeli stiker "ruangan ini hemat energi dan bebas asap rokok" tapi masih ada orang yang merokok tetap dibiarkan. Yang aman dari asap rokok yaitu busway, hypermart dan bank. Ini baru urusan merokok, belum urusan membuang sampah sembarangan, menyeberang jalan sembarangan meski dalam jarak 20 meter ada jembatan penyebrangan, atau mencuri troley saya di hypermart. Yang terakhir ini membuat saya terkesima, karena saya hanya berpaling tidak sampai satu menit, dan begitu akan meletakkan barang di troley yang memang masih kosong, ternyata troley saya sudah lenyap tanpa terdengar bunyinya.... hebat sekali... ruarrr biasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Jakarta sepertinya hanya sedikit berubah. Kebiasaannya masih sama, meski saya bisa melihat hal-hal yang lebih tertib, terutama di dalam busway. Lho, kok busway? Memang, busway sepertinya tidak saja memberi keringanan bagi pengguna angkutan massal, tapi juga sudah membantu mengubah pola perilaku mengantri sehingga bisa sedikit lebih tertib. Kalau urusan busway membuat repot yang membawa kendaraan sendiri, saran saya: ayo naik angkutan massal. Jika memilih menggunakan mobil pribadi, ajak teman pergi/pulang bersama, tidak saja untuk yang jauh-jauh tapi juga di dalam kota. Kegunaannya banyak, termasuk mengurangi sekian persen dari pemanasan kota Jakarta yang memang semakin panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panas dan gerah... itu salah satu sebab saya kurang bisa tidur tadi malam. Sebab yang lain yaitu alunan lagu "Kucing Garong" yang semakin malam bisa semakin ramai. Lagu itu hasil kiriman (yang tidak diminta) dari berbagai perhelatan pernikahan yang seperti diadakan bergilir dari rumah tetangga yang satu ke rumah tetangga yang lain. Alhasil, mimpi saya malam tadi menjadi aneh karena saya bermimpi bertemu teman di NZ yang tiba-tiba bisa bernyanyi lagu itu... kok bisa? Padahal teman saya itu londo tulen... Hari ini pun saya terkantuk-kantuk mengetik dengan lirik lagu “Kucing Garong” yang masih terngiang-ngiang di telinga... Ughhh... &lt;em&gt;completely disoriented&lt;/em&gt;...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-162763576461378189?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/162763576461378189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=162763576461378189' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/162763576461378189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/162763576461378189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/07/disorientated.html' title='Disorientated'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-3293326806706078013</id><published>2007-05-23T11:27:00.001+07:00</published><updated>2007-05-24T16:23:56.077+07:00</updated><title type='text'>A Journey Through Middle Earth (Part 3)</title><content type='html'>Perjalanan saya di NZ sudah mendekati garis akhir dan saya akan segera memulai babak kehidupan baru di Jakarta... di Indonesia Raya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia Raya... Indonesia yang ramai dan kaya ... Ini akan menjadi sesuatu yang saya tidak dapatkan di NZ.  Penduduk NZ yang sedikit membuat hidup saya seperti menyepi di lingkungan yang tenang, jauh dari keramaian.  Berbeda saat saya menjejakkan kaki lagi di Jakarta.  Yang pertama dilihat adalah padatnya manusia dan bisingnya suasana, meski waktu sudah menunjukkan jam 8 malam.  Keramaian pada jam yang sama di NZ mungkin hanya terdengar di cafe dan bar di pusat kota di akhir pekan, dan asrama mahasiswa di hari Kamis atau Jum'at malam, saat banyak mahasiswa berpesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarangnya penduduk juga menjadikan semua perjalanan di NZ lebih terukur dalam segi waktu tempuh.  Di Jakarta, kondisi macet bisa tiba-tiba terjadi hanya karena penyebab yang sepele.  Jarak 22 km di NZ bisa ditempuh dalam 20 menit, sedangkan di Jakarta bisa sampai 150 menit.  Selain itu, meski rasio kepemilikan kendaraan bermotor per kapita di NZ lebih tinggi dibandingkan di Jakarta, kualitas udara di NZ lebih terjaga; sesuatu yang akan sangat saya rindukan bila meninggalkan NZ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun banyaknya penduduk di tanah air juga memberikan keuntungan terutama bila ingin membangun jalan atau gedung; semua bisa dilakukan dengan sekejap. Berbeda dengan di NZ, yang menghabiskan waktu lebih dari satu tahun untuk membangun gedung rumah sakit dengan 7 lantai, atau perlu waktu 3 bulan untuk memperbaiki jalan sepanjang 500 meter saja.  Bandingkan dengan gedung-gedung apartment dan perkantoran yang menjulang tinggi di Jakarta yang jumlahnya bertambah belasan hanya dalam waktu 2 tahun.  Suasana para pekerja bangunan di NZ yang break jam 10 pagi, 12.30 siang dan 3 sore di NZ mungkin tidak bisa ditemukan di Jakarta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang perkerjaan memiliki arti yang lain di NZ.  Orang bekerja di NZ itu pada umumnya untuk menikmati hidup, sedang di tanah air, bekerja itu untuk bisa hidup.  Saya melihat usaha dari setiap manusia di tanah air begitu keras meski hasilnya mungkin kurang dari cukup.  Apa saja yang ditemukan, bisa diberdayakan; mulai dari sampah/barang bekas sampai berjualan merek dan nama.  Usaha untuk bertahan hidup tidak hanya terbatas pada manusia, karena kucing kecil pun turut berjuang untuk tetap hidup di sela-sela kardus, sisa-sisa bangunan dan semak-semak taman.  Semua membutuhkan perjuangan untuk sekedar, atau lebih dari sekedar, menumpang hidup. Berbeda halnya dengan di NZ. Bekerja tidak perlu ngoyo karena semua sistem sudah tertata rapi, yang memungkinkan orang untuk lebih tenang dalam bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, betapapun sulitnya kondisi di tanah air, saya menemukan banyak orang tetap bisa bercanda, atau sekedar merebahkan diri, menikmati istirahat di antara himpitan dan hiruk pikuk hidup.  Contohnya, saya sering melihat orang yang menikmati sebatang rokok sambil melamun di halte bus, seolah tempat itu begitu sunyi dan tenang.  Atau saat melintas beberapa rumah petak kecil, tampak seisi rumah berdesakan dan menghabiskan waktu malam dengan menikmati acara Extravaganza di layar TV 21 inch.  Atau saat saya mendapati sesama penumpang angkot: seorang ibu yang membawa anak laki-lakinya yang berumur 3-4 tahun, yang tampak begitu lincah dan cerewet.  Baju mereka memang tampak lusuh, tapi mereka tampak tetap ceria.  Si anak dengan mata yang berbinar-binar terus bernyanyi lagu "Pelangi" dengan lantang sambil diselingi permintaan kepada ibunya untuk dibelikan segelas es dan sebungkus kacang.  Si Ibu pun berjanji, tapi nanti setelah mendapatkan uang.  Mereka berdua turun pas di bawah jembatan layang, di pojok lampu lalu lintas.  Si Ibu lalu mengeluarkan tamborin kecil dari tasnya dan mereka berdua siap mengawali hari dengan berbagai nyanyian di sela-sela antrian mobil.  Pelangi-pelangi, alangkah indahmu... merah kuning hijau, di langit yang biru... pelukismu agung, siapa gerangan... pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mereka, saya bersyukur bahwa saya masih mendapat hidup yang cukup dan sempat melihat lengkungan beberapa pelangi dalam satu hamparan luas tanah-tanah pertanian dan bukit-bukit yang asri di NZ.  Saya juga bersyukur bahwa saya masih sempat melihat awan-awan putih yang berarak indah dengan latar belakang langit yang biru bersih di &lt;em&gt;Aotearoa: Land of the Long White Cloud&lt;/em&gt;... Namun saya juga bersyukur bahwa ibu dan anak pengamen yang saya temui di angkot masih memperoleh kesempatan untuk bisa berusaha dan bersama menikmati hidup yang sedikit dengan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan yang ditunjukkan ibu dan anak pengamen itu juga menjadi mozaik unik dalam Indonesia yang ramai dan juga kaya.  Sangat kontras dengan pemandangan  gedung apartmen yang tinggi, mall yang ramai, mobil yang mewah, atau bertebarannya lifestyle &amp; fitness center (&lt;em&gt;not the other way around)&lt;/em&gt; yang mahal.  Semua bercampur baur dengan keramaian orang yang berdemo, mengamen, berdesakan di bis, atau antri di pusat-pusat pengobatan tradisional/alternatif di Jakarta.  Estalase kehidupan yang begitu beragam, dinamis, sekaligus lebih kaya dibandingkan estalase simplistik yang ditampilkan sinetron-sinetron di tv. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi sebaliknya saya temukan di NZ karena kesenjangan sosial menipis dan negara mampu memberi jaminan sosial kepada penduduknya.  Saya juga salut dengan orang-orang NZ yang cenderung hidup sederhana, meski mereka cukup mampu untuk sering berwisata dan berinvestasi.  Dari segi penampilan, mereka mungkin tampak lebih "kampung" dibandingkan dengan orang-orang Jakarta, tapi mereka begitu menikmati hidup dan tidak terlalu terpengaruh dengan tekanan trend.  Saya sendiri sering merasa malu melihat mudahnya saya dicekoki slogan iklan, trend dan televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bicara tentang tv dan musik, saya mungkin akan merindukan banyak acara tv dan musik yang biasa saya nikmati di NZ.  Serial tv-nya bagus-bagus, meski ada juga serial tv semacam sinetron yang berputar-putar tanpa akhir.  Film-filmnya juga terpilih, tidak hanya sebatas film-film "box office" dari Chuck Norris, Cindy Rotrock, Steven Seagal dan Van Damme seperti banyak diputar oleh tv-tv di tanah air.  Selain itu banyak acara bermuatan informasi dan feature yang tidak melulu bercerita tentang kasus kriminal, hantu dan gossip.  Beberapa yang saya suka adalah acara advokasi konsumen dan features tentang kehidupan binatang, berbagai hasil penelitian tentang perkembangan manusia, penemuan dan innovasi, sejarah atau tempat-tempat wisata (seperti Intrepid Journey).  Acara-acara serupa mungkin juga ada di tanah air, tapi jam tayangnya lebih banyak di saat orang sibuk bekerja.  Untuk musik, saya akan merindukan satu radio easy listening yang "setia" menemani saya membahas data dan menuliskan hasilnya dari mulai jam 8 pagi sampai dengan jam 5 sore.  Namun saya tidak perlu berkecil hati karena saya bisa mendengarkan petikan gitar yang luar biasa indah dan suara pengamen yang merdu di bis yang melantunkan satu lagu yang sering diputar di radio kesayangan saya: Love will keep us alive dari the Eagles. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu saja yang tidak akan saya rindukan dari NZ: makanannya.  Bukan berarti tidak enak, tapi tidak banyak pilihan yang berkesan di NZ.  Saya juga tidak rindu NZ dalam urusan warung atau tempat membeli makanan. Di tanah air, saya mudah mendapatkan apa saja dalam jarak dekat dan sejak pagi hingga malam.  Di NZ, semua terbatas jarak dan waktu.  Jam 5 sore, sebagian besar toko sudah tutup. Kalaupun ada makanan yang saya rindukan, semuanya merupakan buatan sahabat-sahabat saya di Lincoln seperti pastel, asinan, sayur asem-asem udang, maccaroni panggang-pedas dan masakan Turki.  Makanan-makanan ini begitu berkesan, bukan hanya karena enak, tapi juga karena dimasak dengan rasa persahabatan.  Acara berkumpul dan berbagi makanan selama di NZ sudah membuat saya dan sahabat-sahabat saya semakin rukun dan dekat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila makanan dari sahabat sudah membuat rindu, tentu sahabat-sahabat saya juga lebih membuat rindu karena mereka adalah keluarga saya selama di NZ.  Sering saling membantu, atau hanya sekedar berbagi cerita, yang semuanya bisa mengurangi rasa rindu dengan tanah air.  Dan perpindahan memang selalu terasa berat karena seolah harus meninggalkan teman dan keluarga.  Namun tentu harapannya, persahabatan akan terus berlanjut.  Kalaulah ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi. Kalaulah ada umurku panjang, bolehlah kita berjumpa lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya tutup kesan perjalanan saya di NZ dan kesan akan babak baru kehidupan saya di tanah air dengan mengutip ucapan seorang anak laki-laki di pesawat "Mah, ade senang pulang ke Indonesia karena bisa ngomong Indonesia lagi... capek pakai bahasa Inggris terus..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-3293326806706078013?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/3293326806706078013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=3293326806706078013' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/3293326806706078013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/3293326806706078013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/05/journey-to-middle-earth-part-3.html' title='A Journey Through Middle Earth (Part 3)'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-6851686202770366626</id><published>2007-04-21T10:50:00.000+07:00</published><updated>2007-04-23T06:25:01.675+07:00</updated><title type='text'>A Journey Through Middle Earth (Part 2)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Asal Muasal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, you... Are you that Indian guy?" Saya terkejut saat berjalan menuju ke kampus dan ada satu orang dari Afrika atau Amerika Tengah sudah menunggu dan memicingkan mata sekitar 50 meter di depan saya. Dengan perasaan heran, saya menengok ke belakang dan tidak menemukan ada orang India. "Yes, YOU. How are you? Are you that Indian guy?" Dengan heran saya menjawab "Me? I'm fine, thanks. But I'm not Indian" Dia melambaikan tangan, "Come closer, walk faster so I can see you..." Weleh-weleh... sudah teriak-teriak masih tidak kelihatan juga... Saya menahan tawa dan bergegas menghampiri dia. Setelah sekitar 10 meter, dia berkata "Oh... you look Asian now... Sorry, I thought you're the Indian guy I met yesterday. I am heading to town... Ok. See you." Dia langsung pergi melengos. Kecele nih ye... Lagipula... apa India itu bukan Asia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan bahwa saya mirip orang India menjadi tambahan untuk daftar dugaan tentang asal muasal saya, dan tidak ada satupun yang tepat menduga saya orang Indonesia. Berikut daftar dugaan tentang asal muasal saya, hasil dari tebak-tebakan, tanpa hadiah, orang-orang yang baru mengenal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Filipina. Alasannya: raut wajah dan rambut, tinggi badan :( dan nama. Tebakan ini tidak saja menjadi favorit orang Amerika, tapi juga orang New Zealand dan Belanda. Kedua: Meksiko. Alasannya: raut wajah, mata dan nama. Ini merupakan tebakan tertinggi kedua dari orang-orang di Amerika. Sebagian dari mereka menduga saya memiliki darah Indian... Leo... si "Penggembala Bison dari Timur"....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Malaysia. Alhamdulillah... paling tidak ada yang bisa menebak kalau saya itu masih termasuk Melayu 'coret'. Alasannya: raut wajah dan warna kulit, bentuk mata dan... lagi-lagi, tinggi badan :(. Ini dugaan paling jitu dari orang-orang yang pernah berkunjung ke Malaysia, Thailand, Singapore dan... Indonesia (malang nian nasibku...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: saya berasal dari RRC atau Taiwan... Haiiiiiyah! Mungkin karena badan ramping, suka makan nasi dan mie (mie mie indomie...), bentuk mata, luar biasa rajin (hehehe...) dan sedikit lebih putih dibandingkan Melayu, saya sering diajak bicara Mandarin oleh kasir/pemilik Chinese Supermarket di sini. Bila saya menjawab dalam bahasa Inggris, mereka tertegun sejenak lalu minta maaf. Mungkin mereka pikir saya termasuk generasi yang tidak bisa berbahasa Mandarin. Saya sempat berpikir, andai dulu nenek moyang saya tidak menikah dengan orang Jawa, mungkin saya bisa berbahasa Mandarin :). Pengalaman lain yaitu saat saya mengantar teman dari Turki membuka bank account di kampus. Sang teller mengakhiri pembicaraan panjang tentang pengalaman dia berkunjung ke Turki dengan "I'm sure I'll remember you since you look different than others." Dan tiba-tiba keluarlah komentar "It would be difficult for me to remember him, though, since he is Chinese" sambil tangannya merujuk ke saya... Wow... Tapi saya memaafkan dia... maklum teller baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Vietnam atau Nepal. Alasannya: bentuk mata dan... tinggi badan... Sudah habis energi untuk bertanya-tanya mengapa orang mempersoalkan tinggi badan. Tapi saya mungkin perlu berpikir positif bahwa orang lain menilai orang Indo termasuk tinggi-tinggi :D. Dugaan-dugaan yang lain yaitu: saya berasal dari Srilanka, Peru, Singapore dan Thailand. Teman dari Turki juga berkomentar bahwa jika saya pergi ke Turki, mungkin saya akan dikira berasal dari Kirgistan, Tajikistan, dll. Sebenarnya ada satu dugaan lain yang membuat saya sedikit tersanjung (meski tidak sampai bermain di sinetron dengan judul serupa) yaitu campuran Asia dan Italia. Ini berkat paduan kata pertama dan kelima dari nama saya. Memang, bila nama saya diucapkan oleh Elisa, teman saya, dengan lafal Italia yang kental... saya seperti berasal dari kampung yang sama dengan sang maestro Da Vinci, Del Piero dan Cannavaro... atau paling tidak sudah 'sekampung' dalam semangat mencetak prestasi, meski saya masih dalam taraf pribadi :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan tentang asal muasal saya akan lebih menarik bila saya mengambil pengalaman saat bertemu teman-teman sebangsa dan setanah air. Sekitar 70 persen akan menduga bahwa saya berasal dari Sumatra Barat. Awal nama saya yang terdengar 'asing' menjadi alasan pertama. Nama ini juga membuat sebagian orang menduga saya berasal dari Manado atau Toraja. Yang terakhir ini mungkin berlatar belakang religi. Satu orang mengira saya orang Betawi (jadi nickname 'doel' itu sah! :P). Meski saya bersikap sehalus orang Jawa, saya tetap tidak banyak diakui sebagai orang Jawa karena tidak bisa berbahasa Jawa secara aktif. Tidak juga diakui sebagai orang Sunda, meski lahir dan besar di tanah Sunda. Kegagapan dalam berbahasa Sunda juga menjadi sebab. Alhasil, bila ditanya asalnya mana, saya menjawab "dari Bandung" karena Bandung sudah jadi factory outlet, jadi tidak semua orang Bandung harus selalu bisa berbahasa Sunda :P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho mas, kirain mas ini Indo, blasteran, orang keturunan...kan namanya... “Ya memang, saya ini orang Indo nesia, blasteran dan keturunan langsung dari orang Kutoarjo dan orang Blora.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-6851686202770366626?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/6851686202770366626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=6851686202770366626' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/6851686202770366626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/6851686202770366626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/04/journey-through-middle-earth-part-2.html' title='A Journey Through Middle Earth (Part 2)'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-9189438235466961609</id><published>2007-04-09T10:07:00.000+07:00</published><updated>2007-04-23T06:25:24.931+07:00</updated><title type='text'>A Journey through Middle Earth (Part 1)</title><content type='html'>Judul blog ini merupakan pemberian Wisa untuk mewakili rekaman perjalanan saya belajar dan hidup di New Zealand yang dituangkan di blog. Judul yang pas karena saya penggemar berat film the Lord of the Rings. Selain itu, judul ini seperti memberi kedalaman akan setiap pengalaman hidup saya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di NZ banyak memberi pelajaran berharga, tidak saja secara akademis dan ilmiah, tapi juga secara sosial dan personal. Saya menemukan babak kehidupan baru, kesempatan baru dan orang-orang yang memberi inspirasi baru. Dan bersamaan dengan bertambahnya usia hari Minggu lalu, saya ingin kembali melihat apa saja yang sudah saya alami selama saya hidup di sini. Kilas balik ini tentu tidak melulu tentang kehidupan saya di NZ karena banyak penggalan-penggalan pengalaman hidup saya lainnya yang berpengaruh dan menjadi landasan bagi pijakan saya di Middle Earth ini. Untuk memulainya, saya akan menulis sedikit tentang nama saya... nama yang sering membuat orang salah faham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Filosofi di Balik Nama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila orang mengetahui nama lengkap saya, mereka sering mengganggap saya sedang bercanda. Lima kata yang tersusun menjadi nama saya, dengan kata ketiga berbunyi "Alias", membuat banyak orang dengan mudah memenggal-menggal nama saya. Namun ini hanya terjadi di Indonesia. Bila saya menggunakan nama saya di Amerika, Jepang, Thailand, Belanda dan New Zealand, tidak ada satupun orang yang berani memenggal nama saya tanpa bertanya terlebih dahulu. Saya menjadi merasa lebih tentram untuk menggunakan nama saya sesuai apa adanya di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila membuat kartu identitas atau membuka rekening di tanah air, saya harus berhati-hati dan jelas menuliskan/menyebutkan nama yang akan dicantumkan. Meski begitu, saya masih banyak menemukan kesalahan, termasuk di rekening bank dan kartu kredit. Petugas pendaftaran/&lt;em&gt;customer service&lt;/em&gt; umumnya memenggal nama saya sampai di kata kedua, meski saya sudah menandai nama yang seharusnya dicantumkan. Kesalahan lainnya adalah memberi nama baru bagi saya, sehingga nama saya menjadi enam kata, menjadi terdengar gospel, atau menjadikan saya memiliki nama belakang "Santoso", padahal Santoso itu nama Paman saya. Kesalahan berikutnya adalah kesalahan ejaan, yang masih sedikit bisa ditolerir. Akibatnya, saya sering harus berpanjang-panjang menggurus penggantian nama dan kartu identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang tidak tahu bahwa menghargai nama orang lain adalah seperti menghormati orang tua dari si pemilik nama. Apapun asal-usul nama dan sejarahnya, semua memiliki filosofi, kenangan, harapan dan/atau doa dari pemberi nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, nama saya seperti harapan, doa dan kenang-kenangan dari orang tua. Lima kata yang terdapat pada nama saya merupakan gabungan dari pemberian almarhum Bapak dan almarhumah Ibu, dengan kata "Alias" di tengahnya yang seperti menyambungkan tali silaturahmi kedua orang tua saya untuk berkompromi tentang nama yang cocok untuk saya. Arti nama saya mengandung kesan kekaguman atas penciptaan, pemikiran dan penemuan yang cemerlang, serta harapan akan kekuatan lahir dan bathin dalam mencapai pencerahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti yang mungkin terdengar cukup berat bila dikaitkan dengan harapan orang tua untuk anaknya. Namun pengalaman hidup selama ini menunjukkan bahwa saya sudah berjalan beriringan dengan harapan yang dititipkan orang tua dalam nama saya. Semuanya menjadi bekal dan kenang-kenangan yang memberi saya kekuatan untuk menghadapi setiap rintangan dan menemukan cara dan kesempatan untuk terus berkembang, serta menemukan dinamika hidup dan pencapaian yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila akhirnya saya memilih kata pertama dan terakhir dari nama saya untuk menjadi penanda resmi bagi identitas diri, saya seperti sudah menggabungkan dua kata yang dulu menjadi 'soal' di antara orang tua saya. Mungkin kedua orang tua saya dulu tidak menyadari bahwa dua kata ini sebenarnya begitu serasi dan sekaligus menegaskan harapan mereka akan putranya. Gabungan dua kata ini juga membuat nama saya enak didengar, dan terdengar internasional. Namun sayang sekali, masih banyak orang lain mengira mereka lebih tahu tentang nama saya... Mereka tidak di sini, tapi di tanah kelahiran saya sendiri...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-9189438235466961609?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/9189438235466961609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=9189438235466961609' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/9189438235466961609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/9189438235466961609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/04/journey-through-middle-earth-i.html' title='A Journey through Middle Earth (Part 1)'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-2584704924319786956</id><published>2007-03-31T09:20:00.000+07:00</published><updated>2007-03-31T11:55:22.265+07:00</updated><title type='text'>Foto-foto Summer 2007</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZsuTiO0I/AAAAAAAAAC0/WBX7DDBng80/s1600-h/summer071.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047930119719631682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZsuTiO0I/AAAAAAAAAC0/WBX7DDBng80/s200/summer071.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Summer di NZ biasanya penuh dengan festival. Namun kali ini, lebih banyak kegiatan yang bisa diikuti/diselenggarakan. Mulai dari shalat Idul Adha bersama, ramah tamah dengan Bapak Dubes RI untuk NZ yang baru, sampai partisipasi di acara Culture Galore 2007. Dua foto yang pertama belum mencakup semua anggota komunitas Indonesia di Canterbury.&lt;br /&gt;Dua gambar di bawah diambil di Christchurch Botanical Garden. Bunga-bunga bermekaran, dan ada pameran tanaman karnivora seperti kantung semar dan tanaman berkatup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZfOTiOzI/AAAAAAAAACs/IwvgwbqrFQw/s1600-h/summer072.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047929887791397682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZfOTiOzI/AAAAAAAAACs/IwvgwbqrFQw/s200/summer072.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZW-TiOyI/AAAAAAAAACk/zDFUmDTZBJ8/s1600-h/summer073.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047929746057476898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZW-TiOyI/AAAAAAAAACk/zDFUmDTZBJ8/s200/summer073.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Orang-orang tampak santai menikmati matahari dan ada pesawat UFO yang hingar bingar dengan musik. Sempat rindu juga melihat pohon pisang yang ditanam di dalam rumah kaca. Kebetulan saat itu ada pameran bunga, dan di rumah kaca ada deretan begonia yang cantik sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZO-TiOxI/AAAAAAAAACc/d0FcJap7D_E/s1600-h/summer074.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047929608618523410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZO-TiOxI/AAAAAAAAACc/d0FcJap7D_E/s200/summer074.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada hari yang sama, ada sekelompok anak muda menampilkan nyanyian dan tarian Maori di Cathedral Square untuk menggalang dana. Beberapa ciri khas dari gerakan tarian Maori yaitu melambaikan tangan, menepuk dada, membelalakan mata, menghentakkan kaki dan menjulurkan lidah (untuk penari laki-laki). Kostumnya sederhana, meski tato di badan dan muka, hiasan dedaunan atau pakaian dari serat tanaman atau bulu hewan menjadi ciri khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZIeTiOwI/AAAAAAAAACU/fPLDi8rbnO8/s1600-h/summer075.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047929496949373698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZIeTiOwI/AAAAAAAAACU/fPLDi8rbnO8/s200/summer075.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZBuTiOvI/AAAAAAAAACM/87ZpEYPzTsA/s1600-h/summer076.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047929380985256690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZBuTiOvI/AAAAAAAAACM/87ZpEYPzTsA/s200/summer076.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada awal Februari, saya bersama teman-teman berwisata ke Lake Coleridge. Saya sempat ikut teman berkendaraan 4-wheel drive menanjak gunung, menyebrang sungai dan melihat tempat-tempat yang indah. Rombongan terdiri dari Rombongan terdiri dari 10 orang dewasa dan 5 anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3Y6OTiOuI/AAAAAAAAACE/N-lHGQLuReA/s1600-h/Summer077.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047929252136237794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3Y6OTiOuI/AAAAAAAAACE/N-lHGQLuReA/s200/Summer077.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di minggu kedua Maret 2007, saya dan teman sempat melihat-lihat teluk-teluk di sekitar Christchurch. Sempat menghayal bisa memiliki kapal layar seperti banyak orang di sini. Tanggal 10-11 Maret juga ada Chinese Lantern Festival yang menandai berakhirnya perayaan Tahun Baru China. Berbagai lampion dibentuk binatang. Sempat ingin membeli lampion dan dibawa pulang untuk kenang-kenangan, tapi antriannya luar biasa panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3Yp-TiOsI/AAAAAAAAAB0/6QFCGc4WOjY/s1600-h/summer078.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047928972963363522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3Yp-TiOsI/AAAAAAAAAB0/6QFCGc4WOjY/s200/summer078.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Acara Culture Galore tahun ini dimeriahkan dengan stand Indonesia dan tari saman. Setelah berlatih 7 minggu, penampilan kami boleh dikata sangat memuaskan. Kompak. Teman-teman yang berjualan nasi goreng dan pisang goreng juga sibuk melayani serbuan pengunjung yang tidak habis sampai sore hari. Selain itu masih ada stand informasi dan workshop poco-poco. Penampilan para penari saman sudah ditunggu di dua festival berikutnya di tahun 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foto-foto "dicomot" dari kamera-nya Dewi &amp; Idris, juga blog-nya Yuana &amp;amp; Serkan (khusus untuk yang Culture Galore).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-2584704924319786956?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/2584704924319786956/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=2584704924319786956' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2584704924319786956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/2584704924319786956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/03/foto-foto-summer-2007.html' title='Foto-foto Summer 2007'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rg3ZsuTiO0I/AAAAAAAAAC0/WBX7DDBng80/s72-c/summer071.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-8034088124487986993</id><published>2007-03-25T10:12:00.000+07:00</published><updated>2007-03-27T08:50:15.605+07:00</updated><title type='text'>Billionaires</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rgb4Rspa_GI/AAAAAAAAABE/S-OuwMZOj-k/s1600-h/gb2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045993415441579106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rgb4Rspa_GI/AAAAAAAAABE/S-OuwMZOj-k/s320/gb2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tujuh belas hari yang lalu saya membaca daftar orang-orang terkaya di dunia menurut versi majalah Forbes di situs Yahoo!. Sambil mengisi waktu luang, daftar yang panjang itu saya ringkas lagi dan hasilnya mencakup 509 orang dengan kekayaan lebih dari USD 2 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Gambar 1, tampak bahwa dominasi warga negara dari Amerika Utara terlihat nyata, dan sekitar 179 berasal dari Amerika Serikat. Bill Gates dan Warren Buffett lagi-lagi menjadi jawaranya, meski tiga orang di antara sepuluh orang terkaya di dunia berasal dari negara berkembang. Juga semakin banyak orang Asia yang mapan, dan hanya 6 orang dalam daftar itu yang berasal dari benua Afrika (Mesir dan Afrika Selatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rgb4cspa_HI/AAAAAAAAABM/dWekTBjVRx8/s1600-h/gb3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045993604420140146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rgb4cspa_HI/AAAAAAAAABM/dWekTBjVRx8/s320/gb3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Urutan negara yang memiliki minimal 1 persen wakil di daftar 509 orang terkaya di dunia ditampilkan di Gambar 2. Wakil-wakil Asia di antaranya India, Hong Kong, Jepang, Arab Saudi dan Malaysia. Negara-negara Asia lainnya dalam daftar ini dapat dilihat di Gambar 3. India menjadi negara Asia, dan negara berkembang, yang memiliki wakil paling banyak. Satu pengusaha baja dari India bahkan menduduki peringkat ke-5 orang terkaya, dan ada tiga pengusaha India lainnya di jajaran 50 besar. Namun, wakil negara berkembang dalam daftar orang terkaya dipuncaki pengusaha telekomunikasi dari Meksiko yang berada di urutan ke-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rgb4sMpa_II/AAAAAAAAABU/ZMOPhJbX97E/s1600-h/gb4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045993870708112514" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rgb4sMpa_II/AAAAAAAAABU/ZMOPhJbX97E/s320/gb4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bagaimana dengan Australia dan NZ? Orang terkaya dari Australia berada di peringkat 142, sedangkan dari NZ ada di peringkat 336, masih kalah bersaing dengan konglomerat asal Malaysia yang ada di urutan 104. Wakil dari Indonesia? Meski tidak ada satupun dalam daftar 509 orang terkaya, tapi masih ada dua orang/keluarga yang masuk daftar 950-an orang terkaya di dunia. Mereka bergerak di industri rokok (urutan 538 dan 664). Nama-nama para konglomerat dan tokoh politik yang sering jadi selebritis di koran-koran di tanah air tidak ada dalam daftar. Kapan akan lebih banyak lagi orang Indonesia tercantum dalam daftar ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dilihat dari sumber kekayaan, hanya sedikit dari orang kaya di dunia yang mengandalkan warisan (lihat Gambar 4). Investasi, bursa saham/berjangka dan asuransi masih merupakan lapangan usaha paling strategis yang bisa mendatangkan kekayaan. Selain itu, usaha real estate, bank/pembiayan, retail, dan komputer/internet juga mendominasi. Banyak di antara mereka juga mendiversikasi usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa fakta lain yang menarik dalam daftar ini yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;sedikitnya orang-orang kaya yang mendapatkan harta kekayaan dari warisan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;hanya satu orang saja yang berpredikat pangeran yang masuk dalam jajaran sekitar 950-an orang terkaya di dunia;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;trend meningkatnya jumlah orang kaya yang bergerak di bidang internet/e-commerce (Google, Yahoo!, ebay, Amazon, dll.) dan industri software dan hardware komputer; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;hanya ada satu usaha furniture dalam daftar itu (dimiliki satu keluarga dari Swedia, urutan ke-4); &lt;/li&gt;&lt;li&gt;semakin banyaknya pengusaha fashion, parfum dan kosmetik yang meningkat asetnya; dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;masuknya dua sutradara terkemuka (George Lucas—urutan 243 dan Steven Spielberg—urutan 287). &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045993170628443218" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rgb4Dcpa_FI/AAAAAAAAAA8/OkHWdKHLZb8/s320/gb1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Selain itu, bila saya melihat di daftar 950-an orang terkaya, ada satu pengusaha jasa pengurusan badan (diet) di urutan 538. Wah... Beberapa pengusaha coklat dan permen (termasuk permen karet) juga masuk dalam daftar. Juga ada satu pengusaha kartu ucapan, pemilik sirkus Cirque du Soleil, pengusaha pizza dan dua konglomerat pertanian dari Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar orang terkaya keluaran Forbes ini memang begitu enak dibaca dan diteliti. Pembaca bisa membandingkan tokoh-tokoh yang dikagumi dalam daftar ini, dan menemukan orang-orang baru yang agak &lt;em&gt;low profile&lt;/em&gt; tapi kesuksesannya terkadang melebihi orang-orang yang dikenal. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, daftar itu juga memberikan pelajaran bahwa lebih banyak orang yang menjadi kaya karena usaha, bukan karena warisan atau kemenangan melalui undian. Jerih payah mereka sudah memberikan imbalan yang mungkin lebih dari setimpal. Sudah jelas bahwa kekayaan yang langgeng merupakan hasil kombinasi dari usaha, kreativitas dan ketekunan. Meski rejeki ada di tangan yang Maha Kuasa, namun usaha untuk menemukan rejeki itu ada di tangan setiap orang yang mencari penghidupan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya sendiri sering menghayal bisa mendapat hadiah kejutan, lalu menjadi makmur. Namun saya lebih sering berpikir realistis untuk tidak lupa berusaha dulu agar rejeki itu pasti dalam genggaman. Selain itu, saya bukanlah orang yang gampang beruntung; harus keluar keringat, pikiran dan tenaga dulu, baru bisa merasakan hasilnya. Semuanya memang memberikan kepuasan dan kebahagiaan bila berhasil.  Namun bila usaha saya tidak mampu membuat saya masuk dalam daftar orang terkaya, mungkin juga tidak menjadi masalah. Saya sudah cukup bahagia menjadi orang yang bisa mencukupi diri sendiri, tidak menyusahkan orang lain dan bisa membantu orang lain. Alhamdulillah :) &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Data are summarized from: http://biz.yahoo.com/ap/070308/forbes_billionaires_list_1.html?.v=2&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-8034088124487986993?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/8034088124487986993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=8034088124487986993' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/8034088124487986993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/8034088124487986993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/03/billionaires.html' title='Billionaires'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_zEJGx--p2P8/Rgb4Rspa_GI/AAAAAAAAABE/S-OuwMZOj-k/s72-c/gb2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-1950296781742520</id><published>2007-02-18T02:42:00.000+07:00</published><updated>2007-02-18T02:46:49.172+07:00</updated><title type='text'>Selesai? Belum…</title><content type='html'>Tanggal 1 Februari kemarin merupakan hari yang menjadi target pribadi untuk bisa menyelesaikan semua tulisan; dan berhasil.  Semua bab sudah tersusun rapi dan dijilid.  Lengkap, 391 halaman dengan daftar isi/table/gambar/istilah, daftar pustaka dan lampiran.  Saya melangkahkan kaki dengan ringan ke ruang pembimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 1 Februari, saya juga mendapat email yang memberi tahu perpanjangan visa sudah disetujui dan bisa diambil.  Penantian yang cukup lama dibandingkan bila mengajukan visa di kedubes NZ di Jakarta (21 hari versus 10 hari); tapi yang penting selesai.  Saya bergegas pergi mengambil lembaran visa untuk ditempel di paspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah selesai? Belum… Ternyata masih saja ada hal-hal kecil yang membuat penyelesaian urusan-urusan ini sedikit tertunda.  Pembimbing ternyata hendak pergi liburan selama 2 minggu dan dengan semangatnya langsung membaca dan memberikan komentar untuk bab terakhir (yang belum pernah dia baca) hanya dalam beberapa jam.  Alhasil, saya harus memperbaiki bab itu dan mengganti jilidan.  Untuk visa, ternyata ada kesalahan cetak, jadi harus diganti dan saya harus menunggu lagi.  Tiga hari kemudian urusan-urusan ini boleh dikata selesai.  Alhamdulillah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa semua sudah benar-benar selesai? Belum, karena dalam beberapa minggu ke depan saya masih harus memperbaiki draft sampai kedua pembimbing saya setuju dengan apa yang sudah saya analisa, tulis dan simpulkan.  Semoga proses ini tidak banyak memakan waktu karena mereka sebelumnya sudah pernah membaca dan mengomentari sebagian besar isi tulisan saya. Selain itu, saya juga berencana menyiapkan beberapa artikel untuk publikasi.  Saya juga perlu menulis &lt;em&gt;abstract&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;acknowledgement&lt;/em&gt;.  Untuk yang terakhir ini, saya mulai dengan bagian yang menyenangkan dulu: &lt;em&gt;acknowledgement&lt;/em&gt;, karena lebih mudah mengungkapkan rasa terima kasih, dibandingkan dengan meringkas 302 halaman teks menjadi hanya 500 kata.  Strategi jitu dan alhamdulillah selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu, apa pekerjaan selanjutnya? Biasa... kegemaran saya: beres-beres.  Mulai dari mengatur tumpukan kertas-kertas hasil analisa, draft yang sudah diperiksa, berbagai artikel dan buku-buku, sampai membereskan file-file lama, menyusun ulang isi lemari dan laci, serta membereskan file di komputer dan melengkapi back-up files bulanan.  Kebetulan juga ada pengaturan ulang ruangan kerja.  Saya harus mengalah dengan memberikan ruang kerja saya kepada professor baru; sedangkan saya pindah berbagi ruangan dengan seorang teman.  Tak apalah, apalagi ruangan baru lebih luas dan ada meja/kursi tamu segala.  Lebih keren :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan lain? Ikut latihan tari saman untuk tampil di acara Culture Galore tanggal 17 Maret nanti.  Kesan saat mengamati video tari saman di YouTube: sulit. Juga ternyata tari saman itu banyak ragamnya.  Pernah juga melihat VCD tari saman dan gerakannya berbeda dengan yang dilihat di YouTube.  Namun setelah dua kali latihan dan mengenal lagunya, gerakannya bisa lebih lancar.  Masih ada waktu beberapa minggu untuk latihan, semoga semakin mahir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan lain? Menjadi koordinator kegiatan pengumpulan dana melalui garage sale yang akan dilaksanakan tanggal 24 Februari.  Sebagian hasil penjualannya akan digunakan untuk menambah kas organisasi dan membiayai berbagai kegiatan masyarakat Indo di sini.  Beberapa teman bahkan bersedia menyumbangkan 100 persen keuntungannya untuk kas.  Salut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan lain? Menulis untuk blog.  Sudah cukup lama saya kehilangan kreativitas untuk menulis di blog.  Sebenarnya ada beberapa ide, tapi hanya tertuang satu-dua kata dan setelah berminggu-minggu ditinggalkan, saya sudah lupa mengapa saya menulis kata-kata itu.  Tidak apalah karena ide-ide baru sekarang mulai bermunculan.  Tiga tulisan sudah selesai dan tinggal menunggu saat yang pas untuk ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana selanjutnya?  Tetap hidup sehat. Tidur teratur dan makan teratur.  Saatnya juga mencoba resep-resep baru.  Saya sekarang sedang tergila-gila dengan ayam pop buatan sendiri.  Terkadang, ayam pop saya goreng dengan minyak minimalis sampai sisi-sisinya agak gosong, tapi harum seperti ayam bakar.  Setelah itu saya suwir-suwir dan campurkan dengan selada, potongan-potongan tomat, timun dan jeruk sunkist, kacang tanah tumbuk kasar dan sambal.  Jadilah chicken salad sambal terasi... Atau membuat lumpia isi pisang+irisan nangka+kacang tumbuk+sedikit coklat. Atau membuat soto Bandung yang dimakan dengan perkedel jagung pedas... Wah, uenaaaaaak... Minggu lalu, saya coba membuat srikaya ketan.  Meski &lt;em&gt;rice cooker&lt;/em&gt; bermasalah, tapi hasilnya langsung amblas di hadapan teman-teman dalam waktu kurang dari 10 menit.  Ada kepuasan berlipat-lipat bila memasak dan berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ketakutan kalau sering memasak atau mencoba resep baru, saya bisa jadi menggelembung, seperti dulu sewaktu di Ithaca.  Ternyata tidak, karena makanan ini sering dicoba/dibuat saat ada acara makan-makan bersama, yang memang menjadi kegemaran orang-orang Indo yang jauh dari rantau.  Selain itu, ‘ketidakbisadiaman’ saya juga berpengaruh.  Ini termasuk berolah raga setiap hari, ditambah badminton dan berenang seminggu sekali.  Otomatis lemak enggan hinggap di badan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bila pekerjaan satu sudah diselesaikan, masih banyak lagi perkerjaan yang harus saya selesaikan.  Entah kecil ataupun besar.  Sebagian juga terkait dengan target pribadi/cita-cita seperti meningkatkan hafalan, memperbanyak membaca, belajar ketrampilan baru dan mencari informasi peluang usaha.  Semuanya dipupuk dan diusahakan sedikit demi sedikit, agar kelak bisa memfasilitasi hidup yang lebih lancar, sehat dan bahagia.  Hidup terus bergulir karena adanya semangat, cita-cita dan niat baik untuk memanfaatkan hidup yang sedikit menjadi lebih baik dan bermakna.  Semoga...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-1950296781742520?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/1950296781742520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=1950296781742520' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/1950296781742520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/1950296781742520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/02/selesai-belum.html' title='Selesai? Belum…'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-4392402295962289735</id><published>2007-02-08T02:35:00.000+07:00</published><updated>2007-02-08T02:46:32.764+07:00</updated><title type='text'>Banjir</title><content type='html'>Awal Februari sepertinya perlu diwaspadai sebagai hari banjir, karena kejadian tahun 2002 kembali terulang di tahun ini.  Banjir di tahun 2002 sudah cukup berat dan merupakan pengalaman saya yang pertama bersingunggan dengan banjir besar di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan deras yang mengguyur Jakarta di siang hari Jum'at tanggal 1 Februari 2002 membuat saya harus menunggu lebih lama di kantor.  Semula ingin memaksakan pulang, tapi kemudian memutuskan untuk menunggu sampai hujan reda.  Pukul 7 malam, saya memutuskan pulang meski dari balik jendela kantor jalanan sudah tampak macet. Di jalan, tidak ada satu pun taksi yang kosong.  Bis pun penuh sesak.  Beruntung saat itu ada bis patas AC yang memutar balik, sehingga saya masih bisa berebut naik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan masih macet dan bis hanya bisa bergerak setiap 10 menit, itupun tidak lebih dari 100 meter.  Banyak kendaraan yang tidak sabar dan menyelonong saat lampu lalu lintas berubah merah.  Akibatnya ekor antrian mobil menghambat jalur yang mendapat giliran berjalan.  Keadaan tidak bertambah baik, meski polisi sudah turun tangan.  Pukul 10 malam, bis masih berada di ujung jalan Sudirman, di sekitar Senayan.  Air di jalan sudah menggenang sekitar 30 cm. Pintu bis sudah tidak bisa ditutup karena penuhnya penumpang dan AC-pun dimatikan untuk menghemat bahan bakar.  Hujan masih mengguyur deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lepas dari jalan Sudirman, supir bis mencoba berbagai jalan tembus, tapi lagi-lagi terjebak macet.  Banyak bis lainnya melakukan hal serupa, dan ini justru menambah kemacetan.  Pukul 12.30 pagi, bis masih terjebak macet di sekitar Pondok Indah.  Deretan mobil bertambah panjang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang tertidur di dalam bis mulai merasa tidak nyaman karena perjalanan ke rumah masih harus bersambung.  Jika tidak lekas sampai terminal, saya mungkin tidak akan kebagian angkot.  Saat itu saya melihat satu persatu penumpang turun dari bis dan berjalan kaki.  Dari balik jendela, saya juga melihat banyak orang asing yang dijemput pembantunya dengan payung dan meninggalkan mobilnya di jalan.  Ini berarti bis tidak akan bisa jalan karena terhalang mobil-mobil yang ditinggalkan.  Akhirnya saya memutuskan jalan kaki sampai terminal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan sudah tidak begitu deras dan saya menyusuri jalan bersama-sama dengan ratusan orang lainnya.  Sampai di terminal, keadaan begitu sepi karena sebagian besar orang/penumpang masih terjebak macet.  Alhamdulillah, masih banyak angkot yang menunggu dan saya pun bisa mencapai rumah pukul 2 pagi.  Perjalanan panjang menuju rumah karena menghabiskan waktu tujuh jam.  Sebenarnya ada banjir juga di sekitar rumah, tapi hanya setinggi 10-15 cm dan tidak sampai masuk rumah karena tanah perumahan lebih tinggi dibandingkan jalan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagi harinya, saya mengabiskan waktu beristirahat dan menonton liputan banjir.  Saya sempat terkejut melihat lokasi bank dan banyak tempat-tempat yang sering saya kunjungi terendam lebih dari 2 meter.  Belum lagi melihat penyelamatan tamu-tamu hotel dengan sampan dan perahu karet.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah terpikir bahwa banjir sebesar tahun 2002 bisa terulang, kali ini lebih besar lagi.  Meski banyak pihak sudah lebih siap dalam mengantisipasi banjir, tapi alam masih menuntut kesiapan untuk hal yang terburuk dari yang terburuk.  Ini masuk akal karena urusan force majeure tidak pernah memiliki batas.  Yang perlu dilakukan adalah belajar dari pengalaman dan cepat bertindak, karena force majeure bisa terjadi setiap saat dan dengan berbagai skala.  Sayangnya, tindakan antisipasi lebih sering kali kalah cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika membaca koran, sebagian upaya pengelolaan banjir di berbagai pemda juga sudah memiliki titik-titik temu, tapi hasilnya masih jauh dari optimal karena banyaknya kendala.  Semua sudah tersadar mengenai pentingnya pengelolaan banjir, namun belum ada upaya untuk bergotong royong mengatasinya.  Mungkin ada baiknya mempertimbangkan satu opini di harian Republika yang mengulas pentingnya pengelolaan banjir yang terintegrasi dan melibatkan banyak pihak dan sektor &lt;a href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=281388&amp;kat_id=16" target="_blank"&gt;(lihat artikel)&lt;/a&gt;.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gotong royong mungkin menjadi kata kunci di sini, namun sering kali makna dan pelaksanaannya menjadi tampak sepele kalau sudah berurusan dengan uang dan kewenangan.  Secara pribadi, saya belum melihat adanya semangat gotong royong yang utuh dalam pengelolaan banjir.  Yang sudah dan sering terlihat adalah semangat gotong royong dalam membantu korban banjir, gotong royong setelah semuanya terjadi.  Gotong royong dalam mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi bencana juga sama pentingnya karena akan mengurangi beban pemulihan saat bencana terjadi.  Bila banjir reda, rasanya tidak perlu lagi membuang waktu untuk berdebat panjang karena tindakan dan kemauan untuk bekerjasama lebih diperlukan untuk mengejar ketertinggalan selama ini.  Semoga banjir kali ini cepat reda dan saudara-saudara yang ditimpa musibah bisa sabar dan bergotong royong.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-4392402295962289735?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/4392402295962289735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=4392402295962289735' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/4392402295962289735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/4392402295962289735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/02/banjir.html' title='Banjir'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-283172522110834996</id><published>2007-01-13T10:14:00.001+07:00</published><updated>2007-01-13T11:05:50.738+07:00</updated><title type='text'>Medical Check-up</title><content type='html'>&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_0" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Sebelas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;hari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_2" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;menjelang&lt;/span&gt; Natal, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_3" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_4" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;mendapat&lt;/span&gt; email &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_5" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_6" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;imigrasi&lt;/span&gt; NZ yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_7" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;meminta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_8" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_9" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_10" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;menyerahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_11" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;hasil&lt;/span&gt; medical check-up &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_12" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_13" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;aplikasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_14" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;perpanjangan&lt;/span&gt; visa. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_15" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_16" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;semula&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_17" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bingung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_18" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_19" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;berpikir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_20" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bila&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_21" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_22" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;berada&lt;/span&gt; lama &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_23" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; NZ, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_24" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_25" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_26" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;perlu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_27" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;lagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_28" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;menyerahkan&lt;/span&gt; medical check-up. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_29" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_30" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_31" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;mencoba&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_32" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_33" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bernegosiasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_34" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_35" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;memakai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_36" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;kutipan&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_37" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;kutipan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_38" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;aturan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_39" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;keimigrasian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_40" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_41" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sini&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_42" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;ternyata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_43" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_44" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_45" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;diartikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_46" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;ganda&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_47" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Tapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_48" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;petugas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_49" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;imigrasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_50" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_51" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_52" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;mengubah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_53" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;persyaratan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_54" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_55" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_56" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;alasan&lt;/span&gt; medical check-up &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_57" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_58" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_59" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;kadaluarsa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_60" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Saya&lt;/span&gt; pun &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_61" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;terpaksa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_62" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_63" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;menurut&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medical check-up &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_64" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_65" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;keimigrasian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_66" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_67" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_68" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;memerlukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_69" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;biaya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_70" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_71" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sedikit&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_72" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_73" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_74" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;setara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_75" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;mahalnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_76" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_77" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;biaya&lt;/span&gt; medical check-up yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_78" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;lumayan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_79" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;lengkap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_80" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_81" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tanah&lt;/span&gt; air . &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_82" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Belum&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_83" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;lagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_84" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bila&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_85" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;berkata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_86" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;jujur&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_87" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;biaya&lt;/span&gt; pun &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_88" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_89" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;ikut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_90" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bertambah&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_91" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_92" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_93" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bila&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_94" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_95" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sejarah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_96" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;penyakit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_97" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tertentu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_98" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_99" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;keluarga&lt;/span&gt; inti, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_100" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tes&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_101" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;khusus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_102" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_103" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dijalani&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_104" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_105" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;membuktikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_106" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bahwa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_107" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_108" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_109" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bawaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_110" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;genetis&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_111" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Bila&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_112" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_113" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;opname&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_114" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;atau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_115" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;operasi&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_116" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_117" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;ikut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_118" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tes&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_119" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;lagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_120" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_121" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;membuktikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_122" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_123" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;benar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_124" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_125" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sembuh&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_126" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Asal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_127" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;negara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_128" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_129" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;menentukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_130" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;jenis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_131" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tes&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_132" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tambahan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_133" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Alhasil&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_134" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;biaya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_135" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;melebihi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_136" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_137" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;jumlah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_138" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;awal&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_139" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;direncanakan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_140" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Berbeda&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_141" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dengan&lt;/span&gt; medical check-up &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_142" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_143" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tanah&lt;/span&gt; air, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_144" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_145" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_146" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_147" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_148" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;membuat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_149" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;reservasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_150" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;jauh&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_151" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;jauh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_152" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;hari&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_153" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_154" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_155" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_156" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_157" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;kurang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_158" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;beruntung&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_159" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Menjelang&lt;/span&gt; Natal, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_160" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_161" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;jadwal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_162" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;klinik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_163" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_164" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;rumah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_165" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sakit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_166" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;penuh&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_167" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Beruntung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_168" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;ada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_169" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dokter&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_170" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bersedia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_171" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bekerja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_172" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;lembur&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_173" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_174" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_175" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;memeriksa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_176" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_177" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;meskipun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_178" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_179" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_180" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;bertemu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_181" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_182" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_183" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;klinik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_184" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;hampir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_185" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tutup&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_186" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_187" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_188" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;datang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_189" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;lagi&lt;/span&gt; 8 &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_190" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;hari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_191" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;setelah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_192" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tahun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_193" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;baru&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_194" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Jadwal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_195" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_196" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sudah&lt;/span&gt; paling &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_197" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_198" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_199" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_200" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_201" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;menyerahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_202" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_203" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dokumen&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_204" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tanggal&lt;/span&gt; 11 &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_205" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Januari&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_206" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_207" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;diperiksa&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_208" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_209" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;baru&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_210" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_211" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;perbedaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_212" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dengan&lt;/span&gt; medical check-up &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_213" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_214" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tanah&lt;/span&gt; air. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_215" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Dokter&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_216" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_217" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_218" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;begitu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_219" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;teliti&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_220" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_221" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;diperiksa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_222" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_223" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;semuanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_224" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;memakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_225" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;waktu&lt;/span&gt; 2 jam. Di &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_226" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;tanah&lt;/span&gt; air, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_227" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;pemeriksaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_228" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;pertama&lt;/span&gt; medical check-up &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_229" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_230" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;memakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_231" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;waktu&lt;/span&gt; 30 &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_232" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;menit&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_233" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Padahal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_234" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;kliniknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_235" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;merupakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_236" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;klinik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_237" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;ternama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_238" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_239" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;segitiga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_240" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;emas&lt;/span&gt; Jakarta. Di &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_241" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sini&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_242" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dokter&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_243" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;menanyakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_244" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;banyak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_245" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;hal&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_246" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Bila&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_247" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_248" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;dijawab&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_249" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;kadang&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_250" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;kadang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_251" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_252" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_253" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_254" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;menjelaskan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_255" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;lagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_256" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_257" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;pertanyaan&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_258" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;pertanyaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_259" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;sambungan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_260" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;Setelah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_261" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;pemeriksaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_262" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;pertama&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_263" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;saya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_264" onclick="BLOG_clickHandler(this)"&gt;harus&lt;/span&gt; r&lt;span class="blsp-spelling-corrected" id="SPELLING_ERROR_265"&gt;ontgen, lalu tes darah, urine , dll. Semua hasil bisa diperoleh pada hari yang sama. Lalu saya harus menunggu sampai seminggu setelah tahun baru untuk pemeriksaan kedua. Namun ternyata sebelum pemeriksaan kedua saya harus mengulang tes darah, karena jumlah sel darah putih saya kurang 0.03 dari ukuran normal, ditambah unsur-unsur darah putih yang juga agak meleset. Saat tes darah yang pertama, saya memang agak pilek sehabis barbeque di pantai. Beruntung, tes pengulangan ini gratis. Namun hasil tes kedua juga ternyata harus diulang lagi, karena meskipun darah putih saya sudah normal,  darah merah saya melebihi batas normal.  Saya jadi bingung sendiri.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-corrected"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-corrected"&gt;Alhamdulillah, hasil tes ketiga menunjukkan hasil yang memuaskan, semua normal.  Tes ketiga ini tidak gratis dan saya pun harus menambah jam pemeriksaan dengan dokter sehingga harus mengeluarkan uang tambahan.  Akhirnya, meskipun saya harus habis-habisan dalam segi biaya (dan waktu karena harus berulang-ulang datang ke klinik dan lab yang letaknya berjauhan), saya cukup puas melihat hasilnya: fit and healthy.  Semoga visa saya segera terbit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-corrected"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-283172522110834996?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/283172522110834996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=283172522110834996' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/283172522110834996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/283172522110834996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2007/01/medical-check-up.html' title='Medical Check-up'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-7775397835710467956</id><published>2006-12-31T08:24:00.000+07:00</published><updated>2007-01-08T06:49:03.134+07:00</updated><title type='text'>Time for A Cool Change</title><content type='html'>Tahun 2006 segera berakhir, dan harapan akan masa yang lebih baik saya gantungkan pada tahun 2007. Selama tahun 2006 saya sudah mendapatkan banyak pengalaman berharga; tidak saja dalam hal ilmu dan pengetahuan, juga dalam mengembangkan kreativitas dan hubungan antar sesama. Tidak semuanya mudah dan menyenangkan, dan saya sering harus bekerja keras untuk menyiasati hidup. Alhamdulillah, hidup saya di tahun 2006 ini masih baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006 diawali dengan kehilangan dan kebingungan. Tapi waktu itu saya seperti kuda pacu yang hanya bisa berlari melewati penggalan-penggalan pengalaman, hanya untuk satu tujuan: garis akhir dari studi saya di sini. Perasaan bingung di tiga bulan pertama saya lalui dengan ikhlas dan sabar. Alhamdulillah, catatan hidup yang lama bisa saya simpan baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal tahun 2006 juga merupakan babak baru bagi saya untuk memeras otak dan keringat untuk menyiasati limpahan data-data penelitian yang begitu beragam sekaligus kaya dengan potensi temuan baru. Mengikuti prosedur analisa standar seringkali hanya membawa saya pada jalan yang berputar-putar. Namun semuanya sudah meningkatkan pemahaman sehingga meski sering harus mengulang dari nol lagi, saya justru menemukan cara-cara baru. Semua membawa hasil yang memuaskan, bahkan saya bisa mempresentasikan sebagian hasilnya di salah satu seminar di bulan Agustus lalu. Dan sampai hari ini, saya sudah menuangkan hasil penelitian dalam 273 halaman teks dengan kelengkapan 84 halaman appendix. Satu bab masih tertinggal dan saya berharap semuanya bisa memberikan hasil yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006 juga sudah mempertemukan saya dengan teman-teman baru yang membantu saya menjadi lebih kaya secara bathin. Menjelang akhir 2005, saya bertemu dua teman baru dari Turki. Dua teman yang berbeda. Di satu hari akhir bulan Desember 2005, saya harus melepas teman Turki pertama dan menerima teman Turki yang kedua. Di hari itu, saya mendapat titipan orang yang paling sulit yang pernah saya hadapi selama hidup saya, meski saya sudah mengeluarkan segenap kemampuan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tahun 2006, teman saya tampak begitu kehilangan keluarga dan tanah airnya. Saya sering merasa kasihan, dan hanya bisa bersabar bila perkataan dan tingkah lakunya kurang menyenangkan. Dan semuanya memberi hikmah. Menjelang kepulangan ke negaranya, dia sudah banyak berubah dan bisa bersikap lebih toleran. Saat melepas dia, saya sampaikan padanya bahwa "&lt;em&gt;You've changed a lot... changed for the better.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006 juga merupakan saat saya harus berkreasi mempersiapkan pernikahan teman saya. Semua berawal saat secara kebetulan teman pertama dari Turki ada keperluan untuk menterjemahkan SIM-nya di city. Saya pun menawari dia tumpangan, sekaligus ikut menemani saya menjemput teman baru dari Indo yang baru datang di bandara. Tidak disangka, pertemuan pertama mereka di bandara kemudian berlanjut menjadi hubungan yang serius. Dalam waktu kurang lebih 5 bulan, mereka memutuskan untuk menikah. Suatu kebetulan yang berlanjut menjadi jalan hidup yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Agustus 2006, saya bersama teman-temain lainnya mulai menyiapkan rencana pernikahan mereka; mulai dari disain kartu undangan, daftar menu dan pengaturan acara dan orang-orang yang terlibat. Meski masih amatiran, hasilnya merupakan pernikahan kecil yang berkesan. Alhamdulillah, semuanya bisa berjalan lancar. Pernikahan mereka merupakan pengalaman yang paling berkesan sepanjang tahun ini. &lt;em&gt;All best wishes to you, my friend&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Agustus 2006 juga merupakan bulan tersibuk karena saya juga harus mempersiapkan berbagai acara terkait dengan Canterbury Indonesia Society (CIS), organisasi baru yang berusaha menyatukan aspirasi masyarakat Indonesia di Canterbury. Pada bulan Agustus 2006 juga saat saya harus mempresentasikan hasil penelitian saya. Namun, meski sibuk, saya tetap bisa menikmati liburan di akhir bulan Agustus, seperti &lt;em&gt;trekking&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;seakayaking&lt;/em&gt; di Abel Tasman National Park. Semua bisa berjalan lancar karena saya memang sudah merencanakannya dengan baik jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tidak terencanakan di tahun 2006 adalah tentang kucing. Akhir Maret 2006, ada ginger cat datang ke flat untuk mengemis makanan. Sebenarnya memelihara kucing di flat merupakan tindakan illegal, namun kami bersepakat untuk memelihara dia secara sembunyi-sembunyi. Flatmate dari Turki memberi dia nama Blondie Bride (BB). Kehadiran BB di flat membuat suasana berubah. Teman yang hobby emosi bisa menjadi lunak bila melihat si BB sibuk mengejar-ngejar tongkat berujung bulu ayam warna-warni. Teman RRC yang gemar mengurung diri di kamar akhirnya sering keluar untuk memberi makan BB. Saya sendiri sering jadi sasaran pertama untuk "dimiauwi" si BB yang minta sarapan karena kamar saya yang paling dekat dengan dapur. Bulan Oktober lalu, teman RRC harus pindah dan si BB pun dibawa serta. Kami merasa kehilangan. Ternyata adanya sesuatu yang bisa kita perhatikan, atau pelihara, sering membuat satu hari dalam hidup kita terasa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006 sebenarnya masih banyak memberikan kenangan manis. Salah satunya yaitu menjadi saksi pernikahan teman baru di bulan Oktober. Selain itu, saya sudah bisa berenang sejauh 1 km dalam waktu kurang dari 30 menit, dan semakin baik dalam bermain badminton. Saya juga bisa menggenapkan perjalanan mengelilingi South Island; juga pertama kali menyetir dalam perjalanan panjang pulang-pergi dalam sehari sejauh 724 km. Bulan November lalu, saya juga berhasil menjual dua barang lewat &lt;em&gt;online auction&lt;/em&gt; dengan harga memuaskan. Selain itu, kemampuan saya dalam memasak semakin baik. Sore nanti saya akan menyiapkan chocolate-banana cake, cake pandan-santan, bolu bayam dan mie goreng terasi untuk dua acara: makan malam tahun baru dan perayaan Idul Adha. Meskipun demikian, tahun 2006 merupakan tahun miskin inspirasi dalam hal menulis di blog. Sebagian besar pikiran banyak tersita untuk menulis akademis dan berorganisasi. Namun saya berharap, masih banyak kesempatan baik di lain waktu untuk lebih sering menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006 segera berakhir...  tapi harapan akan adanya perubahan ke arah kebaikan tetap besar. Selama menyiapkan tulisan ini, saya sempat mencermati lirik lagu yang rasanya sangat tepat untuk mengakhiri tulisan saya di tahun 2006. Lagu yang sesuai dengan harapan saya untuk berubah dan memulai hidup yang baru, dengan kesegaran dan keyakinan yang lebih baik, di tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Cool Change by Little River Band&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If there's one thing in my life that's missing&lt;br /&gt;It's the time that I spend alone&lt;br /&gt;Sailing on the cool and bright clear water&lt;br /&gt;Lots of those friendly people&lt;br /&gt;And they're showing me ways to go&lt;br /&gt;And I never want to lose their inspiration&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's time for a cool change&lt;br /&gt;I know that it's time for a cool change&lt;br /&gt;Now that my life is so prearranged&lt;br /&gt;I know that it's time for a cool change&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well I was born in the sign of water&lt;br /&gt;And it's there that I feel my best&lt;br /&gt;The albatross and the whales they are my brothers&lt;br /&gt;It's kind of a special feeling&lt;br /&gt;When you're out on the sea alone&lt;br /&gt;Staring at the full moon, like a lover&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time for a cool change&lt;br /&gt;I know that it's time for a cool change&lt;br /&gt;Now that my life is so prearranged&lt;br /&gt;I know that it's time for a cool change&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I've never been romantic&lt;br /&gt;And sometimes I don't care&lt;br /&gt;I know it may sound selfish&lt;br /&gt;But let me breathe the air&lt;br /&gt;Let me breathe the air...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If there's one thing in my life that's missing&lt;br /&gt;It's the time that I spend alone&lt;br /&gt;Sailing on the cool and bright clear water&lt;br /&gt;It's kind of a special feeling&lt;br /&gt;When you're out on the sea alone&lt;br /&gt;Staring at the full moon, like a lover&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time for a cool change&lt;br /&gt;I know that it's time for a cool change&lt;br /&gt;Now that my life is so prearranged&lt;br /&gt;I know that it's time for a cool change&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now it's time it's time it's time it's time&lt;br /&gt;For a cool change&lt;br /&gt;MMM MMM I know it's time for a cool change&lt;br /&gt;Well, now that my life is so prearranged&lt;br /&gt;I know I know I know I know&lt;br /&gt;That it's time for a cool change&lt;br /&gt;Yes it is, yes it is yes it is&lt;br /&gt;Time for a cool change...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-7775397835710467956?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/7775397835710467956/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=7775397835710467956' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7775397835710467956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/7775397835710467956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/12/time-for-cool-change_31.html' title='Time for A Cool Change'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-116390257508097245</id><published>2006-11-19T09:02:00.000+07:00</published><updated>2006-11-19T09:16:15.093+07:00</updated><title type='text'>Garage Sale</title><content type='html'>Tidak sulit mencari informasi garage sale di sini. Hampir setiap menjelang akhir pekan, saya membaca banyak iklan mengenai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Garage_sale" target="_blank"&gt;garage sale&lt;/a&gt;. Iklannya tersebar di mailing list, papan pengumuman, koran dan papan-papan karton bertuliskan "&lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt;" yang disertai tanda panah dan/atau alamat. Biasanya &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; akan dimulai pukul 9 pagi sampai sore atau tergantung larisnya barang-barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; memang ditujukan untuk melego barang orang-orang/keluarga yang akan pindah, atau melego barang-barang lama karena si pemilik sedang bersih-bersih rumah atau sudah memiliki barang-barang yang lebih baru. Biasanya, &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; tipe ini memiliki pilihan barang-barang yang terbatas. Namun bila beruntung, banyak barang-barang bagus bisa di dapat. Contohnya, teman saya bisa mendapat satu set perlengkapan piknik, atau teman lain bisa mendapatkan kamera digital 5 mega pixel hanya seharga NZD 60 (Rp. 365 ribuan). Saya juga bisa mendapatkan perlengkapan memasak kue lengkap dan meja tv dari teman yang mengadakan &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; karena akan pulang ke Jakarta. Tentu banyak bonus dan diskon apalagi karena saya gemar membantu angkut-angkut barang :D Juga mendapat baju batik baru, kotak antik dan kapal phinisi saat &lt;a href="http://cindil.multiply.com/" target="_blank"&gt;Mbak Anna&lt;/a&gt; mengadakan &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; di rumahnya. Lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggara &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; juga bisa merupakan gabungan beberapa keluarga, komunitas atau organisasi nir laba. Barang-barang yang dijual bisa sangat beragam. Pengalaman mengunjungi &lt;a href="http://www.travelindex.co.nz/listing/Riccarton-Rotary-Sunday-Market/266" target="_blank"&gt;Riccarton Sunday Market&lt;/a&gt;, membuat saya bisa hampir setengah hari berada di sana, melihat-lihat barang yang dijual. Barang-barangnya tidak semua bekas. Bahkan tanggal 17-19 November di Auckland diselenggarakan &lt;a href="http://www.thread.co.nz/article/2126" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; terbesar di NZ&lt;/a&gt;. Barang-barangnya merupakan hasil donasi dari masyarakat awam sampai para selebritis. Hasil penjualannya akan disalurkan untuk membantu program pencegahan kekerasan dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak keuntungan yang bisa didapat dari kegiatan &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt;. Kegiatan semacam ini bisa ditujukan untuk mengajak orang untuk menyumbang barang-barang yang sudah tidak terpakai dan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk membantu orang lain. &lt;em&gt;Garage sale&lt;/em&gt; juga bisa dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antar tetangga, karena biasanya tetangga akan berdatangan, melihat-lihat barang sekaligus mengobrol, yang mungkin dalam hari-hari kerja sulit dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Garage sale&lt;/em&gt; juga bisa dikatakan ramah lingkungan, karena barang-barang yang sudah tidak terpakai masih bisa dimanfaatkan oleh orang lain sehingga mengurangi beban sampah yang terbuang.  Mahalnya biaya membuang barang yang tidak bisa didaur ulang mungkin juga mendorong orang untuk mengadakan &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt;.  Selain itu, rumah menjadi lebih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, banyak barang bekas yang dijual di &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; masih tampak baru karena perawatannya yang bagus. Memang perlu kesabaran jika ingin mendapatkan barang yang murah dan bagus. Terkadang &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; bisa memberikan pilihan yang lebih ekonomis terutama untuk orang-orang yang hanya menumpang sementara tinggal di NZ, seperti saya. Selain itu, kegiatan berburu &lt;em&gt;garage sale&lt;/em&gt; bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang di akhir pekan. Maklum, saya tinggal di desa dan tidak banyak terdapat hiburan :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-116390257508097245?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/116390257508097245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=116390257508097245' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/116390257508097245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/116390257508097245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/11/garage-sale.html' title='Garage Sale'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-116320669613545265</id><published>2006-11-11T07:50:00.000+07:00</published><updated>2006-11-11T07:58:16.146+07:00</updated><title type='text'>Juru Foto Dilarang Protes!</title><content type='html'>Begitulah kira-kira jika saya mendapat kesempatan menjadi juru foto dadakan.  Tidak boleh protes dengan pilihan lokasi dan gaya para "foto model".  Ini termasuk saat  acara pesta kembang api di sini.  Dua teman saya merasa bosan menunggu acara dimulai, sedangkan pertunjukkan musik yang digelar semakin terdengar kurang menarik.  Mereka pun mengajak saya berkeliling mencari sasaran lokasi foto.  Tercetuslah ide: foto di depan mobil polisi, ambulance dan pemadam kebarakan yang memang disipakan untuk berjaga-jaga.  Pikir-pikir seperti Cr&lt;em&gt;ime Scene Investigation&lt;/em&gt;, tapi tak apalah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua teman ini memang selalu lincah dan bersemangat jika ada panggilan berfoto.  Yang satu biasanya langsung menyesal bila melihat hasilnya karena menganggap dirinya kurang fotogenik.  Tapi setelah itu biasanya langsung minta berfoto lagi.  Yang satunya lagi bisa tidak berhenti minta berfoto :P &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah mulai gelap, dan kami berjalan mendekati deretan mobil-mobil yang disiagakan.  Saat mendengar suara obrolan beberapa polisi di balik ambulance, salah satu teman langsung mengajak berfoto dengan bapak-bapak polisi.  Saya semula tidak mau menuruti, tapi karena juru foto dilarang protes, saya terpaksa mengikuti mereka sambil tertawa-tawa.  Saya tertawa tambah keras setelah kenekatan mereka terbayar dengar kalang kabutnya 7 polisi yang berusaha melarikan diri.  Baru kali ini saya melihat polisi bisa terbirit-birit menghindar.  Kalaupun ada yang minta berfoto bersama, biasanya anak-anak, dan para polisi itu biasanya langsung tegap dan bersikap gagah.  Sebaliknya, saat diminta berfoto dengan dua wanita biasa yang gemar berfoto, mereka jadi salah tingkah.  Akhirnya, satu polisi yang "tertangkap" berusaha memanggil teman yang lainnya agar ada teman berfoto.  Setelah berfoto, dua polisi itu langsung kabur juga menyusul rekan-rekannya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua teman saya masih belum puas, dan meminta difoto di antara mobil-mobil polisi. Saya ingin protes karena hari sudah agak gelap, tapi sekali lagi, dilarang protes.  Jadilah foto dengan pose &lt;em&gt;Charlie's Angels.&lt;/em&gt;  Setelah itu mereka berfoto dengan mobil ambulance dan pemadam kebakaran.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian seperti ini, sebenarnya tidak satu dua kali saya alami.  Saat &lt;em&gt;tour&lt;/em&gt; ke Bali sewaktu SMA, kejadiannya lebih nggilani :P Setelah semalaman naik bis yang mengebut dan hampir melindas beberapa sepeda, satu becak dan satu angkot, kami pun langsung tumpah ruah di pantai Kuta.  Karena ini baru kali pertama saya mengunjungi Bali, saya masih sering melongo melihat para turis asing yang berpakaian minim sedang tergeletak dan berkeliaran di pantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menyusuri pantai, tiba-tiba ada yang mencolek saya dari belakang.  "Stop &lt;em&gt;dulu, tolong dong difoto di sini&lt;/em&gt;".  Salah satu teman laki-laki menyodorkan kameranya.  Saya menerima kameranya dan berjalan mundur mencari posisi terbaik.  Latar belakang pantai dan pohon kelapa memang bagus sekali.  Teman saya langsung berpose.  Klik, satu foto.  "&lt;em&gt;Lagi&lt;/em&gt;".  Ok, difoto lagi.  Dari lensa kamera saya terkejut, lho, pose yang kedua sudah tidak pakai t-shirt.  Tidak berpikir panjang dan klik, foto yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Lagi&lt;/em&gt;" Lho, kok lagi? Saya tanya mau berapa kali.  Dia menjawab "&lt;em&gt;Dua kali lagi, deh&lt;/em&gt;".  Saat itu saya pun melongo, tapi langsung tertawa melihat dia melucuti celana pendek dan yang tertinggal hanya celana renang segitiga.  Apa maksudnya? Dia pun berpose terbaring dengan sisi badan menghadap kamera.  Ya ampun.  Saya sudah terpingkal-pingkal, tapi dia tetap serius dan hanya berucap "&lt;em&gt;Ayo difoto&lt;/em&gt;".  Saya menolak, tapi dia bilang "&lt;em&gt;Cepetan&lt;/em&gt;". Ya sudah, klik.  Kali terakhir, dan saya hampir saja lari terbirit-birit melihat pose-nya: duduk bersimpuh dengan lutut rapat, satu tangan ke atas terlipat di balik kepala, kepala agak dongak, dada membusung dan menarik nafas sehingga perut tampak ramping.  Teman-teman yang lain sudah berkumpul di belakang saya dan ikut tertawa terpingkal-pingkal.  Tapi menjadi foto model memang harus tahan mental.  Dan teman saya membuktikannya dengan tetap tersenyum dan serius berpose.  Hampir seharian itu dia menjadi bulan-bulanan teman-teman yang lain.  Nekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman lainnya yaitu saat teman yang berkunjung ke Christchurch di hari Sabtu.  Saya temani dia berjalan kaki mengelilingi pusat kota, sekaligus berfoto.  Dia bersemangat sekali, dan selalu berkata "Kalau foto, di belakang saya harus ada bule-nya ya... supaya yakin di luar negeri" :D Ok, juru foto tidak boleh protes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua sudut pusat kota sudah difoto.  Dan teman saya ini termasuk yang tidak sungkan meminta orang lain menjadi teman berfoto.  Mulai dari pemusik jalanan, supir &lt;em&gt;trem&lt;/em&gt;, penjual batu giok sampai salah satu bule tinggi besar yang, menurut dia, seperti bintang film yang namanya dia tidak ingat lagi.  Pokoknya seperti bintang film. Saya kagum karena orang-orang yang diminta berfoto bersama selalu bersedia.  Meski saat proses pendekatan itu, saya sering berdiri agak jauh dan baru mendekat bila dipanggil. Memang saya pada dasarnya penakut dan pemalu :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang paling berkesan dari pengalaman jalan-jalan dengan dia adalah berfoto di depan bar/cafe.  Teman saya, dengan percaya diri, langsung berpose di depan meja-kursi yang penuh pengunjung di depan sebuah bar.  "&lt;em&gt;Foto di sini, mas&lt;/em&gt;". Hah? "Iya&lt;em&gt;, kalau bisa, tulisan "Beer" nya kena&lt;/em&gt;".  Sempat tertegun beberapa detik, dan ingin tertawa keras, tapi urung karena saya berdiri di hadapan orang-orang yang sibuk makan sambil mengobrol.  Bisa-bisa mereka mengira saya menertawakan mereka. Ok, juru foto dilarang protes.  Supaya cepat selesai dan bisa pergi, saya klik saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman-pengalaman seperti ini membuat saya sering berpikir bahwa saya perlu belajar lebih berani terutama dalam bersosialisasi, seperti dicontohkan teman-teman saya yang "gila" foto.  Orang yang tampak asing, kaku, lebih besar, lebih cantik, lebih tampan, lebih pandai, lebih trendy, lebih garang belum tentu tidak bisa dijadikan teman.  Coba dulu, hasilnya urusan nanti.  Saya juga mungkin perlu belajar untuk lebih "nekat" jika ingin berhasil, meski juga harus tetap mempertahankan prinsip pribadi dan tidak melucuti jati diri untuk menjadi orang lain.  Saya juga bisa belajar bahwa bersikap sopan sering membawa imbalan yang lebih baik.  Bersikap kritis tapi tanpa prasangka, dan bersikap toleran tanpa perlu terbawa arus, mungkin bisa membuat saya bisa bertahan dalam lingkungan sekitar yang pasti dan akan selalu berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, meski juru foto dilarang protes, saya sendiri merasakan keuntungan yang lebih banyak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-116320669613545265?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/116320669613545265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=116320669613545265' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/116320669613545265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/116320669613545265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/11/juru-foto-dilarang-protes.html' title='Juru Foto Dilarang Protes!'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-116139457650407110</id><published>2006-10-21T08:33:00.000+07:00</published><updated>2006-10-23T04:37:26.710+07:00</updated><title type='text'>Kerukunan Dalam Keseharian</title><content type='html'>Pesan kerukunan dalam keseharian mungkin menjadi salah satu pelajaran berharga saat membaca buku "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ortu Kenapa Sih?&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;" Buku ini merupakan kiriman khusus &lt;a href="http://mifamilia-titipan-allah.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Mbak Lili&lt;/a&gt; yang menuliskan pengalamannya di bagian paling pertama di buku itu. Thanks Mbak untuk bukunya. Dan ini sekedar kesan saya mengenai buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini seperti membawa kilas balik keseharian saya saat masih berkumpul dengan Ibu dan kakak. Keseharian yang tidak saja diisi dengan keceriaan dan kekompakan untuk saling mendukung satu sama lain, tapi juga dengan banyak kesempatan untuk berbeda pandangan dan pendapat. Semua ini karena ada tiga orang dalam satu keluarga yang memiliki jati diri yang berbeda. Masing-masing dari kami memiliki cara berinteraksi yang berbeda, juga cara merespon yang berbeda untuk setiap kejadian di keluarga. Dalam banyak hal kami berusaha keras untuk saling mengerti, dan dalam banyak kesempatan lain kami juga berusaha keras mempertahankan pilihan dan pendapat masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jati diri dan pilihan yang berbeda juga merupakan referensi yang saya temukan saat membalik-balik lembaran-lembaran pengalaman yang tertuang di buku ini. Setiap pengalaman yang tertuang terkesan begitu personal. Namun apa yang terjadi antara orang tua dan anak di keluarga yang berbeda, bisa juga terjadi di antara anak-anak di dalam keluarga yang sama. Hikmah yang mungkin bisa diambil yaitu tentang pentingnya menjaga hubungan yang baik di antara sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pengalaman di dalam buku ini mengajukan pemikiran dan pilihan solusi yang baik, beberapa lainnya memberikan pengertian tanpa harus diungkapkan dalam kalimat kesimpulan dan interpretasi yang sulit. Sederhana, apa adanya dan begitu dekat dengan keseharian remaja. Ada kalanya saya ikut terharu saat membaca bagian akhir dari beberapa pengalaman yang menunjukkan bahwa kita terkadang harus mengalah untuk menang, bahwa kita perlu bersikap rendah hati dalam perbedaan, dan bahwa kita perlu menghilangkan prasangka buruk terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, bukannya buku ini untuk remaja? Saya kan tidak remaja lagi? :P Memang, mungkin. Tapi saya berpendapat bahwa buku ini lebih kaya dari kategori buku remaja. Buku ini dapat menjangkau setiap orang yang ingin melihat kembali dan belajar memperbaiki hubungan di antara sesama manusia. Ini termasuk untuk orang tua, yang meskipun sudah berpengalaman menjadi anak dan banyak makan asam garam kehidupan, tetapi tetap memerlukan penyegaran.  Buku yang memiliki ragam pengalaman dan sisi pendapat remaja ini bisa menjadi sarana penyegaran dan diskusi di antara anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerukunan dalam keseharian mungkin merupakan simpul dari rajutan perbedaan dalam keluarga. Bila ada tiga kepala yang berbeda dalam satu keluarga, seperti dalam keluarga saya dulu, hanya kerukunan dalam keseharian yang membuat tiga orang itu tampak seperti keluarga. Tapi "tampak" saja tidak cukup karena menjaga kerukunan itu sangat sulit, terutama bila masing-masing pribadi belum menyediakan hati yang lapang untuk minta maaf dan memaafkan. Yang terakhir ini Insya Alloh bisa menjadikan simpul keluarga tetap terjalin erat, bahkan lebih erat. Ini juga menjadi kesimpulan dari yang apa yang bisa saya pelajari setelah membaca buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih sekali lagi untuk Mbak Lili, dan komentar terakhir: niat baik para penulis untuk berbagi pengalaman dan menyampaikan pelajaran hidup di buku ini sudah tercapai. Salut dan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada rekan-rekan blogger:&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/lebaran.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="240" alt="Kartu Lebaran" src="http://www.geocities.com/leo_ote/lebaran.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-116139457650407110?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/116139457650407110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=116139457650407110' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/116139457650407110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/116139457650407110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/10/kerukunan-dalam-keseharian.html' title='Kerukunan Dalam Keseharian'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115958934718314884</id><published>2006-09-30T11:05:00.000+07:00</published><updated>2006-10-04T03:13:04.683+07:00</updated><title type='text'>Bulan Agustus 2006: Sea Kayaking (Bagian 4)</title><content type='html'>Pukul 7 pagi saya sudah bersiap di depan hotel menunggu jemputan. Cuaca mendung sehabis hujan membuat saya ragu tapi saya sudah siap dengan bekal dan minuman yang cukup, dan tetap berharap siang nanti akan cerah. Dua puluh menit kemudian, shuttle bus muncul. Saat itu hanya saya sendiri penumpangnya, sebelum 5 orang penumpang lainnya bergabung di halte-halte berikutnya. Menurut supir bis, jumlah penumpang seperti ini sudah biasa di musim dingin dan di hari mendung. Saya kagum karena bis umum di sini sudah terintegrasi dengan penyedia layanan wisata sehingga memudahkan turis yang bepergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menempuh jalan yang sedikit berkelok-kelok dan sempit. Sesampainya di &lt;a href="http://abeltasmangreenrush.co.nz/" target="_blank"&gt;Motueka&lt;/a&gt;, saya dijemput minibus merah dengan supir bernama Mary, yang ternyata guide saya di tour sea kayaking. Kami mampir di kantor &lt;a href="http://www.kiwikayaks.co.nz/" target="_blank"&gt;Kiwi Kayaks&lt;/a&gt; di Riwaka untuk menyelesaikan pembayaran dan mengambil tiga kayak. Lalu bersama Mary kami menuju &lt;a href="http://www.abeltasman.net.nz/" target="_blank"&gt;Marahau&lt;/a&gt; dan sudah ditunggu oleh tiga &lt;em&gt;boat crew&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/marahau.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Rute Perjalanan" src="http://www.geocities.com/leo_ote/marahau.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/okay.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Di laut" src="http://www.geocities.com/leo_ote/okay.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/Mary.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Mary, sang tour guide" src="http://www.geocities.com/leo_ote/Mary.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/german.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="ayo kayuh lebih kuat" src="http://www.geocities.com/leo_ote/german.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanakan dilanjutkan dengan boat menuju pantai kecil di sekitar Anchorage. Di pantai kami akan memulai sea kayaking (lihat peta). Tiga &lt;em&gt;boat crew&lt;/em&gt; menurunkan kayak dan perlengkapan lainnya, sebelum berangkat lagi ke pantai yang lain. Di pantai ini sudah menunggu dua pelajar dari Jerman, Michael dan Fabian, yang akan bergabung sea kayaking. Mereka sudah sejak kemarin berjalan kaki dan camping dari &lt;a href="http://tdc.govt.nz/index.php?Totaranui" target="_blank"&gt;Totaranui&lt;/a&gt; (lihat peta). Di setiap pantai di NZ, fasilitas seperti toilet, &lt;em&gt;hut&lt;/em&gt; (barak/ruangan tempat menginap gratis), dapur dan air bersih selalu tersedia. Tidak heran bila NZ terkenal sebagai tempat paling difavoritkan &lt;em&gt;independent travellers&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mulai sea kayaking, saya diberi &lt;em&gt;wet suit&lt;/em&gt; atau baju selam, &lt;em&gt;warm shirt&lt;/em&gt;, sepatu karet dan kupluk merah. Komentar saya bahwa "tidak enak" memakai baju selam karena terlalu ketat di bagian bawah :D mengundang gurauan Mary yang memang gila humor: "&lt;em&gt;I'm sure you still look beautiful with that&lt;/em&gt;" :P Setelah kami diberi instruksi singkat mengenai posisi duduk, cara mengayuh dan tips keselamatan selama perjalanan, kami mulai perjalanan 1 jam sea kayaking. Saya duduk di depan, satu kayak dengan Mary. Michael dan Fabian berada di kayak lainnya. Ternyata tidak terlalu sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah jalan, kami sempat melihat anjing laut yang sedang bermalas-malasan berjemur di bebatuan Penicle Island. Sayang sekali fotonya terlalu terang sehingga anjing lautnya sulit dibedakan dengan bebatuan. Beberapa kali kami harus menunggu Michael dan Fabian yang mengayuh kayak dengan lambat (foto keempat di atas). Sampai-sampai Mary berteriak ke arah mereka sambil bercanda: "&lt;em&gt;C'mon ladies, faster, faster&lt;/em&gt;" atau "&lt;em&gt;Faster...cookies...cookies...&lt;/em&gt; " sambil melambai-lambaikan sekaleng &lt;a href="http://www.joyofbaking.com/ChocolateCookies.html" target="_blank"&gt;chocolate cookies&lt;/a&gt; ke arah mereka. Ya, kami sempat makan biskuit di tengah laut, saat beristirahat mengayuh :D. Hari itu, hanya kami saja yang "berani" pergi sea kayaking di tengah cuaca berangin lebat, ombak cukup besar dan mendung. Menurut Mary, pada hari cerah dan musim panas, di mana-mana akan bersimpang siur boat, perahu layar dan kayak, ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/merapat.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Merapat di Meadlands beach" src="http://www.geocities.com/leo_ote/merapat.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/tonga1.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Tonga Island" src="http://www.geocities.com/leo_ote/tonga1.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/Tongaquarry1.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Tonga quarry" src="http://www.geocities.com/leo_ote/Tongaquarry1.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/Tongaquarry2.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Cast away" src="http://www.geocities.com/leo_ote/Tongaquarry2.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami merapat di Meadlands bay, sebuah pantai kecil sebelum Bark Bay (lihat peta). Sebelum merapat, Mary sempat ragu karena ombak dekat pantai cukup kuat dan dia meminta kami untuk mengayuh dengan sekuat tenaga melawan ombak sehingga bisa merapat. Alhamdulillah aman, meski saya sempat tersandung kayak sendiri pas melompat turun dan berlari menarik kayak ke pantai. Di pantai ini kami makan siang dengan makanan yang disedikan tour: sup sayuran, chicken sandwich, apel, jeruk, jus, muffin dan cookies. Saya tidak bisa menghabiskan semuanya, jadi saya bawa saja untuk bekal selama nanti hiking. Fabian juga sempat cerita kalau dia kehilangan kacamatanya saat muntah di tengah laut. Ternyata Fabian sempat mabuk laut saat mengayuh dan tidak nafsu makan saat ditawari &lt;em&gt;lunch.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 12.40 saya berangkat sendiri berjalan kaki mengikuti jalan setapak menuju pantai Onetahuti. Michael, Fabian dan Mary melanjutkan sea kayaking. Menurut Mary, saya akan berjalan kaki selama 2.5 jam. Saat memulai perjalanan, saya sempat ragu karena sebagian jalan setapak di depan saya sudah longsor. Yang tersisa hanya pijakan selebar 30 cm. Kalau ini pematang sawah, saya tidak takut. Tapi jalan ini bersisi tebing dan jurang. Di tebing, tidak ada pegangan batu atau akar. Sepatu saya cuma sepatu olah raga biasa. Jantung mulai berdegub kencang, darah serasa mengalir ke kaki semua, tangan terasa dingin, dan saya mulai berjalan perlahan melewati alur seperti ini yang terdapat di beberapa tempat. Setelah itu saya harus melewati jalan yang menanjak tajam saat mendaki bukit. Tapi semuanya memberikan imbalan pemandangan yang indah. Salah satunya pemandangan Tonga Island (foto kedua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan kemudian menurun, membawa saya ke pantai di Tonga Quarry yang sepi (foto ketiga dan keempat). Saya sempat berjalan dari ujung ke ujung pantai. Tidak ada satu pun orang. Saya juga tidak melihat kayak Mary dkk. Sempat merasa takut kalau saya sudah ditinggal sendirian. Pantai yang begitu sepi dan bersih. Tapi meski sepi, di sini ada toilet dan air bersih. Suasana yang sepi mengingatkan saya pada Chuck Noland/Tom Hanks di film &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cast_Away" target="_blank"&gt;Cast Away&lt;/a&gt;. Sambil menunggu Mary dkk lewat, saya sempat juga menyanyi sendiri keras-keras sambil membentangkan tangan di sana :P. Saya lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Onetahuti, tapi sebelum itu mencari dahan untuk menulis di pasir "&lt;em&gt;I was here"&lt;/em&gt;, supaya bisa dilihat Mary dkk yang mungkin akan lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/oyster.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Burung pemakan kerang" src="http://www.geocities.com/leo_ote/oyster.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/Onetahuti1.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Onetahuti Bay" src="http://www.geocities.com/leo_ote/Onetahuti1.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/Onetahuti3.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Onetahuti yang sepi" src="http://www.geocities.com/leo_ote/Onetahuti3.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/kayak.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Pose sebelum pulang" src="http://www.geocities.com/leo_ote/kayak.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar setengah jam kemudian, saya sampai di Onetahuti Bay. Pantai yang panjang, bersih tapi sepi. Sejauh mata memandang hanya pepohonan dan pasir keemasan di satu sisi, dan di sisi lain yaitu Tonga Island, laut dan samar-samar pegunungan dan bukit di North Island. Tonga yang satu ini bukan negara. Dinamai Tonga untuk menunjukkan pulau di Selatan (Tonga dalam bahasa Maori = Selatan), meskipun sebenarnya tidak tepat. Saya pun menghabiskan waktu menunggu Mary dkk dengan menyusuri pantai. Sempat terbersit keinginan berjemur badan supaya agak gosong dan tidak terlalu pucat :P, tapi banyaknya nyamuk pantai membuat saya tetap mempertahankan t-shirt dan jaket. Lagipula, NZ terkenal dengan radiasi UV tertinggi di dunia karena dekat kutub selatan, yang ozon-nya berlubang. Di pantai itu saya hanya menemukan burung camar dan burung pemakan tiram. Di ujung pantai saya menemukan tempat yang menurut peta merupakan tempat bertemunya dua arus yang berbeda di laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian, Mary dkk muncul, dengan kayak Mary menarik kayak yang ditumpangi Michael dan Fabian. Menurut Mary, kedua pelajar Jerman itu mengayuh terlalu pelan, sehingga bila tidak ditarik, kami akan ketinggalan bis ke Nelson. Setelah bebenah perlengkapan, kami makan &lt;em&gt;cookies&lt;/em&gt; yang dibawa Mary. Sempat berfoto-foto sebentar sebelum boat datang menjemput untuk kembali ke Nelson. Kami merapat di Marahau sekitar 10 menit sebelum bis datang. Layanan tour yang memuaskan karena Mary tidak pernah berhenti bercanda dan makanan yang disediakan, meskipun standar, tapi enak. Sesampainya di hotel, saya mandi lalu langsung menuju Turkish Kebab untuk makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/sleepynelson.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Jam 8 pagi masih sepi" src="http://www.geocities.com/leo_ote/sleepynelson.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/cathedraltower.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Cathedral" src="http://www.geocities.com/leo_ote/cathedraltower.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/Anzacpark.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Anzac Park" src="http://www.geocities.com/leo_ote/Anzacpark.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan hari, sambil menunggu &lt;em&gt;checkout&lt;/em&gt;, saya berjalan mengelilingi pusat kota Nelson sekali lagi, melihat-lihat taman dan Sunday market. Sayang sekali, tamannya tidak semenarik di Christchurch, begitu pula barang-barang yang dijual di Sunday market. Hanya cathedral saja yang cukup menarik. Pukul 10, saya dijemput airport shuttle dan pukul 11 terbang kembali ke Christchurh. Dari bandara, saya langsung dijemput teman menuju ke acara ultah anak salah satu teman sekaligus pembubaran panita 17-an. Perjalanan yang menyenangkan dan memberi kesegaran. Jika ada rejeki, saya akan kembali menjelajah Abel Tasman National Park sekali lagi, ditambah Kahurangi National Park. Insya Alloh;-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115958934718314884?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115958934718314884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115958934718314884' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115958934718314884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115958934718314884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/09/bulan-agustus-2006-sea-kayaking-bagian.html' title='Bulan Agustus 2006: Sea Kayaking (Bagian 4)'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115905744601480233</id><published>2006-09-24T07:18:00.000+07:00</published><updated>2006-09-25T03:41:38.986+07:00</updated><title type='text'>Bulan Agustus 2006 (Bagian 3 dan 3.5)</title><content type='html'>Setelah acara pernikahan teman, saya ikut membantu mempersiapkan Special General Meeting untuk Perhimpunan Masyarakat Indonesia di Canterbury dan acara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-61. Kedua acara ini berlangsung dua hari berturut-turut. Dimulai dari sore hari tanggal 19 Agustus 2006, yaitu dengan acara lomba 17-an, seperti lomba makan donat (tidak ada kerupuk :P), lomba kelereng, lomba memasukkan pinsil ke botol, dan lomba tarik tambang. Dilanjutkan dengan Special General Meeting dan gladi resik/bebenah untuk acara HUT RI keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 20 Agustus 2006, pukul 11.30 siang, acara peringatan HUT RI dimulai. Sampai dengan akhir acara, jumlah tamu sekitar 200 orang termasuk perwakilan dari KBRI. Acaranya terdiri dari upacara singkat dan sambutan, yang diikuti dengan penampilan tari jaranan dan tari gumbiro oleh anak-anak, vocal group yang dibawakan ibu dan bapak guru SMA dari Propinsi Jambi yang sedang ikut kursus 6 bulan di sini, peragaan pencak silat dari salah satu bapak guru, pemutaran film promosi wisata Indonesia, kuis, penyerahan hadiah untuk pemenang lomba dan poco-poco bersama. Acara berlangsung cukup meriah, sederhana, singkat dan padat. Makanan berlimpah. Pukul tiga sore, seluruh rangkaian acara selesai. Sayang sekali, saya lupa membawa kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 23 Agustus 2006, saya terbang ke Nelson untuk presentasi di sebuah seminar tahunan. Saya presentasi di hari pertama (24 Agustus), session kedua pagi hari. Sebenarnya saya agak ragu untuk presentasi di seminar ini karena topik yang saya bawakan tidak cocok dengan tema seminar, yang terfokus pada pertanian di NZ, perdagangan internasional dan dampak pertanian terhadap lingkungan. Namun pembimbing dan panita menyakinkan bahwa makalah saya dapat diakomodasi. Dugaan saya ternyata benar. Tidak banyak orang yang tertarik dengan penerapan teori dan analisa psikologi di bidang pertanian, di negara berkembang untuk jenis pola tanam padi, ikan dan udang. Tidak apalah karena tanggapan dari yang hadir cukup positif dan mereka menganggap hasil penelitian saya cukup signifikan dan memberikan terobosan baru. Insya Alloh awal atau pertengahan tahun depan, saya bisa menerbitkan beberapa artikel berdasarkan penelitian saya di jurnal internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari tanggal 25 Agustus, setelah acara seminar berakhir, saya pindah hotel ke Nelson city center. Hotelnya &lt;a href="http://www.accentsonthepark.com/" target="_blank"&gt;Accent on the Park&lt;/a&gt;. Hotel kecil yang bersih sekali dan managernya ramah. Saya menghabiskan sore itu dengan berjalan kali mengelilingi kota Nelson. Saya juga memesan &lt;em&gt;sea kayaking tour&lt;/em&gt; di salah satu penyedia: &lt;a href="http://www.kiwikayaks.co.nz/" target="_blank"&gt;Kiwi Kayaks&lt;/a&gt;. Tadinya saya sudah berminat memesan combo: &lt;em&gt;sea kayaking+walking+sailing&lt;/em&gt;, tapi karena hanya saya sendiri yang berangkat, tour ini dibatalkan. Jadilah saya hanya ikut kombinasi &lt;em&gt;sea kayaking and walking&lt;/em&gt; di &lt;a href="http://abeltasmangreenrush.co.nz/" target="_blank"&gt;Abel Tasman National Park&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat-lihat di wikipedia, menarik juga membaca sejarah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Abel_Tasman" target="_blank"&gt;Abel Tasman&lt;/a&gt;, pemimpin ekspedisi perdagangan VOC yang ternyata menjadi orang Eropa pertama yang menemukan pulau Tasman dan New Zealand. Dia bahkan meninggal di Jakarta. Masih ada tidak ya kuburannya di Jakarta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk cerita selengkapnya mengenai sea kayaking termasuk foto-fotonya, bisa diikuti di sambungan cerita minggu depan. Oleh karena itu, tulisan ini diberi judul bagian 3.5 karena sebagian cerita di bagian 4 sudah diuraikan di sini, dan sebagian lagi minggu depan ;-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan 1427 H kepada rekan-rekan muslim. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Mohon maaf lahir dan bathin.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115905744601480233?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115905744601480233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115905744601480233' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115905744601480233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115905744601480233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/09/bulan-agustus-2006-bagian-3-dan-35.html' title='Bulan Agustus 2006 (Bagian 3 dan 3.5)'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115844505978357903</id><published>2006-09-17T05:10:00.000+07:00</published><updated>2006-09-17T05:23:18.276+07:00</updated><title type='text'>Bulan Agustus 2006 (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;We've Only Just Begun&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Artis: the Carpenter&lt;br /&gt;Music/Lyrics: Paul Williams and Roger Nichols&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;We've only just begun to live,&lt;br /&gt;White lace and promises&lt;br /&gt;A kiss for luck and we're on our way.&lt;br /&gt;And yes, We've just begun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before the rising sun we fly,&lt;br /&gt;So many roads to choose&lt;br /&gt;We start our walking and learn to run.&lt;br /&gt;And yes, We've just begun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sharing horizons that are new to us,&lt;br /&gt;Watching the signs along the way,&lt;br /&gt;Talking it over just the two of us,&lt;br /&gt;Working together day to day&lt;br /&gt;Together.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And when the evening comes we smile,&lt;br /&gt;So much of life ahead&lt;br /&gt;We'll find a place where there's room to grow,&lt;br /&gt;And yes, We've just begun.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya ingin menyanyikan lagu ini saat pernikahan dua teman saya, tapi karena tidak ada band pengiring, jadi diurungkan:D Lagu yang cocok untuk menggambarkan pernikahan mereka yang baru mengenal satu sama lain mulai bulan Maret 2006, dan kemudian menikah di bulan Agustus 2006. Semoga mereka berdua mendapat rahmat sehat, kebersamaan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Amin. Ini sebagian kecil dari beratus-ratus foto pernikahan mereka :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan mereka dimuat di Koran Turki, di halaman pertama, dengan foto menjelang ijab kabul. Di halaman lain, terdapat artikel seperti perumpamaan garam di laut, asam di gunung, bertemu di belanga.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/firstpage.JPG" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Masuk Koran!" src="http://www.geocities.com/leo_ote/firstpage.JPG" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/tamulincoln.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="bertemu di Christchurch" src="http://www.geocities.com/leo_ote/tamulincoln.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tamu perempuan segala umur dan segala status bersiap berebut lemparan bunga&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/whosnext.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Lempar bunga" src="http://www.geocities.com/leo_ote/whosnext.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengantin baru tampak ceria saat bersiap memotong kue pengantin&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/weddingcake.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Kebahagiaan pengantin baru" src="http://www.geocities.com/leo_ote/weddingcake.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suasana makan siang dan tamu-tamu dari Lincoln berfoto, termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/lunch.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="makan siang" src="http://www.geocities.com/leo_ote/lunch.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/lincoln.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="90" alt="Tamu dari Lincoln" src="http://www.geocities.com/leo_ote/lincoln.jpg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Foto-foto diambil dari album kedua mempelai, &lt;em&gt;tanpa ijin&lt;/em&gt; :P&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115844505978357903?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115844505978357903/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115844505978357903' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115844505978357903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115844505978357903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/09/bulan-agustus-2006-bagian-2.html' title='Bulan Agustus 2006 (Bagian 2)'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115792653933091431</id><published>2006-09-11T05:10:00.000+07:00</published><updated>2006-09-11T05:17:16.050+07:00</updated><title type='text'>Bulan Agustus 2006 (Bagian 1)</title><content type='html'>Luar biasa. Itu saja kesan saya mengenai bulan Agustus 2006 yang baru berlalu. Luar biasa karena saya sibuk luar biasa. Sejak akhir Juli, intensitas kesibukan mulai terasa saat saya menyiapkan undangan untuk pernikahan sahabat saya. Dilanjutkan dengan perhelatan pernikahan, peringatan HUT RI ke-61 dan presentasi di seminar di Nelson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Hajatan Pernikahan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jum'at, 11 Agustus 2006: persiapan dan gladi resik. Persiapan dimulai dengan mengatur tata letak meja dan kursi untuk resepsi, dekorasi ruangan utama dan mengatur &lt;em&gt;sound system&lt;/em&gt; dan video. Acara latihan dimulai setelah semua makan malam. Hampir pukul 10.00 malam, saya tiba di flat dan harus melanjutkan memasak &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dolma" target="_blank"&gt;Turkish dolma&lt;/a&gt;, dibantu tiga teman. Pukul 12.30, hampir 100 dolma sudah matang. Lentil soup dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/CacÄ±k" target="_blank"&gt;cacik&lt;/a&gt; akan disiapkan besok pagi. Sebelum tidur, saya sempatkan untuk menyetrika kemeja putih dan menyemir sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 12 Agustus 2006: hari pernikahan. Pagi hari saya mulai memasak sup lentil. Pukul 7, teman bangun tidur dan membantu membuat cacik. Hampir pukul 8, semua makanan sudah siap. Pukul 9, saya dan 4 teman berangkat ke tempat acara; tapi saya harus mampir ke beberapa tempat dulu karena selama perjalanan kami menerima sms untuk mengambil/ membeli hal-hal kecil yang terlupakan di jam-jam terakhir menjelang acara. Setelah sampai di tempat acara dan menurunkan makanan, saya dan teman (kami berdua menjadi &lt;em&gt;best man&lt;/em&gt;) harus pergi menjemput Imam di mesjid. Kami cemas karena waktu yang tersisa sangat sempit untuk pulang-pergi menjemput Imam. Apajadinya bila Imam dan &lt;em&gt;best man&lt;/em&gt; terlambat. Alhamdulillah, kami tiba di tempat acara, lima menit sebelum akad nikah dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pernikahan berlangsung di rumah teman, yang terletak di sisi bukit Cashmere yang menghadap ke hamparan pemandangan kota Christchurch. Upacara berlangsung seperti upacara pernikahan secara Islam pada umumnya di Indonesia, dan lebih sederhana karena kami tidak tahu baik adat pernikahan Lampung/Bali (orang tua mempelai wanita: ibu dari Bali, bapak dari Lampung), maupun adat pernikahan Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tamu sudah memenuhi dua ruangan dan duduk rapi di lantai karpet. Di kartu undangan, saya memang sudah mencantumkan pesan "&lt;em&gt;dress for sitting on the floor&lt;/em&gt;" sehingga ibu/remaja putri siap dengan celana panjang atau gaun panjang, agar tidak canggung duduk di karpet. Para tamu tampak antusias dengan kamera masing-masing, karena bagi sebagian besar dari mereka, ini merupakan kesempatan langka menyaksikan pernikahan secara Islam di New Zealand. Menurut mempelai pria, ini merupakan pernikahan internasional karena tamu-tamu yang datang memiliki latar belakang dari 21 negara: Indonesia, Turki, Selandia Baru, Jepang, India, Malaysia, Singapura, Thailand, Jerman, Iran, Chile, Cina, Swiss, Barbados, Kanada, Inggris, Australia, Nigeria, Fiji, Timor Timur, dan Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11.15, MC kemudian membuka acara, menyampaikan kata sambutan dan ucapan terima kasih kepada para tamu yang sudah hadir. Lalu pengantin pria datang diiringi dua &lt;em&gt;best man&lt;/em&gt;, satu dari Turki, satu dari Indonesia. Pengantin pria mengenakan jas &lt;em&gt;broken white&lt;/em&gt;, kemeja putih kebiruan dengan dasi biru. Hiasan di kepalanya peci tapis Lampung, dan di dadanya terselip rangkaian kecil bunga mawar merah. Saya membawa kotak mahar yang berwarna keemasan dengan hiasan penutup bercorak bintang-bintang. &lt;em&gt;Best man&lt;/em&gt; mengenakan jas hitam dan berdasi. Di pintu ruangan utama, mempelai pria disambut dua Bapak yang bertindak selaku saksi pernikahan. Mereka berasal dari komunitas Indonesia di sini. Kedua saksi kemudian mengalungkan kain tapis di pundak mempelai pria, dan menuntun mempelai pria untuk duduk di hadapan tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MC lalu menjelaskan latar belakang kedua mempelai, termasuk pertemuan pertama mereka di bandara Christchurch yang langsung menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya: cinta pada pandangan pertama. Kemudian mempelai wanita memasuki ruangan dibimbing Ibu tuan rumah. Pengantin wanita mengenakan busana muslim berwarna &lt;em&gt;broken white&lt;/em&gt;, dengan sarung tapis Lampung. Selama acara, ruangan bebas dari suara obrolan, tapi ramai dengan kilatan &lt;em&gt;blitz&lt;/em&gt; dan bunyi klik kamera para tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pernikahan juga disaksikan keluarga mempelai wanita melalui &lt;em&gt;video-conference&lt;/em&gt; yang sudah disiapkan. Sayang sekali, tayangannya hanya bisa satu arah: penonton di Indo bisa melihat kami, sedangkan kami tidak bisa melihat mereka. Keluarga mempelai pria juga tidak bisa menyaksikan acara pernikahan ini karena perbedaan waktu yang tidak memungkinkan. Mempelai wanita sudah menyerahkan ijin dan surat kuasa tertulis dari orang tuanya kepada Imam sehingga pernikahan dapat dipimpin oleh Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akad nikah diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, surat Arrum, ayat 20-24, dan dilanjutkan dengan pembacaan terjemahannya, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selanjutnya, Imam memberikan ceramah singkat mengenai perkawinan berdasarkan hukum Islam, yang dilanjutkan dengan ijab kabul. Acara ijab kabul sempat diulang satu kali karena mempelai pria terlalu bersemangat atau nervous sehingga sempat terburu-buru mengikuti ucapan Imam. Kali kedua, semuanya lancar. Setelah itu, kedua mempelai menandatangani sertifikat pernikahan yang diterbitkan mesjid. Resmilah pernikahan mereka secara agama. Pengantin pria kemudian menyerahkan mahar berupa mukena dan kalung emas dengan medali yang berbentuk kerangka hati dari emas. Kilatan &lt;em&gt;blitz&lt;/em&gt; dan bunyi klik kamera tetap ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dilanjutkan dengan pernikahan secara sipil, yang dipimpin oleh &lt;em&gt;marriage celebrant&lt;/em&gt; (orang yang disumpah dan diberi kewenangan oleh undang-undang dan negara untuk memimpin dan mengesahkan pernikahan sipil). Yang bertindak sebagai &lt;em&gt;marriage celebrant&lt;/em&gt; adalah seorang profesor dari Lincoln. Pada acara ini, kedua mempelai mengucapkan janji pernikahan (&lt;em&gt;marriage vows&lt;/em&gt;) dan bertukar cincin. Acara diakhiri dengan penandatanganan akta nikah sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pengantin pria memberikan sambutan singkat yang intinya merupakan ucapan terima kasih kepada tuan rumah, tamu dan teman-teman yang membantu menyiapkan acara pernikahan ini. Para tamu kemudian satu per satu menyalami pengantin dan langsung menuju meja hidangan untuk bersantap siang. Menu kali ini: dolma, lentil soup, cacik, sup udang asam, oseng buncis/tahu/jagung muda, ayam taliwang, mie goreng, nasi, kerupuk udang, asinan, &lt;em&gt;chocolate mousse&lt;/em&gt;, cake, puding dan minuman ringan. Selama makan siang, tamu dan pengantin bergantian berfoto dan pengantin wanita sempat pula melakukan acara melempar karangan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua senang karena acara berlangsung lancar dan meriah. Tamu-tamu juga merasa terkesan dan puas. Makanan yang disediakan juga melimpah, melebihi kebiasaan acara pernikahan di NZ. Para tamu juga bisa membawa hadiah apa saja. Acara berakhir pukul 2 siang. Setelah itu kami bebenah kembali dan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bagian II: foto-foto pernikahan dan masuk koran!, Bagian III: HUT RI ke-61, Bagian IV: Seminar dan sea kayaking di Nelson)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115792653933091431?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115792653933091431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115792653933091431' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115792653933091431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115792653933091431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/09/bulan-agustus-2006-bagian-1.html' title='Bulan Agustus 2006 (Bagian 1)'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115482998088933828</id><published>2006-08-06T09:01:00.000+07:00</published><updated>2006-08-07T04:00:55.820+07:00</updated><title type='text'>Persiapan Pernikahan</title><content type='html'>Bulan Agustus ini menjadi bulan yang paling sibuk selama saya berada di luar negeri. Sebagian terkait dengan urusan studi seperti persiapan presentasi di salah satu seminar pada minggu ketiga bulan ini, namun bagian yang lebih besar terkait dengan rencana pernikahan dua teman baik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir bulan Juni lalu, kedua teman saya memutuskan untuk menikah. Jodoh telah mempertemukan mereka berdua, meski baru saling mengenal selama 3 bulan. Mereka meminta saya, dan salah satu teman, untuk membantu mengurus acara pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sebenarnya sudah beberapa kali terlibat mempersiapkan acara pernikahan, tapi lebih banyak sebagai orang yang membantu tenaga, dalam hal ini membantu Almarhumah Ibu yang dulu memiliki usaha sampingan merias pengantin. Dalam hal perencanaan, saya hanya sepintas mendengar pembicaraan Ibu dengan klien-nya. Kali ini, saya dan teman harus ikut merencanakan, dan rasanya cukup membingungkan pada awalnya, terutama untuk mengetahui bentuk acara seperti apa yang diinginkan calon pengantin. Lagipula ini merupakan pernikahan antar budaya. Kurangnya pengalaman membuat kami sempat bingung menanggapi perbedaan keinginan antara calon pengantin pria dan wanita, mulai dari pemilihan tempat, makanan, dan undangan (termasuk siapa saja yang diundang). Beruntung satu dari mereka lebih banyak mengalah. Setelah mereka memutuskan tempat menikah, struktur acara pun bisa disusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menarik adalah, bila pernikahan disiapkan orang tua dan keluarga, calon pengantin biasanya tinggal menuruti perintah/program. Sebaliknya, bila pernikahan direncanakan tanpa bantuan orang tua dan keluarga, semua harus dikerjakan sendiri seperti untuk pernikahan teman saya ini. Namun mereka cukup beruntung karena teman-teman di sini sangat antusias untuk membantu sehingga mereka bisa memfokuskan diri pada pengurusan administrasi pernikahan, baju, mahar, cincin, daftar undangan dan persiapan rumah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu teman menjadi koordinator keseluruhan acara. Saya sendiri diminta menyiapkan disain dan mencetak undangan dan &lt;em&gt;wedding programs/thank you note&lt;/em&gt;. Selain itu, teman meminta saya menjadi &lt;em&gt;best man&lt;/em&gt; dan menyiapkan masakan Turki yang akan menjadi bagian dari menu resepsi, yaitu &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dolma" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;Turkish dolma&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; (nasi+daging sapi cincang yang dibungkus daun anggur dan dilumuri saus jeruk nipis) dan &lt;em&gt;lentil soup&lt;/em&gt;, ditambah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/CacÄ±k" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;cacik&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; (&lt;em&gt;dip&lt;/em&gt; yang terbuat dari yoghurt dan ketimun). Teman lain menjadi koordinator menu yang kemudian membagi-bagi tugas memasak ke teman-teman lain. Teman-teman lain membantu video dan &lt;em&gt;soundsystem setting&lt;/em&gt;. Video menjadi penting karena orang tua dari kedua mempelai hanya dapat menyaksikan pernikahan anak-anaknya melalui &lt;em&gt;teleconference&lt;/em&gt;. Selain itu ada yang membantu make-up, merangkai bunga, serta juru foto, pembaca Qur'an dan terjemahannya, dan penerima tamu. Teman lain juga bersedia menjadi saksi pernikahan. Semua dilakukan secara gotong royong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tugas saya, internet menjadi satu-satunya sumber inspirasi karena pengalaman disain sangat minim. Awalnya saya merencanakan disain undangan yang bernuansa merah cerry, sesuai dengan contoh disain &lt;em&gt;Moroccan style&lt;/em&gt; yang saya temukan di salah satu website. Kedua calon pengantin sudah setuju, termasuk susunan kata-kata, jenis dan ukuran font. Namun saat undangan akan dibuat, sulit sekali mencari warna dan bahan yang pas. Akhirnya, setelah berkeliling ke enam tempat, saya memutuskan mengubah disain dan membeli kertas kartu berwarna &lt;em&gt;dark gold&lt;/em&gt;, kertas transparan bercorak dedaunan dan amplop berwarna tanah lempung. Warna emas dan lempung saya pilih karena saya pikir akan cocok dengan baju calon pengantin yang berwarna &lt;em&gt;broken white&lt;/em&gt;. Selain itu, buku tamu juga sudah terlanjur dibeli yang berwarna &lt;em&gt;broken white&lt;/em&gt; keemasan. Undangan saya cetak di kertas transparan yang kemudian saya tempelkan ke kertas emas. Di sisi luar undangan, saya tempelkan kertas transparan mungil dengan cetakan inisial nama kedua mempelai.  Selain teks undangan, saya juga tambahkan puisi "Marriage Ode" ciptaan Jalaludin Rumi.  Kartu yang sederhana, dan alhamdulillah kedua mempelai menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk buku &lt;em&gt;wedding programs&lt;/em&gt;, saya menggunakan kertas berwarna putih pupus dan cover berwarna &lt;em&gt;dark gold&lt;/em&gt;. Disainnya lagi-lagi sederhana saja. Buku ini diikat dengan pita berwarna merah anggur yang berbenang emas, dan setiap orang yang menerimanya akan membuka buku itu dengan menarik kertas transparan bernisial huruf awal nama kedua mempelai yang merekatkan ujung-ujung pita. Buku ini akan dibagikan ke tamu sebagai pemandu acara sekaligus kenang-kenangkan. Isinya mulai dari susunan acara, nama-nama orang yang sudah membantu, kata sambutan, terjemahan surat Ar Rum dalam bahasa Inggris, teks pernikahan (termasuk &lt;em&gt;marriage vows&lt;/em&gt;), menu dan ucapan terima kasih. Alhamdulillah, semuanya sudah selesai dicetak berkat bantuan teman-teman yang bersedia bekerja Sabtu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara pernikahan akan berlangsung hari Sabtu minggu depan. Dua pertiga tugas saya sudah terselesaikan. Sisanya yaitu memasak &lt;em&gt;Turkish dolma&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;lentil soup&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;cacik&lt;/em&gt;, menjemput penguhulu (Imam masjid), serta menjadi best man masih menunggu H-1 dan hari H. Semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila urusan pernikahan sudah selesai, saya masih akan terlibat di acara Special General Meeting dari Canterbury Indonesia Society yang baru dibentuk di sini, dan memeriahkan acara peringatan acara HUT RI ke-61. Setelah itu, tanggal 23-27 pergi seminar di luar kota, sekaligus mengunjungi &lt;a href="http://abeltasmangreenrush.co.nz/" target="_blank"&gt;Abel Tasman National Park&lt;/a&gt;. Yang terakhir ini merupakan acara jalan-jalan, melepas lelah dan merayakan kesuksesan (semoga) semua acara di bulan Agustus ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115482998088933828?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115482998088933828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115482998088933828' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115482998088933828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115482998088933828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/08/persiapan-pernikahan.html' title='Persiapan Pernikahan'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115421521570091982</id><published>2006-07-30T06:11:00.000+07:00</published><updated>2006-08-01T16:36:48.156+07:00</updated><title type='text'>Love It, but Don't Abuse It</title><content type='html'>Saat membaca adanya "hari tanpa televisi" untuk menyambut Hari Anak Nasional, saya teringat betapa berpengaruhnya televisi dengan masa-masa kecil saya. Yang berbeda adalah saat itu hanya ada satu stasiun televisi: TVRI. Acara selalu dimulai pukul 5 atau 5.30 sore, dengan acara "Ayo Menyanyi", "Lagu Pilihanku", "Cerdas Cermat", "Mari Menggambar", atau "Bina Vokalia". Acara terus berlanjut dengan acara anak-anak, seperti aneka ria anak nusantara dan drama keluarga, sampai saat berita nasional mengudara pada pukul 7 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu saya tidak pernah melarang kami, anak-anaknya, untuk menikmati acara televisi sore hari. Kami pun tidak setiap hari menonton acara tv sore hari, karena kami masih senang bermain dengan teman-teman di jalan di depan rumah kami, mulai selepas mandi sore sampai menjelang Maghrib. Kami biasanya bermain galah asin, pris-prisan, petak umpet, kasti, atau badminton. Tapi kami biasanya langsung lenyap dari jalanan, dan berdiam di rumah masing-masing atau menonton bersama, terutama bila saat itu ada aneka ria anak dan drama keluarga favorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaya satu-satunya stasiun televisi saat itu membuat saya sampai sekarang tidak pernah menyesali masa kecil saya yang selalu dekat dengan televisi. Saya menjadi gemar menyanyi setelah melihat berbagai anak seumur saya muncul dengan suara yang teratur dan terdengar merdu di tv. Saya juga menjadi tertarik untuk membaca buku kumpulan pengetahuan umum (sudah lupa apa namanya... ada yang masih ingat?), agar bisa sama-sama menjawab soal di acara "Cerdas Cermat". Saya juga gembira luar biasa saat gambar saya muncul di tv dan dipuji "Bagus" oleh Pak Tino Sidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tidak pernah heran melihat kami tetap di depan tv sambil mengerjakan pekerjaan rumah, dan kami pun menjadi terbiasa menghafal pelajaran di depan tv. Biasanya kami baru diingatkan untuk mematikan tv kalau pemakaian listrik dalam satu bulan sedang tinggi, atau bila kami akan menghadapi ulangan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua saja acara yang Ibu tidak pernah melarang kami untuk menonton: "berita nasional" dan "dunia dalam berita". Alhamdulillah, semuanya memberi manfaat besar karena kami menjadi orang yang tidak buta pengetahuan umum, terutama mengenai geografi dan sosial-budaya. Bahkan acara laporan khusus mengenai kegiatan mantan Presiden Soeharto saja sudah membuat kami sedikit lebih tahu mengenai petani, kelompok tani, jenis tanaman, dan berbagai macam sarana (pabrik, jalan, waduk, jembatan, sekolah, pasar, pusat kerajinan, dll.) di daerah lain. Juga sering terbesit rasa bangga sebagai orang Indonesia saat melihat berita di tv dan laporan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya satu stasiun tv seperti mengandung "&lt;em&gt;blessings in disguise&lt;/em&gt;". Meski banyak penonton dulu mengeluh karena tidak adanya pilihan lain dan jadwal acara sering terpangkas dan diganti, namun satu stasiun tv sudah menjadi media yang sarat informasi berguna. Terlepas dari maksud propaganda, saat itu rasanya menonton tv begitu dianjurkan termasuk untuk anak-anak. Satu stasiun tv dengan jam tayang terbatas juga membuat saya masih memiliki kesempatan bermain dengan anak lain. Orang tua juga masih mudah membimbing anaknya untuk belajar. Orang dewasa pun memiliki banyak waktu untuk bersosialisasi, terutama dengan tetangga. Namun, sebagai suatu "&lt;em&gt;blessing in disguise&lt;/em&gt;", manfaat satu stasiun tv saat itu baru dirasakan setelah semua sudah berlalu, termasuk mungkin di tahun 2006 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dunia memang akan terus berubah. Setelah 17 tahun menjadi lebih kaya dengan belasan bahkan puluhan stasiun tv (termasuk yang lokal), anjuran agar anak-anak gemar menonton tv menjadi semakin pudar. Tv seperti sudah menjadi media yang membahayakan untuk perkembangan anak, bukan lagi sumber informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya mungkin (lagi-lagi) terkait dengan masalah ekonomi. Persaingan iklan membuat setiap stasiun tv ingin membuat acara gossip dan hantu. Bahkan penyampaian informasi sudah dikemas sebagai suatu hiburan, dan terkadang porsi hiburannya menjadi lebih dominan. Tuntutan hidup juga menjadikan orang tua sekarang semakin sibuk mencari uang, sehingga terkadang menjadikan tv sebagai sarana pengasuhan yang praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Euphoria&lt;/em&gt; untuk mengikuti arus perubahan juga sering menjadikan kita cenderung mengganggap semua yang memiliki cap masa lalu sebagai ketinggalan jaman dan kurang bermanfaat. Tapi pada kenyataannya, justru banyak barang lama menjadi media daur ulang, karena kembali dirindukan dan diperlukan. Sebagai contoh, saat saya penelitian di Lamongan tahun lalu, banyak yang menyesalkan bahwa acara &lt;a href="http://www.happyplanetindex.org" target="_blank"&gt;kelompencapir&lt;/a&gt; sudah tidak ada lagi di tv karena acara ini merupakan media yang sangat bermanfaat bagi petani untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan. Kakak saya juga sering mengeluh dan merasa anaknya yang sudah SMA tidak mendapatkan pengarahan yang cukup dari guru Bahasa Indonesia-nya. Anaknya tidak pernah mencatat pelajaran di kelas dan hasil karangannya hanya berkisar tentang acara tv. Kakak jadi teringat pekerjaan rumahnya dulu yaitu mencatat acara "Pembinaan Bahasa Indonesia", yang sudah melatihnya untuk bisa mencatat sambil mendengar pelajaran di kelas dan membuatnya gemar menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, masih banyak acara-acara tv yang bermanfaat, namun seringkali anak-anak terlalu banyak menonton acara-acara untuk orang dewasa tanpa banyak pencegahan. Hal yang terakhir ini rasanya merupakan masalah yang sesungguhnya. Anak-anak dan orang tua sepertinya perlu belajar untuk menggunakan tv untuk tujuan yang produktif. Menonton hiburan perlu diimbangi dengan menonton acara informatif. Jam menonton tv perlu diimbangi dengan jam belajar dan bermain dengan teman. Dan saya yakin pengaturan seperti ini sudah banyak diterapkan kembali oleh banyak keluarga. Yang terpenting adalah bisa menggunakan segala sesuatu sepantasnya, tidak berlebihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115421521570091982?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115421521570091982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115421521570091982' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115421521570091982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115421521570091982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/07/love-it-but-dont-abuse-it.html' title='Love It, but Don&apos;t Abuse It'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115361195498251476</id><published>2006-07-23T06:44:00.000+07:00</published><updated>2006-07-24T04:12:50.650+07:00</updated><title type='text'>Indeks Kebahagiaan</title><content type='html'>Saat membaca berita di Yahoo!, ada satu laporan yang cukup menarik: &lt;a href="http://www.happyplanetindex.org" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;The (un)Happy Planet Index (HPI)&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; Index ini diperkenalkan oleh the New Economics Foundation (NEF) yang bermarkas di Inggris. HPI merupakan tolok ukur terbaru yang digunakan untuk menilai sejauh mana kehidupan manusia sudah mengalami kemajuan. HPI diklaim sebagai index yang pertama menggabungkan pengaruh lingkungan hidup terhadap derajat (kebahagiaan) hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya sudah banyak index digunakan untuk menilai derajat taraf hidup manusia atau suatu bangsa. Dimulai dari ukuran yang tradisional dan cenderung "pukul rata", seperti &lt;em&gt;Gross National Product (&lt;/em&gt;GNP) dan &lt;em&gt;Per capita Income&lt;/em&gt; (PCI), sampai dengan &lt;em&gt;Human Development Index&lt;/em&gt; (HDI) yang mencoba merangkum perkembangan kebutuhan dasar manusia namun masih menuai kontroversi. Selain itu, di salah satu &lt;a href="http://www.nationmaster.com/index.php" target="_blank"&gt;website&lt;/a&gt;, siapa saja bisa menemukan peringkat negara-negara di dunia berdasarkan berbagai macam ukuran. Semua berbicara tentang statistik, tapi tak lekang pula dari kritik karena ukuran suatu kemajuan itu sangat relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HPI sendiri dihitung dengan rumus sederhana yaitu HPI = (kepuasan hidup x usia harapan hidup)/daya dukung lingkungan. Kepuasan hidup yang dimaksud merupakan persepsi individu terhadap tingkat kepuasan hidup yang selama ini dijalani. Usia harapan hidup biasanya dihitung berdasarkan rata-rata usia kematian penduduk di suatu negara. Untuk HPI, usia harapan hidup ditambahkan dengan ukuran tingkat kepuasan seseorang yang bisa berumur panjang dan hidup bahagia di suatu negara pada satu periode tertentu, atau disebut satuan "&lt;em&gt;happy life years (HLY)&lt;/em&gt;", yang merupakan hasil penelitian ahli sosiologi dari Belanda, Ruut Veenhoven. Komponen terakhir HPI, yaitu daya dukung lingkungan, digambarkan sebagai tingkat penggunaan lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Tolok ukur ini mencakup penggunaan lahan dan enerji, penanganan sampah dll. Semua komponen HPI ini dianggap sudah meningkatkan lingkup interpretasi data-data statistik, dan index-index lainnya, sehingga tidak hanya terbatas pada penerjemahan angka-angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, adanya HPI sudah menambah sudut pandang baru dalam melihat perkembangan kehidupan manusia. Saya juga senang karena dalam perhitungan ini, peringkat Indonesia berada jauh lebih baik dibandingkan peringkat negara-negara maju. Dalam banyak hal, apa yang coba ditunjukkan melalui HPI ini ada benarnya. Hal ini terutama saya rasakan berdasarkan pengalaman hidup di beberapa negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tanah air masih berperang dengan korupsi dan kemiskinan, ditambah dengan berbagai bencana, saya merasakan hidup yang lebih dinamis dan &lt;em&gt;personal&lt;/em&gt;. Saya lebih merasa dekat dengan lingkungan. Saya akan selalu rindu dengan makanan yang kaya aroma, dengan bau hujan dan lumpur becek di tanah air, dengan desak-desakan berebut antrian, dengan pemandangan peminta-minta dan pemulung, yang semuanya membuat hidup saya setiap hari memiliki cerita yang mengingatkan saya akan hidup yang kaya; meski kaya tidak selalu berarti materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak teman yang saya temui, tidak saja yang berasal dari Indonesia, berkata bahwa hidup di tanah air mereka masing-masing masih bisa memberikan kebahagiaan berlipat ganda. Teman saya dari Turki, misalnya, pernah berkata bahwa hidup di negara maju itu layaknya seperti kebun binatang, sementara hidup di negara berkembang itu layaknya seperti hutan belantara. Di kebun binatang, semua sudah di atur, mulai dari letak tanaman, pengelompokan hewan, sampai jalur pengunjung. Setiap pengunjung bisa menikmati keunikan dan kecantikan hewan-hewan, dari balik pagar atau jeruji atau jendela kaca. Semua tampak terawat, teratur, indah, dapat dinikmati dan memberi hiburan, namun juga sekaligus berbatas, berjarak dan terpisah. Lain halnya dengan hutan belantara, yang lebih menantang dengan banyaknya kemungkinan melihat dan mengalami hal-hal baru, meski juga lebih tidak teratur, gelap dan untuk jalan pun sulit karena harus menebas semak-semak atau menghindari bebatuan, lumpur atau hewan/ tanaman berbisa/beracun. Teman saya menambahkan bahwa hidup di negara maju tetap menjadikan dia terasing sebagai orang asing, sementara ketidaksempurnaan negerinya tampak sebagai suatu insentif hidup jangka panjang karena tetap lekat di pikiran dan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, perbedaan kebahagiaan hidup dapat ditemukan, tidak saja di negara yang berbeda, tapi juga antar pulau, propinsi, kota, kecamatan, desa dan komplek perumahan. Terkadang, kita baru menyadari betapa berharganya hidup di suatu tempat setelah kita meninggalkannya. Namun definisi dan ukuran kebahagian itu, sekali lagi, sangat relatif. Lagipula, setiap manusia sudah dikaruniai hak untuk memilih, termasuk untuk memilih kebahagiaan seperti apa yang diinginkan, dan cara untuk mencapainya. Jadi, rasanya, kebahagiaan merupakan suatu pilihan, bukan kesepakatan. Kebahagiaan tampaknya lebih merupakan hasil dari cara kita menyikapi hidup.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Informasi HPI diperoleh dari: http://www.happyplanetindex.org&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115361195498251476?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115361195498251476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115361195498251476' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115361195498251476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115361195498251476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/07/indeks-kebahagiaan.html' title='Indeks Kebahagiaan'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115301210942800583</id><published>2006-07-16T08:07:00.000+07:00</published><updated>2006-07-16T08:08:29.440+07:00</updated><title type='text'>Bila Para Dokter Mencuci Mobil</title><content type='html'>Hari Senin yang hari lalu saya terheran-heran melihat satu iklan di tv.  Beberapa dokter tampak menyediakan jasa mencuci mobil di bawah salah satu jalan layang.  Di antara mereka terdapat ahli otak, peneliti kecanduan (&lt;em&gt;addiction),&lt;/em&gt; peneliti parkinson.  Satu dokter tampak memegang sepotong kardus bekas bertuliskan "&lt;em&gt;car wash $5".&lt;/em&gt;  Dokter dan peneliti lainnya tampak berusaha keras, meski terlihat jelas kurang terampil dalam mencuci mobil.  Pesan iklan itu yaitu mengimbau penonton untuk menyumbang sehingga peneliti-peneliti tersebut dapat bekerja dengan tenang dan menghasilkan temuan yang dapat digunakan untuk kemajuan penyembuhan penyakit-penyakit otak.  Iklan layanan masyarakat ini muncul karena sampai hari Sabtu kemarin merupakan minggu pengumpulan sumbangan untuk yayasan neurology di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berita dan juga iklan tentang penyakit mental di tv, saya tahu kalau satu di antara 5 orang NZ menderita gangguan mental; suatu rasio yang cukup tinggi.  Saya tidak tahu berapa rasio yang sama ditemukan di tanah air.  Yang saya pernah baca bahwa jumlah penderita gangguan mental di tanah air sempat meningkat setelah krisis ekonomi dan berbagai bencana.  Ini belum termasuk orang yang stress karena tekanan pekerjaan, masalah keluarga, persoalan cinta, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terlepas dari data-data statistik, iklan para dokter di tv menunjukkan bahwa alokasi dana dari pemerintah belum cukup untuk mendorong upaya penyembuhan penyakit untuk bisa bergerak sama cepatnya dengan munculnya penyakit-penyakit baru.  Masyarakat masih sangat diharapkan untuk menyumbang.  Dan hasilnya yaitu yayasan neurology di sini tahun lalu bisa menyediakan dana penelitian sebesar NZD 1.5 juta, jumlah yang tidak sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi terpikir dengan upaya penanggulanan flu burung di tanah air yang masih bergerak lambat.  Juga teringat dengan dokter gigi saya di Jakarta yang mati-matian mencari dana tambal sulam di tanah air hanya untuk menyelesaikan penelitiannya; suatu kenyataan ironis karena hasil penelitiannya justru mendapat perhatian para peneliti kesehatan gigi di negara Jiran.  Saya yakin dana bantuan dari pemerintah memang masih kurang, dan saya hanya bisa berharap bantuan yang bisa dikumpulkan dari dana masyarakat bisa sedikit menambal kekurangan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan, sekecil apapun, akan tetap bermanfaat. Bila keinginan menyumbang banyak menghadapi keterbatasan, menyumbang dalam bentuk waktu mungkin dapat menjadi pilihan.  Sebagai contoh, meluangkan waktu untuk mengirim sapaan dan kabar untuk teman yang kesusahan mungkin bisa memberi hiburan.  Atau mendengarkan keluh kesah pembantu di rumah mungkin sudah bisa membuat dia tetap semangat bekerja dan kerasan.  Seringkali, beramal waktu bisa memberikan imbalan yang tidak sedikit karena setiap pihak yang terlibat dapat menjadi lebih dekat satu sama lain.  Saya salut dengan rekan-rekan lain yang sudah menyumbang; baik yang dalam bentuk sumbangan uang, donor darah, dan sumbangan tenaga dan waktu sehingga penderitaan sesama bisa sedikit teringankan.  Jika semua orang tergerak untuk menyumbang, suatu saat tidak lagi diperlukan adanya dokter yang menyediakan jasa mencuci mobil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115301210942800583?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115301210942800583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115301210942800583' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115301210942800583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115301210942800583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/07/bila-para-dokter-mencuci-mobil.html' title='Bila Para Dokter Mencuci Mobil'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115233108980339051</id><published>2006-07-08T10:34:00.000+07:00</published><updated>2006-07-08T10:58:09.986+07:00</updated><title type='text'>Apa Jadinya</title><content type='html'>Apa jadinya jika semua orang menyerap semua nilai-nilai baik yang ditanamkan sedari kecil dan menerapkannya saat dewasa. Mungkin dunia akan lebih teratur. Tapi keadaan seperti ini tidak alami karena manusia memiliki pemikiran sendiri dan kebebasan untuk memilih. Manusia juga berinteraksi, menerima dan memberikan yang baik, menerima dan memberikan yang buruk, mendapat pengaruh dan mempengaruhi. Dan ini bisa saya amati dari dua contoh sederhana yang saya temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Toy Library&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Sabtu pagi, jam sepuluh, Coronation Library yang mungil di ujung James St. mulai ramai dengan keluarga dan balitanya. Berbagai mainan dari plastik dan kayu tumpul dikeluarkan dan dipajang di halaman. Anak-anak dan para orang tua memilih mainan yang akan dipinjam selama seminggu. Saya juga melihat teman saya bertugas mencatat mainan-mainan yang dipinjam. Saya memperhatikan kegiatan seperti ini bila saya hendak berangkat ke city. Kegiatan &lt;em&gt;Toy Library&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya perpustakaan buku, setiap mainan yang dipinjam oleh anak dari &lt;em&gt;Toy Library&lt;/em&gt; akan digilir ke anak lainnya pada minggu berikutnya. Mainan yang tersedia merupakan hasil sumbangan. Tidak semuanya baru, namun semuanya tampak terawat. Bahkan anak-anak yang memiliki banyak mainan, dapat bertukar mainan dengan anak-anak yang lain. Anak-anak pun mendapat mainan yang lebih bervariasi, tanpa orang tuanya harus mengeluarkan biaya tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ini sederhana namun berhasil, dan memberi kesempatan bagi baik anak-anak yang kurang beruntung untuk bisa bermain. Tidak apa-apa bila seorang anak masih ingin bermain dengan mainan tertentu lebih dari seminggu. Tapi dengan sistem meminjam, orang tua si anak tetap dituntut untuk memberi pengertian kepada anaknya untuk belajar berbagi dan bergilir. Tidak sedikit juga mainan yang dikembalikan agak penyok, mungkin karena dibanting. Tapi lagi-lagi, dengan sistem peminjaman, orang tua dan anak belajar bertanggung jawab terhadap barang milik bersama. Kegiatan sederhana dan berbasis masyarakat yang memiliki banyak nilai positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Swearing&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kebalikan dari pengamatan yang pertama, pengamatan kali ini lebih banyak membuat telinga saya menjadi kotor. Di sini, telinga saya sering terkontaminasi dengan &lt;em&gt;swearing&lt;/em&gt; s*$t, f@#k, b%^ch, dan sebangsanya. &lt;em&gt;Swearing&lt;/em&gt; terkadang hanya menjadi bumbu ucapan supaya terkesan &lt;em&gt;cool&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;friendly&lt;/em&gt;. Namun jika setiap tiga kata yang diucapkan selalu diselipi &lt;em&gt;swearing&lt;/em&gt; betapa tidak nyaman untuk didengar. Kalau di Jakarta, variasinya lain, di Bandung juga lain, di Malang dan Surabaya juga lain. Sampai-sampai ada orang yang berjiwa sosial mengadopsi satu penghuni taman safari ditambah kebun binatang dan hutan belantara dalam perbendaharaan kata-kata umpatannya, terutama jika marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, mengumpat itu seperti menyimpan hawa buruk dalam hati dan pikiran. Orang bisa berdalih bahwa mengumpat justru untuk mengeluarkan emosi terpendam, &lt;em&gt;uneg-uneg&lt;/em&gt;. Masih untung jika mereka marah dan tiba-tiba mengumpat, lantas meminta maaf, karena mereka masih tanggap situasi bahwa orang lain masih memiliki harkat dan martabat, serta hak untuk menjawab. Akan tidak beruntung bagi yang mengumpat lantas merasa bangga. Di satu sisi, mereka mungkin bisa merasa puas sudah bisa melampiaskan emosi, tapi hal ini bisa juga menunjukkan kedengkian yang sudah semakin tebal di dalam hati dan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beruntung bahwa sedari kecil Ibu tidak memperbolehkan anak-anaknya untuk mengumpat. Karena tidak biasa, saya masih sering terkaget-kaget atau langsung mengernyitkan alis bila ada orang mengumpat "bodoh", "tolol", "goblok", "gukguk", "auu", "nyetnyet" dan sebangsanya. Maaf, kata-kata ini bukan dimaksudkan untuk mengumpat; hanya untuk memberi gambaran saja, karena saya anti &lt;em&gt;swearing&lt;/em&gt; seumur hidup.  Peace! :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115233108980339051?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115233108980339051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115233108980339051' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115233108980339051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115233108980339051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/07/apa-jadinya.html' title='Apa Jadinya'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-115129151338463990</id><published>2006-06-26T10:09:00.000+07:00</published><updated>2006-06-27T03:55:35.783+07:00</updated><title type='text'>Saya Ingin...</title><content type='html'>Maksud hati ingin ikut lomba menulis di blog seperti ajakan &lt;a href="http://newjurnal.blogspot.com/" target="_blank"&gt;hiking&lt;/a&gt;, tapi kesibukan sudah menunda semuanya. Namun, sejak ada ajakan itu sampai hari ini, banyak sekali pengalaman hidup yang meski kecil, tapi sudah membuat saya lebih kaya secara moril. Dan bila pengalaman-pengalaman itu dipadukan dengan apa yang saya yakini tentang hidup, hasilnya berupa harapan sederhana seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin bangun setiap pagi dengan hati gembira. Harapan yang sederhana, meski terkadang terasa berat. Apalagi bila ada pekerjaan menumpuk dengan tengat waktu yang semakin mendesak. Ditambah bila ada permintaan bantuan yang datang mendadak. Ditambah bila hari-hari hanya dihiasi air hujan dan udara beku, tanpa secuil pun kedipan matahari. Ditambah bila suasana di rumah sedang suram karena teman-teman bertengkar. Semuanya bisa membuat bunyi siulan burung di pagi hari seperti suara godam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, alhamdulillah, dalam tiga minggu terakhir, keinginan untuk bangun pagi dengan hati gembira bisa terwujud setiap hari. Sebabnya mungkin karena saya sekarang terbiasa untuk hanya mengingat hal-hal yang baik dan indah. Hal-hal yang kurang menyenangkan lebih banyak dibuang. Bila ada pengalaman buruk, saya sudah bisa menemukan kunci untuk memutarnya kembali ke pengalaman yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci-kunci yang sudah memampukan saya itu ternyata adalah kemauan untuk memaafkan dan minta maaf. Juga kunci yang mengingatkan untuk lebih banyak membantu orang dibandingkan mengharapkan terlalu banyak dari orang lain. Kunci-kunci itu juga saya temukan dari hasil bercermin dari dua sahabat saya yang baru-baru ini bertengkar luar biasa hebat. Bercermin bahwa kesabaran, berbicara halus dan tenang, serta berpikir rasional lebih menyenangkan dibandingkan perilaku sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila dunia begitu kompak dalam menutup semua pintu untuk saya di suatu hari, adalah saya yang harus berani berinisiatif mengetuk atau menemukan kuncinya. Salah satu caranya adalah dengan memulai hari dengan suatu rencana. Setiap bangun pagi, saya ingin memiliki semangat untuk melakukan sesuatu, tidak bangun dengan pikiran kosong. Adanya rencana di awal hari menjadikan hidup tidak mudah kosong, tidak pula membosankan. Bilapun rencana itu merupakan suatu rutinitas, saya percaya bahwa ada lebih dari 1 jenis rutinitas dalam sehari yang bisa dilakukan dengan bergiliran, bercampur, dan tetap menyenangkan. Tentu setiap rencana akan membutuhkan usaha karena hidup adalah berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha dan bekerja keras rasanya sudah menjadi garis tangan saya. Suatu anugrah yang patut disyurkuri. Saya memang tidak ingin menang lotere yang bisa membuat saya kaya mendadak, karena saya merasa bahwa kesenangan biasanya membawa tantangan yang lebih berat. Sebaliknya, saya sering merasa lega dan berharga bila saya harus berusaha keras untuk bisa mendapatkan yang sedikit, karena saya tahu bahwa apa yang saya usahakan tidaklah sia-sia. Pengalaman dan usaha untuk mencapai suatu cita-cita, keinginan dan harapan rasanya sama berharganya dengan pencapaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sudah bekerja keras, tentu saya ingin bisa menikmati hidup dari sisi yang lain. Sisi bermain, sisi yang berisi keriangan. Alhamdulillah, saya bukanlah orang yang terlalu sulit untuk bisa terhibur. Saya masih bisa tertawa untuk gurauan konyol sekalipun. Saya mudah rileks hanya dengan menonton tv atau mendengarkan lagu. Saya bisa berpikir segar kembali hanya dengan berjalan-jalan di tengah kota atau mengobrol. Terkadang saya bisa juga terhibur hanya berdiam di rumah saja. Terkadang saya terhibur dengan cara menitikkan air mata saat melihat berita atau serial tv; terhibur karena saya bersyukur akan hidup saya yang masih baik-baik saja. Saya berusaha mensyukuri yang sepele dan sedikit karena saya tahu, semuanya ini menjadikan saya tidak mudah cemas atau kesepian bila bepergian jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu saja keinginan yang masih menjauh dari gapaian tangan adalah keinginan untuk mendapatkan cinta yang tulus ikhlas. Saya hanya ingin cinta yang sederhana, apa adanya, karena cinta berhias sangatlah sulit untuk dipelihara. Saya memang jauh dari romantis, juga jauh dari sikap mencintai yang menggebu-gebu. Saya hanya seorang biasa-biasa saja, yang berusaha memelihara segala sesuatu agar awet dan yang hanya bisa menyediakan tempat untuk berbagi di penghujung hari. Terkadang ada rasa iri bila melihat teman-teman saling berpasangan, tapi di saat yang sama, saya masih bersyukur karena saya masih memiliki kebebasan yang sedikit lebih dibandingan mereka. Saya hanya percaya bahwa setiap tahapan kehidupan memiliki misi masing-masing, dan tentu saja, saya tidak akan berhenti untuk berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, nikmat syukur itu ternyata lebih besar. Seperti pelukan anak teman yang mungil dan lucu, yang selalu mengulurkan tangan minta gendong setelah melihat saya. Seperti tawa segar saat melihat episode film seri &lt;em&gt;Friends&lt;/em&gt; yang diputar berulang-ulang. Seperti makanan lezat yang dibawa teman, yang tiba-tiba muncul di depan pintu office dengan sekeranjang lengkap &lt;em&gt;lunch+dessert&lt;/em&gt; hanya untuk saya. Semuanya, meski sedikit, sepele dan sederhana, sudah membuat saya merasakan hidup yang penuh dengan keberuntungan. Dan semuanya sudah membuat saya bisa bangun setiap pagi dengan hati gembira.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-115129151338463990?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/115129151338463990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=115129151338463990' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115129151338463990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/115129151338463990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/06/saya-ingin.html' title='Saya Ingin...'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114998477328453696</id><published>2006-06-11T07:10:00.000+07:00</published><updated>2006-06-11T07:15:06.193+07:00</updated><title type='text'>Lebih Jauh ke Selatan--Bagian 2</title><content type='html'>Senin, 17 April 2006. Kami masih di Te Anau. Suasana pagi masih berkabut dan alarm kebakaran berbunyi dua kali..... Ini karena teman saya membiarkan roti terpanggang sampai gosong dan menutup rapat semua jendela sampai alarm kamar berbunyi saat tetangga kiri-kanan masih tertidur pulas. Mungkin karena masih baru tersadar dari bangun, jiwa dia belum semua terkumpul, jadi reaksi dia cuma bengong saja memandangi roti gosong dan alarm. Jadi pesan saya agar rotinya diangkat sementara saya membeli roti tambahan belum benar-benar dia cerna. Untung pemadam kebakaran tidak sampai datang, dan para tetangga cukup pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sarapan, kami sempatkan berfoto di Lake Te Anau yang begitu indah di pagi hari (&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/teanau-fiord.jpg" target="_blank"&gt;klik di sini&lt;/a&gt;), lalu berangkat menuju &lt;a href="http://www.fiordland.org.nz/" target="_blank"&gt;Milford Sound&lt;/a&gt;. Pemandangan sepanjang perjalanan begitu indah. Pepohonannya campuran antara pepohonan tropis dan sub-tropis. Berulang kali kami berhenti untuk berfoto dan selalu ada mobil lain yang ikut berhenti dan mengambil foto. Selama perjalanan, teman saya yang menyetir sempat berkata "&lt;em&gt;Dear passengers, this is your captain speaking. We're now either died or dreaming, because the scenery outside is like heaven&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan selama boat cruise di Milford Sound seakan memuncaki semua pemandangan yang pernah kami lihat di NZ. Sampai-sampai teman saya yang sempat bersumpah mati kalau Turki lebih bagus dibandingkan NZ berkata "&lt;em&gt;What kind of place is it? I've never seen a place like this, even in Turkey. It's like heaven... let's stay here, don't go back to Christchurch."&lt;/em&gt; Di atas kapal, meski ditimpa hujan, panas dan angin kencang, kami tetap bersemangat berfoto dan takjub dengan kreasi Sang Maha Pencipta. Perjalanan yang tidak akan terlupakan dan Fiordland memang menakjubkan. Foto-foto di Milford Sound dapat diklik &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/milfordsound.jpg" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai perjalanan ke Milford, kami seperti kehilangan semangat melihat hamparan lahan-lahan pertanian yang berbukit turun naik antara Te Anau dan Invercargill. Kami mengambil jalan ini karena menurut buku dan website perjalanan, rute ini termasuk scenic route di bagian selatan. Tapi ternyata agak mengecewakan atau mungkin karena kami sudah melihat yang lebih bagus. Sepanjang perjalanan, kami lebih banyak diam. Malam terasa cepat tiba, tapi sebelum hari berlalu, kami sempat berhenti dan berfoto di pantai saat matahari tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sampai di &lt;a href="http://www.invercargill.org.nz/" target="_blank"&gt;Invercargill&lt;/a&gt; hampir jam 8 malam dan memutuskan untuk menginap di YHA. Lalu kami makan malam di Turkish restaurant lagi, dengan kebab donner lagi, dapat diskon 80 persen lagi. Sebenarnya ada dua restoran Turki yang kami temukan malam itu, tapi hanya satu yang buka selepas jam 7 malam. Ternyata, restoran ini menyajikan kebab donner yang paling enak dibandingkan restoran Turki di kota-kota sebelumnya. Malam harinya, dua teman saya berkumpul dengan orang-orang Turki di Invercargill, menonton liga sepak bola Turki lewat satelit. Saya sendiri tetap di kamar dan langsung tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, kami sempat berjalan-jalan di tengah kota dan menemukan satu restoran Turki lainnya. Untuk sopan santun, kami pun minum teh di sana. Sampai akhirnya jam 10 pagi, kami berangkat menuju Dunedin, mengunjungi teman kami yang dulu ambil kursus bahasa Inggris di Lincoln. Perjalanan lagi-lagi membosankan karena pemandangan pertanian lebih dominan. Sebenarnya kami bisa berbelok ke Catlin, melihat mercusuar kuno dan hutan lindung, tapi niat diurungkan karena kami lelah dan ingin segera pulang. Beruntung kami masih bisa melihat-lihat &lt;a href="http://www.cathedralcaves.co.nz/" target="_blank"&gt;Cathedral Caves&lt;/a&gt; yang menjulang tinggi dan beberapa di antaranya saling berhubungan. Saya sempat melihat-lihat 6 gua. Mungkin jumlah gua-nya lebih banyak tapi saya urung melanjutkan eksplorasi karena air laut yang memasuki wilayah gua sudah cukup tinggi. Pantainya mengingatkan saya dengan pantai Baron dan Kukup di Gunung Kidul. Bedanya, di sini begitu khusuk dan tidak ada penjual ikan bakar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sampai di &lt;a href="http://www.dunedinnz.com/tourism/" target="_blank"&gt;Dunedin&lt;/a&gt; lebih dari pukul 3 siang. Setelah menjemput teman di Univ of Otago dan menengok flat-nya, kami langsung makan di, lagi-lagi, restoran Turki. Meski menu yang dipesan itu-itu saja, paling tidak makanannya masih halal. Kali ini kami tidak menerima diskon. Jam 6 sore tepat, kami meninggalkan Dunedin menuju Christchurch. Perjalanan sudah tidak menarik lagi karena hari sudah gelap. Selama perjalanan, kami hanya sempat berhenti dua kali, di Oamaru untuk membeli bensin, dan di Timaru untuk membeli minuman coklat panas. Kami tiba di Christchurch pukul 11 malam tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan yang menyenangkan. Selain mendapati banyak pemandangan menakjubkan, kami juga safari kebab donner di kota-kota bagian selatan NZ. Di akhir perjalanan, kami sepakat bahwa pemandangan di sekitar Queenstown, Te Anau dan Fiordland (Milford dan Doubtful) merupakan pemandangan yang mewakili impian kami dulu (sebelum datang ke NZ) tentang alam NZ. Pemandangan di daerah ini membuat pemandangan di bagian lain South Island seperti tidak ada apa-apanya. Saya dengar Marlborough Sound juga indah, dan semoga rencana pergi ke sana bulan Agustus nanti bisa terlaksana. Sebenarnya ada satu keinginan dari perjalanan ke Queenstown yang belum terlaksana: bungee jumping. Tarif di Queenstown mahal sekali, bahkan hanya untuk melihat orang terjun bebas saja harus membayar NZD 20. Semoga di lain waktu bisa terlaksana, tentu jika harga mengijinkan :P Foto-foto lainnya bisa diklik &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/scenicroute.jpg" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/didunedin.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img height="240" alt="Sampai laporan perjalanan berikutnya" src="http://www.geocities.com/leo_ote/didunedin.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114998477328453696?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114998477328453696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114998477328453696' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114998477328453696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114998477328453696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/06/lebih-jauh-ke-selatan-bagian-2.html' title='Lebih Jauh ke Selatan--Bagian 2'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114939040677201514</id><published>2006-06-04T10:03:00.000+07:00</published><updated>2006-06-10T05:04:39.303+07:00</updated><title type='text'>Lebih Jauh ke Selatan--Bagian 1</title><content type='html'>Sudah hampir lengkap pengalaman saya berkeliling South Island (peta perjalanan bisa diklik &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/pulauselatan.jpg" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;). Seluruh bagian timur sudah saya telurusi, juga bagian tengah sampai &lt;a href="http://www.glaciercountry.co.nz/" target="_blank"&gt;Fox Glacier dan Franz Josef Glacier&lt;/a&gt;. Yang tersisa tinggal bagian Marlborough Sound (barat laut South Island) yang Insya Alloh akan saya kunjungi pada bulan Agustus, saat saya presentasi di salah satu seminar di Nelson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan April lalu, saya dan dua orang flatmate dari Turki pergi lebih jauh ke bagian tengah dan selatan South Island. Rencana keberangkatan setelah shalat Jum'at tanggal 14 April 2006 terpaksa batal karena tidak ada satu pun kamar hotel dengan tarif terjangkau yang masih tersisa. Padahal saya sudah memasak dan menyiapkan bekal. Tapi saya tidak putus asa dan tetap menelepon semua daftar budget hotel yang saya miliki. Kali ini saya yang 'mendapat tugas' mengurus itinerary: merencanakan rute perjalanan, tempat yang akan dikunjungi, mencari resto halal di setiap kota, termasuk mengatur pengeluaran dan menjadi penunjuk jalan (pembaca peta). Dua teman saya akan bergantian tugas sebagai supir:) Akhirnya, hampir pukul 16.00, saya bisa membuat reservasi hotel di Queenstown dan Te Anau (dibaca: Tee Ah-Now), serta cruise di Milford Sound. Kami pun memutuskan berangkat hari Sabtu pagi jam 8. Untuk menghabiskan waktu, sore itu kami mengajak dua teman lainnya melihat Governor's Bay di daerah Bank Peninsula, Chch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 7.45, hari Sabtu, 15 April 2006, kami berangkat menuju Queenstown. Pemandangan awalnya biasa saja, tapi segera menjadi menarik sesampainya kami di Lake Tekapo dan Lake Pukaki. Melihat &lt;a href="http://www.mtcook.org.nz/" target="_blank"&gt;Mount Cook&lt;/a&gt;, gunung tertinggi di NZ, di kejauhan seperti melihat lukisan. Foto kami di sana juga tampak seperti sedang berdiri di studio dengan latar belakang gambar gunung yang sempurna (klik &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/tekapo.jpg" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki Cromwell, suasana autum mulai terasa dengan pohon-pohon yang berubah warna. Cromwell juga terkenal dengan banyaknya winery. Kami tiba di &lt;a href="http://www.queenstown-nz.co.nz/" target="_blank"&gt;Queenstown&lt;/a&gt; hampir pukul 3 sore dan sempat terkejut senang mendapati hotel kami, meski berharga miring, begitu bersih dan memiliki pemandangan indah. Kami seperti tinggal di vila di puncak gunung. Setelah memindahkan semua barang ke kamar hotel, kami pun menyusuri Queenstown yang cantik. Sayang sekali, malam cepat datang sehingga foto-foto yang diambil sebagian besar merupakan foto menjelang malam. Foto-foto-nya tersedia &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/queenstown.jpg" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;. Malam itu, kami makan malam kebab donner, semacam roll ala Turki yang diisi irisan daging domba dan sayuran. Dua teman Turki saya begitu senang menemukan restoran Turki, serta bertemu dan mengobrol dengan orang Turki. Dan memang ini membawa keberuntungan karena kami mendapat diskon 80 persen!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, kami berangkat menuju &lt;a href="http://www.lakewanaka.co.nz/index.cfm/Home" target="_blank"&gt;Lake Wanaka&lt;/a&gt;. Kami sempat singgah di &lt;a href="http://www.arrowtown.org.nz/" target="_blank"&gt;Arrowtown&lt;/a&gt; yang cantik untuk mengambil foto &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/arrowtown.jpg" target="_blank"&gt;(klik di sini)&lt;/a&gt; pepohonan yang berwarna-warni dan mengunjungi museum mungil yang cukup menarik. Pemandanganan di Lake Wanaka tidak begitu menarik dan kami memutuskan hanya singgah sebentar untuk makan siang. Menu kali ini kebab donner lagi, di cafe Turki lagi, tapi kali ini benar-benar gratis! Luar biasa. Orang Turki kalau bertemu orang Turki lagi cenderung saling balapan mentraktir. Si empunya cafe sama sekali tidak mau terima bayaran, meski teman saya makan dua porsi dan sempat bawa pulang bungkusan pula. Saya sendiri malu kalau sudah gratis lalu makan banyak-banyak, meski merasa kalau kebab donner kali ini terasa lebih lezat dibandingkan kebab donner di Queenstown. Mungkin karena gratis :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kembali ke Queenstown, kami mampir melihat pameran pesawat perang, meski hanya dari balik pagar dan itu pun sudah diusir-usir sama penjaga karena kami menikmati atraksi pesawat tanpa bayar. Kami hanya menurut saja, toh berpuluh-puluh mobil lainnya juga melakukan hal yang sama. Siapa suruh buat pesawat besar-besar, bisa terbang dan dinikmati dari kejauhan... Kami juga sempat mampir di &lt;a href="http://www.puzzlingworld.co.nz/" target="_blank"&gt;Puzzling World&lt;/a&gt; untuk bermain &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Maze" target="_blank"&gt;maze&lt;/a&gt; serta melihat rumah miring, foto-foto antik 3 dimensi, menara miring dan roman toilet. Kami tiba di Queenstown pukul 6 sore dan lagi-lagi makan malam dengan kebab donner plus es krim buah, diskon 80 persen. Setelah itu kami segera melanjutkan perjalanan ke Te Anau. Foto-foto di Wanaka bisa diklik &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/wanaka.jpg" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke Te Anau, teman bergantian menyetir sedangkan saya tetap menjadi navigator. Kami tiba di Te Anau pukul 8.30 malam. Hotelnya lagi-lagi bagus, meski berharga miring. Kamar kami menghadap ke Lake Te Anau yang sunyi dan dingin. Malam itu kami tidur nyenyak sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114939040677201514?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114939040677201514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114939040677201514' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114939040677201514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114939040677201514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/06/lebih-jauh-ke-selatan-bagian-1.html' title='Lebih Jauh ke Selatan--Bagian 1'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114808529013963105</id><published>2006-05-20T07:21:00.000+07:00</published><updated>2006-05-20T09:29:17.680+07:00</updated><title type='text'>Kebangkitan Bangsa indomie</title><content type='html'>Sebagai pencinta mie instant, dan tanpa ada maksud untuk mengiklankan merek tertentu, saya terkadang berpikir bahwa saya terlahir dari bangsa indomie, atau awalnya supermi, lalu sekarang mie sedap. Teringat dulu, saya dan kakak begitu terpaku melihat Ira Maya Sopha yang bergaun Cinderella begitu nikmat menyantap semangkuk supermi di tv. Belum lagi &lt;em&gt;jingle&lt;/em&gt; iklan supermi yang terdengar begitu dekat dengan kami, anak-anak jaman 80-an yang gemar mengkoleksi kaset dari hampir semua penyanyi cilik dan sanggar cerita. Sejak iklan itu muncul, Ibu selalu menyediakan sekardus supermi atau mie instant lainnya di rak dapur bagian bawah, bersanding dengan gentong berisi beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa Indomie, saya memiliki banyak kebanggan sudah begitu dekat dengan mie instant. Pertama: dimana-mana, kapan saja dan untuk siapa saja, mie instant tersedia; melebihi jangkauan minuman ringan yang bermoto sama. Saat pagi hari, saat sore hari, saat hari hujan, saat hari panas, saat belajar, saat bermain, saat senang, saat susah, saat ada anggota keluarga lengkap, saat ada tamu yang datang mendadak, saat ada rejeki, saat ada bencana, di gunung-hutan dan tepi pantai, mie instant tetap tersedia. Saat pertama kali pergi ke luar negeri, saya juga tidak lupa mengisi koper saya dengan beberapa bungkus indomie, untuk berjaga-jaga jika tidak bisa memasak atau menemukan makanan halal, selain untuk mengobati rasa kangen dengan 'selera tanah air'. Mie instant sudah membuat hidup bisa sedikit tersambung kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika rasa lapar menyerang, mie instant seperti menyediakan solusi yang jitu: segera, mudah, murah, dan tentu saja meriah alias mampu menyaingi kemeriahan orkes keroncong di lambung. Untuk hal yang satu ini, saya juga boleh berbangga karena adanya mie instant membuat saya jauh dari sifat pemarah. Bandingkan dengan salah seorang teman yang sering marah-marah jika lapar, tapi gengsi makan mie instant, sehingga dia terpaksa terus menekuk muka dan mengomel selama berjam-jam memasak di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaan yang ketiga yaitu hanya mie instant, di antara sedikit produk makanan Indonesia, yang sudah merambah supermarket di berbagai negara. Di Amerika, berbagai mie instant tanah air tersedia, terutama produk Indofood dan ABC. Sekarang mungkin sudah ditambah dengan mie sedap, yang juga tersedia di NZ. Bila dulu saya mengira mie instant itu tersedia karena ada populasi masyarakat Indonesia, sekarang saya tidak heran lagi bila melihat bule menggotong sekardus indomie goreng keluar dari salah satu &lt;em&gt;Asian shop&lt;/em&gt; di Christchurch. Saya juga sudah terbiasa bila menerima email dari teman Indo yang akan datang dan bertanya: "Di sana bisa beli indomie, nggak?" atau "Di sana ada indomie, nggak?" Terus terang, saya terkadang iri melihat banyaknya produk makanan dari Thailand, Malaysia, India dan Singapore yang sudah mendunia. Bahkan merasa malu kalau membandingkan daun salam, karena daun salam dari Indonesia begitu keriput dan hitam, sedangkan daun salam produk Malaysia atau Thailand berwarna terang, datar dan tampak lebih bersih. Ini belum bicara kemasan. Hanya mie instant yang bisa bersaing dari mutu dan kemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga bangga sudah menjadi bagian dari bangsa indomie karena teman-teman saya, mulai dari belajar di rumah, sampai kuliah jauh dari orang tua, dan sampai bekerja pun masih berhubungan dengan yang namanya mie instant. Berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus teman se-angkatan, serta kakak dan adik angkatan sudah menggantungkan hidup di berbagai perusahaan mie instant di seluruh penjuru tanah air. Beberapa di antaranya bahkan sudah merintis jalan menjadi konglomerat lokal dengan memproduksi mie instant lokal, atau merintis jaringan usaha mulai mie sampai bakso. Ini belum termasuk para pekerja, distributor dan pemilik warung-warung mie rebus yang berhasil mengirimkan anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi, yang kemudian kembali mengkonsumsi mie instant dan bekerja di perusahaan mie instant. Semua seperti membentuk siklus, rantai yang bergulung--meski sedikit keriting, sambung-menyambung menjadi satu, itulah indomie, itulah mie instant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terkadang, saya juga khawatir sudah menjadi bangsa indomie. Dari segi kesehatan, terlalu banyak mengkonsumsi MSG, seperti yang terkandung dalam bumbu mie instant, bisa mengikis dinding lambung. Dari segi kebiasaan, konsumsi yang berlebihan akan menimbulkan ketergantungan; sesuatu yang kurang baik, terutama bagi wanita karena bisa membuat kreativitas memasak jadi terbatas ;-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga khawatir kalau mie instant sudah terkontaminasi dengan bumbu-bumbu politik. Atau sebaliknya yang terjadi? Politik yang sudah terkontaminasi dengan bumbu-bumbu mie instant, atau tepatnya terkontaminasi dengan segala sesuatu yang instant. Ada yang pernah bilang bahwa negara akan baik-baik saja jika tidak ada perut yang lapar. Tapi ini bukan berarti jika mie instant bisa menyediakan solusi yang praktis dan cepat untuk mengatasi rasa lapar, maka kebijakan yang instant juga bisa menyediakan solusi yang praktis dan cepat untuk mengatasi... rasa lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada kekhawatiran yang jauh lebih berat. Sebagai bangsa indomie, mungkin orang-orangnya memiliki mental instant. Mental pun diatur oleh kromosom instant; atau mungkin juga akibat pergaulan dan lingkungan. Hal ini terasa jelas bila membaca koran dan mendapati banyak orang yang bersikap aji mumpung, berpikir pendek dan hanya mencari sensasi; berpikiran dan berharap sesuatu yang instant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya secara pribadi juga sering menganggap bahwa reformasi yang dimulai beberapa tahun lalu masih bersifat instant. Hanya bisa mengungkapkan koreksi, namun masih enggan berjalan bersama untuk merunut satu-per satu apa yang ingin dikoreksi. Banyak yang masih bersifat pasif dalam bertindak, namun aktif dalam berbicara; meluangkan lebih banyak waktu untuk berdebat dibandingkan bertindak. Banyak yang lebih suka melihat ke belakang, dibandingkan melihat ke depan; padahal sering melihat kebelakang belum tentu bisa bersikap hati-hati, karena lebih banyak hal tak terduga ada di depan. Banyak juga yang berharap bahwa orang lain bisa melakukan untuk mereka, dan menginginkan hasil yang segera, mudah, murah, dan meriah alias instant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri, sebagai bangsa indomie, sadar bahwa saya memiliki sedikit sifat "instant" bawaan di salah satu gen saya. Juga sadar bahwa saya sudah terkontaminasi oleh pergaulan dan lingkungan. Tapi saya ingin kembali menjadi bangsa indomie yang seperti sebungkus indomie yang baru saya beli kemarin. Kemasannya berwarna cerah, mengkilap dan tertutup rapat. Tanggal kadaluarsanya jelas tertera, juga kandungan gizi dan prosedur penyiapannya. Semua tertata dengan baik. Bila bungkusnya baik, saya tentu ingin isinya juga baik, sesuai dengan apa yang tertera di bungkus. Setelah dimasak dan disantap, saya tentu ingin mendapatkan kesan yang tidak hanya berupa rasa kenyang, tapi juga keterikatan yang membuat saya ingin mencoba lagi di lain kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah bangsa indomie yang saya inginkan untuk kembali. Bangsa yang tidak hanya bagus di kemasannya, atau bagus di isinya--karena bagus isi tidak akan pernah terlihat jika bungkusnya tidak menarik. Perlu ada suatu kesatuan yang utuh. Apa yang diamanatkan pada bungkus, bisa terlaksana lewat isi. Selain itu tanggal kadaluarsanya jelas, tidak mengawang-awang atau bermimpi di siang bolong, realistis. Jika sudah kadaluarsa, jangan dipakai, jangan dilihat lagi, saatnya dibuang karena barang kadaluarsa tidak baik untuk kesehatan bangsa di masa mendatang. Kalaupun isinya bisa memberi rasa nikmat dan kenyang sesaat setelah disantap, adalah manfaat/dampak jangka panjangnya yang lebih dibutuhkan sehingga lebih banyak mie yang bisa dikonsumsi. Dan bila bangsa ini sudah kehabisan indomie, masih banyak pilihan untuk menjadi bangsa mie instant lainnya. Misalnya bangsa supermi yang mungkin menunjukkan bangsa yang super/kompetitif serta, tentu saja, tetap kenyal dan fleksible (kerinting dan bisa lurus setelah dimasak) dalam menghadapi tantangan di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk saat ini, saya hanya bisa berharap menjadi bagian dari bangsa indomie yang teruji luar dan dalam...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114808529013963105?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114808529013963105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114808529013963105' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114808529013963105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114808529013963105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/05/kebangkitan-bangsa-indomie.html' title='Kebangkitan Bangsa indomie'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114763843542085565</id><published>2006-05-15T03:24:00.000+07:00</published><updated>2006-05-15T03:38:40.343+07:00</updated><title type='text'>Miauw</title><content type='html'>Begitulah rayuan lirih si ginger cat, yang sekarang dinamai teman Turki "BB" (blondie bride). Kucing ini dicurigai sebagai peninggalan keluarga dari Malaysia yang tidak membawanya pulang tahun lalu. Dia bersama "George", kucing abu-abu, sering berkeliaran di komplek flat hanya untuk mendapat &lt;em&gt;snack&lt;/em&gt; dari para penghuni flat. Jadi tidak heran kalau mereka berdua gemuk sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Desember tahun lalu, BB tiba-tiba menghilang, hanya George saja yang masih tampak berkeliaran, ditambah seekor landak yang sering berlagak kaku kalau kepergok. Penghuni flat mengira BB dibawa pergi pemiliknya atau melahirkan. Tapi pada awal bulan Maret lalu, BB kembali berkeliaran dari satu jendela flat ke jendela flat yang lain, mengemis makanan. Dia tampak begitu kurus dan hanya kelebatan bulunya saja yang masih membuat dia dikenali para penghuni flat. Semua mengira dia sudah ditinggalkan pemiliknya karena sudah tidak terlihat lagi kalung di lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman satu flat dari China kasihan melihat dia dan mengadopsi dia secara diam-diam karena sebenarnya dilarang memelihara hewan di dalam flat. BB diberi kalung berwarna merah-putih sebagai tanda bahwa dia ada yang memelihara. Teman saya ini sayang sekali sama BB sampai membelikan mainan khusus agar BB dapat latihan menggaruk dan membelikan makanan pabrikan. Pernah suatu kali sepulang dari belanja mingguan, kami menemukan BB sedang dikejar-kejar oleh teman saya yang membawa &lt;em&gt;hair dryer&lt;/em&gt;. Ternyata BB yang tidak suka air baru saja dimandikan dan hendak dikeringkan.  Setiap kali ada pemeriksaan, semua mangkuk dan boks makanan kucing disembunyikan di kamarnya, dan BB juga dengan tenang hanya diam di kamar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, tidak semua penghuni flat suka ada kucing berdiam di dalam flat. Tapi suara "miauw" ditambah pandangan mata bulat tanpa dosa dan kibasan ekor yang bergerak lembut sudah membuat teman yang suka mengusir BB sekarang malah sering memperhatikan BB. Terkadang kami membuat BB bingung, sehingga mata dan kepalanya terus bergerak mengikuti gerakan-gerakan tangan kami; suatu yang menjadi hiburan bagi kami. Selain itu, BB cukup terlatih. Jika perlu buang air, BB akan segera menghampiri pintu depan dan mengeong, minta dibukakan sehingga dia bisa buang air di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu saja yang kami kurang suka yaitu BB suka bermimik judes dan menunjukkan bahwa kucing memang hewan &lt;em&gt;snobbish&lt;/em&gt;, hanya mendekat bila ada perlu. Sekarang BB juga cenderung memilih-milih makanan. Dulu makanan sisa tidak diindahkan bila ada makanan dari boks; tapi sekarang, makanan sisa malah dilahap dan makanan boks dibiarkan. Tapi mungkin kucing juga punya rasa bosan. Kalau di tanah air, kucing bisa makan apa saja yang diberi; bahkan kucing tetangga suka sekali pisang goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melihat episode serial &lt;a href="http://www.nbc.com/Medium/" target="_blank"&gt;"Medium"&lt;/a&gt;, saya baru tahu kalau kondisi anjing yang berumur 12 tahun itu sama dengan manusia yang berumur 84 tahun. Sempat terpikir, apakah BB ditinggalkan pemiliknya karena sudah tua? Juga jadi teringat anjing pembimbing saya di Ithaca, yang begitu penurut dan disiplin. Anjing itu mantan juara se-negara bagian, tapi langsung dijual pemiliknya karena sudah tua dan tidak juara lagi. Beruntung dia masih mendapatkan tuan baru yang baik hati. Saya tidak berani membayangkan bila hal seperti ini terjadi untuk manusia. Sudah berjasa, lalu suatu saat disia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu sampai kapan BB akan tetap berada di flat kami. Mungkin teman dari China masih tetap akan rajin memelihara BB. Mungkin juga dia akan dititipkan kepada &lt;em&gt;Cleaning Lady&lt;/em&gt; yang sampai saat ini sudah mengkoleksi 10 kucing. Atau akan diserahkan ke lembaga yang menampung hewan-hewan yang terlantar. Tapi pilihan yang terakhir biasanya punya resiko karena bila BB memiliki masalah seperti penyakit, dia akan "ditidurkan" untuk jangka waktu selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan yang sudah lama dipelihara akan sulit untuk mandiri bila ditinggalkan. Naluri bertahan hidup tanpa sokongan sudah sangat minim. Untung BB masih bisa bertahan, meski sempat menghilang 3 bulan. Sekarang BB sudah menjadi penghuni kelima di flat kami; dan di musim yang sudah semakin dingin ini, paling tidak dia masih punya tempat berteduh. Purrr...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/BBlagijudes.txt" target="_blank"&gt;&lt;img height="240" alt="BB dengan tampang judes" src="http://www.geocities.com/leo_ote/BBlagijudes.txt" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114763843542085565?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114763843542085565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114763843542085565' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114763843542085565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114763843542085565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/05/miauw.html' title='Miauw'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114703228971384821</id><published>2006-05-08T02:53:00.000+07:00</published><updated>2006-05-11T03:50:38.916+07:00</updated><title type='text'>Masakan Rumah Versus Jajan</title><content type='html'>Bila saya teringat Almarhumah Ibu, saya juga teringat masakan Beliau. Tidak saja masakannya, tapi juga bagaimana Beliau memperkenalkan saya dengan nikmatnya bekerja di dapur. Jika saja dulu Ibu membiarkan saya hanya sibuk belajar, saya mungkin tidak akan pernah kenal dengan periuk nasi (ya, periuk, karena dulu kami suka makan nasi liwet), cobek dan wajan. Selalu saja ada panggilan untuk minta bantuan mengambil bahan makanan, membeli bumbu di warung, atau mencuci perangkat memasak. Beliau selalu berpesan bahwa tidak ada pantangan bagi laki-laki untuk masuk dapur dan memasak karena kalau nanti punya keluarga, pasti sewaktu-waktu dibutuhkan. Jadilah saya ikut bereksperimentasi di dapur. Dampaknya terasa sampai sekarang: saya kurang suka jajan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak SD sampai SMA, jika sedang di rumah dan rasa lapar menyerang, terkadang saya dan kakak tidak perlu menunggu lama untuk langsung membongkar lemari, mencari apa saja yang bisa dimasak. Bisa jadi di sela-sela belajar malam hari, kami berhenti hanya untuk membuat nasi goreng, mie goreng atau makanan gorengan. Dan Ibu tidak pernah lupa meninggalkan bahan-bahan makanan siap masak di lemari, baik itu pisang, singkong, ubi, terigu, gula merah, kacang hijau, ketan hitam, kelapa, bumbu, dll. Selalu ada yang bisa diolah, meski jumlahnya terkadang sedikit dan tidak cukup untuk membuat satu resep lengkap. Hasilnya? Masih bisa membuat kami lebih memilih makan di rumah dibandingkan jajan. Dan ini yang membuat saya hampir tidak punya tempat favorit untuk makan di luar. Kalaupun jajan, biasanya kami membeli lotek di tetangga, bakso malang Mas Combat (si penjual selalu pakai topi serdadu) atau bakso yamin Mang Wawan yang lewat di depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat harus pindah kota untuk sekolah, saya terpaksa membeli makanan di warung. Saya suka sekali sarapan nasi, sayur tahu buncis dan tumis caisim. Tempe goreng juga tidak pernah ketinggalan. Kalau makan siang atau malam, menunya standar; perbedaannya cuma sering kehabisan jika tidak cepat-cepat beli makanan di warung yang rasa makanannya lebih enak. Selama kuliah yang sering teringat adalah masakan Ibu di rumah. Kalau pulang kampung, biasanya Ibu langsung menyiapkan sop sayuran dan sosis yang berwarna-warni, favorit saya. Tapi jajan makanan di luar tidak berlangsung lama karena saya pindah bergabung di kost yang memiliki juru masak. Meski makan di rumah, kami anak kost kadang-kadang membeli sop kambing/sapi dan sate langganan yang terletak di depan kampus Taman Kencana, terutama bila ada acara khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kembali bekerja setelah sekolah, saya kost di Rawamangun dan, tentu saja, makan di luar. Kali ini saya punya favorit yaitu warung nasi di komplek angkatan laut Rawamangun. Warungnya sempit tapi jenis makanannya begitu beragam dan sayurnya selalu berbeda antara pagi, siang dan malam. Makanan di warung ini mengingatkan akan makanan rumah; dan memang saat itu sudah tidak ada lagi masakan Ibu yang bisa dirindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar warung nasi ini, juga terdapat warung tenda yang menjual nasi goreng yang enak, meski selama tiga minggu pertama saya harus berurusan dengan dokter akibat nasi goreng ini. Satu yang kurang sreg dari warung ini yaitu banyaknya pembeli membuat penjual terkadang lupa siapa yang pesan lebih dahulu. Di seberang warung nasi goreng ini, ada warung pecel Madiun. Porsinya memang mungil, tapi rasanya enak. Pernah saat 2 minggu menjelang lebaran, semua warung yang saya sukai tutup. Saya pun terpaksa membeli makanan di warung tegal. Makanannya masih kalah dibandingkan warung favorit saya. Yang saya heran, mengapa banyak warung tegal yang bercat hijau? Apakah mungkin ini semacam &lt;em&gt;franchise&lt;/em&gt; atau pembawa 'hoki'?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat bulan kemudian, saya pindah, mengontrak satu rumah dan memasak sendiri; terkadang dibantu bibi. Namun karena sebagian besar hari dihabiskan di jalan, koleksi warung-warung favorit juga bertambah. Tidak semua bisa disebutkan satu per satu. Beberapa di antaranya yaitu warung nasi goreng, ayam bakar, sop kambing dan nasi padang di Pondok Cabe. Tidak ada namanya. Di sana juga ada warung mie goreng Purworejo dan Aceh yang &lt;em&gt;yummy&lt;/em&gt;. Berbagai warung di depan makam pahlawan Kalibata juga enak; tapi waktu pulang tahun lalu, sebagian besar sudah menghilang. Makanan di sekitar Mesjid Sunda Kelapa juga enak, terutama es doger, ikan bawal bakar, capcay dan bakso di kafe kecil di pojok, dan nasi rames yang hanya berisi nasi hangat-ikan teri kacang-dan tempe tepung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu warung favorit lain, sayang sekali, sudah menghilang: warung nasi di bawah Matahari Dept. Store di Arion Plaza yang terbakar tengah tahun lalu. Biasanya di tempat itu saya makan siang jika lelah berkeliling Blok M. Selalu ke sana karena makanannya adalah makanan rumah. Menu favorit yaitu empal atau ayam bakar, tempe tepung dan sayur daun singkong. Setiap memesan, sang pelayan selalu bertanya: sambal boleh, Mas? Saya hanya mengangguk dan segera melahap semuanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang di NZ, saya hanya bisa mengenang semua tempat-tempat favorit ini. Jika suatu saat pulang, belum tentu semuanya ada. Sekarang saya hanya memperkaya diri dengan masakan rumah. Masak sendiri, membuat saya tidak banyak jajan, sekaligus melanjutkan tradisi yang dulu diamanatkan Ibu: hidup hemat; masak sendiri; kalau masak sendiri, makan bisa lebih puas. Alhamdulillah, 95 persen hasil masakan saya masih terasa enak, dan bahkan bisa dibagi-bagi. Lima persen-nya biasanya karena saya sedang tidak &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt; masak ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/masakansidoel.txt" target="_blank"&gt;&lt;img height="240" alt="Masakan si Doel" src="http://www.geocities.com/leo_ote/masakansidoel.txt" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114703228971384821?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114703228971384821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114703228971384821' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114703228971384821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114703228971384821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/05/masakan-rumah-versus-jajan.html' title='Masakan Rumah Versus Jajan'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114643989590213456</id><published>2006-05-01T06:27:00.000+07:00</published><updated>2006-05-01T10:24:08.626+07:00</updated><title type='text'>Salam, Peluk dan Cium</title><content type='html'>Ada banyak cara bisa dilakukan orang untuk menyapa atau menyambut orang lain. Berbeda bangsa, berbeda cara. Berbeda gender, berbeda cara. Berbeda waktu/situasi, berbeda cara. Melambai dan menyalami merupakan cara yang paling umum. Selain itu, memeluk/merangkul pundak juga masih lumrah. Untuk para wanita, menyapa dan menyambut dengan pelukan atau sekedar cium dan/atau tempel pipi juga biasa. Bentangan tangan yang disambung dengan pelukan erat juga biasanya menjadi ekspresi kegembiraan bertemu teman/orang yang sudah lama sekali tidak bertemu, atau sekedar sebagai ungkapan rindu. Memeluk yang disertai kata-kata hiburan, atau bersalaman dan menepuk pundak secara halus terkadang menjadi cara yang cocok untuk mengungkapkan simpati dan penghiburan untuk orang yang sedang kesusahan. Tapi terkadang, perbedaan latar belakang dan pengalaman membuat setiap sapaan dari berbagai orang menjadi suatu pengalaman unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya biasanya menyapa orang lain dengan kata-kata, anggukan kepala dan/atau berjabat tangan. Terkadang juga saya ikut tempel pipi kiri-kanan terutama bila bertemu atau hendak berpisah dengan kakak kandung, kakak angkat, serta kakak sepupu perempuan, bude dan bulek dari keluarga Bapak (tradisi di keluarga Bapak, tapi bukan tradisi di keluarga Ibu). Jika bertemu teman baik, saya juga kadang-kadang merangkul dan menepuk pundak. Tapi ini hanya berlaku kalau sang teman sama tingginya. Kalau dia lebih tinggi, ya berjabat tangan sudah cukup. Jika cara saya menyapa cukup standar, tidak demikian dengan cara orang lain menyapa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bertemu dengan teman-teman muslimah, mereka biasanya hanya menyapa saya dengan anggukan dan tangan bertangkup tanpa sentuhan, meski banyak juga di antara mereka yang menyambut uluran tangan saya dan menjabat dengan erat. Jika bertemu dengan teman-teman atau mitra dari Jepang, mereka akan membungkuk dulu lalu menjabat tangan saya. Jika bertemu dengan teman pria dari Amerika Latin, mereka biasanya menjabat tangan sambil merangkul pundak saya. Jika bertemu dengan orang India, jabatan tangan akan didahului dengan gelengan kepala sementara tangan bertangkup, lalu uluran jabat tangan, lalu tangan kembali bertangkup sambil geleng-geleng kepala (tanda gembira, menerima). Jika bertemu dengan orang Maori, selain berjabat tangan, orang-orang bisa saling menempelkan hidung dan dahi. Jika bertemu dengan teman pria dari timur tengah, saya yang menjulurkan tangan, biasanya langsung ditarik dan diajak berpeluk silang, 3 kali bergantian kanan-kiri-kanan. Namun yang paling umum, saya disapa dan disambut dengan jabat tangan, termasuk bila berada di Eropa, Amerika dan NZ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak cara sapaan dan penyambutan, ada beberapa yang tidak bisa saya lupakan. Misalnya, dulu saya punya teman kuliah bernama Sarah, orang Amerika. Dia cantik dan terkenal ramah. Jika bertemu, selain bersalaman, biasanya tangannya ikut bergerak ke sana kemari dan sering mendarat di pundak, lengan atas atau dada orang yang diajak bicara. Kalau dia sedang gembira, setiap orang bisa mendapat pelukan. Pernah suatu saat, sepulang dari &lt;em&gt;white-water rafting&lt;/em&gt; di Black River, para peserta berbincang-bincang sebentar di area parkir. Karena &lt;em&gt;rafting&lt;/em&gt; berlangsung sukses dan seru, Sarah sebagai koordinator acara tampak begitu bersemangat. Saat berpisah, kami semua dipeluk satu per satu sebagai tanda perpisahan. Yang menjadi perhatian teman-teman lain adalah saat Sarah memeluk saya. Terus terang, saya tidak biasa mendapat pelukan wanita, apalagi yang bermata biru dan cantik jelita. Saat dia memeluk saya, entah mengapa &lt;em&gt;kok&lt;/em&gt; terasa erat sekali sampai-sampai saya sulit bernafas. Teman-teman yang memperhatikan tertawa semua dan berkomentar kalau Sarah sudah memeluk saya terlalu erat sampai muka saya memerah. Kejadian ini akhirnya menjadi bahan gurauan teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Sarah, lain Gabriella. Gabriella berasal dari Mexico, bukan teman satu jurusan. Saya kenal dia karena dia sering menjadi volunteer untuk mengajak mahasiswa baru berkeliling kampus, memperkenalkan area kampus. Gabriella sangat tertarik dengan Indonesia dan selalu minta diajari bahasa Indonesia, meski hanya satu kata. Satu yang sering membuat saya malu bila bertemu dengan dia yaitu selain minta diajari satu kata baru, tangannya biasanya langsung mampir merangkul. Saya juga terkadang harus bersedia menerima pelukan dia, dimana saja, kapan saja, dan di hadapan siapa saja. Saya sudah berusaha menghindar dengan berdiri agak jauh tapi Gabriella ini cukup tinggi, besar dengan bentangan tangan yang lebar. Saya sering merasa malu dan menyesal sudah terlalu sering dipeluk Gabriella di hadapan orang banyak. Juga menyesal sekali karena sudah memberi tahu dia "&lt;em&gt;I love you&lt;/em&gt;" versi Indonesia yang menjadikan pelukannya semakin erat dan disambung kata-kata "aku cinta kamu" yang diucapkan berulang-ulang... beruntung belum ada kecupan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang kecupan, saya sekarang harus terbiasa menerima jabatan tangan yang langsung disambung pelukan dan kecupan dari teman pria bila bertemu. Tidak semua pria, tapi hanya dua teman pria dari Turki. Adalah sesuatu yang biasa bagi pria-pria di Turki untuk saling mengecup pipi, 2 kali, kanan-kiri, bila saling bertemu. Itu pertanda sambutan hangat. Semula saya merasa canggung, apalagi bila di tempat umum. Tapi yang sekarang membuat saya ingin tertawa adalah reaksi orang-orang NZ yang melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu, saat menjemput satu teman Turki yang baru pulang dari Wellington, teman Turki yang lain langsung menyambutnya dengan pelukan dan kecupan. Saya kebetulan berdiri agak jauh dan melihat orang-orang NZ begitu terkesima melihat adegan penyambutan itu, sampai beberapa dari mereka berbisik-bisik dan tersenyum penuh arti. Kedua teman Turki malah tertawa mengetahui mereka jadi bahan bergosip orang yang melihat. Mereka berkata adalah sangat aneh bagi orang Turki bila berbicara dengan teman baik tapi tanpa sentuhan di pundak atau rangkulan, karena itu menandakan kedekatan. Saya yang semula agak takut dan canggung, akhirnya berusaha toleran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis tentang rangkulan ini ternyata bisa sampai terbawa mimpi. Semalam saya mimpi menggendong dan dipeluk dua bayi kembar, sehat, gemuk, cakep dan putih yang saya akui di mimpi sebagai adik saya. Menurut primbon, mimpi menggendong bayi mungkin membawa rejeki :P; tapi bagi saya, pelukan juga biasanya menjadi salam pertemuan dengan bayi dan anak-anak. Jadi rindu memikirkan keponakan yang selalu bertanya di telepon: "Oom, kok lama nggak ke sini... Kapan ke sini?" Jadi terpikirkan juga: apakah ini pertanda akan ada keponakan baru?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114643989590213456?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114643989590213456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114643989590213456' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114643989590213456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114643989590213456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/05/salam-peluk-dan-cium.html' title='Salam, Peluk dan Cium'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114574354347200321</id><published>2006-04-23T04:59:00.000+07:00</published><updated>2006-04-23T05:08:26.106+07:00</updated><title type='text'>Jatuh Cinta Lagi</title><content type='html'>Inikah o namanya; Insan sedang jatuh cinta&lt;br /&gt;Mengapa... semua begitu indah dilihat,&lt;br /&gt;Begitu sedap dipandang; Seolah... kuingin slalu tersenyum&lt;br /&gt;Tapi a...a...ku malu...padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat saat masih SD dan mendengar kakak saya menyanyikan lagu ini dari balik kamar mandi. Syair lagu yang dulu dinyanyikan Lydia dan Imaniar ini cukup pas menggambarkan suasana jatuh cinta, meski banyak juga orang yang mengungkapkan jatuh cinta dengan cara lain, seperti pura-pura bermusuhan dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka sekali bila berada dalam suasana jatuh cinta, sekalipun bukan saya yang sedang jatuh cinta. Suasana jatuh cinta sepertinya tidak hanya dapat dirasakan oleh dua orang yang menjadi obyek jatuh cinta, tapi juga oleh orang-orang yang memperhatikannya. Suasana jadi penuh semangat, dan hanya kebaikan saja yang terlihat. Ini belum termasuk kelucuan dan keunikan yang sering menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering ikut tersenyum-senyum sendiri bila mengingat berbagai pengalaman memperhatikan orang yang sedang jatuh cinta. Teringat saat malam-malam ada orang yang memanggil-manggil dari balik pagar karena naksir dengan salah satu anak yang kost di rumah saya; tapi orang itu langsung lari terbirit-birit bila yang muncul di pintu adalah Ibu saya. Juga saat memperhatikan teman kost yang bisa menelepon berjam-jam dengan topik yang tidak berujung saat pendekatan dengan teman satu angkatan. Atau memperhatikan teman yang sebelumnya anti berdandan, tapi menjadi begitu sibuk memacak diri di depan kaca karena hari itu adalah kencan pertama. Atau memperhatikan calon kakak ipar yang dulu begitu gemar 'ronda' hilir mudik di depan rumah hanya untuk memastikan tidak ada teman pria kakak saya yang datang berkunjung. Atau mendengarkan teman flat yang bernyanyi &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2005/06/please-stop-him.html" target="_blank"&gt;lagu mandarin&lt;/a&gt; mendayu-dayu di telepon dari pagi-siang-malam karena jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuh cinta sering membuat orang mendapatkan semangat baru. Apa yang dulu dirasa tidak mungkin, menjadi tampak mungkin. Apa yang dulu dirasakan sudah berhenti, titik, menjadi koma dan berlanjut. Apa yang dulu dirasa menyakitkan, menjadi tersembuhkan. Rasa bosan dan pesimis seakan menjauh, bahkan sirna, karena jatuh cinta seperti membawa kesegaran dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ini juga yang saat ini sedang melanda teman flat saya. Sudah lama dia merasa pesimis bisa mencari pasangan hidup yang cocok setelah pertunangannya putus secara menyakitkan. Bahkan dia pernah mengatakan sulit bisa mencintai lagi. Namun semuanya bisa berubah hanya dalam hitungan minggu. Dia sekarang sedang jatuh cinta dan semangatnya kembali menggebu-gebu. Dia merasa sudah menemukan orang yang cocok dan bisa membuat nyaman. Bahkan dia sudah berniat tidak akan menunda bila mereka memang berjodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, para teman flat, gembira melihat perubahan itu; dan tentu saja ikut terhibur melihat dia mengungkapkan rasa cintanya dengan berbagai cara. Sebenarnya tidak ada yang aneh, karena teman saya ini terkenal baik dan ramah kepada semua orang. Satu saja perubahan: porsi makan dia jadi bertambah. Ternyata cinta bisa membuat orang lebih semangat menikmati makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua malam yang lalu dia meminta saran dan pendapat saya tentang perasaan jatuh cintanya. Saya agak heran mengapa dia meminta saran kepada saya, orang yang kurang berpengalaman. Tapi saya hanya menghibur bahwa rejeki itu tidak akan lari kemana-mana, termasuk jodoh. Tidak ada salahnya untuk kembali mencoba, kembali jatuh cinta, dan menjalaninya dengan senang dan rendah hati. Kalau niatnya baik, semoga terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat teman saya itu, ingin rasanya kembali merasakan jatuh cinta. Tapi saya tidak boleh serakah, karena bila yang sekarang ada saja belum habis benar, &lt;em&gt;masak&lt;/em&gt; sudah mau minta lagi. Yah setidaknya, saat-saat seperti ini masih perlu disyukuri karena saya kecipratan rasa gembira sudah jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: *&lt;em&gt;Dear Laura &amp; Craig, wishing you both every happiness on your wedding day and a lifetime of wonderful dreams come true (29th April 2006)*&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;LOVE IS IN THE AIR by John Paul Young&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love is in the air; Everywhere I look around&lt;br /&gt;Love is in the air; Every sight and every sound&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I don't know if I'm being foolish; Don't know if I'm being wise&lt;br /&gt;But it's something that I must believe in; And it's there when I look in your eyes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love is in the air; In the whisper of the trees&lt;br /&gt;Love is in the air; In the thunder of the sea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I don't know if I'm just dreaming; Don't know if I feel sane&lt;br /&gt;But it's something that I must believe in; And it's there when you call out my name&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Chorus)&lt;br /&gt;Love is in the air; Love is in the air&lt;br /&gt;Oh oh oh; Oh oh oh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love is in the air; In the rising of the sun&lt;br /&gt;Love is in the air; When the day is nearly done&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I don't know if you're an illusion; Don't know if I see it true&lt;br /&gt;But you're something that I must believe in; And you're there when I reach out for you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love is in the air; Every sight and every sound&lt;br /&gt;And I don't know if I'm being foolish; Don't know if I'm being wise&lt;br /&gt;But it's something that I must believe in; And it's there when I look in your eyes &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114574354347200321?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114574354347200321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114574354347200321' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114574354347200321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114574354347200321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/04/jatuh-cinta-lagi.html' title='Jatuh Cinta Lagi'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114444407152432430</id><published>2006-04-08T00:05:00.000+07:00</published><updated>2006-04-08T04:19:23.793+07:00</updated><title type='text'>No. 2</title><content type='html'>Ini bukan cerita mengenai film terbaru NZ yang berjudul sama. Juga bukan cerita &lt;em&gt;kangen-kangenan&lt;/em&gt; dengan salah satu partai politik jaman orde baru. Ini hanya sekedar cerita mengenai pengalaman saya sebagai orang nomor dua atau yang banyak mendapatkan kesempatan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya meromantisasi catatan-catatan hidup saya, ternyata banyak sekali pengalaman hidup saya yang berhubungan dengan "No. 2". Saya sering berada dalam posisi dan mendapatkan segala sesuatu nomor dua, pada kesempatan kedua. Meski demikian, semuanya tetap menyenangkan atau, paling tidak, masih bisa memberi hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lahir sebagai anak kedua dari dua bersaudara. Bungsu, karena calon adik saya masih disayang Sang Pencipta dan saya mendapat kesempatan (kedua) menjadi anak bungsu. Sebagai anak kedua, saya sudah berperan sesuai dengan porsi saya di dalam keluarga. Ibu dan kakak menjadi dua sosok yang berperan dalam mengambil keputusan, serta dalam kegiatan sosial. Saya lebih banyak mengamati, menurut dan mengerjakan. Namun berada dalam posisi kedua membuat saya lebih dipercaya dan sering dimintai saran, termasuk menjadi penengah. Hal ini membuat saya merasa berharga dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa berharga sudah menjadi nomor dua juga saya alami saat bersekolah. Saya melamar di sekolah terbaik hanya bermodal hasil ujian masuk. Saya termasuk yang menerima &lt;em&gt;cross-subsidy&lt;/em&gt; dari siswa lain sehingga dari segi materi saya sering dipandang sebagai nomor dua. Meski berstatus nomor dua, saya masih bisa berlomba memperebutkan nomor satu di kelas, dan hal ini membawa rejeki. Satu kabar baik datang ke rumah: saya dipilih untuk ikut seleksi pelajar berprestasi. Saya heran karena banyak teman lain yang lebih pandai. Tapi saat itu sekolah ingin menjadi nomor satu, dan satu-satunya cara yaitu dengan menyodorkan saya, yang golongan minoritas, si nomor dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberuntungan nomor dua juga saya alami saat acara tahunan di sekolah. Di acara ini, setiap kelas menampilkan kebolehannya. Teman sekelas biasanya menampilkan operet atau tarian, tapi saya tidak pernah terpilih. Saya biasanya hanya ikut paduan suara yang praktis tidak mengeluarkan biaya. Suatu saat, Ibu memberi saya sedikit uang sehingga saya bisa latihan band. Kesempatan yang tidak disia-siakan. Saya mengumpulkan teman-teman terdekat, menentukan lagu, bahkan merancang kostum anggota band pria. Saat gladi resik, kami dinilai cocok untuk ditampilkan sebelum istirahat hari pertama, alias menjadi band nomor dua karena band utama tampil sebagai penutup. Namun, menjadi nomor dua menjadikan kami bisa tampil optimal dan sambutan yang kami terima lebih seru. Pada hari kedua, panitia menempatkan kami sebagai band penutup. Sungguh membanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak pengalaman "No. 2" lain yang memberi hikmah yang berujung pada kebahagiaan. Misalnya, saya begitu kecewa sudah ditolak menjadi anggota paduan suara kampus. Namun penolakan itu justru mempertemukan saya dengan teman-teman yang membawa saya lebih sering tampil di berbagai acara kampus, lewat &lt;em&gt;vocal group&lt;/em&gt;, band dan &lt;em&gt;a capella&lt;/em&gt;. Saat lain, saya ingin mendapat pekerjaan yang membuat saya bahagia. Tapi selepas lulus, saya hanya mendapatkan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Yang saya tahu kemudian, dari pekerjaan itu saya justru mendapat kesempatan untuk meraih pekerjaan kedua yang lebih mapan sekaligus sekolah ke luar negeri. Pengalaman dengan "No. 2" juga terjadi setelah kembali ke tanah air, seperti saya baru menemukan tempat tinggal yang nyaman pada kesemptaan kedua. Saya juga perlu dua kali kesempatan untuk menemukan pasangan yang cocok. Semua pengalaman ini seperti menunjukkan bahwa kesempatan kedua sering memberi bayaran yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dipikir ulang, keberadaan dan pengalaman saya di NZ juga banyak berkaitan dengan kesempatan kedua. Saya pernah mengusahakan untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Meski sudah diterima di dua universitas, saya terpaksa mengurungkan keberangkatan karena banyaknya rintangan. Justru pada kesempatan kedua melamar beasiswa dan di negara yang sebelumnya saya pandang sebagai pilihan kedua, saya berhasil berangkat. Tiba di NZ, saya masih harus menunggu kesempatan kedua untuk mendapatkan flat saya yang sekarang. Saya juga harus menunggu sampai pada tahun kedua untuk bisa mendapatkan teman flat yang cocok. Mobil yang sekarang saya pakai juga merupakan mobil kedua yang saya pernah beli di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka dua atau kesempatan kedua mungkin cukup keramat untuk hidup saya, tapi rasanya bukan ini pelajaran yang perlu saya pahami. Hidup seringkali tidak mudah jika banyak hal menyebabkan saya harus menunggu pada posisi kedua atau kesempatan kedua. Namun jika dilihat dari sisi yang lebih optimis, posisi nomor dua merupakan posisi yang aman. Menjadi orang nomor dua bisa terasa istimewa karena biasanya mendapat kepercayaan dan pendapat bisa sangat diperhatikan. Menjadi nomor dua juga tidak memerlukan perang untuk bisa menjadi nomor satu, karena nomor dua tidaklah jauh berjarak dari nomor satu. Dipandang sebagai kelompok kedua juga bisa membuat beban dan tuntutan yang ada terasa tidak begitu berat. Yang terpenting dari semuanya adalah cara menerima dan mensyukuri posisi yang didapat, serta memanfaatkannya sehingga hasilnya bisa optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya perlu dua langkah untuk meraih apa yang sekarang saya sudah dapatkan, saya tidak menyesalinya karena saya sekarang percaya bahwa kesempatan kedua bisa memberi hasil yang sama sekali tidak buruk. No. 2 mungkin merupakan bagian dari garis hidup; namun pengalaman membuktikan bahwa saya sudah diberi ribuan kali kesempatan, tidak hanya dua, untuk dapat melihat hidup secara lebih optimis dan positif. Untuk itulah saya patut berbahagia, dan bersyukur atas rahmat hidup dan umur panjang dari Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Maybe Tomorrow by Goldenhorse&lt;br /&gt;(written by: Kirsten Morelle, Geoff Maddock and Goldenhorse)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There's a story I know&lt;br /&gt;We all leave and let go&lt;br /&gt;There is nothing to hold us&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a moment of time&lt;br /&gt;When the fruit becomes wine&lt;br /&gt;And the thought becomes the memory&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All of your sorrow; maybe tomorrow, will fade away in the air&lt;br /&gt;Trying to please me, making it easy&lt;br /&gt;It won't be there; it won't be there&lt;br /&gt;In your life; in your life&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114444407152432430?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114444407152432430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114444407152432430' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114444407152432430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114444407152432430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/04/no-2.html' title='No. 2'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114384851135109850</id><published>2006-04-01T06:41:00.000+07:00</published><updated>2006-04-01T06:43:50.126+07:00</updated><title type='text'>Selamat Ulang Tahun Sahabat</title><content type='html'>Kali pertama saya bertemu dua sahabat saya yaitu pertengahan bulan April beberapa tahun lalu. Saat itu kami mengikuti kelas bahasa yang sama. Satu sahabat saya berasal dari Singaraja, Bali; satu yang lainnya dari Jatinegara. Yang dari Bali tampak begitu rendah hati dan sabar. Yang dari Jatinegara tampak mandiri, pandai dan kompetitif. Mungkin karena kami semua lahir di bulan April, rasanya tidak dibutuhkan waktu yang lama agar kami menjadi lebih dekat, meski sifat-sifat kami berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kali kesempatan, dua sahabat saya sering merasa tersendirikan di kelas. Mereka berdua merasa jelas menjadi minoritas dan ragu bahwa orang akan dapat menerima mereka apa adanya. Saya tahu betul bagaimana sulitnya menjadi minoritas karena saya pernah mengalaminya. Saat mereka tahu bahwa ada sedikit sejarah minoritas dalam diri saya, kami pun menjadi semakin dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sahabat saya diterima di sekolah yang sama dengan saya di Ithaca. Seperti melanjutkan persahabatan kami di tanah air, setiap hari kami saling menelepon. Apartment kami sebenarnya hanya berjarak 1 km dan kami sempat mengambil satu kelas yang sama. Kami bisa mengobrol berjam-jam di telepon, terutama jika teman saya ini ada kesusahan karena pacar-pacarnya. Sahabat saya ini begitu manis sehingga berbagai pria dari berbagai bangsa sempat jatuh hati kepadanya. Persahabatan kami terus berlanjut setelah kami lulus dan bekerja di tempat yang sama. Namun kami harus berpisah saat dia memilih menjadi ibu rumah tangga setelah melahirkan. Saya merasa salut bahwa wanita mandiri, pandai dan aktif seperti dia bisa rela mengorbankan segalanya dan bisa berbahagia dengan tantangan barunya mengurus keluarga. Terakhir saya mendengar bahwa dia sudah dikaruniai anak kedua dan berpraktek dokter gigi di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya yang dari Bali juga mendapat sekolah di Amerika, tapi di negara bagian Indiana. Kami rajin saling berkirim email. Kami juga sempat bepergian bersama teman-teman Indo lainnya ke New York City dan Washington D.C. Sayang sekali dia belum sempat mengunjungi apartment saya serta merasakan masakan saya. Setelah lulus, saya semakin dekat dengan sahabat saya itu. Kami sering meluangkan waktu untuk makan-makan sepulang kerja atau pas jam makan siang; sekaligus berbagi cerita menarik (dan gossip :P) tentang rekan-rekan satu kantor, keluarga atau perkembangan teman-teman dan guru di kelas bahasa dulu. Terkadang kami melihat berbagai pameran bersama-sama, terutama jika ada pameran kerajinan dan perumahan. Kami juga sering berangkat bersama-sama pergi ke acara pernikahan teman-teman. Kedekatan kami sudah membuat orang-orang di kantor curiga bahwa kami berpacaran. Tapi kami hanya tertawa-tawa saja bila mendengar komentar-komentar seperti itu. Dia sendiri sebenarnya sudah tahu kalau saya sudah punya pacar. Meski demikian, kami tetap bisa meluangkan waktu untuk mengobrol dan makan-makan. Obrolan kami selalu menarik. Kami saling menghargai dan berbahagia sudah bersahabat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setahun lalu, saat saya pulang kampung untuk melakukan penelitian, saya mendapat kabar bahwa sahabat saya ini mengalami gangguan di kelenjar thyroid-nya. Setelah berkonsultasi dengan berbagai dokter di Jakarta, Bandung dan Singapura, akhirnya dia memutuskan untuk menjalani operasi di Singapura. Untuk kesembuhannya, sahabat saya mengambil cuti panjang dari pekerjaannya. Mungkin karena kondisi yang masih lemah, baru-baru ini dia juga terserang typhus dan DBD sehingga harus dirawat di rumah sakit. Cuti kerja-nya diperpanjang, dan dia juga masih harus menjalani therapy di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali saya bisa menengok sahabat saya, tapi waktu belum memihak. Saya membayangkan betapa berat tantangan yang harus dihadapi sahabat saya sejak dulu hingga sekarang. Sekitar tiga tahun lalu, ayahnya mendapat serangan jantung dan sejak itu sahabat saya menjadi tumpuan keluarganya. Sekarang, dia harus berjugan melawan penyakit yang dideritanya, serta menunda banyak cita-citanya, di antaranya untuk segera menemukan tambatan hati dan melanjutkan sekolah. Namun saya percaya bahwa sahabat saya ini memiliki kepribadian yang kokoh dan pantang menyerah. Sikapnya yang selalu rendah hati, sabar dan pengertian bisa menjadi modal utamanya untuk meringankan semua beban yang sekarang ada di pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 4 April ini, sahabat saya akan berulang tahun. Selamat ulang tahun, sahabat. Semoga tahun ini menjadi tahun yang memberikan kesehatan, rejeki dan kebahagiaan untukmu. Semoga terapi terakhir di Singapura kali ini memberikan hasil yang memuaskan dan membawa kesembuhan. Juga selamat merayakan Waisak pada tanggal 13 April nanti. Semoga perayaannya membawa ketenangan, dan semoga semua harapanmu akan kehidupan dan kebahagiaan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk sahabat dari Jatinegara, meski lebih awal dari hari ultah-mu tanggal 19 April nanti. Saya berharap semoga tahun ini memberikan kebahagiaan yang melimpah untuk keluarga dan anak-anakmu. Dan jika saya pulang kampung lagi, moga-moga saya bisa mendapat jadwal periksa gigi di klinikmu yang mungil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114384851135109850?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114384851135109850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114384851135109850' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114384851135109850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114384851135109850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/04/selamat-ulang-tahun-sahabat.html' title='Selamat Ulang Tahun Sahabat'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114325182183169422</id><published>2006-03-25T08:47:00.000+07:00</published><updated>2006-03-28T11:04:23.683+07:00</updated><title type='text'>Jika Bosan</title><content type='html'>Sebenarnya banyak 'obat' tersedia jika merasa bosan di Christchurch. Setelah dua minggu menatap layar komputer mengubah posisi dan arah bentuk persegi, oval, tanda panah satu arah, panah dua arah, angka-angka dan berbagai nama variabel untuk mencari model yang pas, saya memutuskan untuk menerima tawaran menjadi model.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 19 Februari 2006, saya resmi jadi pengantin. Seusai berenang, saya bergegas menuju salon milik &lt;a href="http://penguin.blogspirit.com/" target="_blank"&gt;Mbak Anna&lt;/a&gt; yang berperan sebagai manager tim Indonesia dalam 'Global Wedding Vaganza 2006'. Tidak perlu didandani, karena saya punya cukup pengalaman memakai&lt;em&gt; jarik&lt;/em&gt; sendiri. Almarhumah Ibu saya dulu memiliki usaha sampingan menjadi perias pengantin, dan Kakak dan saya sering menjadi asisten beliau saat merias mengantin; jadi saya tahu bagaimana mengenakan baju pengantin terutama untuk pengantin pria. Meski&lt;em&gt; blangkon&lt;/em&gt;-nya terlalu sempit untuk ukuran kepala saya, dan ada dua jenis kain yang kurang untuk dikenakan di bagian pinggang, serta tanpa keris, hasilnya sudah cukup baik. Satu pasang model lainnya mengenakan pakaian pengantin basahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat acara berlangsung, saya bisa berjalan dengan rileks di &lt;em&gt;mini catwalk&lt;/em&gt; di hadapan penonton dan &lt;em&gt;jempretan&lt;/em&gt; kamera. Pengalaman yang mengasyikan. Tapi ternyata sulit juga menjadi model karena kami berjalan terlalu cepat dan mata saya sulit berkompromi saat menghadapi kamera. Lima puluh persen hasil foto, termasuk foto dari panitia, memperlihatkan saya dengan mata terpejam. Jadi model ternyata membutuhkan 'kecanggihan' bahasa tubuh dan gerak mata yang tanggap kamera. Tapi tak apalah, pengalaman menjadi model amatiran rasanya sudah cukup memuaskan dan hasilnya masuk &lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0603/02/int5.htm" target="_blank"&gt;koran&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/globalwed.txt" target="_blank"&gt;&lt;img height="240" alt="si doel jadi penganten" src="http://www.geocities.com/leo_ote/globalwed.txt" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(untuk foto yang lebih besar, klik &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/Nganten1.jpg" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jika menjadi model pengantin sudah bisa sedikit mengurangi kebosanan bergelut dengan model-model matematika di komputer, saya masih perlu 'obat' untuk rasa bosan memasak. Satu cara 'pengobatan' yaitu makan siang di Asian food court yang murah meriah. Kebetulan saat itu sedang ada tarian barongsai karena masih ramai perayaan Chinese New Year. Saya merasa terhibur meski agak takut kalau barongsai itu akan menyenggol bakso Vietnam yang sudah saya pesan. Dua barongsai ini berkeliling dari satu kedai makanan ke kedai yang lain dan menerima buah (apel dan jeruk) dan amplop merah dari para pemilik kedai. Satu yang berkesan adalah goyangan ekor barongsai yang begitu lucu, seperti goyangan ekor anjing yang sedang senang. Keesokan harinya, setelah bermain badminton, saya dan &lt;em&gt;flatmate &lt;/em&gt;pergi ke Victoria Square untuk menyaksikan Lantern Festival yang menandakan berakhirnya perayaan tahun baru Cina. Lampion-lampion indah dengan berbagai bentuk ditampilkan. Juga ada tampilan musik dan tarian, serta mini bazaar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/gongxifacai.txt" target="_blank"&gt;&lt;img height="240" alt="Chinese New Year" src="http://www.geocities.com/leo_ote/gongxifacai.txt" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bahwa bulan Januari-Maret adalah bulan-bulan terbaik untuk mengunjungi Christchurch (dan NZ pada umumnya) karena banyaknya &lt;a href="http://www.summertimes.org.nz/2006/EventsCalendar.asp" target="_blank"&gt;acara dan festival&lt;/a&gt; yang bisa dinikmati. Jika tahun ini saya hanya sempat melihat beberapa acara, tahun depan saya akan coba melihat lebih banyak. Salah satu yang baru-baru ini dilaksanakan yaitu 'Culture Galore' yang berisi tarian dan nyanyian dari berbagai budaya asal masyarakat yang tinggal di Christchurch, kedai-kedai makanan berbagai bangsa dan pameran. Anak-anak juga bisa bermain (gratis) wall climbing, mengukir batu, membuat layangan, melukis, tarik tambang, dll. Masyarakat Indonesia menampilkan tarian Jawa dan menjual makanan tradisional. Saya dan Dewi juga ikut meramaikan dengan menjual arem-arem perak berbendera merah putih dan kue lumpur (foto masih dicari :D). Arem-aremnya sengaja dibungkus aluminium foil karena daun pisang mahal sekali ;), dan meski kue lumpurnya agak kurang cantik dari segi bentuk, tapi rasanya tetap memuaskan. Stand Indonesia termasuk yang paling cepat habis, meski makanan yang dijual cukup banyak. Alhamdulilllah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/galore.txt" target="_blank"&gt;&lt;img height="240" alt="Culture Galore" src="http://www.geocities.com/leo_ote/galore.txt" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seminggu terakhir ini saya masih merasa bosan. Banyak hal harus saya lakukan, tapi semua berjalan lambat. Tapi saya masih bersyukur karena waktu saya tidak terbuang percuma. Saya masih bisa sedikit membantu teman, dan bisa makan-makan bersama merayakan kesuksesan teman menyelesaikan presentasi proposal dan menyambut kedatangan teman baru di universitas. Menu kali ini ada asem-asem udang, mie goreng, pastel, bitterballen, pecel dan es teler yang disiapkan Dewi, teman yang semakin canggih dalam memasak, ditambah masakan saya: ayam plecing dan bolu coklat-pandan-santan. Meski menurut Dewi, yang orang Lombok, ayam saya tidak begitu 'plecing' :D, tapi teman-teman masih berpendapat 'enak'. Maklumlah, karena saya sendiri sebelumnya tidak pernah tahu rasa ayam plecing itu seperti apa. Tapi kalau soal bolu, saya tidak heran bila semua suka. Maaf kali ini tidak ada foto, tapi semoga deskripsinya sudah mewakili, dan semoga tidak membuat yang membaca menjadi lapar... Semoga minggu depan, saya tidak bosan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;PS: Foto-foto diambil oleh doel, Serkan dan Ozgur&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114325182183169422?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114325182183169422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114325182183169422' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114325182183169422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114325182183169422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/03/jika-bosan.html' title='Jika Bosan'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114262953560018031</id><published>2006-03-18T03:57:00.000+07:00</published><updated>2006-03-18T04:07:33.616+07:00</updated><title type='text'>Ganti</title><content type='html'>Roger...ganti...gitu...ganti, semacam itulah pembicaraan tetangga sebelah rumah setelah memasang antena pemancar radio setinggi 10 meter dari dalam dapurnya. Setiap hari sepulang kerja, beliau langsung duduk manis dan bertukar sapa dengan teman-temannya di udara. Beberapa tetangga menjadi kesal karena sering sekali pembicaraan para anggota Orari menyela berbagai sinetron di tv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semuanya segera berganti, trend berubah. Orari tidak lagi menjadi trend. Para tetangga pun bernafas lega dan suasana sedikit lebih hening. Tapi keheningan ini ternyata tidak bertahan lama karena tetangga di depan rumah saya punya hobby baru: menyetel lagu-lagu kasidahan keras-keras. Maklum, beliau baru saja ditunjuk jadi koordinator pengajian dan setiap minggu rajin mengundang para tetangga untuk menghadiri siraman rohani. Jadilah setiap hari Minggu pukul tujuh, selepas tetangga lain konser dengan irama senam kesegaran jasmani, saya sekeluarga harus bersabar mendengarkan lagu "perdamaian, perdamaian, perdamaian, perdamaian...banyak yang cinta damai, &lt;em&gt;emmm&lt;/em&gt; ... lupa liriknya tapi lanjutannya kira-kira... bingung...bingung...memikirkan...". Sebenarnya lirik lagu itu tepat menggambarkan situasi saat itu. Tidak semua tetangga berdamai dan suka mendengarkan kasidahan keras-keras setiap hari minggu pagi, tapi semua masih cinta damai meski bingung-bingung memikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung juga bila saya memikirkan begitu cepatnya perkembangan teknologi. Setiap bulan muncul jenis handphone baru, kamera baru, dll., yang lebih canggih dan banyak &lt;em&gt;feature&lt;/em&gt;-nya. Beberapa bulan lalu juga ada orang datang untuk mengganti kulkas. Kami penghuni flat tidak pernah minta penggantian karena kulkas yang ada masih terbilang baru (2 tahun) dan ukurannya lebih besar. Tapi &lt;em&gt;landlord &lt;/em&gt;tetap ingin mengganti selagi ada penawaran cicilan murah. Kulkas lama akan dilelang. Bukankah ini membuang uang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuang uang...itulah yang saya lihat bila melihat suasana mall selalu tumpah ruah dengan orang membawa hasil belanja. Info-info diskon membuat orang begitu gesit pergi ke mall. Saya juga tertarik dengan info diskon, meski sering merasa tertipu karena diskonnya tidak seperti yang diiklankan. Tapi saya sering menasehati diri sendiri terutama saat &lt;em&gt;window shopping&lt;/em&gt; dan tiba-tiba tertarik dengan barang baru: "&lt;em&gt;Kamu tidak akan mati jika tidak beli/punya barang itu&lt;/em&gt;." Sering kali berhasil, meski kadang-kadang tetap tidak berhasil. Alasannya sering terkait dengan kebosanan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan, mungkin itu alasan orang sering berbelanja, membuang uang, berganti-ganti barang dan berganti-ganti hobby. Tapi mungkin dunia akan lebih membosankan, bila kita merasa bosan tapi tidak bisa melampiaskannya. Bosan mendorong orang untuk mencari sesuatu yang baru. Jadi lumrah saja, yang semula suka daging-sekarang suka sayur; yang dulu suka dangdut-sekarang suka &lt;em&gt;nge-rap&lt;/em&gt;; yang dulu suka beli jamu dari si mbok jamu gendong-sekarang suka beli 'jamu gendong' di spa dan cafe; juga dari KB (keluarga berencana) totok-sekarang KB millennium (Keluarga Besar, dengan tambahan anak, istri, pacar ke-1, pacar ke-2, dll). Semua berganti dalam putaran yang semakin cepat, dalam kebosanan yang semakin mendesak, dalam melimpahnya cara dan benda untuk mengganti kebosanan. Roger...roger... gitu...ganti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Bad Day&lt;br /&gt;by Daniel Powter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Where is the moment we need at the most&lt;br /&gt;You kick up the leaves and the magic is lost&lt;br /&gt;They tell me your blue skies fade to grey&lt;br /&gt;They tell me your passion's gone away&lt;br /&gt;And I don't need no carryin' on&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You stand in the line just to hit a new low&lt;br /&gt;You're faking a smile with the coffee to go&lt;br /&gt;You tell me your life's been way off line&lt;br /&gt;You're falling to pieces every time&lt;br /&gt;And I don't need no carryin' on&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cause you had a bad day&lt;br /&gt;You're taking one down&lt;br /&gt;You sing a sad song just to turn it around&lt;br /&gt;You say you don't know&lt;br /&gt;You tell me don't lie&lt;br /&gt;You work at a smile and you go for a ride&lt;br /&gt;You had a bad day&lt;br /&gt;The camera don't lie&lt;br /&gt;You're coming back down and you really don't mind&lt;br /&gt;You had a bad day&lt;br /&gt;You had a bad day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well you need a blue sky holiday&lt;br /&gt;The point is they laugh at what you say&lt;br /&gt;And I don't need no carryin' on&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You had a bad day&lt;br /&gt;You're taking one down&lt;br /&gt;You sing a sad song just to turn it around&lt;br /&gt;You say you don't know&lt;br /&gt;You tell me don't lie&lt;br /&gt;You work at a smile and you go for a ride&lt;br /&gt;You had a bad day&lt;br /&gt;The camera don't lie&lt;br /&gt;You're coming back down and you really don't mind&lt;br /&gt;You had a bad day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Oh.. Holiday..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sometimes the system goes on the blink&lt;br /&gt;And the whole thing turns out wrong&lt;br /&gt;You might not make it back and you know&lt;br /&gt;That you could be well oh that strong&lt;br /&gt;And I'm not wrong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So where is the passion when you need it the most&lt;br /&gt;Oh you and I&lt;br /&gt;You kick up the leaves and the magic is lost&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cause you had a bad day&lt;br /&gt;You're taking one down&lt;br /&gt;You sing a sad song just to turn it around&lt;br /&gt;You say you don't know&lt;br /&gt;You tell me don't lie&lt;br /&gt;You work at a smile and you go for a ride&lt;br /&gt;You had a bad day&lt;br /&gt;You've seen what you like&lt;br /&gt;And how does it feel for one more time&lt;br /&gt;You had a bad day&lt;br /&gt;You had a bad day&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114262953560018031?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114262953560018031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114262953560018031' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114262953560018031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114262953560018031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/03/ganti.html' title='Ganti'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114176100112593276</id><published>2006-03-08T02:39:00.000+07:00</published><updated>2006-03-08T02:50:01.173+07:00</updated><title type='text'>Bau</title><content type='html'>Minggu pagi kemarin merupakan kali keempat saya kembali berenang. Sudah lebih dari dua tahun saya berhenti berenang dan masih merasa canggung saat mulai menceburkan diri ke kolam. Tapi setelah beberapa saat, saya merasa betah dan bisa berenang dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya pulang berenang, saya mendapatkan 4 oleh-oleh. Pertama: perut keroncongan; kedua: mengantuk; ketiga: masih merasa mengambang di air; dan keempat: bau kaporit yang tajam masih tersisa di kulit sekalipun sudah mandi dengan sabun paling wangi. Oleh-oleh yang terakhir ini terus bertahan sampai malam, sampai akhirnya saya membuat tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dulu setiap kali kakak ipar saya pergi ke luar kota, kakak saya selalu menaruh baju yang habis dipakai suaminya di bawah bantal atau di sekitar tempat tidur keponakan saya. Menurut Ibu, hal ini dimaksudkan untuk menenangkan keponakan saya bila tidur. Sengaja dipilih baju yang habis pakai karena baunya bisa mewakili 'kehadiran' sang ayah. Bau yang bisa membuat orang yang jauh terasa dekat dan ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula saya menerima penjelasan ini sebagai suatu kebiasaan orang Jawa. Tapi dari koran dan televisi, saya semakin tahu betapa kuatnya pengaruh bebauan terhadap perilaku manusia. Saya pernah membaca bahwa sedikit bau kopi dapat meningkatkan produktivitas karyawan. Sama halnya dengan bau jeruk yang membuat suasana lebih segar dan bersemangat, atau bau vanilla yang bisa menenangkan pikiran. Ada juga artikel yang menyebutkan bahwa pria yang rajin mengunyah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Celery" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;celery&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;, akan 'berbau' lebih menarik bagi wanita. Seorang bayi dalam tahap awal kehidupannya akan mengenali ibunya tidak saja lewat sentuhan dan degup jantung, tapi juga dari bau. Sebaliknya, pria/wanita dewasa bisa mengenali anaknya dan pasangannya juga hanya dari baunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut uraian lengkap &lt;a href="http://www.sirc.org/publik/smell_human.html" target="_blank"&gt;The Smell Report&lt;/a&gt;, kemampuan manusia dalam membaui hanya 3% dari kemampuan anjing, atau bahkan 6% dari kemampuan kelinci. Kemampuan membaui terbaik dicapai pada saat anak berumur 8 tahun dan kemudian menurun. Laju penurunan kemampuan manusia dalam membaui tidak saja ditentukan umur, tapi juga kesehatan mental dan fisik. Kesehatan mental sangat penting karena terkait dengan kapasitas &lt;a href="http://www.healing-arts.org/n-r-limbic.htm" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;limbic system&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; yang ada di otak kita sebagai pengatur emosi yang sangat sensitif terhadap rangsangan bau. Kesehatan fisik yang terganggu, seperti kebiasaan merokok, juga akan mempercepat hilangnya kemampuan membaui. Di antara gender, wanita memiliki kemampuan membaui lebih baik dibandingkan pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena bau-membaui yang paling populer di antara manusia mungkin bisa diwakili ungkapan &lt;em&gt;'love is about chemistry'&lt;/em&gt;. Tapi apakah itu berarti orang bisa berjodoh karena bau? Mungkin saja bebauan alami seperti &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pheromone#Human_pheromones" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;pheromone&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; yang tidak tercium, sudah saling bertukar dan menimbulkan ketertarikan. Namun saya jarang sekali mendengar adanya pasangan yang mengakui bahwa mereka tertarik karena bau alami. Lebih sering mendengar bahwa si A tertarik dengan si B karena si B bersih dan berbau (minyak) wangi. Ya, benar. Meski survey dan penelitian membuktikan bahwa bau keringat segar pria teramat sangat menarik bagi lawan jenisnya, tapi penampilan fisik tidak bisa dikelabui. Penilaian mata lebih menentukan ketertarikan terhadap seseorang dibandingkan baunya. Tapi setampan apapun pria, jika terlalu lama mempertahankan bau alami, sampai apek karena tidak mandi dan tidak ganti baju, akan membuat penggemarnya lari kalang kabut menjauh. Jadi, pelajaran yang saya dapat: supaya tetap menarik, saya harus tetap berolah-raga, rajin mandi dan berganti baju. Boleh-lah ditambah parfum, tapi tidak boleh boros, karena bau yang terlalu wangi juga menempati posisi atas dalam daftar bebauan yang umumnya tidak disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya tersenyum-senyum sendiri karena teringat banyak pengalaman menarik dan unik mengenai bebauan. Terkadang saya tidak mengerti, mengapa saya begitu tertarik dengan bebauan. Tapi mungkin karena &lt;em&gt;limbic system&lt;/em&gt; di otak saya tidak ingin lekas uzur dan tetap ingin mengolah kenangan-kenangan manis yang timbul tenggelam lewat ingatan saya akan berbagai jenis bebauan. Seperti bebauan alami yang mengingatkan kita pada banyak hal, dan menemani kita meski hanya secara diam dan tersamar. Fenomena bau-membaui, meski merupakan fenomena purba, tapi tidak pernah ketinggalan jaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114176100112593276?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114176100112593276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114176100112593276' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114176100112593276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114176100112593276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/03/bau.html' title='Bau'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114115475739353695</id><published>2006-03-01T02:14:00.000+07:00</published><updated>2006-03-01T05:54:21.596+07:00</updated><title type='text'>Tampilan ke-100</title><content type='html'>Bulan Juni 2004, saya diperkenalkan dengan 'blog' oleh &lt;a href="http://nikiwisa.blogspot.com" target="_blank"&gt;Wisa&lt;/a&gt;. Kebetulan saat itu saya baru merencanakan perjalanan melihat-lihat Wellington. Jadilah empat tulisan pertama yang tampil di blog berkisah tentang perjalanan &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2004_06_01_nozeano_archive.html" target="_blank"&gt;Lincoln-Wellington-Lincoln&lt;/a&gt;. Saat itu saya masih menggunakan blogdrive sebelum bermigrasi ke blogspot pada bulan September 2004. Topik tulisan-tulisan saya cukup beragam, meski tidak semuanya merupakan tulisan lengkap. Oleh karena itu saya memilih judul '&lt;em&gt;Tampilan ke-100&lt;/em&gt;'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah statistiknya. Dari 99 tulisan, termasuk tulisan perjalanan ke Wellington, hanya terdapat satu yang berisi &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2004/10/only-photo.html" target="_blank"&gt;foto&lt;/a&gt; dan satu yang berisi &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2005/10/come-what-may.html" target="_blank"&gt;gambar&lt;/a&gt; berjudul tanpa uraian, serta dua tulisan yang hanya berisi ucapan. Di antara 95 tulisan lengkap, sebanyak 20 diantaranya merupakan renungan tentang pengalaman/pengamatan/perbuatan/sikap pribadi. Tulisan favorit saya dari kelompok ini yaitu '&lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2006/01/year-in-review-2005.html" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;Year in Review: 2005&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;' dan '&lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2005/12/hidup-itu-ajaib.html" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;Hidup itu Ajaib&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;'. Dua tulisan yang beriringan dan berhubungan. '&lt;em&gt;Hidup itu Ajaib&lt;/em&gt;' saya tulis di bulan Agustus 2005 dan baru saya tampilkan di bulan Desember 2005. Saya anggap tulisan ini juga 'ajaib' karena bisa menciptakan ide tulisan lanjutan yang merangkai semua niat saya untuk menulis tentang lagu-lagu baru yang saya sukai dengan pengalaman saya selama tahun 2005. Hasilnya merupakan tulisan yang terasa sangat pas dengan perasaan saya saat pergantian tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas tulisan lainnya menceritakan perjalanan saya baik di NZ maupun di tanah air. Meski pengalaman saya bepergian di NZ dipenuhi ketakjuban saya akan keindahan alam NZ, tapi pengalaman saya bertemu dengan orang-orang baru di &lt;a href="2005_08_01_nozeano_archive.html" target="_blank"&gt;Lamongan&lt;/a&gt; terasa lebih menarik. Tulisan tentang Lamongan juga terdapat &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2005/07/lamongan-penuh-kejutan.html" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2005/09/out-of-lamongan.html" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;. Ternyata keakraban berinteraksi dengan orang-orang baru di tanah air lebih berkesan dibandingkan dengan kepuasan menikmati pemandangan alam. Juga kerendahan hati orang-orang yang saya temui dan pengalaman hidup di Lamongan sudah membuat saya semakin mencintai hidup di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan tulisan berikutnya bercerita tentang pengalaman unik/baru, seperti pengalaman merasakan kehadiran &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2004/10/kebun-mangga-bagian-1.html" target="_blank"&gt;hantu&lt;/a&gt; dan melihat orang &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2004/10/kebun-mangga-2.html" target="_blank"&gt;kesurupan&lt;/a&gt;. Pengalaman-pengalaman unik lainnya sebenarnya juga saya tuangkan dalam 6 tulisan tentang kegiatan harian/mingguan saya.&lt;br /&gt;Topik-topik lain yang pernah saya tampilkan (masing-masing 5 tulisan) meliputi topik tentang kegiatan atau acara yang saya hadiri, hewan-hewan yang membuat saya takjub, dan kesehatan. &lt;a href="http://amylynda.blogspot.com" target="_blank"&gt;Beverly&lt;/a&gt; pernah berkomentar kalau saya seperti jodoh dengan burung karena beberapa tulisan saya bertema burung. Tapi dari semua tulisan saya tentang hewan, saya paling puas menulis '&lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2006/01/mengapa-burung-menabrakan-diri-ke.html" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;Mengapa Burung Menabrakan Diri ke Jendela Kamar Saya?&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;' karena saya bisa belajar banyak dengan menelusuri website ornithology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing 4 tulisan juga sudah saya tampilkan dengan topik tentang keluarga/orang terdekat, kepedulian terhadap sesama, dan hiburan/acara tv. Dari topik yang pertama, saya menyukai tulisan: '&lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2005/02/yang-saya-ingat-tentang-bapak.html" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;Yang Saya Ingat tentang Bapak&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;' dan '&lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2004/12/have-you-seen-angel.html" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;Have You Seen an Angel?&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;'. Saya masih ingat kalau dua tulisan ini saya tulis dalam waktu yang relatif singkat, dan hasilnya begitu personal. Untuk topik yang kedua, favorit saya yaitu &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2005/10/tangan-yang-di-atas.html" target="_blank"&gt;Tangan yang di Atas&lt;/a&gt;. Sementara untuk tulisan bertopik acara tv, saya belum memiliki favorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tulisan lainnya (masing-masing 3 tulisan) berkisah tentang film, kenangan masa kecil, lagu dan bayi. Topik-topik seperti ini termasuk favorit saya dan rasanya akan terus bertambah di masa mendatang. Misalnya, jika dihitung, banyak sekali tulisan saya yang disertai cuplikan syair &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2005/09/musikku.html" target="_blank"&gt;lagu&lt;/a&gt;. Sementara itu, saya sudah memiliki ide baru untuk tulisan tentang bayi dan kenangan masa kecil, tapi belum sempat dituangkan dalam tulisan lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik lainnya yang pernah saya tulis yaitu hobby (2 tulisan), resep/makanan (2 tulisan), tanaman (1 tulisan) dan olah raga (1 tulisan). Sementara itu masih ada 9 tulisan yang belum sempat saya tampilkan. Beberapa mungkin sudah kadaluarsa, tapi akan tetap ditampilkan bila saya sibuk dan tidak sempat menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya blog sudah membuat saya suka menulis. Apakah hasilnya bagus atau tidak sepertinya bukan masalah. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Just Write!&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Siapa tahu dengan terus menulis, saya bisa lebih banyak menulis seperti &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2005/02/yang-saya-ingat-tentang-bapak.html" target="_blank"&gt;ini&lt;/a&gt;, tulisan yang saya anggap paling berkesan. &lt;em&gt;Thanks&lt;/em&gt; untuk Wisa yang sudah mengajari &lt;em&gt;nge-blog&lt;/em&gt; dan membuatkan disain yang &lt;em&gt;just right!&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Thanks&lt;/em&gt; untuk teman-teman yang rajin menengok blog saya, memberi komentar dan menemani saya dalam perjalanan &lt;em&gt;through middle&lt;/em&gt; &lt;em&gt;earth. Cheers&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114115475739353695?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114115475739353695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114115475739353695' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114115475739353695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114115475739353695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/03/tampilan-ke-100.html' title='Tampilan ke-100'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-114046507104067617</id><published>2006-02-21T02:40:00.000+07:00</published><updated>2006-02-21T05:58:55.226+07:00</updated><title type='text'>Five Weird Things About Me</title><content type='html'>&lt;a href="http://penguin.blogspirit.com/" target="_blank"&gt;Mbak Anna&lt;/a&gt;, ini jawabannya. &lt;em&gt;Thanks&lt;/em&gt; sudah 'disambit' &lt;em&gt;tag&lt;/em&gt; karena jadi ingat kalau diri ini memang punya keanehan. Langsung saja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kedua orang tua saya berasal dari Jawa Tengah, dan saya lahir di Bandung. Meski demikian, saya tidak berani mengaku kalau saya orang Jawa atau Sunda karena saya tidak bisa berbahasa Jawa atau Sunda. Saya berbahasa Jawa lancar terakhir kelas 6 SD, dan tidak pernah bisa lancar berbahasa Sunda. Saya paling menderita saat pelajaran atau mendapat pekerjaan rumah bahasa Sunda saat SD. Kemampuan berbahasa daerah pun berkurang karena saya bersekolah di SMP dan SMA yang tidak ada pelajaran bahasa daerah. Tapi meski begitu, saya masih bisa mengerti 80 persen bahasa Jawa dan Sunda (dialek umum). Cuma kalau mengucapkan, bisa menimba ejekan dan tertawaan :(. Kalau sudah begini, lebih baik mengaku orang Bandung saja, atau orang Indo karena nama saya Indo &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt;, maksudnya campuran serasi antara nama Jawa dan Italia yang sama-sama berakhiran 'o'. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sebagai urang Bandung, tentu saya suka sekali lalaban, segala macam sayuran, yang dimasak atau mentah. Hanya ada 3 pantangan saja: tidak mau makan petai (matang dan mentah), kunyit mentah dan jengkol mentah. Jadi kalau saya diundang makan di restoran, saya tidak hanya menghabiskan sayuran dan lalaban, tapi juga irisan tomat, wortel, selada, timun yang menjadi hiasan ayam, berbagai &lt;em&gt;seafood&lt;/em&gt;, daging dll. Mata saya selalu melirik dan menunggu saat yang tepat untuk menghabiskan hiasan-hiasan itu sampai ludes. Sayang sekali kalau harus membuang makanan. Dengan hobi seperti ini, saya sering merasa gemas melihat para peserta &lt;em&gt;reality show&lt;/em&gt; &lt;a href="www.cbs.com/primetime/survivor/" target="_blank"&gt;Survivor&lt;/a&gt; yang kehabisan akal mau makan apa di pulau terpencil, padahal di sekelilingnya banyak dedaunan... :P. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Saya sering menganggap orang lain &lt;strong&gt;selalu&lt;/strong&gt; lebih dewasa dibandingkan saya (kecuali anak-anak dan orang yang 20 tahun lebih muda) . Saya merasa lebih muda dibandingkan para remaja yang sudah menjadi bintang film dan iklan. Mereka terlihat begitu dewasa sehingga saya ingin memanggil mereka Kakak, Bang, Mbak, Teteh, Oom dan Tante. Mungkin ini karena orang selalu bermurah hati untuk menebak umur saya jauh lebih muda dari yang sebenarnya, atau karena otak saya selalu menggaungkan propaganda "&lt;em&gt;percayalah, kamu masih muda&lt;/em&gt;"... Karena selalu merasa masih muda (awal 20-an :-P), saya tidak malu untuk kursus ini itu, bersaing dengan yang muda-muda. Tidak pernah ada kata terlambat untuk mencoba hal baru. Jadi, rasanya saya belum pantas untuk dipanggil 'Pak'. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Saya sering menganggap orang lain akan selalu berbuat baik terhadap saya. Jadi bila ada orang yang menipu atau berbuat jahat terhadap saya, paling-paling saya cuma melongo, sedih sebentar, berkeluh-kesah sedikit, dan bisa tersenyum lagi dalam beberapa menit kemudian. Seperti ada kunci untuk &lt;em&gt;meng-nol-kan&lt;/em&gt; kepala dan hati untuk tidak mendendam. Malah terkadang saya yang ditipu justru merasa bersalah. &lt;em&gt;Lha&lt;/em&gt; sudah ditipu orang lain &lt;em&gt;kok&lt;/em&gt; malah merasa bersalah... Mungkin seharusnya saya bisa lebih galak, garang, tinggi, dan berambut gondrong (seperti harapan Mbak Lili... Maaf ya Mbak sudah membuat sedikit kecewa, terutama dengan rambut-nya :-P). &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Saya bisa bangun, beraktivitas, tidur dan seterusnya dalam ritme dan jadwal yang sama, seperti mesin atau robot. Untuk yang satu ini, silakan baca tulisan saya &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2004/09/trilogy-me.html" target="_blank"&gt;sebelumnya&lt;/a&gt;. Sebagai tambahan, saya suka mengembalikan apa yang saya ambil (buku, kursi, peralatan masak, dll) pada tempat dan posisi yang sama. Saya sering memiliki 'potret' di kepala mengenai tata letak barang-barang dalam suatu ruangan, sehingga saya tahu jika ada orang yang sudah datang atau beraktivitas di ruangan itu. Sebenarnya, ada untungnya bisa memiliki ingatan seperti ini. Jika ujian, saya bisa dengan memudah mengingat kutipan/hafalan tertentu di halaman tertentu. Juga dalam menghafal peta dan jalan. Selain itu, saya bisa mudah menghapus jejak jika membuat kesalahan ;-).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sebenarnya saya memiliki, mungkin, ribuan kebiasaan aneh lainnya. Saya sengaja simpan keanehan saya yang lain, terutama untuk orang yang ingin mengenal saya secara lebih dekat. Jadi ingat lagu Sherina: Lihat sgala-nya... lebih dekat... Semua keanehan yang saya miliki sudah membuat hanya ada satu 'saya' di dunia. Kalau ada dua, berarti kembar :-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambitan berikutnya: masih pikir-pikir siapa yang saya ingin tahu keanehannya... besok saja &lt;em&gt;deh&lt;/em&gt; diputuskan... :).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-114046507104067617?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/114046507104067617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=114046507104067617' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114046507104067617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/114046507104067617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/02/five-weird-things-about-me_21.html' title='Five Weird Things About Me'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-113971316035902199</id><published>2006-02-12T09:47:00.000+07:00</published><updated>2006-02-13T02:54:42.740+07:00</updated><title type='text'>Christchurch-Dunedin-Christchurch</title><content type='html'>Selasa, 31 January 2006, pukul 07.45 pagi. Saya berangkat mengantarkan teman untuk pindah sekolah ke &lt;a href="http://www.otago.ac.nz" target="_blank"&gt;University of Otago&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://www.dunedinnz.com" target="_blank"&gt;Dunedin&lt;/a&gt;. Satu &lt;em&gt;flatmate&lt;/em&gt; saya juga ikut. Dia memutuskan untuk membolos agar bisa bergantian menyetir bila saya merasa lelah selama perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberangkatan kami diiringi kabut pagi yang cukup tebal, yang baru hilang setelah sekitar 1.5 jam perjalanan. Dunedin terletak &lt;a href="http://www.backpack-newzealand.com/mapofsouthisland.html" target="_blank"&gt;362 Km&lt;/a&gt; dari &lt;a href="http://www.christchurchnz.net/" target="_blank"&gt;Christchurch&lt;/a&gt; dan dapat ditempuh selama 5 jam. Dalam perjalanan dari Christchurch ke Dunedin, kami melewati beberapa kota kecil seperti &lt;a href="http://www.ashburtontourism.co.nz/" target="_blank"&gt;Ashburton&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.timaru.govt.nz/" target="_blank"&gt;Timaru&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.oamaru.org/" target="_blank"&gt;Oamaru&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan, beberapa pengendara mobil yang berlawanan arah berbaik hati untuk mengedipkan lampu sebagai tanda bahwa mereka baru saja melewati patroli polisi. Dengan demikian, saya bisa mengurangi kecepatan dan tetap lancar melewati patroli polisi. Kecepatan maksimum rata-rata di NZ highway adalah 100 Km/jam. Tapi beberapa mobil tetap saja mengebut dan ditilang. Saya sendiri berusaha sesuai aturan, meski beberapa kali mobil saya secara otomatis '&lt;em&gt;complain&lt;/em&gt;' dengan alarm berbunyi katak mengorek jika kecepatan mobil saya melebihi 100 Km/jam, atau &lt;em&gt;tututut&lt;/em&gt; yang nyaring bila kecepatan saya melebihi 110 Km/jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya berhenti dua kali, salah satunya di Timaru. Kami tiba di Timaru setelah menempuh perjalanan kurang dari 2 jam. Di Timaru, kami berjalan kaki keliling &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/timaru.txt" target="_blank"&gt;pusat kota&lt;/a&gt;. Timaru mungkin sama besarnya dengan kota &lt;a href="http://www.lamongan.go.id/" target="_blank"&gt;Lamongan&lt;/a&gt; di Jawa Timur, tapi penduduknya hanya 1/2 dari penduduk Lamongan. Kota yang cantik tapi sepi. Setelah mengambil &lt;em&gt;free map&lt;/em&gt; dan sarapan kedua (&lt;em&gt;brunch&lt;/em&gt;), kami melanjutkan perjalanan ke Dunedin. Jika bepergian kemana saja di NZ, turis akan mudah mendapatkan &lt;em&gt;free map&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;hotel booking service&lt;/em&gt;, serta toilet yang bersih. Memasuki Oamaru, jalan mulai berkelok-kelok dan turun-naik karena berbukit-bukit. Ini berlanjut sampai tepian kota Dunedin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di Dunedin pukul 13.15, atau setelah 5.5 jam perjalanan. Cukup cepat mengingat kami sempat berhenti 1 jam di Timaru. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dunedin" target="_blank"&gt;Dunedin&lt;/a&gt; merupakan kota terbesar kedua di South Island, NZ. Lokasinya terletak di tepi pantai yang dikurung perbukitan. Jumlah penduduknya lebih dari 120 ribu orang; dan meskipun cukup luas, konstruksi kota yang kompak membuat Dunedin terasa sesak. Tapi mungkin ini hanya kesan sekilas karena saya hanya sempat mengunjungi sedikit bagian kota. Siang itu kami makan siang di Meridian shopping mall yang mungil. Saya menikmati vegetarian soup yang penuh sayur berwarna-warni, sementara dua teman saya menikmati &lt;a href="http://www.coles.com.au/cmi/recipe.asp?rid=748" target="_blank"&gt;Souvlaki&lt;/a&gt;, dan burger. Setelah kenyang, kami berkeliling kota mencari &lt;em&gt;flat&lt;/em&gt; untuk teman saya; mulai dari daerah yang menanjak 35 derajat, sampai yang menurun 40 derajat, sampai tengah kota yang padat dengan rumah-rumah tua. Sempat &lt;em&gt;ngeri&lt;/em&gt; melihat banyaknya jalan di bagian utara kota yang menanjak dan turun tajam. Saya bisa membayangkan sulitnya turun-naik berjalan kaki ke kampus melawan kencangnya terpaan angin di musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pukul 17.30, kami masih belum menemukan &lt;em&gt;flat&lt;/em&gt; yang cocok. Teman sudah menelepon semua iklan di &lt;em&gt;notice board&lt;/em&gt; di Student Union Lounge, University of Otago; tapi hanya empat &lt;em&gt;flat&lt;/em&gt; yang masih kosong, dan semuanya kurang berkenan. Akhirnya saya mengusulkan untuk menghubungi warga Indonesia di Dunedin, dan teman saya akhirnya bisa mendapat tumpangan sementara sehingga dia bisa lebih tenang untuk melanjutkan berburu &lt;em&gt;flat&lt;/em&gt; keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kembali ke Christchurch, saya dan &lt;em&gt;flatmate&lt;/em&gt; menyempatkan &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/dunedin.txt" target="_blank"&gt;berfoto&lt;/a&gt; di jalan (buntu) tercuram di dunia--&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Baldwin_Street,_Dunedin" target="_blank"&gt;Baldwin Street&lt;/a&gt;, clock tower di University of Otago, dan stasiun kereta api. Setelah itu, saya menemai &lt;em&gt;flatmate&lt;/em&gt; untuk mengobati &lt;em&gt;homesick&lt;/em&gt;-nya dengan makan malam di Turkish Restaurant. Kami memesan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/DÃ¶ner_kebab" target="_blank"&gt;beef donner kebab&lt;/a&gt; yang disajikan dengan &lt;em&gt;pita bread&lt;/em&gt;, irisan &lt;em&gt;lettuce&lt;/em&gt; dan tomat bersaus yoghurt tawar yang beraroma bawang putih. Makan malam berlangsung lebih dari 1 jam, karena &lt;em&gt;flatmate&lt;/em&gt; begitu bersemangat mengobrol dengan pemilik restoran dan keluarganya dalam bahasa Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berangkat kembali ke Christchurch sekitar pukul 20.00. &lt;em&gt;Flatmate&lt;/em&gt; menawarkan diri untuk bergantian menyetir, tapi saya tolak karena saya ingin membuat rekor pribadi: bisa menyetir pulang-pergi dalam sehari, mulai pagi sampai tengah malam, dengan jarak tempuh lebih dari 500 Km. Sebelumnya, jarak pulang-pergi terjauh yang saya pernah tempuh (total) hanya lebih sedikit dari 200 Km. Saat itu saya dan teman-teman pergi ke &lt;a href="http://oak.ucc.nau.edu/llc7/Photo%20Albums/Climbing/slides/Castle%20Hill%20Basin%20NZ.html" target="_blank"&gt;Castle Hills&lt;/a&gt;, salah satu tempat shooting &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Chronicles_of_Narnia:_The_Lion,_the_Witch_and_the_Wardrobe" target="_blank"&gt;The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe&lt;/a&gt;. Saya hanya meminta &lt;em&gt;flatmate&lt;/em&gt; untuk terus berbicara agar saya tidak mudah terserang kantuk dalam perjalanan. Dia memastikan bahwa orang Turki tidak akan pernah bosan untuk berbicara. &lt;em&gt;No worry.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan malam ternyata sangat sulit. Tidak semua pengendara dari arah yang berlawanan, termasuk yang mengendarai truk, sadar untuk mengurangi sorot lampu saat berhadapan. Sulit sekali memfokuskan mata ke jalur jalan saat sorot lampu yang datang begitu terang, apalagi saat itu sudah melewati jam tidur saya. Untung teman saya tetap mengoceh tanpa henti dan kerap memperingatkan bila mobil berjalan terlalu dekat ke pinggir atau ke tengah badan jalan. Dia sendiri mengatakan tidak berani menggantikan saya untuk menyetir karena merasa lelah dan mengantuk. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di Timaru. Ini menjadi pemberhentian kami yang kedua dalam perjalanan pulang, setelah sebelumnya &lt;em&gt;flatmate&lt;/em&gt; minta berhenti sebentar di tepi pantai untuk merokok. Di Timaru, kami minum coklat panas dan makan &lt;a href="http://www.elise.com/recipes/archives/001412blueberry_muffins.php" target="_blank"&gt;blueberry muffin&lt;/a&gt; di petrol station. Kami berharap, makanan bisa membuat otak tetap terjaga karena ada pekerjaan baru untuk perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beristirahat, otak dan mata saya ternyata hanya bisa bekerjasama sekitar 30 menit. Saran dari buku panduan perjalanan yaitu untuk beristirahat sejenak bila lelah. &lt;em&gt;Flatmate &lt;/em&gt;sudah menengok ke kiri dan ke kanan mencari &lt;em&gt;lodge &lt;/em&gt;atau hotel kecil, berharap untuk menginap semalam. Tapi saya berpikir &lt;em&gt;tanggung&lt;/em&gt; bila harus berhenti, karena perjalanan tinggal kurang dari 2 jam menuju Christchurch. Beruntung sekali saat itu kami sudah bisa akses gelombang radio di Christchurch.  Kami pun bernyanyi sekencang-kencangnya mengikuti lagu di radio. Saya tidak perduli teman saya hanya ber-&lt;em&gt;lalalala&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;hahihuheho&lt;/em&gt; (sebenarnya dia benci &lt;em&gt;western songs&lt;/em&gt; dan hanya suka lagu-lagu Turki); yang penting ramai dan bisa membuat saya tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pukul 1 pagi kami tiba di &lt;em&gt;flat&lt;/em&gt;. Lelah. Saya sempatkan diri untuk menggosok gigi, mencuci muka dan shalat sebelum tidur. Hari itu saya tetap terbangun seperti biasa, jam 5. Setelah shalat subuh, saya memutuskan untuk membolos fitnes di gym pagi itu dan melanjutkan tidur. Tapi hati saya senang karena saya sudah berhasil membuat rekor pribadi: bisa menyetir pergi-pulang menempuh jarak lebih dari 700 Km dengan selamat. Satu catatan manis di awal 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-113971316035902199?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/113971316035902199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=113971316035902199' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/113971316035902199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/113971316035902199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/02/christchurch-dunedin-christchurch.html' title='Christchurch-Dunedin-Christchurch'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-113899955373161202</id><published>2006-02-03T23:00:00.000+07:00</published><updated>2006-02-04T04:01:29.990+07:00</updated><title type='text'>World Buskers Festival</title><content type='html'>Karena bosan, dua akhir pekan di paruh akhir bulan Januari 2006 saya habiskan dengan 'cuci mata' di pusat kota yang sampai sekarang masih dipenuhi turis dari berbagai penjuru dunia. Kebetulan saat itu ada &lt;a href="http://www.worldbuskersfestival.com/about-the-festival/" target="_blank"&gt;World Buskers Festival&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/buskers.txt" target="_blank"&gt;&lt;img height="240" alt="World Buskers Festival" src="http://www.geocities.com/leo_ote/buskers.txt" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;World Buskers Festival di Christchurch merupakan kali yang ketigabelas. Festival ini diisi dengan berbagai pertunjukan jalanan, serta pentas di ruangan terbuka dan tertutup. Sebagian besar merupakan penampilan menghibur dan penuh keriangan. Memang demikian seharusnya di saat cuaca musim panas cukup ramah. Menurut situs festival ini, lebih dari 50 artis dari berbagai Negara dan 400 pertunjukkan memeriahkan festival tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, saya hanya sempat melihat festival ini satu hari. Tahun ini, dua hari, meski saya hanya melihat beberapa penampil (gratis) di pentas terbuka (Gambar 1 &amp; 2). Beberapa yang masih saya ingat yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.worldbuskersfestival.com/acts-and-schedules/display/13505" target="_blank"&gt;Al Millar si Human Knot&lt;/a&gt;. Mungkin sudah banyak atraksi seperti yang dilakukan Al Millar. Atraksinya merupakan campuran komedi dan aksi yang boleh dikata gila-gilaan. Dua yang tidak terlupa adalah saat dia berjalan maju mundur antara dua orang yang memegang pita yang tertarik masuk dan keluar melalui mulut dan hidung si manusia nekat ini. Sebagian besar orang memalingkan muka; dan lagi-lagi memalingkan muka saat dia memaku hidungnya dengan paku. Saya jadi teringat debus dari Banten atau pertunjukkan tusuk keris di Bali.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.worldbuskersfestival.com/acts-and-schedules/display/13506" target="_blank"&gt;Blackstreet Boyz&lt;/a&gt; yang terdiri dari Alfred dan Seymour (Gambar 3). Mereka pemenang pilihan penonton pada festival yang sama tahun lalu. 'Senjata' mereka adalah ejek-ejekan yang mengalir lancar dan serasi dengan tarian mereka yang atraktif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.worldbuskersfestival.com/acts-and-schedules/display/13865" target="_blank"&gt;Lord Livingstone&lt;/a&gt; a.k.a Chris Devious yang berperan sebagai beton hidup. Penonton sempat dibuat tertawa dengan lakonnya menarik penonton untuk memberi ciuman pada patung beton yang tersenyum. Dari situs festival ini, si patung beton ini ternyata sudah melakonkannya sejak tahun 1992 di berbagai penjuru dunia. Sayang, saya tidak sempat mengambil fotonya karena sudah diburu kebutuhan gawat darurat: toilet.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tapi saya masih sempat mengambil foto &lt;a href="http://www.worldbuskersfestival.com/acts-and-schedules/display/13761" target="_blank"&gt;The Greek Statue&lt;/a&gt; yang diperankan Lana Schwarcz. Tampak dalam foto itu, Lana sedang berkomunikasi gerak dan mimik dengan seorang gadis mungil yang berusaha mencontoh (Gambar 4). Hasil dari aksi patung hidupnya sudah menjadi modal Lana untuk membuat film sendiri. Hebat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aksi klasik badut &lt;a href="http://www.worldbuskersfestival.com/acts-and-schedules/display/13491" target="_blank"&gt;Carrot &amp; Pickle&lt;/a&gt; yang begitu enerjik dan sangat disukai anak-anak, serta orang dewasa seperti saya :)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang-orang yang berkostum dan menyapa para pengunjung dimanapun berada. Yang paling menarik adalah &lt;a href="http://www.worldbuskersfestival.com/acts-and-schedules/display/13502" target="_blank"&gt;Poddymouth&lt;/a&gt; yang pergi ke sana kemari dan menyapa dari dalam toilet berjalan. Sayang, saya juga tidak sempat memotretnya karena dia begitu cepat bergerak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;The Royal Statue Garden atau the Royal Flush moving Sculpture, yang merupakan pendatang baru di festival ini. Ada empat patung hidup yang sering bertukar pose seperti orang mengocok kartu. Ya, mereka adalah King of Hearts, Queen of Hearts, Joker dan Ace of Hearts yang diperankan seniman lulusan Christchurch. Para penonton sempat dibuat tertawa saat sepasang Ibu dan anak dari China berfoto bersama mereka dan, selama berfoto, si anak yang gemuk berusaha menghindari tusukan jari si Ace di pipinya yang tembem. Saya juga sempat berfoto dengan mereka, dan sempat ditarik oleh King dan Joker yang berusaha mencopet notebook mungil dari ransel saya. Beruntung sempat tertangkap kamera :D&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/meandlivingcards.txt" target="_blank"&gt;&lt;img height="240" alt="my notebook!" src="http://www.geocities.com/leo_ote/meandlivingcards.txt" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Melihat mereka, saya jadi tergelitik untuk suatu saat berani mencoba hal-hal baru. Jika ada rejeki dan kesempatan untuk berkembang dan mencoba hal baru, mengapa harus disia-siakan? Lumayan untuk menambah hobby dan mengisi waktu luang. Satu yang ada dalam pikiran saya: ingin belajar &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Trapeze" target="_blank"&gt;trapeze&lt;/a&gt;. Mungkin terlalu muluk, tapi paling tidak saya akan mulai dengan mencoba &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bungee_jumping" target="_blank"&gt;bungee jumping&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun depan, saya akan lebih banyak menyempatkan diri untuk menonton World Buskers Festival ke-14. Asyik; apalagi kalau ada yang berbaik hati mau menemani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-113899955373161202?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/113899955373161202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=113899955373161202' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/113899955373161202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/113899955373161202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/02/world-buskers-festival.html' title='World Buskers Festival'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-113839938811155477</id><published>2006-01-28T04:45:00.000+07:00</published><updated>2006-01-28T05:06:47.420+07:00</updated><title type='text'>Ironi</title><content type='html'>Tiga hari yang lalu tiba-tiba saya teringat dengan Lydia-Imaniar. Saat menggosok gigi sebelum tidur, otak saya tiba-tiba mengkritik lagu 'Ironi' milik Lydia-Imaniar. Judul-nya kurang pas dengan syair-nya. Seharusnya, lagu itu diberi judul 'Aku tak tahu' atau 'Cobaan' atau apalah. Aneh. Otak saya memang akhir-akhir ini seperti melompat-lompat dalam berkhayal. Mungkin karena masih memikirkan kejadian burung yang menabrak jendela kamar saya. Tapi saat itu saya terlalu bersemangat memikirkan mengapa lagu itu diberi judul 'ironi, dan tidak terlalu perduli dengan alasan mengapa saya tiba-tiba berpikir seperti itu. Mungkin judul 'Ironi' menggambarkan betapa sulitnya sang pencipta lagu (kalau tidak salah James S. Sundah) untuk menemukan judul yang pas. Sungguh ironis, karena syair yang bagus ternyata sulit menemukan judul. Saya langsung mengangguk-angguk setuju...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilanjutkan ke topik musik, saya merasa lagu 'Ironic' dari Alanis Morrisette merupakan lagu yang paling pas menggambarkan kejadian-kejadian ironis. Tapi saat melihat-lihat arti kata '&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Irony" target="_blank"&gt;irony&lt;/a&gt;' di wikipedia, ternyata lagu &lt;em&gt;jeng&lt;/em&gt; Alanis itu masih &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Irony#Recent_developments" target="_blank"&gt;kurang tepat&lt;/a&gt; menggambarkan pengertian ironi yang sebenarnya. Jadi, sudah ada dua lagu berjudul ironi yang ternyata masih kurang pas mewakili arti kata ironi; sungguh ironis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;Mengutip sedikit dari uraian di wikipedia, kata 'ironi' lebih banyak merujuk pada perbedaan antara (i) maksud yang diterima/dibaca/didengar dan (ii) maksud yang sebenarnya ingin disampaikan dalam bentuk tulisan atau maksud yang diucapkan. Salah pengertian antara apa yang dicerna pikiran dan kejadian sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk lain dari 'ironi' yang menarik perhatian saya yaitu '&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Irony#Socratic_irony" target="_blank"&gt;Socratic irony&lt;/a&gt;' yang biasanya melibatkan seseorang yang bersikap (berpura-pura) naif/bodoh hanya untuk setahap demi setahap 'menggali' betapa dangkalnya suatu alasan atau pemahaman terhadap satu hal/kejadian tertentu. Socrates menciptakan ironi dengan bersikap naif dan menyampaikan pertanyaan atau tanggapan bodoh dan sederhana, tapi bisa membuyarkan asumsi dan pendapat lawan bicaranya. Dengan bersikap seperti itu, Socrates sedikit demi sedikit membuat lawan bicaranya mengerti (atau semakin bingung dan marah--tergantung derajat ke-aku-annya) bahwa suatu alasan atau kejadian itu seringkali memiliki pengertian lebih besar dari apa yang selama ini dipahami. Seseorang biasanya hanya percaya berdasarkan pemahaman sekilas, atau hanya percaya karena hanya sekedar ingin mempercayai tanpa berusaha bersikap kritis terhadap diri sendiri dan kritis terhadap apa yang dipercayainya. Akibatnya, orang sering harus 'menelan' perkataannya sendiri. &lt;em&gt;Ding...ding...ding...ding...&lt;/em&gt; Otak saya seperti mesin lotere yang baru saja menunjukkan rangkaian sempurna &lt;em&gt;jackpot&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Sounds familiar... &lt;/em&gt;Hal ini hampir setiap hari terjadi; bisa saya sendiri atau orang lain yang melakukannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;Hidup selain kaya akan arti, juga kaya akan ironi. Dalam hidup yang kaya arti, hanya sedikit arti yang kita mau ambil dan percayai. Mungkin kita hanya sanggup mengambil sedikit saja hari ini, dan mengambil sedikit lagi di kemudian hari. Tidak masalah, asalkan tidak ada batasan untuk terus menambah pemahaman yang sedikit menjadi lebih banyak. Seperti kata pepatah: sedikit-demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Tapi jika ada batasan, kita hanya akan terus memungut ironi, dan tidak pernah kenyang dengan menelan perkataan sendiri. Seperti burung 'asing' (= tauhou) yang minggu lalu menabrak jendela saya. Terlalu percaya dengan kelincahannya terbang menghindari pengejarnya, dan terlalu percaya dengan hamparan pepohonan di hadapannya yang sebenarnya hanya fatamorgana pembawa kejatuhan. Ironis, karena naluri alamiahnya telah tertipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apabila kita sudah menipu diri dan menelan perkataan sendiri, apa yang harus dilakukan? Sering kali, kejadian ironi membuat saya--akhirnya--tersenyum sendiri bahkan tertawa (setelah, tentu saja merasa sedih dan dongkol terlebih dahulu). Sering dibutuhkan waktu yang panjang untuk memaklumi satu kejadian ironi itu dengan rendah hati, sabar, riang dan ikhlas, yang bisa membuat hidup lebih ringan... Saya hanya bisa menghela nafas, tersenyum, membayangkan polah tingkah riang &lt;em&gt;jeng&lt;/em&gt; Alanis di video klip 'Ironic' sambil mengakhiri lagunya dengan lirik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;"&lt;em&gt;Life has a funny way of sneaking up on you...&lt;br /&gt;And life has a funny, funny way, of helping you out... Helping you out&lt;/em&gt;" &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8473658-113839938811155477?l=nozeano.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nozeano.blogspot.com/feeds/113839938811155477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8473658&amp;postID=113839938811155477' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/113839938811155477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8473658/posts/default/113839938811155477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nozeano.blogspot.com/2006/01/ironi.html' title='Ironi'/><author><name>Leo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_zEJGx--p2P8/TBCH3RKqYMI/AAAAAAAAAGE/40DI0Hevkco/S220/meL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8473658.post-113798907462128724</id><published>2006-01-23T10:54:00.000+07:00</published><updated>2006-01-26T02:23:22.576+07:00</updated><title type='text'>Mengapa Burung Menabrakkan Diri ke Jendela Kamar Saya?</title><content type='html'>Kejadian setahun lalu terulang lagi: seekor burung menabrak jendela saya. Setahun lalu, seekor burung &lt;a href="http://nozeano.blogspot.com/2004/12/when-universe-is-calling-you.html" target="_blank"&gt;hihi&lt;/a&gt; yang sedang belajar terbang menabrak jendela kamar saya karena tertipu dengan bayangan yang terpantul dari jendela kamar saya. Saat itu saya menempati kamar di sisi depan &lt;em&gt;flat&lt;/em&gt; dan bayangan di jendela saya saat itu adalah bunga-bunga &lt;a href="http://www.virtualplanttags.com/image.asp?pl=39976&amp;pr=4&amp;amp;size=3&amp;r=5" target="_blank"&gt;krisan&lt;/a&gt; dan bunga &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/bluelili.txt" target="_blank"&gt;lili&lt;/a&gt; Beruntung bahwa burung itu masih bisa terbang kembali setelah menabrak jendela. Burung itu terbang ke dahan pohon terdekat dan diam di sana beberapa saat, mungkin masih &lt;em&gt;shocked&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, seekor burung &lt;a href="http://www.nzbirds.com/birds/tauhou.html" target="_blank"&gt;Silvereye Tauhou&lt;/a&gt; menabrak jendela saya. Nama "Tauhou" dalam bahasa Maori berarti "orang asing" karena burung ini termasuk burung penjelajah lautan yang bermigrasi musiman dari Tasmania-Australia ke NZ. Seringkali saya temukan pagi-siang-sore bertengger di pagar belakang rumah, bernyanyi riang dan berkejar-kejaran dengan burung lain. Kali ini burung yang menabrak jendela kamar saya kurang beruntung karena tabrakannya sangat keras dan mematikan. Sekarang saya menempati kamar di sisi belakang &lt;em&gt;flat&lt;/em&gt; dan &lt;a href="http://www.geocities.com/leo_ote/backflat.txt" target="_blank"&gt;bayangan&
